
Reya bangun di pagi hari, sedikit kaget setelah melihat jam yang menunjukkan pukul sembilan pagi. Buru-buru dia mengecek hari dan bernafas lega.
Ternyata ini baru pagi Minggu, hampir saja Reya panik sebab terlambat bangun ke kantor. Sangat tidak lucu jika mahasiswa magang sampai datang terlambat.
Reya langsung mandi dan turun ke bawah untuk sarapan. Tapi kenapa keadaan menjadi sepi. Tidak mau banyak berpikir sebab sudah terlanjur lapar, Reya memutuskan untuk makan saja.
Samar-samar dia mendengarkan suara dari arah belakang. Oh, sepertinya anggota keluarganya sedang berada di sana.
"Ma, Pa. Tumben banget gotong royong begini." Reya berdiri di depan pintu dengan segelas cokelat hangat di tangannya.
"Oh sudah bangun kamu, sini bantu-bantu."
Reya masuk ke dalam sebentar dan meletakkan gelasnya. Kemudian ikut bergabung dengan mama dan papanya.
"Dalam rangka apa nih?"
"Mama sama Papa sudah enggak muda lagi, Reya. Umur Mama tahun ini juga semakin dekat dengan angka 50 puluh tahun. Mama mau membuat taman, supaya nanti kalau Mama pensiun bisa bersantai di sini. Mama gak mau pensiun terlalu lama. Mama sudah lelah bekerja dan ingin segera beristirahat. Tabungan hari tua Mama juga sudah cukup."
Reya mendadak sendu, waktu berjalan begitu cepat dan tidak terasa semuanya sudah berjalan sejauh ini.
Gara datang dengan membawakan beberapa pot bunga baru.
"Sini, bantuin gue tanam bunga."
Reya langsung berjongkok di sebelah Gara. "Sejak kapan Mama sama Papa punya ide ini? Kok gue sama sekali enggak tau."
"Lo terlalu sibuk sama magang makanya mereka gak mau kasih tau dulu. Mama sama Papa udah bahas ini sejak satu minggu yang lalu. Baru bisa dikerjakan sekarang. Katanya mau dicicil sedikit demi sedikit dimulai dari sekarang biar gak terlalu terlambat."
"Hmm, gue pengen cepat-cepat lulus kalau gini. Mama udah pantas untuk istirahat, dia udah terlalu sering memaksakan dirinya buat bertahan. Pensiun dini gue rasa bukan sesuatu yang buruk."
"Anak berbakti banget ya lo, beda sama gue yang udah tau semua ini tapi masih nekat buat lanjut S2."
"Gar, kalau lo emang mau lanjut ya gak apa-apa. Biar gue yang kerja dulu, gue juga lebih tua dibandingkan lo."
"Walaupun lo emang lebih tua beberapa bulan dari gue. Tapi gak ada istilahnya semua beban yang ada di rumah ini harus lo yang tanggung. Setelah gue pikir-pikir apa yang Papa bilang sama sekali gak salah. Masih banyak kampus di sini dan gue gak harus kerja di luar. Gue gak mau egois dan udah memutus semuanya."
__ADS_1
"Yakin gak bakalan nyesal?"
"Gak akan nyesal selagi gue bisa bikin Mama sama papa senang."
Reya tersenyum tipis, merasa lega jika akhirnya memang tidak adalagi kejadian adu argumen antara Gara dan Papa untuk membahas perihal S2.
"Okelah kalau gitu, gue senang dengarnya kalau lo emang udah punya keputusan yang tepat."
"Gimana sama kencan lo tadi malam, berjalan dengan lancar?"
"Siapa yang kencan coba, jangan asal ngomong dong." Reya menjadi sedikit kesal kepada Gara.
"Kalau bukan kencan apa dong namanya?"
"Gue cuma kenalan sama cowok yang Renata suka sekarang."
"Wow, ternyata dia udah gak suka sama gue lagi. Segampang itu dia berpaling dari gue?” tanya Gara dengan ekspresi pura-pura terlihat kecewa.
"Apa yang harus dia pikirin, makanya lo jangan sok ganteng."
"Gue gak tertarik dan gak mau Renata jadian sama dia. Dari awal gue udah menduga kalau dia emang pemain. Tipe-tipe cowok yang emang ramah sama semua cewek yang menurut dia cantik. Setelah gue ketemu sama dia, gue langsung bisa membuktikan dan gue menyadari kalau dia emang pemain. Dia gak cocok buat Renata, gue gak mau Renata sampe jadi korban cowok buaya."
"Mana tau dia bisa berubah buat Renata, lo jangan langsung negatif gitu."
"Gar, seumur hidup gue gak pernah bisa percaya seseorang bisa berubah cuma karena cinta. Gak semudah itu merubah sifat seseorang. Lagian masih banyak cowok di luar sana yang mau sama Renata. Gue gak mau Renata sakit hati karena salah pilih."
"Hmm, bagus deh kalau lo peduli banget sama Renata. Semoga dia emang melakukan hal yang sama kalau kejadian itu terjadi sama lo."
Reya dan Gara mendekat ke arah pondok ketika mama sudah memanggil mereka berdua.
Sudah ada minuman dan beberapa jenis kue di sini. Reya menuangkan jus jeruk ke dalam gelasnya. Setelah meminum Reya merasa sangat segar dan cocok dengan rasa jeruknya.
"Lama kita gak kumpul kayak gini, cuma ketemu di meja makan aja. Mulai sekarang kita harus lebih sering kumpul di sini supaya terbiasa dengan keadaan."
Reya juga menyukai suasana di sini yang terasa lebih adem dan nyaman dibandingkan di dalam rumah.
__ADS_1
"Kayaknya kita harus tanam beberapa pohon juga, Ma. Jangan bunga aja supaya suasana jadi lebih sejuk."
"Gara setuju sama Reya, kalau Mama mau Gara punya kenalan yang kebetulan orang tuanya jual pohon-pohon yang udah tumbuh. Jadi kita gak harus mulai semuanya dari nol lagi."
"Oh ya? Mama mau dong kalau gitu. Mau tanam pohon apa emang, Rey?"
"Kelengkeng, mangga, jeruk, terus delima. Biar gak bunga aja sih, lagian pohon-pohon itu bakalan tumbuh lebih cepat kecuali mangga sih. Tapi banyak mangga yang udah dicangkok pohonnya."
"Nah, yang gitu-gitu deh di jual sama ayah teman gue."
"Ayah siapa sih. Gak mungkin Gabriel 'kan?"
"Gak lah, Gabriel terus yang lo ingat. Kebetulan yang punya usaha kayak gitu ayahnya Atha."
"Oh Atha, lo gak pernah cerita sama gue soal dia. Jadi mana mungkin gue tau."
"Gue juga gak pernah cerita soal Gabriel ke lo, kecuali lo tanya sendiri sama dia."
"Gar, Re. Mama pikir kebiasaan kalian berdebat seperti itu sudah hilang. Ternyata masih awet sampai sekarang cuma jarang ditunjukkan aja kayaknya ya."
"Ya begitulah, Ma. Dia kalau gak ajak Reya debat sehari aja bakalan meriang. Kayak orang gak bisa hidup dengan tenang." Kata Reya yang mengejek.
"Drama banget lo."
Reya mendumel kesal, Gara tertawa saja.
"Ya udah ayo tanam bunga lagi, masih banyak tuh yang belum lo tanam."
"Lo aja lah lanjut, gue mau lihat ikan ke kolam dulu."
Reya langsung berlari pergi begitu saja, meninggalkan Gara yang terlihat kesal.
Mama mengelus lengan Gara dengan lembut. "Jangan emosi, Reya bukannya kabur dari tugas. Dia itu takut banget sama cacing, bukan cuma takut aja tapi phobia. Jangankan cacing langsung, lihat di buku aja dia bisa nangis."
Oh sekarang Gara paham, pantas saja sedari tadi Reya hanya menemani dirinya berjongkok tanpa melakukan pekerjaan. Ternyata gadis itu takut dengan hewan yang biasa ada di dalam tanah yang subur.
__ADS_1
"Dasar Reya, gengsi banget buat tunjukkin rasa takutnya."