
Gara terlihat sangat santai dan sama sekali tidak takut kala mendapatkan pertanyaan seperti itu dari mamanya. Berbeda dengan Reya yang malah merasa jantungnya hampir keluar dari posisi sekarang.
Dia merasa kaki dan tangannya langsung dingin dalam waktu singkat. Terlalu bingung harus memberikan ekspresi seperti apa sekarang. Mengecek sekali lagi penampilannya dan bisa bernafas lega karena tidak menemukan hal mencurigakan.
"Panas, Ma. Kayaknya Ac-nya agak rusak, makanya gak mempan sama tubuh Gara."
"Kulit badak sih kamu, tapi gak sopan gak pake baju gitu di depan kakak kamu sendiri," kata Papa yang langsung mengambil tempat duduk di samping Reya.
”Makanya Reya malas banget duduk dekat dia.” Reya merasa bahwa ini memang kesempatan untuk dirinya.
"Bukan Ac-nya yang rusak, Gar. Tapi emang cuaca lagi panas banget, walaupun udah malam masih kerasa hawa panasnya."
Mendengarkan Mama dan Papa yang sama sekali tidak menaruh curiga. Reya menghela nafas lega. Mereka berdua memang tidak tau atau hanya berpura-pura saja?
"Reya kamu mau ke kamar?" tanya Mama karena Reya memang sudah berdiri dari posisi duduknya semenjak mereka pulang.
"Iya, Ma. Reya ngantuk, mau langsung tidur aja. Lagian kalian berdua udah pulang sekarang, gak ada hal penting mau dibahas 'kan?"
"Ada, kalau enggak mana mungkin mama sama papa meminta kalian supaya nunggu. Maaf karena kami pulang telat, dan gak sesuai sama janji. Sini duduk dulu kamu."
Reya ragu-ragu duduk di sebelah mamanya, melirik Gara yang masih belum memakai bajunya. Saat kedua mata mereka saling menatap, cowok itu malah menaikkan sebelah alisnya dan tersenyum tipis.
"Jadi gini, Mama sama Papa bakalan ada proyek di luar negeri selama satu bulan. Selama Mama enggak ada, Tante Lia yang akan mengawasi kalian berdua. Atau kalau kamu mau, kalian berdua bisa tinggal di rumah Tante Lia aja. Beliau juga cuma berdua sama suaminya, kalau Diana jelas sudah balik ke luar negeri."
"Enggak, Ma. Reya mau di sini aja, lagian Gara sama Reya bukan anak kecil lagi yang harus diawasi. Reya gak mau juga Tante Lia sering datang kemari. Untuk makan juga ada Bibi yang masakin, jadi Reya enggak butuh bantuan tambahan."
"Reya, Mama tau kamu enggak suka sama Tante Lia. Tapi kalau enggak ada yang memastikan keadaan kamu di rumah baik-baik aja, Mama sama Papa enggak bisa pergi dengan tenang. Tante Lia hanya akan berkunjung kapan dia sempat. Enggak tiap waktu yang bisa mengusik kamu kok."
Reya melirik Gara, memberikan kode agar cowok itu juga membantu dirinya.
__ADS_1
"Gara setuju sama Reya, Tante Lia terlalu banyak berbicara hal-hal yang enggak penting. Gara juga merasa kurang nyaman, Ma. Kalau Mama khawatir sama keadaan aku sama Reya selama kalian di sana. Kita bisa sering video call. Contohnya pagi sebelum aku sama Reya berangkat kuliah, dan malam saat kita udah santai."
"Benar apa kata Gara, Reya juga gak akan bandel. Asal jangan meminta Tante Lia kemari."
Mama dan Papa kemudian saling melempar tatapan untuk memberikan jawaban yang tepat.
"Kamu yakin bisa menjanjikan itu semua sama Mama? Gimana kalau salah satu dari kalian melanggar dan malah keluyuran enggak jelas pas kami gak ada? Lalu kalian saling membantu untuk menutupi kebusukan masing-masing?"
Mama rupanya masih sangat ragu. Apapun caranya Reya tetap tidak mau jika wanita tersebut berada di rumah ini.
"Reya harus mohon dengan cara apalagi supaya Mama percaya sama aku? Mama tau sendiri kalau aku sama Tante Lia enggak pernah akur. Dia enggak suka sama aku begitu juga sebaliknya. Kalau Tante Lia yang mengawasi kami yang ada situasinya malah menjadi semakin sulit. Bisa aja dia mengarang cerita untuk memfitnah aku. Reya enggak mau pokoknya, Ma."
"Ya udah kalau kamu emang sangat keberatan, bagaimanapun juga ini demi kenyamanan kamu sama Gara. Kebetulan Mama juga belum membicarakan semuanya sama Tante Lia. Mama bakalan kasih kalian kesempatan untuk membuktikan kalau emang gak akan macam-macam. Sekali aja pas mama telepon salah satu dari kalian enggak ada di rumah, Mama akan langsung memerintahkan Tante Lia untuk menjaga kalian di sini."
Gara dan Reya saling menatap kemudian tersenyum senang dan menganggukkan kepalanya kompak.
"Iya, sana kamu ke kamar. Katanya tadi udah ngantuk mau tidur."
"Sebelum Reya tidur, Mama sama Papa besok pergi jam berapa? Aku sama Gara bakalan anterin kalian ke bandara."
"Enggak usah, Re. Mama sama Papa penerbangan subuh, kamu pasti bakalan kesusahan bangun. Takutnya kamu malah merepotkan Gara untuk bangunin kamu."
"Reya bisa karena Reya mau anterin kalian. Lagian kita bakalan enggak ketemu selama sebulan dan itu lama. Jadi jangan larang Reya untuk ikut sama kalian besok pagi ya. Reya gak menerima penolakan dalam bentuk apapun sekarang.”
Mama mengelus rambut Reya dengan lembut juga merasa gemas. Gadis ini terlalu banyak memohon sedari tadi.
"Ya sudah kamu boleh ikut, tapi sekarang langsung tidur aja. Takutnya besok pagi kamu susah bangun."
Reya menurut, kemudian mencium pipi kiri mamanya dan berjalan menaiki tangga. Dari belakang Gara juga menyusul langkah cewek itu.
__ADS_1
"Re."
"Kenapa lagi?"
Gara mendekat, mendorong Reya sampai tubuh gadis itu menempel ke pintu. "Sebulan waktu yang lama dan gak ada yang mengawasi kita. Lo yakin bisa tahan dan aman sama gue."
Reya menepis tangan Gara yang memegang pipinya. "Gue gak nafsuan kayak lo, sana masuk ke kamar sendiri. Gue capek dan mau istirahat."
"Gak mau tidur bareng aja? Biar besok enak gue bangunin lo?" tanya Gara masih berusaha usil.
Reya mendorong Gara dan cowok itu tertawa. "Gak usah aneh-aneh deh lo, gue gak mau tidur sama lo malam ini karena pasti bakalan kenapa-napa."
Tawa Gara semakin pecah, apalagi eskpresi Reya terlihat agak takut.
"Padahal lo pernah minta tidur sama gue pas sakit dan gak ada yang terjadi."
"Itu beda, pikiran lo sekarang lagi kotor dan gue harus jaga jarak."
"Re." Gara kembali menahan tangan Reya saat gadis itu hendak masuk ke dalam kamarnya.
"Apalagi sih? Gue beneran ngantuk Gara, jangan usil deh."
"Kita lihat aja nanti saat Mama dan Papa gak ada, gue mau tau seberapa kuat lo tahan. Gue gak bercanda soal ini Re, jadi lo siap-siap aja. Gue bakalan godain lo sampe akhirnya lo ngaku suka sama gue."
Setelah itu Gara mencuri satu kecupan di pipi Reya sembari berkata. "Selamat malam, cantik." Kemudian tanpa merasa bersalah melangkah masuk ke dalam kamarnya.
Meninggalkan Reya yang lagi-lagi harus bertengkar dengan detak jantungnya yang berdebar.
Gara memang selalu gila, sialnya Reya malah suka.
__ADS_1