My Lovely Brother

My Lovely Brother
20. Arkan ke rumah


__ADS_3

"Lo ada hubungan apa sama Jessi?" tanya Reya sengaja masuk terlebih dulu ke dalam rumah dan menunggu Gara di depan pintu kamar cowok itu.


"Urusannya sama lo apa? Gak seharusnya lo mau tau privasi gue."


Reya agak kaget dengan nada bicara Gara yang terlihat angkuh, tidak seperti biasanya. Kemana sosok Gara yang tengil?


"Gue tanya karena lo berhubungan sama Renata. Lo main-main sama teman gue?" Reya memberanikan dirinya untuk menatap Gara.


Dia tidak menemukan binar yang sering dia lihat di mata Gara sekarang. Kemana itu semua pergi dalam sekejap?


"Teman lo yang selalu kirim chat ke gue, bagian mana dari gue yang main-main sama dia? Gue gak pernah kasih harapan apapun ke dia, gue juga bersikap sewajarnya juga gak pernah modus."


Reya berdecih, semua cowok di bumi ini memang berengsek kecuali papanya. "Dengan lo balas chat dia seseorang bisa berharap Gara. Jangan sok ganteng buat main-main sama perasaannya Renata, berani lo sakiti dia gue bakalan bunuh lo."


Gara tertawa, bukan tawa senang tapi seakan mengejek. "Udah berapa kali lo bilang mau bunuh gue, tapi gak pernah lo lakuin 'kan? Gertakan kayak gitu sama sekali gak mempan, jadi gue harap lo bisa berhenti bertingkah konyol. Gue sama sekali gak tertarik untuk meladeni lo."


Reya menahan tangan Gara yang berusaha menyingkirkan dirinya dari depan pintu kamar cowok itu.


"Lo kenapa sih? Aneh dan mendadak menghindar dari gue? Apa yang salah dari gue sampe lo berakhir kayak gini?"


"Lo tanya sama gue kenapa gue memilih menjauh? Bukannya lo sendiri yang mau kita begini. Gak ada hubungan saudara tiri yang terlalu akrab. Mulai sekarang gue udah nyaman dengan keadaan kayak gini. Jangan coba-coba dekat sama gue lagi, karena gue gak merasa nyaman."


"Lo takut jatuh cinta sama gue makanya menghindar?" tanya Reya dan merasa dirinya sudah gila karena menanyakan pertanyaan seperti tadi.


"Jatuh cinta sama lo?" Gara balik bertanya dan maju satu langkah agar lebih dekat dengan Reya. "Bukannya selama ini lo anggap perasaan cinta gue buat lo cuma sebatas main-main?"


"Jadi benar cuma main-main?" Reya menatap Gara berusaha mencari kebohongan di sana.


"Iya, gue gak mungkin jatuh cinta sama lo. Gue juga gak pernah senang jadi saudara tiri lo. Gue dekati lo cuma untuk tau kelemahan lo Reya, setelah itu gue bisa rebut apapun yang lo mau termasuk perhatian Mama."


Gara mendorong dirinya dari depan pintu dan Reya tidak punya tenaga lagi untuk melawan.


Ternyata benar dugaannya kalau Gara tidak pernah serius akan perasannya. Cowok itu melakukan semuanya hanya untuk rencananya berjalan dengan lancar, hampir saja Reya lemah dan kalah.


****

__ADS_1


Rasanya asing ketika Reya hanya berada di kamar dan tidak ada yang menganggu dirinya seperti biasa.


Mungkin karena Reya sudah mulai terbiasa dengan kehadiran Gara dalam hidupnya, jadi beberapa hari cowok itu menjauh menyadarkan Reya bahwa dia merindukan Gara.


Suasana kamar Gara juga selalu sunyi, tanpa musik yang mengganggu tidur tenang Reya. Tidak ada lagi Gara yang selalu datang di pagi hari untuk membangunkan dirinya. Semuanya telah usai di saat Reya mulai nyaman dengan keadaan.


Reya keluar dari kamar karena jam makan malam sudah tiba. "Kak Arkan?" Dia bingung dengan kehadiran Arkan di sini.


"Duduk dulu, Re." Mamanya meminta Reya duduk di sebelah Arkan dan Gara juga ada di sini.


"Mama ketemu sama Arkan tadi, ternyata dia kerja di kantor yang bekerja sama dengan perusahaan Mama. Mama masih ingat kalau Arkan adalah senior yang kamu suka dulu. Kamu sering banget cerita tentang Arkan, katanya ada senior yang ganteng dan baik banget di kampus."


Raut wajah Mama terlihat sangat senang, sejak dulu mamanya memang lebih menyukai Arkan.


Siapa juga yang tidak suka dengan sosok Arkan yang ganteng, sopan, berwibawa dan rajin bekerja.


"Wah, aku kira Mama udah lupa sama Kak Arkan karena lumayan lama gak lihat dia."


"Awalnya emang agak susah mengenali karena Arkan lebih dewasa, tapi setelah Mama perhatikan dan dia menyapa Mama. Dari situ Mama langsung ingat kalau dia cowok yang pernah beberapa kali anterin kamu pulang."


"Gara, kamu belum kenalan sama Arkan. Atau kamu pernah lihat dia di kampus sebelumya?"


Gara menggeleng, mereka berada di fakultas yang berbeda dan Gara masa bodoh dengan keberadaan cowok itu.


"Ma, jangan coba cerita tentang masa lalu aku di depan Gara. Aku gak mau dia menjadikan itu sebagai bahan ledekan." Reya langsung berbicara karena tau mamanya pasti akan membahas tentang apa yang terjadi antara dirinya dan Arkan di masa lalu.


"Ya udah kita makan malam dulu jangan keasikan ngobrol."


Reya bernafas lega dan mulai memakan makanannya, sesekali dia melirik ke arah Gara yang sangat diam. Padahal cowok itu biasanya terlalu banyak berbicara. Entah itu untuk menjahili dirinya atau menceritakan kehidupan kampusnya.


"Gara duluan ke atas, karena ada tugas tambahan dari dosen."


"Udah ujian masih ada tugas aja ya, Gar." Arkan berbicara sekedar untuk berbasa-basi.


"Biasa, Bang. Namanya juga jurusan teknik, pasti ada aja tugasnya walaupun lagi ujian."

__ADS_1


"Ya udah kamu semangat kerjain tugasnya, satu jam lagi Mama antarkan cemilan ke kamar kamu."


Reya hanya menatap kepergian Gara dalam diam, cowok itu pasti sengaja menghindar.


****


Setelah makan malam, Gara dan Reya duduk di teras untuk berbicara.


"Maaf kalau ada beberapa perkataan mama yang bikin kamu gak nyaman. Terkadang Mama emang kebanyakan bicara dan suka bercerita secara berlebihan."


"Sama sekali enggak masalah kok, Re. Aku malah senang kalau mama kamu jadi banyak cerita, artinya dia enggak merasa canggung sama aku."


Hmm benar juga, mamanya mana pernah berbicara sebanyak itu dengan Steven. Jangankan berbicara panjang lebar, untuk menyapa Steven saja harus Reya yang meminta terlebih dulu.


"Soal Gara, kayaknya kalian lagi berantem ya?"


"Hmm, aku gak tau apa yang sebenarnya terjadi. Kalau Gara emang maunya diam-diaman, aku bisa apa Kak? Lagian aku gak ngerti alasan dia tiba-tiba jadi kayak gini."


"Namanya anak muda pasti bakalan ada di fase ini, apalagi kalian tinggal dalam satu rumah. Sama saudara kandung aja bisa berantem apalagi sama saudara tiri."


Reya manggut-manggut saja, pertengkaran antar saudara memang hal lumrah terjadi.


"Kamu sendiri sering gak berantem sama adik kamu?"


"Enggak terlalu, karena adik cewek jadi jarang berantem. Oh iya soal hubungan kamu sama Steven udah putus, mama kamu tau gak?"


Reya menggeleng, ingin memberitahu sejak lama tapi selalu berakhir ditunda. "Belum, aku lagi cari waktu yang tepat untuk kasih tau sama Mama."


"Re." Arkan memanggil dengan nada serius. Reya menoleh dan menemukan wajah Arkan yang terlihat tegang.


"Kakak mau jujur sama kamu, kalau sejak dulu Kakak ada rasa. Tapi Kakak gak bisa menerima karena seperti yang kamu tau, kedua orang tua Kakak gak mengizinkan untuk pacaran selagi kuliah. Makanya sekarang Kakak jujur sama kamu karena kamu udah gak punya pacar. Boleh gak kalau Kakak minta izin untuk mengejar kamu sekarang? Kakak tau perasaan kamu untuk aku jelas udah berubah. Tapi gak ada salahnya kalau kita mengulang kisah itu dengan posisi dan situasi yang berbeda 'kan?"


Prang.


Suara benda yang jatuh membuat Arkan dan Reya menoleh. Menemukan Gara yang menjatuhkan pot bunga di ruang tamu.

__ADS_1


"Gara, lo nguping?"


__ADS_2