My Lovely Brother

My Lovely Brother
50. Mulai berusaha


__ADS_3

Kedekatan mereka semakin terjalin, karena setelah dipikir-pikir Reya juga butuh Gara dalam hidupnya. Mereka membutuhkan satu sama lain.


Selama ini Gara sudah terlalu baik kepada dirinya, rasanya Reya belum memberikan hal yang setimpal kepada cowok itu.


Walaupun pada akhirnya Reya tidak akan tau ending seperti apa yang akan mereka dapatkan. Namun sepertinya tidak salah jika dia memutuskan untuk berjuang sekarang.


"Gar, gue masak nasi goreng. Lo makan dulu ya sebelum ke kampus."


Gara yang masih bersiap-siap di dalam kamar merasa aneh dan menatap Reya lama.


"Dalam rangka apa lo tiba-tiba jadi sebaik ini dan mau masak segala buat gue?"


"Gak apa-apa sesekali, gue lagi belajar masak menu baru. Lo harus makan, karena gue udah susah payah buatnya. Hari ini juga gue ada sedikit harapan waktu luang makanya memutuskan buat masak."


"Iya pasti gue makan kok, makasih banyak."


Reya kembali ke dapur untuk menggoreng sosis dan telur. Mungkin saja Gara membutuhkan lebih banyak varian di dalam nasi gorengnya.


Reya baru akan melaksanakan magang keesokan harinya, makanya dia berusaha menjadi sosok yang baik juga perhatian kepada Gara hari ini.


"Aromanya wangi banget, lo udah dari jam berapa di dapur?” tanya Gara.


Gara duduk di kursi, menatap makanan buat Reya yang terlihat layak dimakan juga menarik.


"Dari jam enam, gue kebangun cepat banget. Makanya sengaja masak aja buat lo."


Padahal kenyataannya tidak seperti itu, Reya sengaja bangun untuk menyiapkan ini semua.


"Hari ini lo ada praktikum di kampus, jadi mesti makan banyak supaya kuat dan gak tumbang. Tapi kalau menurut lo rasa makanan yang gue buat gak enak, jangan dipaksa makan."


Gara mengambil semua jenis makanan yang sudah disiapkan oleh Reya. Dia memakan dengan lahap. Tidak ada rasa aneh, cuma ada beberapa yang terlalu tawar dan agak asin. Namun Gara masih bisa memakan ini semua.


"Makasih, rasa makanannya enak. Lain kali kalau mau coba menu baru, harus kasih coba juga sama gue. Supaya gue bisa menilai."


"Iya pasti, gue mau belajar banyak masakan. Soalnya sekarang umur gue udah bukan anak remaja lagi. Cepat atau lambat gue bakalan ketemu sama jodoh gue. Lalu menikah dan tinggal sama dia. Gak mungkin gue cuma kasih dia makanan cepat saji. Karena yang gue tau cowok paling suka sama masakannya sama cewek yang dia suka."


Gara diam-diam tersenyum dan kembali menyuapkan makanan tersebut ke dalam mulutnya.


”Nikah sama gue aja, gak akan maksa supaya lo bisa masak kok.”

__ADS_1


”Apaan sih.” Itu adalah respon Reya dengan pipi yang sebenarnya sudah memerah.


"Lo juga makan dong, udah capek masak ya kali enggak makan. Percaya sama gue kalau masakannya beneran enak."


"Gue masih agak kenyang karena habis masak. Gue bakalan makan setelah lo pergi."


"Hmm, papa sama mama besok pagi pulang. Gue padahal berniat gangguin lo selama mereka enggak ada. Tapi ternyata lo malah dapat gangguan dari Arkan. Jadinya gue ngalah supaya lo gak stres."


"Bagus deh, tapi ternyata berhadapan sama Kak Arkan jauh lebih menguras emosi. Oh iya, besok lo aja yang jemput mereka ke bandara. Karena gue harus buru-buru ke kantor. Hari pertama gue gak mau telat, apalagi sampe jadi bahan omongan karyawan di sana."


"Aman, gak usah khawatir. Mereka bakalan gue bawa pulang dengan selamat. Lo fokus aja sama magangnya, jangan terlalu ingat sama kepulangan mereka berdua. Takutnya karena itu malah buat kesalahan di kantor."


Reya menganggukkan kepalanya, Gara jelas bisa diandalkan. Dia tidak perlu khawatir jika Gara yang datang untuk menjemput mama dan papa.


"Lo makan banyak daritadi. Emang gak bakalan mules? Soalnya ada orang yang suka sakit perut kalau kebanyakan makan pas pagi."


"Aman kok, perut gue modelan karet soalnya. Jadi lo gak usah khawatir sama soal yang kayak gitu. Lagian tadi lo suruh gue makan banyak, masak sekarang enggak boleh sih."


"Gue cuma nanya Gara, jangan buat gue emosi deh."


"Gak apa-apa, lo cantik kok walau lagi emosi. Gue selalu sula sama ekspresi wajah lo pas marah-marah.”


”Gak apa-apa, mau jelas juga lo gak akan suka sama gue.” Gara berkata dengan sangat santai dan Reya terdiam di posisinya.


Gara menyudahi makanannya dan merasa kenyang. "Lo jangan lupa makan, gue mau pergi dulu. Sekali lagi makasih buat sarapannya Reya, kalau lo bosan di rumah main aja ke tempat Renata."


"Kalau gue ke rumah Renata naik taksi, kira-kira lo mau gak jemput gue ke sana?”


Gara yang sudah membelakangi Reya, kembali menoleh ke arah gadis itu. Memastikan sekali lagi bahwa yang baru saja berbicara adalah Reya bukan orang lain.


"Gue gak salah dengar kalau lo minta jemput barusan? Biasanya lo bakalan marah dan larang gue buat jemput. Apalagi hari ini terakhir kali lo bebas. Seharusnya lo memanfaatkan kesempatan ini sebaik mungkin sebelum mama sama papa pulang."


"Gue tanya aja, gue lagi malas bawa mobil soalnya. Jadinya gue mau dijemput sama lo ke sana. Itu juga kalau lo gak keberatan, kalau gak bisa juga gak apa-apa kok."


Gara masih tidak percaya dengan semua yang dia dengar. Mana mungkin Reya bisa berubah secepat ini. Dia sangat kenal bahwa Reya bukan tipe perempuan yang manja, apalagi sampai bergantung kepada orang lain.


"Jangan-jangan lo udah punya rencana ya."


"Rencana apa?" Giliran Reya yang bingung dengan Gara.

__ADS_1


"Lo baik banget pagi ini sampe masakin gue. Terus minta gue jemput ke rumah Renata, padahal biasanya harus gue paksa dulu baru mau pulang."


Reya terkekeh, ternyata sesulit itu mendapatkan kepercayaan dari Gara. Reya terlalu banyak bertingkah dan penuh drama sampai Gara susah percaya dengan apa yang dia katakan.


Sepertinya Gara sulit membedakan kapan saat Reya berbohong dan kapan gadis itu menjadi jujur.


"Gue sama sekali gak punya rencana itu. Lo berpikir terlalu berlebihan, kebanyakan nonton film sih. Gue gak akan maksa lo kayak gitu kok."


"Ya habisnya lo benar-benar mencurigakan. Jadi benar lo ke sana murni buat main dan pulangnya minta jemput sama gue?"


"Iya Gara, hari ini lo pulang sore. Jadi setelah jemput gue kita bisa sekalian cari makan malam."


"Cuma kita berdua 'kan? Gak ada Renata yang ujung-ujungnya bakalan ikut."


Reya menghela nafas, kenapa sangat sulit menyakinkan cowok ini.


"Gue gak tau sebanyak apa udah bohong sama lo, sampe akhirnya lo punya trust issue kayak gini ke gue. Murni kita berdua Gara, gak akan ada Renata atau siapapun yang bakalan ikut. Gak usah khawatir berlebihan deh."


Akhirnya barulah Gara bisa tersenyum lebar dan terlihat senang.


"Nah, bagus deh. Sekarang gue percaya sama lo, awas aja kalau nanti malah lain cerita. Gue bakalan langsung pulang dan tinggalin lo di sana."


"Iya bawel, sana pergi. Lo kebanyakan ngomong bisa telat ke kampus." Reya mengusir Gara yang terlihat masih betah berada di sini seakan tidak mau beranjak.


"Salah lo sendiri yang malah ajak gue berdebat."


Gara tiba-tiba mendekat ke arah Reya.


"Mau apa lo?" Reya sedikit memundurkan langkahnya.


"Salam sama lo, gue biasa salam sama Mama. Jadi aneh rasanya kalau langsung pergi tanpa salam orang rumah."


Reya menatap Gara curiga, dia tau kalau ini hanya akal-akalan Gara saja. Tapi dia menuruti dan Gara benar-benar menyalami dirinya. Bukan bersalaman biasa, namun Gara sengaja mencium punggung tangan Reya.


"Kenapa pake dicium segala sih."


"Tangan lo bau bawang, sana cuci tangan dulu.” Kata Gara sembari tertawa dan berjalan meninggalkan Reya.


Reya mencium tangannya dan wangi, dia sudah mencuci tangan tadi.

__ADS_1


Dasar Gara, memang hobi memancing keributan.


__ADS_2