
"Akhirnya kamu pulang juga, Papa kira sudah lupa rumah kamu dimana."
Reya yang sedang berada di dapur, langsung masuk ke dalam dan menemukan Gara sudah kembali dengan wajah yang terlihat lelah.
"Kemana aja kamu? Menghilang gak kasih kabar, kayak anak kecil kalau kamu gitu terus."
Gara mengurungkan niatnya untuk menaiki tangga dan menatap papanya. "Gara lagi capek, bisa jangan diwawancarai dulu. Lagian Gara pergi juga punya alasan, bukan sengaja menghilang dari rumah."
"Iya tapi kasih tau Papa dulu kamu ada dimana selama tiga hari ini. Kamu gak mikir kalau Mama sama Papa bajakan khawatir sama keadaan kamu?"
Gara berbalik badan, saat itu juga matanya dan Reya saling bertemu. "Tanya aja sama dia alasan aku pergi, Papa pasti udah dengar semuanya. Selama tiga hari aku cuma nginap di rumah Gabriel, gak melakukan hal yang aneh-aneh. Jadi Papa gak usah khawatir, buktinya sekarang aku pulang dengan keadaan baik-baik aja."
Gara langsung menaiki tangga untuk ke kamarnya, dia terlalu lelah jika baru pulang harus berdebat dengan papanya.
Sementara Reya yang mendengarkan itu semua mengigit bibir bawahnya, merasa bersalah. Ini semua terjadi karena kesalahan Reya.
"Pa, mungkin Gara emang butuh waktu untuk istirahat. Biar aja dia sendirian dulu, nanti kalau udah baikan pasti bakalan ngomong lagi. Terpenting sekarang Gara udah mau pulang dan keadaan baik-baik aja."
Papa menghela nafas dan menyandarkan tubuhnya ke kursi. Semoga saja Gara memang tidak lama berdiam diri dan segera berbicara dengan dirinya.
****
Gara dan Reya berpapasan ketika keluar kamar, gadis itu sudah rapi dengan setelan yang sekarang dia kenakan. Ingin bertanya Reya akan kemana, tapi Gara terlalu gengsi.
Lagian ini malam Minggu, jelas gadis itu akan pergi dengan seseorang yang dia sukai. Siapa lagi jika bukan Arkan, sudah pasti cowok itu yang akan menjemput Reya sebentar lagi.
Keduanya turun dari lantai dua, tidak ada yang mengajak bicara dan sama-sama dia. Sembari menunggu kedatangan Arkan, Reya ikut berada di ruang makan bersama yang lain.
"Kamu jangan sering-sering makan di luar sama Arkan, sayang uangnya kalau terlalu boros. Lagian kenapa kamu gak ajak Arkan sering-sering mampir dan makan di sini sih?"
"Kak Arkan merasa gak enak kalau terus jadi tamu dan makan di sini. Lagian aku sama dia engga pacaran, gak mungkin dia selalu datang untuk makan di sini."
"Sekarang belum, mana tau sebentar lagi jadian. Mama senang kamu akhirnya sadar dan putus dari Steven, dia emang gak baik buat kamu."
Reya terdiam, dia memang tidak punya hubungan apa-apa lagi dengan Steven. Namun jika Steven dibicarakan seperti ini Reya juga merasa tidak nyaman. Karena walaupun jahat, Steven pernah sangat baik kepada dirinya.
"Jangan dibahas lagi, Ma. Steven gak akan pernah datang ke rumah ini lagi, Reya juga gak mau dengar kabar dari dia."
__ADS_1
"Bagus-bagus, berarti tandanya kamu emang udah move on dan bisa lupa sama dia."
Suara pintu yang diketuk dari luar, menghentikan mamanya yang sedang berbicara. Beliau langsung bangun dari posisi duduknya dan berjalan ke arah depan, Reya menghela nafas dan mengikuti langkah sang Mama.
"Nak Arkan, kenapa gak makan di sini aja sama Tante? Padahal Tante senang banget kamu datang."
Arkan tersenyum tipis dan menyalami Mama Reya. "Lain kali aja, Tan. Malam ini ada sesuatu yang mau Arkan beli, jadi Arkan butuh bantuan dari Reya."
"Oh begitu, Tante tunggu lho lain kalinya kamu datang. Awas aja kalau ingkar janji sama Tante."
"Enggak akan kok, Tan. Oh iya, Arkan izin bawa Reya sebentar. Arkan bakalan bawa pulang Reya sebelum jam setengah sebelas malam. Boleh 'kan, Tan?"
"Boleh banget kalau sama kamu, pokoknya pulang sebelum jam dua belas juga gak apa-apa."
Reya hanya bisa menghela nafas karena mamanya memang terlihat sangat terobsesi dengan Arkan. Ya walaupun demikian kenapa mamanya gak berusaha menutupi itu semua dari Arkan.
"Reya pamit, Ma."
Keduanya masuk ke dalam mobil dan meninggalkan pekarangan rumah Reya.
Arkan sama sekali tidak masalah, sedari tadi senyumanan tidak menghilang dari wajahnya.
"Gak apa-apa, santai aja kok. Lagian aku senang kalau Mama kamu sangat ramah sama aku, jadinya aku gak perlu merasa deg-degan tiap datang ke rumah."
Reya menyandarkan tubuhnya ke kursi, sekilas dia teringat tentang Gara yang memang kembali menjadi pendiam. Padahal sebelum bertemu dengan mamanya, mereka berdua sudah kembali baikan.
"Kak, cowok kalau lagi ngambek. Biasanya harus diapain supaya gak ngambek lagi."
"Gara lagi ngambek sama kamu?" tanya Arkan.
"Kok jadi Gara sih?"
"Siapa lagi cowok yang kamu maksud kalau bukan dia. Apa jangan-jangan kamu lagi dekat sama cowok lain?"
Reya menggeleng, dengan siapa dirinya akan dekat. Niat itu saja tidak pernah terbersit dalam pikiran Reya.
"Iya Gara yang lagi ngambek, semuanya juga salah aku. Makanya aku bingung harus gimana sekarang, gak enak aja rasanya lihat dia diam dan gak berisik."
__ADS_1
"Ternyata kamu perhatian banget ya sama dia, padahal kamu selalu bilang benci sama dia."
Reya memiringkan posisi duduknya menghadap ke arah Arkan. "Kak, aku begini karena pengen Gara cepat ngomong lagi. Supaya aku sama dia bisa berantem, kalau dia cuma diam doang mana seru."
Arkan tersenyum tipis mendengarnya, ternyata lagi-lagi dia datang terlambat. Saat Reya sudah jatuh cinta kepada orang lain, Arkan baru kembali ke dalam kehidupan gadis itu. Pantas saja Arkan selalu merasa kalah.
Mereka berdua tiba di pusat perbelanjaan, Arkan memang berkata akan mencari kado kepada seseorang yang Reya tidak ketahui siapa namanya.
"Kak, kamu mau cari kado buat cowok apa cewek?"
"Cewek, salah satu rekan kerja di kantor aku sebentar lagi ulang tahun. Kebetulan dia sering bantu aku, makanya gak nyaman kalau sampe gak kasih kado di hari bahagia dia."
Reya manggut-manggut dan langsung mencari sesuatu. Arkan pikir dengan mengetes Reya seperti tadi dia bisa melihat gadis itu menampilkan ekspresi cemburu. Ternyata lagi-lagi Arkan harus menghela nafas dan menelan rasa pahit karena Reya tidak pernah sama lagi seperti dulu.
"Ah, dia tipe yang feminim apa enggak?" tanya Reya kembali mendekat ke Arkan.
"Kayak kamu Re, gak terlalu feminim dan gak tomboy."
Reya langsung paham, kemudian memilih salah satu sepatu yang sesuai dengan seleranya. "Gimana sama sepatu ini, menurut kamu dia bakalan suka apa enggak?"
"Kamu sendiri suka liatnya?"
"Kok jadi aku? Kalau aku suka aja, karena modelnya yang simpel juga gak berlebihan. Cocok buat dipake ke kantor ataupun ke acara formal lainnya."
Arkan menerima sepatu tersebut. "Ya udah aku ambil sepatu ini, kita ke kasir sekarang."
Reya mengikut saja, lagian dia tidak tau harus membeli apa. Belum ada barang yang dia inginkan di bulan ini.
Setelah membayar tiba-tiba Arkan menyerahkan paper bag berisikan sepatu itu kepada Reya. Gadis itu menerima saja karena mengira Arkan meminta agar Reya membawakan belanjaan ini.
"Buat kamu," ucap Arkan.
"Kok buat aku?" Reya merasa bingung. "Rekan kamu yang ulang tahun gimana?"
"Itu cuma bohongan aja, hadiah buat kamu. Dua hari lagi kamu ulang tahun, aku kasih sekarang karena selama seminggu ke depan bakalan keluar kota. Aku harap kamu suka sama kado itu ya."
Reya masih bingung dan mencerna semua ini. Jadi walaupun sudah lama tidak berkomunikasi Arkan masih ingat dengan hari ulang tahunnya?
__ADS_1