My Lovely Brother

My Lovely Brother
69. Tak gentar


__ADS_3

Reya benar-benar pergi dari rumah dan tinggal di apartemen yang dihadiahkan oleh papanya dulu. Lagian Reya jelas harus mengambil langkah ini, karena jika mereka terus mengalah maka Reya dan Gara tidak akan pernah mendapatkan happy ending seperti yang diinginkan.


Sudah seminggu Reya menjalani rutinitas seperti biasanya. Berangkat dari apartemen ke kantor dan sesekali bertemu dengan Gara. Untuk sementara Reya memang tidak mengizinkan Gara berkunjung ke apartemennya.


Sebab Reya rasa masih bahaya jika mereka hanya berduaan di sana.


"Re, di luar ada Bu Dita. Katanya dia cariin kamu, Mbak baru tau kalau beliau ibu kandung kamu."


Reya mendengarkan ucapan Joa saat dirinya sedang fokus bekerja.


"Kenapa Mama datang, bilang aja aku lagi sibuk dan gak bisa diganggu."


"Aduh, gak berani Mbak ngomong gitu sama beliau. Ke depan aja Reya, mungkin memang ada sesuatu yang penting dan mau dibahas."


Reya menghela nafas, selama satu minggu berlalu mamanya sama sekali tidak mencari keberadaan dirinya. Lantas mengapa mendadak datang kemari sekarang?


"Mama ada di mana sekarang?"


"Beliau tunggu di HRD. Kamu langsung ke sana aja.”


"Ya udah aku ke sana dulu, kalau aku lama balik dan ada yang cariin kasih tau aja kalau aku lagi sama Mama."


"Oke, Reya."


Gadis itu keluar dari ruangan dan mencari keberadaan sang mama, benar saja wanita tersebut memang ada di sini dan sedang menunggu dirinya. Beberapa karyawan menatap ke arah keberadaan Reya dan menampilkan ekspresi kaget seperti Joa tadi.


"Kita bicara di cafe depan aja, jangan di sini. Aku tahu Mama datang untuk membahas sesuatu yang penting dan aku gak mau kalau ada orang yang dengar."


Mama dan Reya keluar dari kantor dan menuju cafe depan. Setelah memesan minuman keduanya saling menatap satu sama lain.


"Jadi, apa yang mau Mama bahas? Reya gak punya banyak waktu karena ini masih dalam jam kerja."


"Sampai kapan kamu mau melanjutkan aksi keras kepala ini dan gak mau pulang ke rumah? Gak capek apa kamu gini terus? Harus berapa kali Mama bilang, semua yang kamu rasakan sama Gara adalah kesalahan."

__ADS_1


"Kalau Mama datang ke sini hanya untuk membahas itu, semuanya gak akan berubah dan Reya gak mau berhenti. Selagi Gara masih cinta sama Reya, maka Reya akan melakukan hal yang sebaliknya."


"Re, sadar kalau dia adik kamu. Sekarang kalau kamu mau jatuh cinta lagi sama Steven Mama juga gak masalah. Asal jangan Gara, karena urusannya bakalan rumit."


"Gak rumit, Ma. Hanya kalian yang membuat keadaan menjadi semakin rumit. Seandainya Mama sama Papa gak melarang aku sama-sama dengan Gara, pasti semuanya terasa lebih mudah."


"Jadi benar kamu gak mau berhenti?" tanya Mama yang terlihat lelah berbicara, sebab Reya sangat keras kepala. Tidak mau mendengarkan dan selalu membantah apapun yang beliau katakan.


"Gak akan, Reya akan memperjuangkan hubungan ini bersama dengan Gara."


"Termasuk kamu gak masalah, kalau Mama mengeluarkan kamu dari kartu keluarga dan menghapus hubungan kita?"


Reya terpaku, detik itu juga dia mendadak kelu. Karena sama sekali tidak menduga bahwa mamanya akan mengatakan hal itu.


"Dari sekian banyak hal yang bisa Mama lakukan, kenapa Mama milih hal itu?"


"Karena Mama capek menjelaskan semuanya sama kamu, Reya. Mama capek berhadapan dengan dua anak keras kepala yang gak mau mendengarkan kata-kata orang tuanya. Merasa dirinya paling benar dan tidak mau diatur.”


"Padahal sejak awal rasa kami gak salah. Apa yang Gara bilang benar, aku sama dia gak punya ikatan darah yang sama. Kami menjadi saudara karena kalian menikah. Seandainya kalian enggak menikah, mungkin sekarang aku sama Gara sudah berada di dalam sebuah hubungan. Sayangnya kalian mengacaukan itu semua dan sampai sekarang masih melarang kami. Kalian selalu merasa paling benar, sementara aku sama Gara adalah pihak bersalah dan berdosa."


"Reya, cukup. Mama gak main-main dengan apa yang baru saja Mama bilang."


"Reya juga sama sekali gak takut, Ma." Reya menegakkan tubuhnya. Mamanya sudah mengibarkan bendera perang, maka Reya siap melawan.


"Aku juga gak main-main dengan apa yang aku katakan sekarang. Terserah Mama mau melakukan apapun, karena Reya akan selalu memilih Gara. Sekalipun Mama mau coret nama Reya dari kartu keluarga, Reya juga gak masalah dengan itu. Reya masih punya banyak harta peninggalan Papa dan masih bisa hidup dengan itu. Sekarang Reya udah dewasa, seharusnya Mama mengizinkan aku untuk memilih apa yang aku mau. Jangan selalu mengekang aku terus, Ma.”


Reya melirik jam tangannya, mereka sudah berada di sini selama dua puluh menit dan Reya rasa semuanya sudah cukup.


"Reya mau balik kerja dulu, makasih karena udah datang. Setidaknya Reya tau kalau Mama masih ingat sama aku."


Wanita paruh baya tersebut hanya bisa menatap kepergian Reya, tanpa bisa mengatakan apa-apa.


****

__ADS_1


Malam harinya kedua insan yang sedang dimabuk asrama itu berada di ruang santai apartemen Reya.


"Mama datang ke kantor gue tadi, dia juga ancam bakalan coret nama gue dari keluarga kalau masih keras kepala."


Gara yang semula rebahan di paha Reya langsung menatap gadis itu lekat-lekat.


"Lo serius, Mama sampe begitu sama lo?"


"Buat apa juga gue bohong, sejujurnya gue gak mau kasih tau ini sama lo. Cuma karena lo maksa datang kemari, maka gue memutuskan untuk cerita."


"Tapi ini gila banget, Rey. Mana bisa Mama ngomong begitu sama lo yang anak kandungnya. Sementara dia cuma cuek dan gak ngomong sama sekali ke gue."


"Gak usah takut, gue gak bakalan gentar kok. Emang gimana kondisi lo di rumah, mereka belum ngomong?"


"Belum, setiap makan juga gak ada yang ajak gue ngomong. Gue mau bawa Gabriel ke rumah juga segan, aura mereka bikin gue terancam rasanya."


Reya terkekeh, ternyata masih mendingan hidupnya di sini daripada di rumah. Gara pasti sangat tidak nyaman dengan keadaan seperti sekarang.


"Tunggu aja, mereka pasti bakalan lelah melawan kita dan akan memikirkan rencana lain. Selama lo gak menyerah, maka gue akan melakukan hal yang sama. Jadi jangan takut dan berpikir lo akan berjuang sendirian. Gue bakalan sama lo terus sampe kita berhasil mendapatkan apa yang kita mau."


Gara perlahan lega, karena awalnya dia memang merasa jantungnya hampir berhenti berdetak karena ucapan Reya tadi.


"Gue senang dengarnya, semoga lo emang gak akan lelah ya. Sekalipun merasa lelah, jangan lupa kasih tau sama gue. Supaya gue bisa kasih enegi ke lo. Gue juga gak akan menyerah, sampai akhirnya mereka bakalan merestui hubungan ini."


Reya tersenyum dan meminta Gara kembali rebahan di atas paha Reya yang dilapisi bantal. Gadis itu membelai rambut Gara dengan lembut. Gara memejamkan matanya dan menikmati setiap sentuhan Reya. Dia memang sangat suka jika ada yang memainkan rambutnya, apalagi jika Reya orangnya.


"Gue gak nyangka bisa jatuh cinta sama lo, Gar. Padahal sebelumya gue benci banget sama lo, karena lo datang ke rumah gue dan menjadi pengganggu. Gak nyangka pada akhirnya bakalan begini, gue jadi klepek-klepek sama lo."


Gara tersenyum senang mendengarnya. "Gue lebih gak nyangka, senior yang gue suka dan cuma berani gue lihat dari jauh malah jadi kakak tiri gue. Lalu sekarang dia membalas perasaan gue, rasanya gak bisa di deskripsikan pake kata-kata. Intinya gue senang banget Reya. Gue siap melawan apapun asal bisa sama lo terus."


Dan Reya juga akan melakukan hal yang sama. Gadis itu tidak akan pernah mengizinkan Gara berjuang sendirian untuk hubungan mereka berdua.


Mereka harus selalu bersama dalam kondisi apapun. Karena dengan bersama, mereka berdua akan menjadi lebih kuat.

__ADS_1


__ADS_2