My Lovely Brother

My Lovely Brother
73. Pernikahan (end)


__ADS_3

Senyum Reya merekah, kala menatap dirinya yang tampak cantik dalam balutan gaun pengantin. Dia tidak mengira dan seolah semuanya masih seperti mimpi.


Gaun pernikahan, gedung yang sudah didekorasi dengan sangat indah, kedua orang tuanya, sahabatnya dan Sagara. Semua ada di sini untuk merayakan hari kebahagiaannya.


Setelah proses ijab qobul selesai, Reya dan Gara mulai menyapa banyaknya tamu yang datang.


Kebanyakan adalah tamu mama dan papanya, sementara dia dan Gara jelas tidak punya teman sebanyak ini.


"Gue kira bakalan jadi jodoh gue, ternyata emang jodohnya sama lo ya. Mau gue jungkir balik pun gak akan dapat."


Gara melakukan tos dengan Gabriel, cowok itu masih melajang dan belum menemukan pasangan hidup.


"Gue ikut senang atas pernikahan kalian berdua. Doain gue segera menyusul ya, tinggal satu tahap lagi."


"Gue doain yang terbaik buat lo, Tha. Omong-omong, lo gak bawa dia ke sini?" tanya Gara karena Atha tidak membawa gadis yang sebentar lagi akan menjadi istrinya.


"Dia cuma nitip hadiah, karena lagi di luar kota. Kalaupun dia ada di sini, kayaknya gak bakalan gue bawa. Kasian Gabriel jomblo gak ada pasangan, yang ada dia merasa iri sama gue."


Ketiga orang itu tertawa, sementara Gabriel pura-pura merajuk.


"Makanya jangan banyak main cewek, Gab. Langsung pilih aja mau yang mana, undur-undur terus yang lo bakalan makin tua."


"Maunya sih lo, Rey. Tapi sayangnya udah lebih dulu sama Gara."


Mendengarkan itu Gara langsung memberikan pukulan pelan di bahu Gabriel.


Suasana yang semula seru, berubah menjadi canggung ketika seseorang yang tidak diduga-duga datang memenuhi undangan tersebut.


"Selamat untuk pernikahan kalian berdua, gue cuma bisa mampir sebentar dan harus balik lagi buat kerjaan."


Reya tersenyum kaku dan membalas jabatan tangan Jessi. Sudah lama tidak melihat gadis ini, ternyata dia menjadi semakin cantik dengan rambut yang lebih pendek.


"Gar, aku mau ke Renata dulu. Mungkin kalian berdua ada yang mau dibicarakan."

__ADS_1


"Di sini aja, Rey." Gara menahan tapi Reya menolak. Sebab dia paham bahwa Jessi memang harus punya waktu berdua dengan Gara.


"Renata di sana, aku belum ngomong sama dia. Gak akan lama kok, kamu juga jangan lama ngomongnya."


Akhirnya Reya melangkah menjauh, begitu juga dengan kedua sahabat Gara yang beralasan ini berkeliling dan mencoba mencicipi banyak makanan.


"Makasih karena lo udah mau datang ke sini. Ada sesuatu yang mau lo bilang?" tanya Gara tidak ingin menunda waktu. Tidak enak juga jika para tamu melihat dirinya berbincang-bincang terlalu lama dengan perempuan asing.


"Gue minta maaf untuk kesalahan di masa lalu. Gue sama sekali gak berniat mempermainkan lo, cuma waktu itu gue emang agak labil dan sedikit kesal. Makanya pas lo ajakin gue pacaran, gue langsung berniat balas dendam. Walaupun gue sadar waktu itu gue masih suka sama lo. Maaf untuk semuanya ya, Gar. Gue tau ini terlambat tapi gak ada salahnya kalau gue minta maaf sekarang. Gue menyesali semua perbuatan gue waktu itu."


"Santai aja, Jes. Gue udah memaafkan itu semua jauh sebelum lo minta maaf. Kalau bukan karena kejadian itu, mungkin sampai sekarang gue gak bisa sama Reya. Dia bakalan selalu gengsi untuk mengungkapkan perasaannya sama gue."


"Lega rasanya udah minta maaf sama lo. Jadi setelah ini kita masih bisa berteman kan?"


"Bisa kok, gara-gara kejadian itu juga lo jadi canggung sama Gabriel dan Atha. Gue juga minta maaf untuk itu semua."


"Oke, permasalahanya udah selesai hari ini. Gue izin pamit ke kantor dulu."


"Jangan langsung pulang, gak etis banget lo datang ke acara pernikahan tapi gak coba makanannya. Setelah makan lo baru boleh pulang."


"Gue gak maksa ya," ucap Gara dan Jessi tertawa. Mereka berdua menjadi tidak canggung lagi setelah bertahun-tahun saling diam.


"Ya udah lo makan aja sekalian ajakin Gabriel dan Atha ngomong. Gue mau ke sana dulu."


"Oke, sekali lagi selamat untuk pernikahan lo dan Reya. Semoga kalian bahagia terus dan bersama selalu sampai akhir hayat."


"Makasih untuk doa baiknya."


Gara langsung mendekat dan menggenggam tangan Reya yang masih berbicara dengan Renata dan beberapa orang dari perusahaannya. Arkan juga ada di sini bersama istrinya.


"Udah selesai ngomong sama Jessi?"


"Udah, dia datang untuk minta maaf dan menyesal sama kesalahannya di masa lalu."

__ADS_1


"Aku lega dengarnya, karena setelah ini kita bisa hidup dengan tenang. Gak ada orang yang diam-diam masih menaruh rasa jengkel sama kamu."


"Iya akupun senang karena berakhir seperti ini." Gara menatap rekan kerja Reya dan bersalaman.


"Jaga Reya baik-baik, kalian sekarang udah menikah bukan pacaran lagi. Kalau ada masalah usahakan diselesaikan dengan cara yang lebih dewasa. Jangan saling menyimpan rahasia dan berakhir dengan salah paham." Arkan memberikan nasehat dan diterima sangat baik oleh Gara.


Suasana di sini semakin lama bertambah ramai. Momen bahagia Gara dan Reya disaksikan oleh banyak orang yang turut merasakan bahagia.


Reya memeluk mamanya erat. "Makasih banyak karena Mama udah melahirkan Reya dan merawat Reya dengan baik. Papa pasti merasa sangat bahagia dan bangga karena menikahi perempuan seperti Mama."


"Mama juga sayang banget sama kamu, selalu bangga. Jadi kamu harus selalu bahagia ya, kalau ada apa-apa langsung cerita sama Mama jangan dipendam. Pernikahan itu gak akan mudah, jadi jangan coba-coba menanggung beban sendiri."


"Iya, Reya paham dan akan selalu meminta saran sama Mama."


Mama beralih memeluk Gara yang baru saja memeluk papanya. "Mama harap kamu bisa menjaga putri Mama dengan baik, jangan kecewakan Mama ya."


"Pasti, Gara akan selalu membuat Reya bahagia sampai dia gak tau apa itu kesedihan."


Setelah itu mereka mulai berfoto bersama, mengabadikan momen yang hanya akan terjadi sekali untuk seumur hidup.


Reya mengecup pipi Gara. "Makasih karena udah memilih aku sebagai pasangan kamu, terima kasih karena gak pernah menyerah untuk memperjuangkan aku. Gar, aku sayang banget sama kamu sampe aku gak bisa mendeskripsikan lagi pake kata-kata."


Gara tersenyum lebar dan membalas mengecup kening Reya. "Makasih karena udah memilih aku dari banyaknya pria lain di luar sana. Makasih karena udah percaya sama aku. Kalau kamu gak bisa mendeskripsikan bagaimana perasaan kamu ke aku, maka aku juga gak bisa melakukan itu. Karena rasa sayang aku jauh lebih besar lagi dibandingkan apa yang kamu rasakan. Hampir delapan tahun lalu aku pertama kali jatuh cinta sama kamu dan rasanya gak pernah berubah sampai sekarang. Aku sayang kamu, aku mau sama kamu terus sampai hanya maut yang bisa memisahkan kita."


Reya langsung memeluk Gara dengan erat, dia mengucapkan beribu terima kasih untuk semua orang yang berperan penting dalam hidupnya.


Jika saja mamanya tidak menikah lagi, mungkin dia tidak akan bersama dengan Sagara sekarang.


Terima kasih, Tuhan. Untuk segala rencana yang sudah engkau atur.


"Aku mencintai adikku."


Semoga Gara dan Reya akan selalu bersama.

__ADS_1


Selamat berbahagia untuk kalian berdua.


__ADS_2