
Seperti tersambar petir disiang bolong rasanya
ia tak bisa menggerakkan tubuh indahnya.
Fisya sangat tidak percaya perihal rencana pernikahannya dengan pria yang jelas tidak
ia cintai. Fisya bingung harus berbuat apa,
ia tidak mungkin menolak mentah-mentah karena dampaknya bukan hanya pada diri sendiri tetapi
juga keluarga.
"Menikah? Menikah? Apa ini hanya mimpi?
Gimana aku bisa menikah dengan pria yang
tidak aku cintai? Omong kosong macam apa ini? Aaahh rasanya aku ingin lari dari semua ini !!"
gumam Fisya dengan tatapan nanar nya.
Karina yang duduk disamping Fisya tangan
kirinya memegang tangan Fisya dan tangan kanan merangkul pundak Fisya seolah memberi
kekuatan untuk Fisya.
"Ayah tau ini sangat tiba-tiba, tapi ayah mohon nak
ini untukmu dan untuk keluarga kita. Ayah juga
sudah tidak sanggup membayar uang kuliahmu.
Ayah mohon kali ini saja dengarkan ayah ya."
ucap Rudi memohon.
Fisya tidak sanggup lagi mendengar semua
ucapan ayahnya, seperti nya tanpa persetujuannya
pun Rudi tetap akan melangsungkan perjodohan ini. Memang terlihat sedikit jahat, tapi Rudi dan Karina hanya ingin yang terbaik untuk Fisya.
Karina yang masih memberi kekuatan pada
Fisya ikut bicara "Ibu tau ini bukan keinginan mu,
tapi ayah dan ibu melakukan ini untuk kebaikan mu sayang. Setidaknya kamu tidak akan kekurangan apapun jika menikah dengan Abimanyu.
Bukannya kamu juga sudah cukup dekat dengan Mama Inggrid?"
Fisya hanya mengangguk ia tak mampu
membendung air matanya, Fisya menangis sejadi-jadinya dipelukan Karina. Tak sanggup
__ADS_1
rasanya mengeluarkan satu kata sekalipun,
Karina mengantar Fisya ke kamar dan
menyuruhnya untuk beristirahat. Percakapan
ini sangat membuat Fisya syok, Rudi dan Karina
tidak bisa memaksa Fisya berbicara lagi.
.
.
"Ya Tuhan, sejujurnya aku belum siap menikah
hiks..hikss.. aku juga tidak mungkin menolak permintaan ayah. Dengan kondisi ayah saat
ini pasti tidak akan mampu untuk membayar
uang kuliah ku dan bahkan aku akan menjadi
beban saja."
.
Siang pun berganti malam, setelah merenung
seharian dan akhirnya tertidur selama
lapar, ia keluar kamar dengan mata sembab dan
pipi yang merah akibat menangis. Ia membuka
kulkas dan mengambil beberapa makanan dan
satu kotak susu lalu menghampiri ayah dan
ibunya.
"Apa perasaan mu sudah jauh lebih baik
sayang?" ucap Karina sambil memperhatikan gerak-gerik Fisya.
Fisya mengambil beberapa lembar tisu dan
sriiiiiing "Ternyata menangis bisa membuat jauh
lebih baik ya bu." suaranya serak seperti
terkena flu. Lalu Fisya memeluk Karina
"Buu..apa tidak papa Fisya menikah sebelum
__ADS_1
lulus sekolah?"
"Tidak masalah sayang, yang penting anak
ibu ini sudah cukup umur untuk menikah.
Hmm, apa kamu setuju dengan rencana ayah?"
Fisya menghela nafas panjang "Hmm, Fisya setuju.
Untuk kebaikan keluarga kita kan?"
"Bu, apakah tugas seorang istri itu berat? Apa
nanti Fisya harus melayani suami Fisya bu?
Terus gimana kalo Fisya hamil dan punya
anak bu?" tanya Fisya bertubi-tubi.
"Sayang, tentu saja kamu harus melayani dan mengurus suamimu dengan baik walaupun
mungkin kamu belum mencintainya tapi kamu
harus tetap melayaninya dengan baik." ucap
Kirana sambil mengelus-elus rambut Fisya.
"Sini sayang lihat ibu, kalo kamu hamil dan
punya anak itu berarti anugerah yang dititipkan
Tuhan untuk keluarga kecilmu. Tidak perlu
khawatir, ibu pasti selalu mendampingi mu nak."
Ucap Karina sambil memeluk Fisya.
Rudi yang sedari tadi membaca koran hanya
mendengarkan percakapan antara ibu dan anak.
Ia merasa lega, karea Fisya akhirnya setuju
menikah dengan Abimanyu.
.
.
.
.
__ADS_1
.
Happy Reading ❤️