My Lovely Brother

My Lovely Brother
54. Tentang Gara


__ADS_3

Ketika jam makan malam tiba, dengan ragu Gara mengetuk pintu kamar Reya. Dia harus meminta maaf kepada gadis itu sebelum Reya bertambah marah.


Beberapa saat menunggu Reya keluar dari kamar dengan keadaan yang lebih fresh. Sepertinya gadis itu baru saja mandi dan berkeramas.


"Mama suruh gue manggil lo supaya kita makan bareng." Akal-amalan Gara untuk berani mengajak Reya berbicara sebenarnya.


Reya tidak menjawab apa-apa dan langsung berjalan di depan Gara. Cowok itu yang panik langsung memegang tangan Reya. "Masih marah sama gue?"


"Enggak."


"Kalau enggak marah kenapa cuek?" tanya Gara dan Reya hanya terdiam tanpa suara dengan kepala terus menunduk.


"Gue minta maaf kalau kata-kata yang gue ucapkan terdengar sangat tidak pantas. Gue cuma cemburu saat tau sekarang waktu lo sama Arkan bakalan lebih banyak dibandingkan ketemu sama gue. Kita cuma ketemu pas jam makan doang, selebihnya lo di kamar. Kalau enggak sibuk kerja, ya tidur karena capek seharian di kantor."


"Tapi gak seharusnya juga lo melimpahkan rasa kesal itu ke gue kayak tadi. Karena gue sendiri kalau bisa nolak juga mau melakukan itu. Tapi semuanya udah terlambat dan gue gak bisa mundur lagi. Jadi mau gak mau gue harus tetap melangkah."


Gara memegang bahu Reya, menatap gadis itu lekat-lekat. Reya terlihat sangat kelelahan sebab matanya sayu dan menatap Gara dengan lemah.


"Gue janji gak bakalan ulang kesalahan yang sama untuk kedua kalinya. Gue minta maaf dan janji gak akan usik ketenangan lo pas istirahat."


"Seharusnya tadi gue minta jemput sama lo, tapi Kak Arkan malah mau temani gue. Kondisi di luar kantor juga ngeri banget kalau gue paksa main HP. Maka karena itu juga gue berakhir pulang sama dia. Maaf kalau lo enggak suka, gue gak punya pilihan."


Gara akhirnya paham dan merasa semakin bersalah setelah mendengarkan penjelasan Reya sekarang.


"Mulai besok gue bakalan stay di depan kantor lo. Gue bakalan berada di sana buat mantau supaya lo gak berakhir pulang bareng sama dia lagi. Gue gak akan mau kasih Arkan kesempatan untuk kedua kalinya. Percaya sama gue Reya."


"Tapi kalau lo sibuk jangan dipaksa, gue enggak mau memaksakan keadaan."


"Iya, besok gue pulang cepat kok. Jadi gue bisa kesana buat jemput lo dan gak perlu nunggu.”

__ADS_1


Akhirnya kedua adik kakak tiri tersebut berdamai dan tidak lagi melemparkan tatapan permusuhan. Mereka menuruni tangga dan menuju ke ruang makan. Mama sama Papa sudah menunggu di sana.


"Gimana hari-hari menjadi mahasiswa magang Reya?"


Reya menerima piring yang sudah diisikan nasi oleh sang ibu.


"Aman Ma, cuma ya tau sendiri pasti kerjaannya jauh lebih banyak dibandingkan kuliah. Reya juga merasa akhir-akhir ini susah tidur. Karena belum bisa beradaptasi sama lingkungan kantor. Reya takut bangun terlambat dan mendapatkan omelan. Itu jelas bukan sesuatu yang bagus."


"Bukannya kamu magang di kantor Arkan, apa dia bersikap jahat sama kamu?"


"Mama tau kalau itu tempat kerjanya Kak Arkan?" tanya Reya. Sebab seingatnya dia belum pernah membahas hal ini.


Apa jangan-jangan Gara yang sudah keceplosan? Tapi mana mungkin juga lelaki ini sudi membahas perihal Arkan.


"Tau, perusahaan itu beberapa kali melakukan kerja sama dengan kami. Saat kamu menolak magang di perusahaan Mama, mungkin emang itu perusahaan yang cocok sama kamu. Lagian waktu mendaftarkan diri kamu masih dekat sama Arkan, makanya Mama gak melarang dan berpikir baik ke depannya karena udah ada satu orang yang kamu kenal.”


Hmm, benar juga apa yang mamanya katakan. Kalau Reya baru mendaftarkan diri sekarang pastinya mamanya akan menolak. Salah Reya juga yang tidak pernah mencari tau dimana Arkan bekerja, saking tidak pedulinya Reya kepada cowok itu.


"Iya aman kok, Ma. Kak Arkan gak bawa urusan pribadi ke dalam pekerjaan. Dia bersikap cukup profesional dan Reya sama sekali gak terusik."


"Syukurlah kalau begitu, cuma kalau Arkan udah macam-macam dan seenaknya sama kamu langsung kasih tau sama Mama. Jangan sampe kamu dipermainkan apalagi dipermalukan di depan umum, Mama gak akan terima meskipun dulunya dekat dengan Arkan."


Reya lega mendengarnya, jika Arkan sampai macam-macam dirinya sudah punya tempat pengaduan.


"Kamu Gara gimana? Katanya teman-teman kamu udah ada yang ambil kuliah praktek tahun ini. Kamu gak ada rencana biar cepat lulus?" Kini seluruh orang yang ada di sini fokus kepada Gara yang sedari tadi diam.


"Dosen menyarankan supaya aku ikut di semester ini, tapi Gara belum punya persiapan yang matang. Mungkin semester depan aja barengan sama Gabriel, Pa."


"Gar, kalau dosen kamu sudah menyarankan sekarang ya terima aja. Jangan menyia-nyiakan kesempatan, lebih cepat akan lebih baik. Sangat banyak proyek di perusahaan Papa yang nantinya bisa kamu pegang. Makanya kamu harus segera lulus, biar dapat bekerja dengan Papa secepatnya."

__ADS_1


"Tapi Gara mau lanjut sampe S2, Pa. Kita udah pernah bahas ini sebelumnya." Gara berbicara dengan suara yang terbilang sangat kecil.


"Gar, kamu bisa tetap lanjut pendidikan sembari bekerja. Lagian kuliah S2 juga enggak setiap hari. Kamu bisa ambil kelas malam atau Sabtu-Minggu aja. Itu semua bisa diatur nantinya. Kelamaan kuliah juga gak menghasilkan banyak uang."


Reya memperhatikan Gara yang terdiam dan terlihat kecewa. Dia sebenarnya bingung kenapa Gara sudah memikirkan S2, di saat dirinya lulus S1 saja sudah cukup. Reya tidak punya banyak energi untuk kembali melanjutkan pendidikannya.


"Emang sebelumnya Gara mau lanjut pendidikan dimana, Pa?" tanya Reya tidak bisa membendung rasa penasarannya.


"Luar negeri, makanya Papa enggak setuju dan akan menghambat proses dia langsung masuk ke dunia kerja. Lagian sangat banyak kampus bagus yang ada di negara ini. Gara bisa memilih salah satu di antara itu, gak usah jauh-jauh.”


Reya terdiam, mungkin mimpi Gara memang sebesar itu dan cowok ini terlihat serius dengan mimpinya.


"Reya malah enggak mau lanjut, katanya pengen kerja dan nikah aja." Mama malah membongkar rahasia yang tidak pernah Reya bahas sebelumnya.


"Kalau mau lanjut juga boleh Reya, setelah kamu nganggur satu tahun kemudian lanjut pendidikan sama Gara."


"Reya sama sekali enggak terpikirkan ke arah sana, sebab Reya gak punya banyak energi lagi."


Papa hanya tertawa saja mendengarkan apa yang Reya katakan barusan. Ternyata dua orang yang dipaksa dipersatukan dalam satu keluarga memiliki pemikiran yang sangat jauh berbeda.


"Gara udah kenyang, mau langsung ke kamar aja."


Reya melihat sangat jelas perubahan ekspresi Gara dalam waktu singkat. Padahal saat memanggilnya di kamar tadi masih terlihat sangat ceria, berbeda dengan Gara yang sekarang.


"Kayaknya Gara masih susah menerima dengan keputusan kamu barusan. Lagian kuliah S2 cuma dua tahunan, Gara pasti bisa menyelesaikan kalau kita kasih kesempatan."


"Enggak, Ma. Perusahaan kita butuh Gara secepatnya makanya aku gak mau melepaskan dia untuk melanjutkan pendidikan lagi."


Reya mendengarkan itu semua dan sekarang menjadi lebih tau, bahwa kehidupan Gara ternyata tidak semudah dan sebahagia yang biasa Reya lihat.

__ADS_1


Gara punya banyak permintaan dari papanya yang harus bisa dikabulkan.


__ADS_2