My Lovely Brother

My Lovely Brother
26. Gara menghilang


__ADS_3

“Karena sejujurnya luka yang didapatkan dari seseorang, memang hanya orang itu yang bisa memberikan kesembuhan.”


****


Gara bukan hanya tidak pulang malam itu, tapi sudah dua hari Gara menghilang tanpa kabar.


Papa yang baru saja sampai rumah langsung menanyakan keberadaan cowok itu. Sayangnya Reya tidak punya jawaban, walaupun dia menduga Gara pasti ada di salah satu rumah teman terdekatnya. Sialnya Reya tidak memiliki nomor mereka untuk memastikan.


"Sebenarnya apa yang terjadi sampe Gara gak mau pulang ke rumah? Kamu bertengkar hebat sama dia saat Mama dan Papa gak ada di rumah?"


Reya langsung menggelengkan kepalanya karena tuduhan tersebut. "Reya sama Gara baik-baik aja. Bukan karena Reya dia pergi dari rumah ini.”


"Kalau baik kenapa dia pergi dari rumah dan tidak bisa dihubungi begini?"


Reya menghela nafas, sejujurnya dia enggan menceritakan ini semua dan memilih merahasiakan dari kedua orang tuanya. Tapi jika dia tidak bercerita juga dirinya akan semakin disudutkan.


"Gara ketemu sama mamanya, saat kita berdua lagi makan di restoran malam kemarin. Karena itu juga terjadi sedikit perdebatan antara aku sama dia. Gara keras kepala dan gak suka diatur, dia gak mau dengar apa yang aku bilang. Selama perjalanan pulang kami berdebat, sampe Gara turunin Reya di tengah jalan dan dia pergi."


"Mama Gara?" tanya Papa dengan nada tidak percaya dan Reya menganggukkan kepalanya.


"Iya Mama Gara, dia juga kasih kartu namanya ke Reya. Katanya mau diajak ketemu sesekali, beliau ingin tau kabar Gara dari Reya."


Papa langsung duduk di sebelah Reya, terlihat lemas dan meraup wajahnya.


"Gara memang sangat sensitif dengan sesuatu yang menyangkut mamanya. Jadi sangat wajar kalau dia marah sama kamu. Semenjak mamanya pergi dan kami bercerai 10 tahun yang lalu, Gara sudah terbiasa tanpa kehadiran perempuan itu. Bukan hanya Gara yang marah kepada mamanya tapi Papa juga."


Reya terdiam merasa bersalah sebab sudah terlanjur ikut campur urusan orang lain. Dia pikir Gara hanya denial berkata tidak merindukan mamanya, ternyata dia memang sudah membenci sosok tersebut.


"Maaf karena Reya enggak tau, seharusnya Reya diam aja dan gak membantah saat Gara bilang supaya Reya gak ketemu sama mamanya. Kalau udah gini ceritanya kita harus apa? Kampus juga udah libur, jadi Reya gak bisa tanya sama salah satu dari temannya. Gimana kalau Gara kenapa-kenapa di luar sana."

__ADS_1


Mama yang sudah mendengarkan cerita Reya menenangkan putrinya. "Gara baik-baik aja, mungkin dia memang butuh waktu untuk sendiri dulu. Gara pasti akan pulang ke rumah ini lagi, karena dia gak bisa kemana-mana selain kembali ke sini."


Hmm, namun tetap saja Reya merasa gelisah dan bersalah. Gara pasti sedang susah payah berdamai dengan dirinya sendiri.


Gara kembali bertemu dengan seseorang yang pernah menyakiti hatinya dan merebut kebahagiaannya. Ini jelas tidak mudah, seharusnya Reya tidak menerima kartu nama tersebut dan bersikap terlalu ramah kepada mamanya Gara di pertemuan pertama mereka.


****


"Reya."


Gadis itu langsung melangkah mendekat ketika sebuah tangan melambai ke arahnya.


Reya duduk di depan Mama Gara yang sekarang berpenampilan agak tertutup supaya tidak ada yang mengenali dirinya.


"Tante udah lama di sini?" tanya Reya merasa agak sungkan karena dirinya datang terlambat, padahal Reya yang mengajak untuk bertemu.


"Baru sekitar lima menit, kamu pesan aja dulu supaya kita enak ngobrolnya."


"Gak apa-apa lho, minimal kamu pesan minum. Gak enak banget Tante menerima ajakan kamu ketemu tapi gak kasih apa-apa ke kamu."


Akhirnya walaupun merasa sungkan Reya memilih salah satu minuman. Supaya mereka bisa segera berbicara dan tidak ada perdebatan mengenai itu lagi.


Reya mengambil kartu nama tersebut dari dalam tasnya kemudian meletakkan di atas meja. "Reya rasa gak bisa menerima ini, Tan. Reya gak bisa berhubungan sama Tante, untuk memberikan informasi tentang Gara sementara dia gak mau Tante tau tentang kehidupannya." Reya sebenarnya merasa sangat tidak enak hati, tapi mau gimana lagi. Ini adalah keputusan yang paling tepat.


"Gara melarang kamu?"


"Iya, Tan. Malam itu setelah kita pulang dari sini Gara marah banget. Dia bahkan gak pulang ke rumah sampai hari ini. Makanya aku datang untuk menuntaskan ini semua. Maaf karena Reya gak tau apa-apa soal hubungan kalian berdua. Seharusnya hari itu Reya meminta persetujuan Gara dulu, bukan langsung mengiyakan apa yang Tante mau.”


Wanita paruh baya tersebut menghela nafas dan tersenyum. Walau bibirnya terlihat menampilkan senyuman, tapi matanya tidak bisa berbohong. Mama Gara terlihat sedih sekarang.

__ADS_1


"Ternyata Gara memang sangat benci kepada Tante ya. Luka yang Tante berikan kepada dia memang enggak sederhana. Tante pergi dari hidupnya saat Gara memerlukan sosok Ibu. Tapi waktu itu Tante memang sangat jahat dan merasa tidak sanggup menjadi seorang Ibu. Tante terlalu memperdulikan karir, hingga kehilangan dua orang yang paling berarti. Kalau kamu tanya apa Tante menyesal? Tentu jawabannya iya, tapi Tante bangga dengan papanya yang bisa mengurusi Gara dengan baik. Sekarang Gara juga pasti senang karena punya seorang Ibu seperti mama kamu."


"Tan, mungkin untuk saat ini Gara memang masih benci sama Tante. Karena kalian udah lama gak ketemu, tapi kalau Tante berusaha selalu hadir dalam kehidupan Gara pasti semuanya bisa lebih baik. Karena luka yang dia dapatkan dari Tante, hanya Tante yang bisa menyembuhkan. Gak ada orang lain, meskipun Gara terlihat baik-baik aja di luar sana tapi percaya sama Reya kalau dalam hati Gara selalu ada nama Tante."


"Kenapa kamu bisa seyakin itu? Tante yang ibunya saja tidak yakin jika akhirnya Gara bisa menerima kehadiran Tante lagi."


Reya meraih tangan mamanya Gara dan memegangnya. "Reya mau kasih tau satu rahasia supaya Tante kembali semangat menebus semua kesalahan yang pernah Tante lakukan. Di kamar Gara, dia masih menyimpan foto kalian bersama. Artinya Gara masih menyayangi Tante hingga hari ini. Jadi Reya mau Tante kembali berjuang mendapatkan hati Gara, ya."


"Kamu gak berbohong 'kan? Apa yang kamu bilang barusan adalah sebuah kebenaran, bukan sebatas membuat hati Tante tenang?"


"Benar, nanti aku fotoin bingkai foto tersebut. Supaya Tante percaya kalau Tante masih menjadi bagian penting dalam hidup Gara. Semuanya hanya perlu waktu, kalian akan bisa bersama dan bahagia bareng lagi."


Mama Gara tersenyum lebar sekarang. "Makasih banyak ya, Re. Tante senang karena ada banyak orang baik dalam hidup Gara."


Reya ikut senang dan lega setelah membicarakan ini semua. Dia meneguk minumannya, kemudian berpamitan untuk pulang. Semoga saja saat Reya kembali Gara sudah berada di rumah.


Baru saja hendak masuk ke mobil, seseorang menepuk bahu Reya. Dia berbalik badan, melihat lelaki yang sangat dikenali.


"Steven, lo ngapain di sini?”


Steven bersandar di mobil Reya. “Wanita di dalam itu mamanya Gara?"


"Iya, kok lo tau?"


Steven tiba-tiba tertawa, padahal tidak ada yang lucu di sini.


"Aneh lo, tiba-tiba ketawa kayak orang stres."


"Wanita itu calon istri om gue dan mereka bakalan menikah bulan depan. Jadi gak lama lagi gue juga bakalan saudaraan sama Gara.

__ADS_1


Deg.


Reya membulatkan matanya, menatap Steven lekat-lekat dan kembali bertanya. "Lo serius?"


__ADS_2