My Lovely Brother

My Lovely Brother
29. Perdebatan tak kunjung usai


__ADS_3

Semakin hari Reya tambah sering bertemu dengan Arkan, tapi selama itu juga dia belum merasakan apa-apa. Selain merasa senang saja saat melihat dunia luar, lalu merasa hampa dan tidak berbunga-bunga ketika tiba di rumah. Tidak ada juga euforia berdebar tiap kali ingin bertemu dengan Arkan seperti dulu:


Reya berdiri di depan cermin, menatap dirinya. Berusaha mencari tau apa yang sebenarnya salah. Kenapa cinta lama bersemi kembali tidak berlaku di dalam hidupnya? Padahal Arkan datang dengan versi yang lebih dewasa dan tambah ganteng dibandingkan dulu.


Reya memutar otak, kemudian menatap lagi ke arah cermin. "Re, kenapa kamu gak bisa suka sama Arkan lagi? Secara dia itu cowok pertama yang bikin kamu tertarik. Bahkan kamu udah lebih dulu kenal sama dia dibandingkan Steven, kenapa bisa sekarang gak deg-degan lagi. Seharusnya kamu senang karena akhirnya perasaan kamu terbalas. Apa karena Kak Arkan datang terlalu telat?”


Bertanya kepada diri sendiri ternyata tidak mendapatkan jawaban. Karena merasa lapar akhirnya dia turun ke bawah untuk makan.


"Re, selama libur kamu gak ada rencana buat liburan gitu? Tumben banget kamu gak minta kemana-mana, biasa sebelum masa libur tiba aja kamu udah ada planning dari jauh hari.”


Ah, benar juga. Kenapa Reya sama sekali tidak menginginkan itu. Padahal libur semester akan berlangsung selama dua bulan dan dirinya pasti akan sangat bosan, jika selama dua bulan terus berada di rumah.


"Mama gak ada rencana buat bawa Reya liburan? Reya gak ada kepikiran kemana-mana, aneh juga sama diri sendiri kenapa sekarang bisa gini.”


"Itu karena kamu udah ketemu sama Arkan lagi, jadi cukup jalan sama dia udah berhasil buat kamu senang. Gak harus pake cara liburan ke luar kota atau luar negeri lagi." Mama menatap Reya dengan senyum usil.


Reya mengernyitkan dahinya bingung, dia tidak pernah merasa seperti itu padahal.


"Reya udah mau semester tujuh, jadi udah banyak ketakutan makanya gak sempat mikir ke sana. Ini semua gak ada kaitannya sama Kak Arkan."


"Masa sih? Padahal kamu ketemu sama dia terus, sampe sekarang gak mungkin kalau kalian masih berteman. Pasti Arkan udah menyatakan perasaannya ke kamu, tapi kamu gak mau kasih tau Mama karena takut diledekin?”


Reya meneguk minumannya, nafsu makannya mendadak hilang karena mamanya terlalu banyak menyebut nama Arkan.


"Gak ada hubungan apa-apa, lagian Reya emang gak suka lagi sama Kak Arkan. Perasaan Reya ke dia udah berakhir semenjak dia nolak aku waktu itu.”

__ADS_1


"Kalau gak suka kenapa jalan terus sama dia? Itu sama aja dengan lo memberikan harapan tapi enggak mau tanggung jawab pada akhirnya. Kasus kayak gini udah banyak terjadi, lo cuma bakalan sakiti orang kalau gini terus."


Reya melirik ke arah Gara, tumben sekali cowok ini mau ikut campur dengan urusannya. Biasa juga diam karena mereka berdua memang belum sepenuhnya akur.


"Gue jalan sama dia murni karena anggap dia sebagai teman, emang ada yang salah dari bagian jalan sama teman? Wajar aja karena banyak orang lakuin itu di jaman sekarang.”


"Teman?" tanya Gara kemudian terkekeh. "Teman mana yang jalan tiap hari, telepon tiap saat dan selalu chattingan. Ternyata lo emang selalu kayak gini sama semua cowok. Suka kasih kesempatan, giliran diminta kepastian lo bakalan bilang kalau gak ada rasa. Kurang-kurangin sifat kayak gitu, Re. Orang bisa sakit hati kalau diperlakukan semena-mena gitu."


"Maksud lo apa sih? Kenapa mendadak serius banget menanggapi apa yang gue bilang. Lagian Kak Arkan sama sekali gak masalah dengan status kita yang sekarang. Dia paham kalau gue baru putus. makanya dia gak maksa.”


"Perasaan itu emang sesuatu yang serius sebab menyangkut hati. Jadi jangan sepelekan apa yang orang lain rasain. Makanya gue menanggapi apa yang lo bilang dengan serius, supaya lo sadar kalau emang salah.”


Reya menghela nafas, mamanya belum mengambil alih dan memutuskan menyimak apa yang akan terjadi di sini. Apa Gara dan Reya pada akhirnya memang akan saling membunuh satu sama lain, karena tidak bisa menahan emosi? Mari disimak saja perdebatan mereka yang belum berakhir.


"Lo ngomong kayak gitu seakan-akan diri lo paling benar. Soal Renata dan Jessi apa kabar? Lo juga selalu baik sama mereka dan seakan kasih kesempatan. Padahal gue tau kalau lo gak suka satupun salah satu dari mereka. Jadi berhenti main-main sama teman gue yang bangsat."


"Teman lo yang baper, kenapa gue yang salah. Lo bisa lihat isi chat gue sama dia, gue juga gak pernah ajak dia jalan. Jadi emang gue aja yang ganteng, makanya walaupun gak melakukan banyak hal dia udah naksir. Di sini gue sama sekali gak salah, teman lo aja yang gampangan."


Byur.


Tanpa aba-aba Reya menyiramkan segelas air putih ke wajah Gara, jelas saja cowok itu kaget. “Jangan coba jelekin Renata di depan gue, karena lo sama sekali gak kenal sama dia.”


Gara mengambil tisu dan mengelap wajahnya yang susah basah. Masih untung Reya menyiramnya dengan air putih. “Lo gila ya?" tanya Gara kesal.


"Iya gue emang gila dan gue muak dengan semua yang lo bilang barusan. Sok ganteng banget lo jadi cowok sampe mikir kalau teman gue udah naksir sama lo. Renata itu cuma ramah sama semua orang, sama kayak gue."

__ADS_1


Gara mengusap wajahnya, dia agak kesal jika Reya sudah kelewatan seperti ini.


"Oh, sama-sama pemain. Berapa banyak emangnya cowok yang berhasil kalian mainin? Sok cantik banget ya gue lihat-lihat, padahal dulu pernah ditolak sama Kak Arkan."


Gara langsung menahan tangan Reya, ketika gadis itu hendak menampar dirinya.


"Jangan sering pake kekerasan, ingat lo itu cewek dan seharusnya bisa lembut dikit."


Mama memukul meja beberapa kali, sampai tatapan mata permusuhan tersebut terlepas.


"Mama baru tau kalau perdebatan kalian bisa merembat kemana-mana, padahal pembahasan pertama gak sejauh itu. Barusan Mama seperti melihat dua anak SD yang sedang bertengkar. Satunya sangat pandai memancing emosi, dan satunya lagi mudah banget untuk terpancing. Mama rasa udah cukup untuk kami berdua melihat perdebatan kalian tiap hari. Kalau besok perdebatan seperti ini terjadi lagi, maka jangan salahkan Mama atau Papa jika duit jajan kalian dipotong. Kalian berdua sudah dewasa, tolong akur demi menjaga kenyamanan rumah."


Reya menghela nafas dan kembali duduk di posisinya. "Dia yang selalu mulai perdebatan, makanya aku emosi kalau ngomong sama dia."


"Apa yang Gara bilang benar, Sayang. Kalau kamu emang gak suka sama Arkan, tolong jangan selalu memberikan kesempatan. Arkan anak baik, dia kelihatan tulus sama kamu. Mau Mama kasih tips supaya kamu sadar dengan apa yang kamu rasakan ke dia?"


Reya menganggukkan kepalanya, tips dari mamanya akan sangat membantu. Karena Reya sendiri sudah sangat kebingungan untuk situasi yang sedang dihadapi.


"Tolong jauhi dia untuk beberapa saat, jangan komunikasi dan jangan ketemu. Kalau kamu merasa rindu, berarti rasa kamu ke dia masih ada. Tapi saat jauh kamu sama sekali gak mengingat dia dan kangen sama dia, berarti kamu emang gak punya rasa apa-apa lagi. Kamu paham apa yang baru saja Mama bilang 'kan?"


"Paham, Ma. Jadi Reya emang harus coba melakukan itu biar semuanya jelas?"


"Iya, Sayang. Mama yakin kamu bisa, ini juga demi kepentingan kamu dan kebaikan Arkan.”


Reya akhirnya setuju, untuk beberapa saat dia akan menjauh dari Arkan.

__ADS_1


Sepertinya dia memang akan baik-baik saja tanpa kehadiran cowok itu.


__ADS_2