My Lovely Brother

My Lovely Brother
64. Sifat Jessi


__ADS_3

Renata dan Reya sepakat untuk memberikan bantuan kepada Steven. Walaupun hubungan mereka tidak terlalu baik karena terakhir kali. Namun bagaimanapun Steven pernah menjadi teman dan sekarang dia sedang dalam kesulitan.


Tidak ada salahnya membantu Steven, karena sejak awal cowok ini memang terjebak dalam hubungan sekarang.


"Lo yakin ini klub yang sering didatangi sama Jesika?" tanya Reya ketika mobil Steven sudah berada di parkiran.


Steven menganggukkan kepalanya, di jam sebelas malam. Ketiga orang tersebut masih berada di depan sebuah klub malam. Padahal keesokan harinya mereka masih harus magang.


"Ya udah ayo masuk ke dalam, tapi lo punya kartu member-nya gak?"


"Punya, gue udah sengaja buat biar bisa selidiki Jesika dengan mudah."


Mereka bertiga keluar dari mobil, tentu saja dengan penyamaran yang sudah dilakukan agar tidak ada yang bisa mengenali dengan mudah.


"Re, lo jalan di samping gue. Takutnya ada orang usil yang malah godain lo."


Reya menarik tangan Renata dan menggenggamnya, mereka tidak boleh berpisah.


Jika boleh jujur Reya sangat jarang datang ke tempat seperti ini, mungkin ini kali ketiga dia datang.


"Jesika gak akan datang kesini malam ini 'kan?" tanya Renata memastikan supaya rencana mereka tidak berakhir dengan gagal.


"Gak akan lah, dia lagi dikurung di rumahnya. Jadi mana mungkin bakalan keluyuran."


"Ya mana tau dia nekat kabur karena gak tahan dikurung terus."


"Gak akan, dia gak berani lakuin itu."


Steven menunjukkan sebuah foto kepada bartender yang bekerja. "Kira-kira pernah lihat cewek ini di sini gak?"


"Wah, dulunya sering sih dia datang ke sini. Tapi udah seminggu gak kelihatan, biasanya selalu duduk di sana."


Steven mengarahkan pandangannya ke tempat yang dimaksudkan. Di sana ada sekelompok perempuan dan juga beberapa laki-laki, terlihat sebaya dengan mereka juga.


"Itu teman-teman cewek ini?"


"Biasanya sih gabung, cuma cowok yang sering sama dia juga gak datang. Kayaknya mereka udah pindah ke tempat lain. Soalnya dua-duanya udah seminggu gak pernah datang, biasanya gak absen.”

__ADS_1


"Oh, cowoknya sebaya juga sama dia?"


"Kayaknya sih, kenapa emangnya? Gue gak bisa kasih banyak informasi sama orang asing."


"Gue tunangan dari cewek ini, gue harus selidiki sesuatu sekarang. Makanya gue sangat meminta bantuan dari lo. Kalau lo lihat dia datang lagi ke sini, tolong hubungi gue."


Steven memberikan kartu nama yang berisikan nomor teleponnya.


"Gue bakalan kasih lo bonus kalau mau bantu, jadi gak usah khawatir buat jujur sama gue."


"Beneran bakalan dapat uang?" tanyanya.


Steven tanpa ragu mengeluarkan uang satu juta dan meletakkan di atas meja. "Ini uang muka, coba cerita sama gue apa yang bisa dia lakuin di sini."


Semua orang memang akan selalu suka dengan uang, begitu juga dengan cowok tersebut. Dia langsung mengambil uang yang Steven berikan, kemudian mulai mengingat.


"Awalnya dia cuma datang ke sini sendirian, minum sendiri dan pulang. Sampai akhirnya Jesika ketemu sama geng itu, mereka jadi sering bareng. Kalau satu gak datang ya gak datang semua. Tapi sekarang cuma Jesika sama cowoknya doang yang gak datang. Kayaknya mereka pacaran, makanya gue gak menyangka dia udah punya tunangan."


"Kenapa lo bisa yakin mereka berdua pacaran?"


"Pelukan sama ciuman di sini, apa mungkin gak pacaran? Ya gue tau emang banyak gitu di sini, tapi biasanya kalau sama orang asing cuma satu atau dua kali. Gak mungkin setiap datang ke sini selalu begitu, bahkan sampe booking kamar."


"Kalau gue boleh tau siapa nama cowok itu."


"Wah, gue gak bisa sembarangan kasih tau nama. Soalnya dari yang gue lihat dia berasal dari keluarga kaya raya. Gue takut kalau kasih tau informasi dia sama lo."


"Gue transfer lima juta ke rekening lo sekarang, gue cuma perlu nama lengkap dia."


Reya dan Renata geleng-geleng kepala saja, mengikuti apa saja yang ingin Steven lakukan.


"Lo serius, mau bayar gue lima juta cuma buat tau nama lengkapnya aja?"


"Iya, lo gak mau? Kalau gak mau gue bisa tanya sama orang lain yang ada di sini." Steven sengaja memancing.


"Ya mau lah, ya kali gue nolak rezeki. Kalau gini ceritanya gue yakin lo jauh lebih kaya dibandingkan cowok yang sering sama Jesika."


"Hmm, bisa jadi. Tulis aja namanya di kertas, sekalian sama nomor rekening lo. Gue bakalan langsung transfer."

__ADS_1


"Ok, senang bekerja sama dengan orang gak pelit kayak lo. Aneh aja udah dapat cowok kaya gini, malah selingkuh sama cowok lain."


Steven terkekeh pelan mendengarnya. "Biasalah, gue gak bisa kasih apa yang dia mau. Makanya dia sampe berpindah ke lain hati."


Setelah mendapatkan apa yang Steven mau, mereka memutuskan untuk pergi. Karena Steven akan kembali setelah mendapatkan panggilan telepon dari cowok yang bernama Rian tadi.


"Bentar, itu bukannya Jessi ya?" tanya Reya kepada Renata. Dia tidak bisa memastikan dengan jelas, karena gadis itu berada di bawah cahaya remang-remang.


"Iya, sama siapa ya itu."


Reya tidak bisa menahan rasa penasaran dan memutuskan untuk berjalan mendekat. Guna memastikan bahwa dia memang tidak salah lihat.


Penampilan Jessi di kampus dan di luar seperti sekarang sangat berbeda. Jessi berpakaian minim dan berdandan. Karena itu juga Reya menjadi sedikit susah mengenali adik tingkatnya.


"Jadi lo gak pernah suka sama pacar lo itu?" tanya salah satu cewek yang duduk berhadapan dengan Jessi.


"Enggak lah, awalnya gue emang suka. Tapi setelah ditolak gue gak pernah suka lagi sama dia, terus tiba-tiba dia bilang suka sama gue. Kayaknya dia dapat karma karena terlalu angkuh sama gue."


Reya mendengarkan itu semua dengan sangat jelas. Jessi penuh percaya diri mengatakan itu semua.


"Gue pacarin aja, lumayan uang dia banyak. Kapan lagi gue bisa bodohi cowok. Sekalian aja sama balas dendam. Gara sebodoh itu ternyata, awal doang jual mahal. Tapi ujung-ujungnya jatuh cinta juga sama pesona gue.”


”Ganteng doang tapi bego.”


Reya mendekat, tanpa aba-aba dia meraih segelas air yang berada di atas meja dan menyiram ke wajah Jessi.


"Woi, apa-apaan lo main siram gue gitu aja." Jessi menatap pakaian dan memegang rambutnya yang basah.


"Kak Reya?" Suaranya melemah setelah melihat siapa pelakunya. "Kakak kok ada di sini?"


"Bukan urusan lo gue ada di sini, gue udah dengar semuanya. Gue minta sama lo, tolong putusin adik gue sekarang juga."


Jessi terkekeh sinis. "Urusan sama lo apa ya? Lo itu cuma kakak tirinya Gara, gak usah ikut campur sama hubungan gue dan dia. Gara juga gak mau dengar apa yang lo bilang, karena dia cinta sama gue."


Reya tertawa, Jessi ternyata terlalu percaya diri.


Reya mendekat dan menjepit pipi Jessi dengan kuat. "Gue peringati lo sebagai cewek yang cinta sama Gara, bukan sebagai kakak tirinya. Paham?" Reya menatap Jessi lekat-lekat dan melepaskan gadis itu. Kemudian Reya pergi untuk berjalan keluar dari klub.

__ADS_1


Sementara Reya yang berjalan dengan santai, ada Renata yang syok mendengarkan itu semua.


Dia sama sekali tidak salah dengar 'kan?


__ADS_2