
Reya keluar dari gedung dan menemukan keadaan di luar yang sedang hujan begitu deras. Dia menghela nafas berat sebab tidak membawa payung. Hari ini juga dia diantarkan oleh sang mama, sebab mobilnya tengah berada di bengkel.
Jam empat sore, seharusnya Gara sudah pulang dari kampus dan pasti bisa jika diminta untuk menjemput dirinya. Tetapi Reya terlalu takut bermain ponsel sebab kilat semakin menyambar dan dia agak bergetar berada di depan gedung seorang diri.
"Belum pulang?" Arkan berdiri di sebelah Reya, sedang membuka payungnya.
"Lagi nunggu jemputan, Pak." Reya berbicara tanpa melirik ke arah Arkan sama sekali.
"Bareng aja, hujan deras banget. Kasihan orang yang jemput kamu ke sini. Udah sore juga lagian, susah dapat taksi di sekitar sini."
"Gak apa-apa, Pak. Duluan aja karena saya masih mau nunggu."
"Petirnya menggelegar banget Reya, kamu yakin bisa bertahan di sini? Kakak gak lupa kalau kamu punya rasa takut sama petir. Jadi jangan keras kepala dan ikut Kakak pulang sekarang."
Reya masih berdiam di posisinya, sama sekali tidak mau melangkah. Arkan juga tidak menggunakan panggilan baku lagi sekarang.
"Aku beneran enggak apa-apa kok, Kak. Kasihan nanti Gara udah ke sini tapi malah aku gak ada di kantor."
"Kasih tau aja sama dia kalau kita pulang, supaya dia bisa putar balik dan gak buang waktu kemari."
Reya mendadak kelu, alasan apalagi yang harus dia katakan supaya Arkan meninggalkan dirinya sendirian dan tak lagi memaksa.
"Gak apa-apa beneran kok, duluan aja."
"Ya sudah Kakak temani kamu sampe dijemput di sini."
"Kak, aku gak enak kalau ada karyawan yang lihat kita lagi berdua di sini. Aku datang ke perusahaan ini untuk magang dan gak mau jadi bahan gosip."
"Gak akan ada yang berani gosip soal kamu, kecuali kamu yang berani gosip soal Kakak di toilet kantor.”
Lagi dan lagi Arkan terus membahas hal itu. "Ya udah aku ikut sama Kakak sekarang."
Reya memutuskan semuanya sebelum ada yang melihat. Lagian memang tidak akan ada yang datang untuk menjemput dirinya. Dibandingkan Reya ketahuan sedang berdua dengan Arkan, lebih baik langsung pulang saja.
Arkan mengulum senyum. "Ya udah sini dekatan supaya kamu gak kehujanan."
__ADS_1
Meski ragu Reya tetap mendekat ke arah Arkan, menghalau dirinya agar tidak basah terkena hujan. Reya agak kaget kala Arkan memeluk bahunya, sebelum sempat memprotes Arkan menarik tangan Reya dan segera masuk ke dalam mobil.
"Kamu enggak basah 'kan?" tanya Arkan.
Reya menggeleng, sama sekali tidak basah. Selain merasa tidak nyaman dengan semua perlakuan Arkan barusan.
"Kakak hidupkan lagu supaya suasana di mobil enggak sepi."
Reya tidak protes selain diam saja, biarkan Arkan melakukan apapun yang cowok itu suka.
"Kamu yang terima aku untuk magang di perusahaan ini?" tanya Reya karena sadar mendapatkan kesempatan untuk membahas ini semua.
"Iya, tapi kamu jangan marah. Kakak melakukan itu semua bukan karena sengaja. Cuma Kakak tau kalau kamu berbakat, desain yang kamu kirim juga berhasil menarik perhatian pimpinan perusahaan. Kakak meloloskan kamu karena kemampuan yang kamu punya."
Reya berusaha percaya karena alasan Arkan masuk akal. Baguslah jika bukan karena cowok itu sengaja melakukan ini semua.
"Kamu gak nyaman sama perusahaan ini?"
"Enggak, aku cuma mau tau alasannya aja. Soalnya ada karyawan yang bilang sama aku, kalau kamu yang memilih supaya aku magang di sini. Aku cuma gak mau kamu melakukan itu semua dengan berniat modus. Kita gak ada hubungan apa-apa dan gak akan ada."
"Kadang terlalu percaya diri juga enggak baik, Reya. Meskipun Kakak emang suka sama kamu, tapi urusan pekerjaan Kakak selalu menjadi seseorang yang profesional dan tau tempat. Kalau kamu masih belum yakin dengan semua kebenaran yang Kakak bilang barusan, kamu boleh tanya langsung sama pimpinan. Dengan begitu kamu akan menemukan jawaban yang sebenarnya."
Reya melirik Arkan, sama sekali tidak ada raut emosi di wajahnya. Arkan sangat tenang, seakan kejadian memalukan yang dia ciptakan sendiri kala itu bukan sesuatu yang besar.
"Gimana sama kondisi perut kamu, udah membaik?"
"Kenapa kamu harus peduli? Jangan bahas hal apapun yang gak menyangkut urusan pekerjaan. Karena kalau Kakak baper kamu juga gak mau tanggung jawab 'kan?"
Kata-kata yang Arkan ucapkan terdengar sangat tenang, tapi diam-diam menusuk.
"Aku cuma mau tau aja, sebagai teman emang enggak boleh?"
"Teman Kakak banyak Reya, Kakak juga gak mau jadi teman kamu."
Cukup sudah, sepertinya memang lebih baik Reya diam saja daripada dia akan emosi. Ternyata Arkan punya sisi menyebalkan juga. Selama ini cowok itu terlalu pandai menutupi dengan topeng yang terlihat sempurna.
__ADS_1
"Makasih karena udah anterin aku pulang dengan selamat. Kamu hati-hati pulangnya, Kak. Itu bentuk rasa khawatir aku sebagai karyawan aja."
"Iya sama-sama, sana masuk ke dalam rumah sebelum hujan turun makin deras."
Reya langsung turun dari mobil dan melambaikan tangannya. Kemudian masuk ke dalam rumah karena keadaan di luar masih hujan rintik-rintik.
Baru hendak meraih gagang pintu tapi sudah terbuka dari dalam. Menampilkan Gara dengan celana selutut dan kaos santai rumahan.
"Masih akrab banget gue lihat-lihat, padahal kemarin ada yang bilang gak mau punya hubungan apa-apa lagi sama Arkan."
"Dia cuma kasih tumpangan karena gue belum pulang dari kantor, cuaca juga lagi hujan. Cuma bentuk perhatian dari bos kepada karyawan, gak usah mikir aneh-aneh."
"Dia gitu ke semua karyawan apa ke lo doang?"
"Ya mana gue tau Gara, gue sama sekali gak tanya akan itu dan gak mau tau juga. Gak penting banget sampe gue harus bahas sama dia.”
"Gue rasa dia begitu cuma sama lo doang. Maklum aja kan dia naksir banget sama lo, sampe akhirnya terima lo untuk magang di perusahaan itu. Supaya dia bisa ketemu sama lo setiap hari dan melancarkan semua aksi modusnya."
"Lo jangan asal ngomong, Kak Arkan bilang sama gue kalau dia sama sekali gak melakukan itu. Gue diterima di sana karena bakat yang gue punya. Bukan karena bantuan dari dia. Gue mampu magang di sana dengan keahlian gue sendiri. Jadi jangan sok tau karena gue enggak suka dengan sifat lo yang kayak gitu.”
"Gue gak bilang kalau lo gak mampu, tapi Kak Arkan pasti membantu lo untuk masuk."
"Sama aja dengan lo gak percaya dengan kemampuan gue kalau lo bilang gitu. Gue emang gak pintar banget Gara, mungkin gak sepintar lo. Tapi gue juga gak sebodoh itu, setidaknya gue punya keahlian yang bisa gue banggakan."
Gara merasa aneh sebab Reya terlalu mudah emosi, padahal kata-kata yang dia ucapkan tidak terlalu menyakitkan.
"Lo kalau daritadi nahan emosi sama Kak Arkan, jangan limpahkan ke gue. Pertanyaan gue gak seburuk itu sampe lo marah-marah kayak gini."
"Lo mana sadar menggunakan kata-kata yang buruk apa enggak. Karena apa yang lo bilang barusan, tanpa lo sadari emang menyakiti perasaan gue. Lo sama aja dengan kebanyakan orang yang melihat gue hanya sebatas anak orang kaya yang gak bisa apa-apa tanpa bantuan dari mama. Gue sekarang bisa berdiri dengan kedua kaki gue sendiri tanpa bantuan dari orang lain dan gue bangga akan hal itu.”
Reya masuk ke dalam rumah, meninggalkan Gara yang masih mematung di depan pintu. Berusaha mencerna semua yang Reya katakan, kemudian Gara sadar bahwa dia sudah kelewatan berbicara seperti tadi.
Reya sudah lelah bekerja dan Gara malah memancing keributan. Gara harus meminta maaf kepada Reya sebelum semuanya bertambah rumit.
Ini semua harus diselesaikan sebelum terlambat dan berakhir penyesalan.
__ADS_1