My Lovely Brother

My Lovely Brother
71. Mendapatkan restu


__ADS_3

"Mas, kayaknya kita emang gak bisa gini terus. Reya sama Gara gak akan menyerah sebelum mendapatkan apa yang mereka mau."


Sang suami yang semula masih mengecek file pekerjaan, beralih menutup laptop tersebut dan duduk di tempat tidur bersama dengan sang istri yang terlihat banyak pikiran.


"Aku pikir juga begitu, Reya ataupun Gara sangat keras kepala. Mereka bersatu dan jelas ini tidak akan mudah bagi kita. Mereka berdua susah untuk dikalahkan, jadi gimana menurut kamu sekarang?"


"Gak ada salahnya kita kasih izin mereka berhubungan, tapi dengan beberapa syarat. Mungkin dengan begitu semuanya menjadi lebih baik. Kita gak perlu mengekang mereka lagi."


"Kamu yakin ini semua adalah keputusan yang terbaik, bagaimana kalau ini salah?"


"Gak ada salahnya mencoba dulu, supaya kita tau jawabannya. Lagian kita gak ada pilihan lain sekarang. Kita berdua harus segera membicarakan ini dengan Gara dan Reya, lalu meminta pendapat mereka."


Lelaki paruh baya tersebut merangkul bahu sang istri dengan erat.


"Semoga saja setelah ini semuanya kembali seperti sedia kala. Gara ataupun Reya tidak akan membangkang lagi."


"Semoga saja memang begitu."


****


Dua Minggu pergi dari rumah dan tinggal di apartemen sendiri, hari ini Reya kembali ke rumah. Tidak berbohong bahwa dia sangat merindukan suasana di rumah ini, terutama kamarnya.


Selama menunggu mama dan papa pulang, Reya memutuskan untuk rebahan di kasur saja. Menikmati semua rasa rindu yang sudah dia tahan selama dua minggu. Reya tidak menyangka bahwa akan secepat ini dirinya bisa kembali ke rumah.


"Mama sama Papa udah pulang, kita disuruh ke bawah sekarang."


Reya langsung bangun dari posisi rebahan, keluar dari kamar dan melangkah bersama dengan Gara.


"Gimana kabar kamu, semuanya baik-baik aja?"

__ADS_1


"Seperti yang Mama lihat kalau semuanya emang baik, Reya juga bakalan selesai magang dua minggu lagi."


"Hmm, kamu pasti udah bisa menebak apa alasan kami meminta kamu segera pulang ke rumah 'kan?" tanya Mama dan Reya menganggukkan kepalanya.


"Mama sama Papa sudah memikirkan ini semua, kami sepakat untuk menyetujui hubungan kalian berdua tapi dengan berbagai syarat."


Reya dan Gara langsung mengulum senyum dan menatap satu sama lain.


"Apa syaratnya, apapun yang kalian bilang aku sama Gara pasti bakalan coba memenuhi. Asal kami berdua mendapatkan restu untuk menjalani hubungan ini."


"Gara akan keluar dari rumah ini, karena enggak mungkin kalian tinggal di satu tempat yang sama. Kamu gak usah lagi tinggal di apartemen, biar Gara saja yang pindah karena dia cowok."


*Gara bakalan pindah kemana, terus gimana kehidupan dia kalau tinggal sendirian? Gara cowok dan dia gak bisa mengurusi dirinya dengan baik, biar aja Reya yang tetap tinggal di apartemen."


"Gara akan kembali ke rumah lamanya, kamu gak usah khawatir karena di sana sudah ada asisten rumah tangga yang akan membantu dia."


Reya sedikit lega mendengarnya, karena membiarkan Gara hidup sendiri jelas bukan pilihan yang bagus.


"Belum selesai, itu baru satu persyaratan. Kedua kamu harus mulai bekerja di perusahaan Papa. Ketiga kalian tidak boleh terlalu sering ketemu, kalaupun mau ketemu kamu harus ke rumah ini dulu meminta izin. Jangan pergi diam-diam tanpa sepengatahuan kami. Keempat, setelah menjalin hubungan kalian harus tetap fokus sama studi dan jangan sampai lalai. Kelima, kalau kalian putus dan tidak bisa bertahan dalam waktu lama seperti yang kalian pikirkan. Maka Mama sama Papa lepas tangan dan membiarkan kalian melanjutkan sendiri kehidupan. Mama gak akan tanggung jawab kalau kalian putus dan menjadi asing pada akhirnya."


Gara dan Reya sama sekali tidak keberatan dengan semua persyaratan yang sudah diajukan. Tapi mengenai bagaian akhir, berhasil membuat keduanya terdiam untuk beberapa saat.


"Kami bakalan berusaha untuk gak akan pernah putus sampai kapanpun. Terima kasih untuk restu yang udah kalian berikan. Gara sama Reya sangat berterima kasih untuk itu."


"Hmm, ingat semua yang Mama kamu bilang barusan. Menjalani hubungan selalu banyak rintangan, jadi Papa dan Mama berharap kalian bisa berusaha untuk melengkapi satu sama lain. Kalau ada masalah harap dibicarakan, jangan kebanyakan diam sebab itu gak akan bisa menyelesaikan apapun." Papa ikut menambahkan.


"Pasti, Pa. Komunikasi emang hal paling penting dalam sebuah hubungan. Reya senang karena kalian akhirnya mau menerima hubungan kami."


"Ingat, jangan sampe melakukan hal-hal yang gak seharusnya dilakukan selagi masih pacaran. Kalau sampai ketahuan, maka salah satu dari kalian benar-benar akan kami asingkan."

__ADS_1


"Iya, Ma. Jadi kapan Gara bakalan pindah dari rumah ini?" tanya Gara yang terlihat sangat bahagia, dia sama sekali tidak masalah jika harus keluar. Sebab tinggal di tempat yang sama kala dirinya dan Reya punya hubungan juga akan berbahaya.


"Tiga hari lagi mungkin, rumah itu udah setahun kalian tinggalkan. Jadi sudah semestinya dibersihkan dulu. Supaya kamu betah dan nyaman tinggal di sana. Papa yang akan mengantar kamu kembali ke rumah itu."


"Oke, makasih banyak karena Mama sama Papa udah perhatian sama Gara."


"Terus Reya masih harus tinggal di apartemen sebelum Gara pindah ke rumahnya 'kan?"


"Iya, kamu akan di sana sampai Gara benar-benar pergi dari rumah ini. Kenapa emangnya, Re. Kamu mulai merasa gak betah tinggal sendirian di apartemen?" tanya sang Mama yang mulai curiga dengan gerak-gerik putrinya.


"Betah sih, Ma. Apalagi kalau lagi magang gini, emang lebih enak tinggal di apartemen aja. Cuma setelah selesai magang, Reya takutnya merasa gak betah dan merasa kesepian di sana."


"Oh, kalau tau gitu Mama gak usah merestui hubungan kalian aja. Karena kamu jelas akan kembali ke rumah ini lagi, sebab gak betah di sana sendirian."


"Eits, gak bisa gitu dong. Apa yang udah dibilang gak boleh dicabut kembali, kita udah sama-sama sepakat sama ini semua." Kata Reya dengan nada agak panik, takutnya sang Mama malah berubah pikiran karena perkataan dia barusan.


"Ya sudah itu aja yang Mama mau bilang, kamu boleh balik ke apartemen. Pasti lelah juga udah bekerja seharian, kamu butuh waktu untuk istirahat."


Rasanya aneh ketika mamanya berkata demikian. Reya merasa diusir dari rumahnya sendiri, tapi tidak apa. Reya harus bertahan untuk hubungan dia dan Gara.


"Ya udah, Reya pamit pulang ke apartemen dulu. Makasih untuk semua hal yang terjadi tadi." Reya menyalami Mama dan papa dan memeluk mereka dengan erat.


"Mau gue anterin pulang gak?" Gara menawarkan.


Reya langsung menatap sang Mama untuk meminta izin.


"Anterin Reya sekarang, udah malam juga. Bahaya kalau anak gadis malam-malam naik taksi sendirian. Pastikan putri Mama sampai ke apartemen dengan keadaan selamat tanpa kekurangan apapun."


"Siap, Ma." Gara langsung bangun dari posisi duduknya dengan semangat.

__ADS_1


Kemudian mereka berdua berjalan menuju ke arah pintu depan dengan bahagia.


Mama memperhatikan itu semua sembari bergumam. "Isi pikiran anak muda memang sulit untuk dimengerti."


__ADS_2