My Lovely Brother

My Lovely Brother
11. Reya Sakit


__ADS_3

Sepi dan hampa. Itu adalah dua kata yang menggambarkan kehidupan Reya setelah memutuskan menjeda hubungan dengan Steven untuk beberapa saat.


Rasanya sama sekali tidak ada semangat untuk menjalani kehidupan, sebab sebelumnya Reya sudah sangat terbiasa dengan kehadiran Steven.


Tidak ada lagi notifikasi favorit yang biasanya dia tunggu. Tidak ada sapaan selamat pagi dan rasanya terlalu asing ketika tidak sengaja berpapasan di kampus.


Entahlah, dia tidak tau apa akan terbiasa atau tidak. Ini keputusan yang sudah Reya ambil, jadi mau tidak mau dirinya pasti bisa melakukan itu semua.


"Re, gue berasa ngomong sama orang budeg tau. Daritadi lo diam aja, terus kelihatan banyak pikiran. Udah lah gak usah dipikirin, jangan sakiti diri sendiri. Dia aja kelihatan baik-baik aja gak ada lo."


"Bangsatnya saat kita lagi gini, dia sama sekali gak menjauhi Jesika. Jadi gimana bisa gue percaya dengan kata-kata dia yang katanya cinta sama gue."


"Namanya juga cowok, omongan sama tindakan selalu beda. Kata-kata manis dia cuma buat bikin lo perca, setelah itu disepelekan."


Reya tidur di atas tangannya yang terlipat di atas meja. "Capek banget gue mikirin hubungan ini sendirian sejak awal. Kayaknya emang bentar lagi harus putus."


Renata mendengarkan semua curhatan Reya dari awal sampai gadis itu memutuskan untuk break, Renata sama sekali tidak marah dan malah setuju dengan keputusan yang Reya ambil.


Cowok seperti Steven memang harus diberi pelajaran agar tidak semena-mena kepada orang lain.


"Gue gak melarang apapun keputusan lo, yang penting lo senang. Oh iya, tumben banget bawa jaket. Mau kasih balik ke siapa?"


Reya melirik paper bag yang ada di sebelahnya. "Gue ketemu sama Kak Arkan lagi dan ini jaket dia."


"Sumpah lo?" tanya Renata dengan eskpresi yang teramat kaget. Dia juga sudah lama tidak mendengarkan kabar dari seniornya.


"Gimana dia sekarang, Re? Apa makin cakep dan berwibawa? Dulu aja pas masih kuliah dia udah gitu, apalagi sekarang saat makin dewasa."


"Makin ganteng gue akui, tapi gue gak suka lagi sama dia kok."


Renata tersenyum usil dan menatap Reya lama. "Lo yakin beneran gak ada rasa? Dulu lo move on dari dia kayak orang mau mati aja. Terus sekarang ketemu lagi langsung gak ada rasa?"


Reya menganggukkan kepalanya tanpa ragu. "Sekarang gue udah jadi orang bego dalam hal mencintai Steven. Makanya gak bisa deg-degan di dekat orang ganteng kayak Kak Arkan.”


"Bisa jadi sih, lo emang bego banget setelah sama Steven. Bye the way, setelah gue perhatiin adik lo ganteng juga ya. Kira-kira Gara punya pacar gak?"


"Gue gak sudi punya adik ipar modelan kayak lo." Reya langsung berkata seperti itu agar Renata tidak bertanya lebih lanjut. Karena Reya jelas sudah tau apa maksud dan tujuan Renata menanyakan itu semua.


Renata mencebikkan bibirnya kesal, bertanya kepada Reya memang tidak mendapatkan jawaban. Apalagi jika itu semua berhubungan dengan Gara yang dia benci.


"Terus kapan lo mau ketemu sama Kak Arkan? Gue ikut dong, pengen lihat dia juga sekarang."


"Gak tau, gue sengaja bawa jaket karena bisa jadi gak sengaja ketemu sama dia. Walaupun gue punya nomornya, tapi gak enak langsung ajak ketemuan sekarang padahal baru kemarin ketemu.”


"Ya santai aja kali, Re. Lagian lo punya alasan bukan sengaja modus. Ayo dong lo telepon dia sekarang dan tanya ada dimana?"


"Lo yakin gue gak bakalan kelihatan modus?" Reya masih ragu, karena dia pernah terlalu percaya kepada Renata malah berakhir tidak baik.


"Yakin, ayo telepon."


Reya mengambil ponselnya dari dalam tas, kemudian mencari nomor Arkan. Dia menunggu beberapa saat sampai panggilan darinya terjawab.


"Halo, Kak. Dimana sekarang?"


"Di kantor, kenapa?"


Reya melirik Renata yang ikut menempelkan telinga di HP-nya. "Kakak sibuk gak? Aku soalnya mau balikin jaket yang kemarin. Udah aku cuci dan aku bawa juga kok."


"Gak bisa hari ini, Re. Kakak masih ada rapat sama orang kantor. Nanti kapan Kakak bisa, Kakak kasih tau kamu ya. Gak usah buru-buru balikin, Kakak juga gak perlu banget sama jaket itu."


"Oke deh, Kak. Kabarin aja kalau kamu senggang."


"Kalau misal Kakak bilang senggang di hari Sabtu atau Minggu, apa kamu bisa? Sekalian kita jalan-jalan dan ngobrol, kemarin kita gak bisa banyak bicara."

__ADS_1


Reya berpikir beberapa saat. "Kasih tau aja nanti, Kak. Kalau aku bisa berarti kita pergi."


"Oke Reya, Kakak lanjut kerja dulu ya. Kamu juga semangat kuliahnya."


"Iya, Kak. Semangat juga untuk ikut rapat ya."


Lalu Reya mematikan sambungan telepon dan merasakan Renata menusuk-nusuk bahunya. "Kayaknya Kak Arkan lagi modus itu, dia sengaja cari kesempatan buat ketemu sama lo lebih lama."


Reya mendorong jidat Renata. "Jangan ngaco, gak mungkin dia melakukan itu semua untuk modus. Gak mungkin juga dia suka sama gue setelah menolak gue dulu."


"Bisa jadi kali, Re. Perasaan seseorang gak akan ada yang tau. Bisa jadi selama gak ketemu dia selalu mikirin lo."


Reya sama sekali tidak memberikan respon, karena apa yang Renata katakan tidak akan pernah terjadi kecuali di mimpi Reya.


****


Gara yang sedang mengerjakan tugas di kamarnya merasa terusik dengan lagu yang terputar dari kamar seberangnya. Mungkin hampir satu jam Reya asik mengulang-ulang beberapa lagu yang sama.


Karena sudah tidak bisa fokus dan jam dinding telah menunjukkan pukul sebelas malam. Gara keluar dari kamarnya, dia iseng membuka pintu dan sama sekali tidak terkunci rupanya.


Kamar Reya gelap gulita, Gara berusaha mencari dimana keberadaan saklar lampu. Setelah menyalakan, dia menemukan keberadaan Reya yang tengah meringkuk di tempat tidur.


Gara langsung mendekat. "Re, badan lo panas banget? Lo sakit kenapa gak bilang-bilang," kata Gara setelah menyentuh dahi dan tangan Reya yang memang sangat panas. Tapi gadis itu terlihat mengigigil kedinginan dan memakai pakaian yang berlapis.


"Gue merasa gak enak badan daritadi pagi, tapi gue kira cuma sakit biasa. Sekarang badan gue lemas banget, Gar. Gue kedinginan sampe tulang gue rasanya membeku."


"Ini pasti karena lo kehujanan kemarin, gue bakalan panggil Mama ke sini."


Reya menahan tangan Gara dengan menggelengkan kepalanya. "Mama pasti capek karena kerja seharian. Bisa gue minta lo aja yang kompres badan gue sekarang?"


"Tapi, Re. Lo tetap butuh obat, gak bakalan mempan kalau cuma dikompres aja."


"Gue punya obat penurun panas di laci kok. Jadi tolong ambil air kompres aja sama air putih hangat."


"Ya udah lo tunggu di sini sebentar."


Gara kembali dengan membawa baskom, handuk, dan segelas air putih hangat. Dia membantu Reya untuk duduk dengan bersandar di tubuhnya.


"Gue kira lo lagi nangis gara-gara Steven, kalau gak gue cek kayaknya sampe pagi bakalan nahan sakit."


Reya mengambil obat yang diberikan oleh Gara dan meminumnya. "Gue belum segila itu buat nangis karena Steven selama berjam-jam."


Setelah meminum obat, Gara kembali membantu Reya untuk tiduran. Dia memasukkan handuk ke dalam baskom kemudian memerasnya dan meletakkan di dahi Reya.


"Lo emang selalu gini kalau lagi sakit ya? Gak pernah mau merepotkan orang lain?"


"Kalau gue masih bisa sendiri, gue gak bakalan kasih tau siapa-siapa. Kecuali kalau gue gak sanggup dan Mama bakalan menemukan kondisi gue yang kacau di sini."


"Sekarang lo udah tau kalau tubuh lo sama sekali gak kebal sama hujan. Jadi jangan sering hujan-hujanan, apalagi cuma karena cowok. Hidup lo dan kesehatan jauh lebih berharga dari apapun."


"Gara gue lagi sakit, jangan diomelin terus dong."


Gara terkekeh, Reya terlihat lucu dan menggemaskan dalam keadaan seperti sekarang. Dia duduk di sisi tempat tidur kemudian memberikan beberapa pijatan di tangan dan kaki Reya.


"Biasanya kalau seseorang lagi demam, badannya bakalan ikut kerasa pegal-pegal dan gak enak. Jadi gue sama sekali gak modus buat kasih pijatan kayak gini."


"Gue cuma diam aja, Gar. Gak bilang apa-apa, lo aja suka ngomel gak jelas. Pijatan lo juga kerasa lumayan enak, udah bisa buka jasa pijat kayaknya setelah lulus kuliah.”


Gara tersenyum tipis, Reya kembali memejamkan mata karena kepalanya juga terasa sangat sakit. Dia merasa sangat susah untuk membuka kedua matanya.


"Besok gak usah kuliah dulu dan istirahat aja di rumah. Gue bakalan bilang sama teman lo untuk izin, jangan maksa diri. Kesehatan lo tetap nomor satu, paham?"


"Iya, Gara. Gue gak nyangka ternyata lo lebih bawel daripada mama gue. Daritadi ngomong terus, gak bisa diam apa gimana deh?”

__ADS_1


"Ini semua demi kebaikan lo, karena gue sadar kalau lo sangat keras kepala dan susah dikasih tau."


Reya tiba-tiba meraih tangan Gara yang terasa sangat hangat, karena bagian tangannya dingin seperti membeku.


"Gue kedinginan banget gak bohong, udah pake baju berlapis-lapis gini sama sekali gak mempan. Lihat bahkan gue pake kaos kaki tapi sama sekali gak kasih efek. Kayaknya di bagian tulang gue yang rasanya kedinginan."


"Iya emang gitu kalau lagi demam, besok juga mendingan."


Reya menggeleng. "Gue paham sama kondisi tubuh gue sendiri dan tengah malam bakalan makin parah. Jadi gue mau minta bantuan sama lo, temenin gue tidur di sini ya. Tolong peluk gue yang erat."


Gara langsung membeku mendengarkan permintaan Reya barusan, dia sama sekali tidak menyangka bahwa Reya akan mengatakan itu semua.


"Tapi kalau lo gak bisa juga gak apa-apa, gue gak akan maksa."


"Gak, bukannya gue gak mau. Gue cuma takut lo bakalan anggap gue modus dan berakhir gue dipukul. Atau gue ditendang dari kasur karena lo kaget pas bangun dan ada gue di sini.”


"Enggak akan, gue yang minta bantuan sama lo. Jadi mana mungkin gue perlakukan lo dengan kasar. Itu sama aja dengan gak menghargai bantuan lo.”


"Yakin?" tanya Gara sekali lagi. “Lo beneran gak bakalan pake kekerasan sama gue besok pagi ‘kan.”


"Iya." Reya sudah malas karena Gara terlalu banyak bicara. Sementara dia tidak punya tenaga untuk berdebat dengan cowok ini.


“Gue balik ke kamar dulu buat matiin laptop. Terus balik ke sini.”


Gara berjalan dengan langkah cepat, bodoh amat dengan tugasnya. Dia masih bisa mencicil ketika bangun jam enam pagi nanti. Karena untuk sekarang menemani Reya dan menjaga gadis itu jauh lebih penting.


Saat Gara kembali masuk ke kamar, Reya kembali berkata. "Kunci aja pintunya, Gar."


Gara berdiri mematung. Apalagi yang Reya inginkan sekarang? Gadis itu sangat berbahaya untuk kesehatan jantungnya.


"Gue gak mau ketahuan sama Mama, jangan mikir aneh-aneh lo."


Siapa juga yang tidak berpikiran aneh jika Reya berbicara setengah-setengah seperti tadi. Gara sebagai cowok normal jelas langsung berpikir kemana-mana.


Dia menuruti kemauan Reya dan mengunci pintu, dengan penuh keraguan cowok berumur 19 tahun itu naik ke atas tempat tidur. Dia tidur di sebelah Reya dengan tubuh kaku, sama sekali tidak melirik Reya karena takut akan kesusahan bernafas.


Lalu jantungnya berdegup sangat kencang seperti hendak keluar dari posisinya ketika dia merasakan tanga Reya yang memeluk dirinya. "Badan lo hangat banget, tolong peluk gue balik."


Gara mengigit bibir bawahnya. Perlahan tapi pasti dia melakukan apa yang Reya perintahkan.


"Sorry kalau gue bau, soalnya gak sempat mandi sore karena keburu merasa kedinginan."


Reya sama sekali tidak bau bahkan sangat wangi, jika bisa Gara ingin sekali mencium rambut Reya yang terasa sangat lembut ketika mengenai pipinya.


"Dulu pas sakit, gue selalu tidur sama papa. Bahkan saat gue udah ada di bangku SMA, pelukan Papa selalu bikin gue nyaman. Apalagi kalau dia sambil elus lembut rambut gue."


Gara perlahan mengerakkan tangannya dan mengelus puncak kepala Reya dengan lembut. "Bilang aja apa yang lo suka, bakalan gue lakuin."


Reya tersenyum tipis, dia tidak berbohong jika pelukan Gara terasa begitu nyaman dan menenangkan.


“Gak ada, papa cuma suka peluk gue erat dan usap rambut aja."


"Terus selama papa lo gak ada, lo gimana?"


"Gue berjuang sendirian, walaupun suka kebangun tengah malam dan dalam kondisi ketakutan. Entah kenapa sekarang gue malah gak bisa dan memutuskan bergantung sama lo. Pasti saat ini lo senang banget karena tau kelemahan gue."


"Re, lo lagi sakit. Jangan selalu berpikiran buruk tentang gue."


Reya tersenyum tipis saat Gara tidak bisa melihatnya.


"Makasih banyak, Gara. Makasih karena udah datang ke kamar dan cek kondisi gue. Setidaknya malam ini gue gak ketakutan dan tidur sendirian."


Perlahan tapi pasti mata Reya kembali terpejam, Gara semakin mempererat pelukan dan merasakan tubuh Reya yang memang sangat panas. Bahkan dirinya sampai berkeringat karena kondisi AC yang sudah dimatikan sejak tadi.

__ADS_1


Semoga saja ketika bangun esok pagi, keadaan Reya lebih baik dari sekarang.


Beberapa menit kemudian Gara ikut memejamkan mata dan tertidur dalam posisi berpelukan erat dengan Reya.


__ADS_2