My Lovely Brother

My Lovely Brother
70. Tidak menyerah


__ADS_3

Hari-hari terus berlalu, semua orang sibuk dengan kehidupannya masing-masing begitu juga dengan Gara yang sebentar lagi akan menyelesaikan praktek kerja lapangannya.


Tidak terasa yang awalnya dia menjalani karena terpaksa, sekarang hampir selesai karena dia terlalu menikmati semua hal yang terjadi dalam proses hidupnya.


Tumben sekali kedua orang tuanya sudah berada di rumah, saat dia pulang di jam empat sore. Gara berusaha abai dan ingin langsung menaiki tangga, tapi semua itu tidak berhasil dia lakukan.


"Gara, ada hal penting yang mau kami berdua bicarakan sama kamu. Tolong duduk di sini dulu sebentar.”


Walaupun Gara sudah menebak dan tau apa yang akan mereka berdua bicarakan. Cowok itu tetap mendekat dan duduk di sebelah papanya.


"Soal keinginan kamu untuk lanjut S2 keluar negeri, Mama sama Papa akan menyetujuinya. Kamu bisa lanjut ke sana setelah S1 kamu selesai. Papa gak akan meminta supaya kamu langsung bekerja di perusahaan.”


"Gara gak tertarik lagi untuk ke sana, Pa. Karena Papa sendiri yang bilang ada banyak kampus bagus di sini, jadi kenapa Gara harus jauh-jauh. Gara udah siap kerja setelah lulus S1 kok.”


"Gar, Papa tau kalau itu cita-cita kamu sejak lama. Gak mungkin semuanya langsung sirna begitu aja. Selagi Papa memberikan kesempatan, jangan kamu sia-siakan. Kesempatan seperti ini tidak akan datang dua kali, jadi tolong kamu pikirkan baik-baik. Jangan asal memberikan jawaban kepada kami.”


"Impian Gara udah hancur sejak Papa menolak. Sebelum mengiyakan kalau mau kuliah di sini, Gara udah memikirkan itu semua dan berperang dengan diri sendiri. Jangan memaksa Gara untuk merubah keputusan itu, karena semuanya gak akan berubah."


Mama menatap Gara lekat-lekat. "Gar, Mama gak bisa meminta supaya Reya berhenti. Makanya Mama mau kamu yang berhenti, kamu pasti sadar kalau semuanya emang gila dan konyol. Jangan melanjutkan hal yang enggak semestinya."


"Ma, Pa. Sebanyak apapun kalian berusaha, kami gak akan menyerah. Mama hanya perlu menerima hubungan ini dan semuanya selesai."


"Bagaimana kalau hubungan ini gak akan bertahan lama setelah kami menyetujui kalian berdua. Apa kamu yakin keadaan di rumah ini gak akan berubah? Gar, kamu baru berumur 20 tahun dan Reya 21 tahun. Masih ada perjalanan hidup kalian, yakin bisa bertahan sampai kalian menikah?"


"Gara yakin, setelah jatuh cinta sama Reya. Gara gak pernah tertarik sama siapapun, dan sebelum kenal sama Reya juga Gara gak akan pernah naksir sama siapapun. Seharusnya Papa paham apa yang Gara rasakan bukan main-main. Gara serius sama hubungan ini."


"Papa gak bisa menyetujui, Papa lebih senang kalau kamu jatuh cinta sama perempuan lain di luar sana. Gadis yang kamu pacari kemarin kenapa putus, apa karena Reya?"


Gara menggeleng. "Gak ada sangkut pautnya sama Reya. Gara cuma tau kalau dia juga main-main sama Gara, jadi untuk apa mempertahankan perempuan yang gak serius dan gak menghargai aku."

__ADS_1


Gara bangun dari posisi duduknya sebab merasa sudah cukup.


"Gara capek seharian, mau istirahat dulu. Kalau kalian mau menentang hubungan kami, silahkan dilanjutkan. Tapi jangan marah kalau sampai akhir aku dan Reya gak akan menyerah."


Gara langsung berjalan dan menaiki tangga untuk menuju kamarnya. Tidak ada kata menyerah dalam hidupnya.


Dia sudah susah payah membuat Reya tau akan perasaannya, hingga akhirnya Reya memutuskan untuk berjuang bersama dengan dirinya.


Jadi mana mungkin Gara akan melepaskan gadis itu begitu saja.


****


Reya yang pulang magang tidak langsung kembali ke apartemen, karena Arkan mengajaknya untuk makan malam bersama.


Arkan ingin mentraktir Reya sebab berhasil menciptakan desain yang sangat bagus. Hanya berdua saja, karena karyawan yang lain mempunyai banyak alasan untuk menolak dan seakan sengaja membiarkan Reya bersama Arkan malam ini.


"Aku yang harusnya berterima kasih karena perusahaan menerima aku di sini. Aku hanya melakukan yang terbaik supaya perusahaan gak kecewa menerimaku di sini."


"Hmm, jadi sampai kapan kamu bakalan tinggal di apartemen?" tanya Arkan tiba-tiba.


Reya kaget, sebab dia tidak menceritakan kepada siapapun. Termasuk Renata saja tidak tau bahwa dirinya sudah tinggal di apartemen sekarang.


"Kakak tau darimana kalau aku gak tinggal di rumah?”


"Kamu datang ke kantor gak pernah bawa mobil lagi, Kakak juga gak sengaja lihat kamu di sekitar apartemen dekat sini. Makanya Kakak tanya sama kamu hari ini."


"Hmm, lagi ada sedikit permasalahan makanya aku tinggal di apartemen untuk sementara waktu. Aku butuh waktu untuk menenangkan diri dan jauh dari semua orang.”


"Hubungan kamu sama Gara ketahuan?"

__ADS_1


Lagi-lagi Reya terdiam sebab tebakan Arkan tidak melesat.


"Jangan tanya kenapa Kakak tau, karena gak ada alasan kamu meninggalkan rumah kalau bukan untuk menentang orang tua kamu. Supaya hubungan kamu dan Gara mendapatkan restu."


Karena Arkan sudah tau, Reya memutuskan untuk jujur saja.


"Ya begitulah, Kak. Aku harus ambil tindakan supaya jangan Gara aja yang berjuang sendiri. Ini hubungan aku sama dia, jadi aku jelas harus punya partisipasi di dalamnya. Aku gak tega kalau Gara sampai mengorbankan segalanya untuk aku."


"Kamu dari dulu emang gak pernah berubah ya, selalu serius kalau udah suka sama satu hal. Semangat Reya, perjuangan kamu pasti bakalan membuahkan hasil."


"Semoga saja emang begitu, Kak. Oh iya, Mama aku pernah ngobrol sama kamu enggak akhir-akhir ini?"


"Enggak, gak ada yang dibahas. Kamu takut Mama kamu menceritakan ini sama Kakak?"


Reya menggeleng, bukan itu maksudnya. "Aku cuma gak nyaman aja, karena belakangan ini Mama seakan maksa supaya aku atau Gara suka sama orang lain. Biar kami lupa sama perasaan yang katanya salah itu."


"Oh, Mama kamu gak ada bilang apa-apa sama Kakak kok. Sekalipun dia bilang gak akan ada yang berubah. Kakak gak mau kembali mendapatkan penolakan dan kamu juga pasti merasa lelah kalau Kakak kejar lagi."


Reya langsung bernafas lega setelah mendengarkan itu. Berarti mamanya tidak segila yang dia bayangkan. Reya pikir mamanya akan segera menceritakan semuanya kepada Arkan, tapi ternyata tidak.


"Kalau Mama ada bilang sesuatu sama kamu, langsung bilang aja sama aku."


"Aman, jangan dibahas lagi soal itu. Kita fokus makan aja, lalu Kakak antarkan kamu pulang."


"Gak usah, Kak. Merepotkan banget kalau diantar pulang segala. Aku bisa pulang sendiri, apartemen aku gak jauh dari sini kok. Aman kalaupun pulang sendirian."


"Gak apa-apa, Reya. Satu arah sama jalan Kakak pulang kok. Jangan tolak ya, Kakak tulus membantu kamu."


Reya berpikir dan kemudian menganggukkan kepalanya. "Oke deh, boleh."

__ADS_1


__ADS_2