My Lovely Brother

My Lovely Brother
68. Ketahuan


__ADS_3

"Gue gak suka kalau lo sampe ke klub lagi. Apapun yang terjadi sama orang jangan terlalu ikut campur, Re. Orang yang lo bantu belum tentu melakukan hal yang sama kalau itu terjadi sama lo. Jangan terlalu baik sama orang, apalagi ke orang yang pernah jahat.”


"Gar, jangan marah-marah terus. Lo dari awal gue naik mobil sampe kita mau sampe rumah, asik marah aja.”


"Wajar kalau gue marah, karena lo sama sekali gak memikirkan konsekuensinya. Lo sekarang lagi magang, gimana kalau ketahuan berada di klub tiap malam dan malah berdampak sama magang lo? Walaupun lo datang ke sana bukan untuk mabuk-mabukan. Jadi tolong dipikirkan lagi, sebelum melakukan sesuatu yang enggak baik."


Reya menghela nafas dan menganggukkan kepalanya patuh, daripada Gara terus saja marah kepada dirinya. Takutnya Gara malah tidak mau berbicara kepadanya lagi.


"Kasus ini udah selesai, gue emang udah janji mau bantuin sampe dia menemukan pelakunya."


"Bagus deh, selain enggak suka lo datang ke klub. Gue juga gak suka lo kembali berhubungan sama mantan lo. Gue cemburu lihat lo sama dia." Gara terlalu blak-blakan dan Reya tidak siap dengan ini.


Reya tersenyum, kemudian mengalungkan tangannya di lengan Gara yang sedang menyetir lalu merebahkan kepalanya di sana.


"Makasih karena lo datang ke sana tadi, kalau enggak gue sama Steven pasti bakalan kalah jumlah. Kok lo bisa tau kalau gue ada di sana?"


"Tebak-tebak aja, soalnya klub itu emang paling banyak dikunjungi sama mahasiswa kampus kita. Makanya gue pertama langsung ke sana dan beneran lo ada."


"Gue gak nyangka kalau cowok berengsek itu senior di jurusan lo. Emang selama ini dia selalu mendapatkan predikat begitu di kampus?"


"Entahlah, gue gak terlalu peduli sama hal yang kayak gitu. Makanya gue gak mau kenalin lo sama dia, pas tadi dia minta. Setau gue dia emang suka gonta-ganti pasangan dan gak pernah pacaran serius."


Reya lega, setidaknya dia sudah menemukan seseorang yang Steven cari. Dia merasa berguna untuk temannya.


"Mama sama Papa gak bakalan marah lagi sama lo. Mereka pasti cuma kaget karena lo ada di kantor polisi."


"Mereka bakalan lebih kaget kalau tau lo ada di klub tadi."


Keduanya turun dari mobil ketika jam dinding sudah menunjukkan pukul satu dinihari.

__ADS_1


"Gara, jangan langsung naik ke atas. Karena Mama mau ngomong sama kamu." Mama sudah sampai lebih dulu di rumah dan sedang duduk di ruang keluarga bersama papa.


"Reya juga mau di sini."


"Reya, sebaiknya kamu tidur aja. Karena besok harus bangun pagi dan ke kantor."


Reya menggeleng, dia ikut duduk bersama dengan Gara di ruang keluarga.


"Gara datang ke sana karena Reya, dia terseret ke kantor polisi juga karena Reya. Kalau bukan karena Reya, Gara pasti di rumah sejak tadi."


"Mama udah dengerin semuanya dari Steven, kamu gak perlu menjelaskan lagi. Mama tau niat kamu baik bantu dia. Tapi Gara malah datang ke sana untuk menciptakan keributan dan semuanya menjadi rumit. Makanya Mama gak mau ngomong sama kamu."


"Tapi Reya tetap di sini, Reya merasa bersalah untuk semua yang terjadi."


"Reya, sekali aja dengarkan Mama boleh? Mama lelah bekerja seharian dan jangan keras kepala. Kalau Mama bilang masuk ke kamar ya masuk kamar."


Reya akhirnya menyerah, walaupun dia merasa keberatan untuk meninggalkan Gara sendirian.


"Gara, Mama tau kalau kamu masih menyimpan rasa kepada Reya. Karena kalau kamu gak sesuka itu sama dia, gak mungkin kamu langsung ke sana dan melibatkan diri kamu dalam pertengkaran itu."


"Ma, Gara emang suka sama Reya. Perasaan ini gak akan bisa dihapus gitu aja. Lagian Gara sama Reya cuma saudara tiri, kita gak terlahir dari darah yang sama. Kita masih bisa menikah dan gak ada yang salah dengan ini." Gara akhirnya meluapkan semua hal yang dia tahan. Mau bagaimanapun mama dan papanya harus tau, bahwa rasa cintanya kepada Reya takkan bisa berubah.


Papa memukul meja karena perkataan Gara barusan.


"Kamu tak kalau itu salah dan gak seharusnya kamu lanjutkan. Masih banyak perempuan di luar sana, kenapa harus Reya."


"Kenapa juga di antara banyak wanita di luar sana. Papa memilih ibu dari gadis yang Gara suka? Gara udah suka sama Reya sejak awal kuliah di kampus itu, bukan karena kita bertemu sebab kalian mau menikah. Gara yang lebih dulu jatuh cinta sama Reya, jauh sebelum papa jatuh cinta sama mama. Jadi kenapa Gara harus menyerah?"


Mama dan papanya terdiam mendengarkan ucapan Gara. Mereka baru tau ini semua, sebab selama ini Gara hanya diam dan tidak pernah membahasnya.

__ADS_1


"Tapi sekarang keadaan udah berubah Gara, kamu gak seharusnya masih suka sama Reya. Dia kakak kamu, bukan senior kamu di kampus."


"Gak ada yang berubah, Pa. Reya tetap sama seperti saat pertama Gara tau dia ada di dunia ini. Jadi gimana Gara bisa merubah perasaan ini? Gara gak akan berhenti, tolong jangan paksa Gara."


"Terus kamu mau gimana sama hubungan ini? Perasaan kamu salah dan kamu gak akan mendapatkan restu dari kami."


"Reya bakalan sama Gara." Gadis itu kembali datang dan menuruni tangga rumah. Sudah cukup sedari tadi Reya mendengarkan itu semua.


Tidak adil rasanya jika hanya Gara yang selalu mendapatkan tekanan dan larangan, sementara Reya selalu di posisi aman.


"Perasaan Gara sama sekali enggak salah, sebab Reya merasakan apa yang Gara rasakan. Kami berdua saling jatuh cinta dan itu di luar kendali kita berdua. Kalau Mama mau marah soal ini, Mama bisa marah sama Reya. Sebab Reya jatuh cinta sama Gara sejak dia ada di rumah ini, beda dengan Gara yang udah lebih dulu jatuh cinta sama aku sebelum kalian menikah."


"Apa maksud kamu Reya? Jangan gila dengan jatuh cinta kepada adik kamu sendiri. Kamu lebih baik bersama laki-laki lain, termasuk dengan Arkan. Mama bahkan jauh lebih setuju kamu dengan Steven daripada perasaan terlarang ini."


"Ma, cinta aku untuk Steven dan Arkan udah habis. Aku maunya Gara sekarang, aku merasa nyaman dan aman sama dia. Aku menginginkan seseorang yang mencintai aku dan berhasil aku cintai juga. Tolong jangan egois dengan terus melarang kami menjalin hubungan hanya karena perkara saudara tiri."


Reya memang sudah gila dan sama sekali tak takut. Dia bahkan meraih tangan Gara kemudian digenggam erat.


"Mama sama Papa gak mengerti setan apa yang sudah merasuki kalian berdua. Mama sudah pernah mengatakan sama Gara, kalau perasannya berlanjut maka dia harus keluar dari rumah ini. Mama gak bisa membiarkan kalian tinggal di satu atap yang sama. Mama terlalu takut kalian melakukan sesuatu yang dilarang saat kami gak ada di rumah."


Reya tersenyum tipis. "Mama emang gak percaya sama kami ya? Oke kalau emang itu ya Mama mau, Reya bakalan pindah dari rumah ini. Reya akan tinggal di apartemen yang pernah Papa kasih sebagai hadiah ulang tahun. Tapi setelah ini tolong jangan mengekang hubungan Reya dan Gara lagi. Kami berdua sama-sama saling mencintai dan kalian gak akan berhasil."


"Re, biar gue aja yang keluar dari rumah ini. Lo tetap tinggal di sini, karena ini rumah lo. Bahaya kalau cewek tinggal di luar sendirian."


"Gak apa-apa, Gara. Itu apartemen hadiah dari Papa dan gue jelas bakalan aman di sana. Lo tetap di sini aja ya, apartemennya lebih dekat ke kantor juga."


"Tapi, Re. Gue gak tenang kalau lo tinggal sendirian."


Mama memijit kepalanya, kemudian berkata dengan nada tinggi. "Cukup, Mama muak dengan kalian berdua."

__ADS_1


__ADS_2