My Lovely Brother

My Lovely Brother
60. Punya pacar


__ADS_3

Kegiatan Reya terus berlanjut sebagai mahasiswa magang dan Gara yang akhirnya mengambil kuliah praktek walaupun sebelumnya dia sudah tidak berniat.


Semuanya berjalan lancar, kehidupan Reya yang awalnya kebanyakan sial sekarang menjadi lebih beruntung.


Klien yang mereka inginkan juga berhasil diajak kerja sama dengan perusahaan. Dengan begitu Reya merasa dirinya adalah pembawa keberuntungan.


"Re, Pak Arkan manggil kamu ke ruangan."


"Kenapa?" tanya Reya karena hampir dua minggu Reya tidak pernah berbicara dengan cowok itu lagi.


"Ada sesuatu mungkin yang mau dibicarakan."


Reya langsung menghentikan pekerjaannya, sekarang tidak terasa sudah satu bulan Reya menjadi mahasiswa magang di perusahaan ini.


Reya mengetuk pintu beberapa kali. "Masuk aja.”


Reya membuka pintu ruangan dan menemukan Arkan sedang fokus bekerja.


"Kenapa Bapak panggil saya kemari? Apa ada sesuatu yang penting untuk dibicarakan?” tanya Reya dengan sopan.


"Duduk dulu, Re. Memang ada sesuatu yang penting.”


Reya dan Arkan duduk di sofa. Kemudian cowok itu menyerahkan sebuah amplop kepada Reya.


Walaupun bingung gadis itu tetap menerimanya. "Ini untuk apa, Pak?"


"Itu bonus dari perusahaan untuk kamu. Sudah satu bulan kamu magang di sini, klien yang mau kita ajak kerja sama juga berhasil didapatkan berkat desain dari kamu."


Reya membuka amplop dan melihat isinya. Dia kaget karena menemukan uang dalam jumlah yang begitu banyak.


"Saya rasa ini terlalu banyak, Pak. Saya gak enak sama karyawan yang lain, apalagi saya hanya mahasiswa magang di sini. Kalau Bapak memang mau memberikan saya bonus, cukup setengah dari bonus yang didapatkan sama karyawan lain."


"Itu setengah dari bonus karyawan lain kok." Reya menjadi lebih kaget.


"Tapi ini terlalu banyak, Pak. Untuk saya yang hanya anak magang di perusahaan ini.”


"Perusahaan ini memang tidak tanggung-tanggung memberikan bonus jika kinerja karyawan baik. Jadi jangan merasa gak enak kamunya. Gunakan uang itu untuk membeli barang-barang yang kamu mau. Atau kamu mau kasih hadiah kepada kedua orang tua kamu."


"Tapi ini beneran setengah dari bonus karyawan lain kan?"


"Iya Reya, kenapa kamu gak percaya banget sih?" Arkan terkekeh sambil geleng-geleng kepala. Apalagi raut wajah Reya terlihat takut menerima semua uang itu.


"Terima kasih untuk bonusnya, Pak. Saya akan berusaha bekerja lebih keras lagi supaya perusahaan semakin banyak memperoleh keuntungan."


"Iya memang ada pekerjaan tambahan untuk kamu. Besok kamu harus ikut sama saya untuk ketemu sama klien itu."


"Kenapa harus saya, Pak?"


"Ini bukan kemauan saya juga Reya, tapi mereka emang tertarik dan ingin berbicara secara langsung sama kamu."


Reya perlahan merasakan jantungnya berdetak kencang.


"Saya harus mempersiapkan apa aja untuk ketemu sama mereka? Gak mungkin saya datang dengan pikiran kosong."


"Tenang aja, Reya. Saya sudah mempersiapkan beberapa hal yang harus kamu pelajari. Sedang saya siapkan sedikit lagi, nanti akan saya kirim ke email kamu. Kita akan rapat jam sepuluh pagi, jadi kamu ke kantor jam-jam sembilan aja. Malam sampai pagi tolong luangkan waktu untuk mempelajari materi, gak banyak kok. Saya rasa kamu pasti bisa."

__ADS_1


"Baik, saya akan menunggu materinya Bapak kirimkan. Ada lagi yang mau Bapak bicarakan, saya ingin kembali bekerja. Atau Bapak mau saya bantu untuk menyiapkan materi tambahannya?”


”Enggak usah Reya, saya bisa mengerjakan semuanya sendiri.”


”Baik kalau gitu, Pak.”


"Jangan lupa kalau siang ini kita bakalan makan bareng, jangan kesibukan kerja."


"Oke gak akan lupa kok, Pak. Saya izin kembali ke ruangan."


Belakangan ini Reya menjadi lebih nyaman bekerja, sebab Arkan tidak pernah terlihat modus kepada dirinya.


Cowok itu benar-benar profesional atas pekerjaannya.


****


Reya pulang ke rumah jam tujuh malam dengan membawakan banyak belanjaan di tangannya.


Dia tersenyum menatap satu persatu keluarganya yang sedang duduk santai menonton televisi.


"Kamu habis belanja apa aja, Re."


Reya langsung mendekat. "Aku dapat bonus dari kerjaan aku selama satu bulan. Bonusnya lumayan, makanya aku beliin kalian hadiah."


"Ya ampun, Re. Itu uang kamu gak usah dipake buat belanja barang untuk Mama dan lainnya."


"Gak apa-apa kok, Ma. Uangnya juga masih ada sisa. Reya senang bisa bagi uang pertama yang Reya dapatkan dengan kerja sendiri ke kalian."


"Makasih banyak ya, Sayang. Anak Mama semakin hebat saja sekarang."


"Ayo kalian lihat, kira-kira bakalan suka gak sama hadiahnya."


Mama mendapatkan tas branded keluaran terbaru. Papa mendapatkan kemeja kerja dan Gara mendapatkan jam tangan.


"Mama suka banget, Sayang. Kamu gak beli untuk diri sendiri?"


"Ada dong, Reya beli setelan baru buat besok. Soalnya Reya bakalan temani Kak Arkan buat ketemu klien itu lagi. Katanya mereka mau ketemu dan berbicara langsung sama aku."


"Ya ampun, Sayang. Ternyata ada hal lain yang buat Mama bangga. Semoga semuanya berjalan lancar ya, Mama tau kamu bisa melakukannya."


"Doakan yang terbaik untuk Reya."


"Pasti, Sayang."


Reya menoleh ketika ponsel Gara berdering. Nama yang tercantum di sana adalah Jessi. Cowok itu langsung pergi untuk mengangkat telepon.


Selama dua minggu lebih sejak Gara melakukan kerja praktek. Mereka menjadi agak renggang dan jarang berkomunikasi. Reya menunggu lumayan lama tapi Gara tidak kunjung kembali.


Apa yang sebenarnya sedang cowok itu bicarakan.


"Mama, Papa. Reya izin ke kamar dulu ya, ada materi yang harus Reya pelajari."


"Kamu gak mau makan dulu?"


"Reya udah makan tadi setelah belanja, Reya mau mandi dan belajar."

__ADS_1


"Semangat, Sayang." Reya melirik Gara yang masih berada di teras, tentu dengan ponsel yang tertempel di telinganya.


Reya akan menanyakan itu nanti, untuk sekarang dia harus mandi dan mempelajari materi.


****


Jam sebelas malam Reya selesai mempelajari semuanya, dia merasa penasaran dengan Gara.


Reya keluar dari kamar, mengetuk pintu kamar Gara. Cowok itu mempersilahkan dirinya untuk masuk ke dalam.


"Oh lagi nugas, gak seharusnya gue ganggu lo."


"Gak ganggu kok, duduk aja. Atau ada sesuatu yang mau lo omongin makanya datang ke sini?"


Reya mendadak kelu dan bingung harus memulai semuanya dari mana. Apa dia harus langsung blak-blakan menyampaikan maksud dan tujuannya.


"Atau lo mau mendapatkan pujian dari gue karena besok bakalan rapat bareng orang penting?" Gara memang mengatakan itu dengan nada bercanda tapi entah kenapa Reya merasa tidak nyaman.


Seakan Gara sedang menyindir dirinya sekarang. Entahlah, mungkin Reya yang terlalu sensitif dan kelelahan bekerja seharian, ditambah lagi dirinya baru siap mempelajari bahan untuk besok.


"Gue gak minta pujian itu."


"Jadi karena apa?" tanya Gara yang sama sekali tidak menoleh ke arah Reya.


"Tadi lo telepon sama Jessi lama banget, bahas apa emangnya? Bukannya lo sama dia gak berada di perusahaan yang sama?"


"Emang enggak, jadi gak boleh kalau gue ngomong sama pacar sendiri?" tanya Gara seraya mengubah posisi menjadi berhadapan dengan Reya.


"Pacar?" tanya Reya memastikan kalau dia tidak salah dengar.


"Iya, pacar."


"Sejak kapan lo sama dia jadian?"


"Dua minggu yang lalu."


"Oh, lo gak bercanda kan?" tanya Reya dengan perasaan tidak nyaman sekarang.


"Gak lah, ngapain gue bercanda soal perasaan orang lain. Kalau lo gak percaya tanya aja sama Jessi secara langsung."


Sekarang Reya paham alasan kenapa Gara selalu menjauh dan menghindar dari dirinya. Rupanya karena Gara sudah punya pacar dan sedang menjaga hati pacarnya.


"Oh gitu, selamat ya untuk hubungan kalian. Gue ikut senang dengarnya."


"Gue jadian sama Jessi juga berkat lo. Akhirnya gue sadar kalau dicintai jauh lebih menyenangkan, dibandingkan mencintai tapi gak pernah mendapatkan balasan."


Reya mengepalkan tangannya karena Gara terang-terangan menyindirnya sekarang. “Iya, emang benar gitu dan pilihan lo sama sekali enggak salah kok. Ya udah lo lanjutin nugas, gue mau lanjut pelajari materi untuk besok. Semoga hubungan lo dan Jessi bertahan lama juga selalu senang ya.”


"Makasih untuk doa baiknya, Reya."


Hanya kata terima kasih yang Gara katakan, dia sama sekali tidak berniat menahan Reya atau tertawa sebab dirinya baru saja berbohong dan Reya tertipu.


Reya berjalan dengan langkah pelan, menunggu suara tawa Gara terdengar.


Sayangnya itu semua hanya harapan Reya, sebab Gara tidak melakukan itu.

__ADS_1


Gara resmi berpacaran dengan Jessi. Lalu Reya harus apa sekarang?


__ADS_2