My Lovely Brother

My Lovely Brother
34. Pertengkaran di sana


__ADS_3

Acara pernikahan Mama Gara memang tidak mengundang banyak tamu seperti yang beliau katakan. Namun suasana di sini ramai sebab dibarengi dengan pertunangan antara Steven dan Jesika.


Reya sama sekali tidak menyapa dan memutuskan untuk mengikuti kemanapun mamanya pergi. Sangat malas walaupun hanya melihat wajah mereka berdua dari kejauhan. Langsung membuat moodnya memburuk dalam detik itu juga.


"Nyesel kan datang ke sini? Daritadi Steven lihatin lo, sombong banget gak mau nyapa mantan."


Reya menatap Gara tajam, cowok itu menyengir saja saat tau bahwa dirinya sudah berani mengusik singa yang sedang tidur.


"Lo gak mau kasih ucapan selamat sama mama lo, gue mau ke sana soalnya.”


"Iya ini gue mau kasih ucapan selamat."


Reya sedikit bingung dengan perubahan Gara yang sangat drastis. Padahal sebelumnya untuk datang ke sini saja dia tidak mau sampai bertengkar dengan Reya.


Masa bodoh dengan tingkah Gara, Reya langsung mendekat ke arah Mama Gara dan menyalami wanita itu.


"Selamat ya Tante untuk pernikahannya, Reya berdoa semoga pernikahan Tante selalu dilapisi sama kebahagiaan dan dijauhkan dari rasa sedih.”


"Terima kasih banyak ya, Sayang. Karena kamu udah meluangkan waktu untuk datang ke sini, Tante sangat senang."


Kemudian Reya melangkah mundur setelah berpelukan, memberikan ruang kepada Gara. Dia menarik mamanya untuk menjauh karena tau Gara jelas butuh waktu.


Dari posisinya yang sekarang Reya melihat Gara berpelukan dengan mamanya. Kemudian cowok itu juga menyalami dan berbicara. Walaupun Reya tidak tau apa yang Gara katakan, tapi dari eskpresi ibunya terlihat senang. Berarti Gara memang tidak mengatakan sesuai yang terdengar menyakitkan.


"Ma, mau cobain kue gak? Kayaknya makanan di sini enak-enak. Rugi tau kalau enggak dimakan."


"Iya kamu makan aja duluan, Mama masih belum selera makan."


Mama terlihat celingak-celinguk mencari keberadaan seseorang. Reya langsung tau siapa yang sedang dicari oleh mamanya.

__ADS_1


"Papa di sana lagi ngobrol sama bapak-bapak, mungkin kenalannya. Mama jangan cemburu gitu dong, Papa gak akan berpaling ke lain hati."


”Ngaco kamu ah, Mama gak berpikir jauh ke sana juga kok. Mama percaya sama papanya Gara, kalau beliau gak akan menyakiti Mama.”


Gara mendekati Reya dan mengambil beberapa jenis kue untuk mencobanya. Gara terlihat sangat lahap dan menikmati makanannya.


"Lo ngomong apa aja sama Mama lo tadi?"


"Urusan sama lo apa?" tanya Gara tanpa melirik Reya dan sibuk makan kuenya.


"Gue mau tau aja, memastikan kalau lo emang gak menciptakan kerusuhan di sini."


"Acaranya masih berjalan lancar yang artinya gue emang gak melakukan sesuatu yang salah. Apa lagi yang mau lo tau, gak mungkin gue bilang semua pembicaraan gue sama Mama 'kan?"


Reya mengepalkan tangannya, berbicara dengan Gara sangat memancing emosinya. Apalagi saat ini mereka bukan berada di rumah. Jadi Reya hanya bisa menarik nafas dalam-dalam dan menghembuskannya.


Belum juga amarah dan emosinya mereda, seseorang yang bisa memancing emosi Reya malah bertambah.


Reya melirik Steven tanpa minat, sementara Gara terlihat menahan diri untuk tidak tertawa.


"Kenapa gue harus kasih selamat, emang lo undang gue ke sini? Gue datang ke pernikahan mamanya Gara, bukan ke pertunangan lo sama Jesika. Bahkan Renata yang lo undang aja gak mau datang ke acara kalian.”


"Lah, kan bisa juga kasih selamat berhubung lo ada di sini. Renata gak datang karena ada acara lain, bukan sengaja gak mau datang.”


"Sebegitu pentingnya ucapan selamat dari gue, sampe lo samperin gue ke sini? Gak ada gunanya banget sih."


"Gue cuma mau memastikan kalau lo emang udah sepenuhnya move on dari gue dan gak akan menjadi pengganggu di hubungan gue sama Jesika di masa depan.”


Reya tersenyum sinis, mengapa Steven terlihat sangat percaya diri seperti sekarang? Dengan sifat Steven seperti sekarang malah terlihat menyedihkan di mata Reya.

__ADS_1


"Ven, jangankan gagal move on. Gimana lo menjalani kehidupan sekarang aja gue sama sekali enggak peduli. Sana pergi jauh-jauh dari gue, nanti cewek lo lihat dan mikir yang enggak-enggak. Gue malas berurusan sama kalian berduan sekarang."


Ucapan Reya sepertinya berhasil memancing emosi Steven. Cowok itu sama sekali tidak menjauh dan malah duduk di sebelah Reya.


"Cowok mana sekarang yang lagi lo kejar? Kira-kira dia bakalan bisa suka balik sama lo apa enggak?"


"Maksud lo? Gue cantik kali, banyak yang mau sama gue. Jangan sok ganteng gitu deh, benci gue kalau ingat pernah naksir sama cowok kayak lo."


Steven tertawa mengejek. "Cantik sih cantik, cewek cantik di dunia ini banyak. Tapi cewek dengan emosi stabil dan mental yang sehat enggak banyak. Itu adalah salah satu kekurangan lo. Egois dan sering mementingkan kebahagiaan sendiri. Yakin lo bisa dapat pacar dengan karakter buruk gitu?"


"Urusan sama lo apa ya kira-kira? Mau gue jomblo seumur hidup gue rasa gak ada sangkut pautnya sama lo. Gak usah cari perhatian dan cari masalah supaya bisa ngomong lama sama gue. Atau jangan-jangan malah lo yang gagal move on. Dari yang gue dengar sih, kalau cowok gagal move on bakalan berusaha menjelekkan sang mantan biar dia gak kelihatan menyedihkan."


Tatapan permusuhan tersebut terlihat dari kedua mata mereka.


"Ngapain gue gagal move on saat gue dapat seseorang yang lebih dari lo. Jesika lebih cantik, lebih baik dan yang terpenting dia gak punya penyakit mental kayak lo."


Reya hendak melayangkan tonjokan ke wajah Steven, tapi Gara yang sudah selesai makan menahan tangan tersebut.


Melepaskan kepalan tangan tersebut dan menyelipkan jari-jarinya di sela tangan Reya.


"Jangan emosi, gue daritadi diam dan menyimak. Gue gak nyangka kalau Reya suka sama cowok modelan banci kayak lo yang cuma tau cara merendahkan perempuan. Padahal sebelumnya lo juga pernah sangat sayang dan cinta sama dia. Saat menjalin hubungan lo tau keburukan dia dan berusaha menjaga. Tapi kalau udah putus malah gini gue rasa gak fair banget."


"Jangan ikut campur sama urusan gue sama Reya. Lo gak tau apa-apa soal masalah gue sama dia.”Steven mendorong tubuh Gara, tapi Gara jelas memiliki keseimbangan yang bagus.


"Kenapa gue gak boleh ikut campur, di sini lo lagi menjelekkan seseorang yang merupakan kakak gue sendiri. Masak gue sebagai adik diam aja saat kakaknya direndahkan. Reya gak seburuk itu, lo cuma gagal move on dan kesal karena dia putusin lo. Makanya cari cara untuk balas dendam dengan menyerang mental dia."


Gara melepaskan tangannya dari Reya, kemudian menepuk bahu Steven. "Ini acara lo, jangan sampe gue berakhir dengan tonjok lo di sini dan disaksikan banyak orang. Tolong tunjukkan ke tamu kalau lo pernah diajarin sopan santun sama orang tua. Jangan malu-maluin kerabat orang tua lo yang ada di sini."


Setelah itu Gara menarik tangan Reya untuk menjauh keluar dari kerumunan. Mereka berdua berada di depan gedung sekarang dan udara malam ini terasa segar. Reya menghirup udara sebanyak-banyaknya supaya merasa lebih tenang.

__ADS_1


"Lain kali kalau dia ganggu lo jangan direspon, cowok pengecut kayak gitu makin suka gangguin kalau lo terus meladeni dia."


__ADS_2