
Reya kesal karena kamarnya digedor-gedor dengan tidak sabaran. Matanya terasa sangat perih, kala melirik jam dinding yang menunjukkan pukul empat pagi. Berarti dia baru bisa tidur sekitar dua jam.
Semua ini terjadi karena isi pikirannya selalu memaksa dirinya mengingat tentang Gara dan semua yang dilakukan oleh mereka berdua. Reya tau bahwa semuanya sangat salah. Tapi mau gimana lagi, semuanya sudah terlanjur dilakukan. Masih untung mereka belum sampai ke tahap yang lebih fatal.
Semoga Reya tidak akan tergoda untuk kedua kalinya.
"Re, Mama sama Papa bakalan terbang dua jam lagi. Ayo bangun dan siap-siap, gue capek gedor pintu kamar lo daritadi."
Reya menghela nafas, dia lupa kalau pagi ini harus mengantarkan kedua orang tuanya.
"Reya, udah bangun belum sih? Semalam semangat banget mau anterin, giliran pagi susah dibangunin."
"Gue udah bangun, jadi sekarang lo bisa balik ke kamar dan jangan cari keributan sama gue di pagi hari."
"Buka dulu pintu kamarnya, gue harus pastiin kalau lo emang udah bangun. Bukan sebatas akal-akalan aja."
Gara itu memang selalu menjadi manusia paling ribet dan hobi mengaturnya. Reya kesal, bangun dari tempat tidur dan membuka pintu dengan lebar.
"Lo sekarang udah lihat kalau gue udah bangun. Jadi sana balik ke kamar dan jangan ganggu gue."
Tanpa aba-aba Gara memeluk Reya dengan erat, mencium puncak kepala gadis itu beberapa kali.
"Gar, apa-apaan sih. Lepasin gak, gue belum punya banyak tenaga untuk lawan lo sekarang. Jangan kayak orang mabok dan aneh gini.”
"Wangi lo enak, gue suka dan rasanya kangen banget sama lo."
Reya berusaha mendorong Gara, tapi malah dirinya yang didorong kembali masuk ke dalam kamar. Gara menutup pintu kamar Reya dengan kakinya.
Kemudian menjatuhkan tubuh mereka berdua di atas tempat tidur.
"Gar, lo gila ya. Mama sama Papa bisa lihat kita kayak gini."
"Lampu kamar lo mati, jadi gak kelihatan."
"Gar, jangan bikin gue takut deh. Badan lo berat banget, gue gak sanggup tahan."
Gara menatap wajah Reya dalam suasana remang-remang, setelah kejadian tadi malam dirinya semakin menggebu-gebu untuk memiliki Reya.
Perlahan Gara menempelkan bibirnya di atas bibir Reya, ******* secara perlahan karena takut mendapatkan penolakan. Namun ternyata Reya malah membalas dan mereka berdua sama-sama terhanyut dalam posisi intim tersebut untuk beberapa saat.
Kemudian yang pertama sadar bahwa ini adalah kesalahan adalah Reya, dia mendorong Gara sampai cowok itu jatuh ke sampingnya. Reya langsung buru-buru bangun dan menghidupkan lampu kamarnya.
Gara menopang kepalanya dan menatap Reya lekat-lekat. Sepertinya gadis itu lupa kalau saat ini hanya memakai tanktop ketat berwarna hitam dan celana pendek sepaha.
__ADS_1
"Seksi banget Kakak gue."
Reya langsung menutup bagian dadanya dengan tangan, sementara Gara tertawa.
"Sekarang lo keluar dari kamar gue, karena gue mau mandi."
Gara mendekat, Reya semakin mundur ke belakang hingga tubuhnya menempel ke dinding.
"Mau ngapain lo?"
Gara melepaskan tangan Reya yang melingkar di depan dadanya. Kemudian menyentuh bagian jantung Reya dan merasakan debaran yang menggila di sana.
"Ternyata gak gue doang yang merasa berdebar dan gue senang dengan fakta ini."
Setelah mengatakan hal tersebut Gara keluar dari kamar Reya, gadis itu jatuh terduduk karena kakinya yang melemas.
****
Jam lima semua sudah bersiap-siap, langit masih gelap tapi mereka semua sudah berada di dalam mobil.
Reya dan Gara duduk di paling belakang, mama dan papanya berada di kursi nomor dua. Sementara ada supir yang menyetir, walaupun tadi Gara sudah meminta supaya dirinya saja.
Reya menatap tangan Gara yang sengaja dia letakkan di atas pahanya. Seharusnya dia menolak untuk duduk bersama Gara di belakang, karena cowok ini pasti akan aneh-aneh.
"Enggak Ma, Reya sama sekali gak ngantuk."
Tidak tidur saja Gara sudah begini, apalagi Reya tidur.
"Tidur aja kalau ngantuk, lo bisa sambil senderan sama gue supaya gak sakit lehernya." Gara mengambil kesempatan tersebut untuk meletakkan kepala Reya di pundaknya, sementara tangan kanannya dia selipkan ke belakang pinggang Reya.
Jarak mereka berdua semakin dekat. Satu tangan Gara masuk ke dalam baju Reya yang memang pendek walaupun buka crop top, sementara tangannya masih bermain di paha Reya yang terbuka.
"Ingat pesan Mama sama Papa, kalian berdua jangan nakal. Terutama buat kamu Gara, jangan coba-coba buat mabuk pas kami gak ada."
"Enggak akan, Ma. Malahan Gara yang bakalan jagain Reya selama kalian enggak ada."
Tangan Gara perlahan masuk ke dalam rok Reya.
"Gar, gue bisa ngadu sama Mama." Reya berbisik di telinga Gara.
"Ngadu aja, biar tangan gue makin masuk ke dalam."
Reya menahan nafas karena tangan Gara yang berada di pinggangnya, sekarang sudah menyentuh bagian tali bra Reya.
__ADS_1
"Gar, gue gak main-main."
"Tidur Reya, daritadi maksa terus matanya dibuka."
"Reya, tidur aja. Kalau udah sampe mama sama papa bakalan bangunin kamu. Mama juga mau tidur sebentar, karena perjalanan masih satu jam lagi." Gara tersenyum karena usahanya memancing respon sang Mama berhasil.
Suasana mobil menjadi hening, walaupun memang mengantuk tapi Reya tidak bisa tidur. Dia mencubit tangan Gara yang berada di dalam roknya.
Cowok itu terkekeh, kemudian mencuri kesempatan mencium bibir Reya.
Gadis itu melotot. "Lo gila ya." Gara begitu santai melakukan itu semua padahal di depan ada kedua orang tua mereka.
Gara mencium telinga Reya, memendekkan tubuhnya agar tidak terlihat di cermin. "Mereka berdua lagi tidur, Sayang. Kamu mau lanjut enggak?"
Reya menahan nafas lagi, Gara meletakkan kepalanya di bahu Reya. Kedua tangannya sekarang memeluk pinggang Reya. Sesekali cowok itu menempelkan bibirnya di leher Reya.
Gadis itu sangat kesusahan untuk mengontrol debaran jantung dan suaranya.
Hingga akhirnya kala mobil memasuki terowongan, Gara menangkup wajah Reya dan mencium bibir gadis itu dengan rakus bahkan memberikan gigitan kecil-kecilan di sana.
Hanya beberapa detik sampai akhirnya mobil keluar dari terowongan dan suasana menjadi lebih terang.
Gara menyengir dan mengelap bibir Reya yang basah.
Mulai sekarang Reya paham, dirinya tidak akan selamat jika hanya berdua bersama Gara di rumah kala mama dan papanya pergi.
Apa dia harus menginap di rumah Renata untuk menghindari kegilaan cowok ini?
Melihat Reya yang banyak berpikir, Gara kembali mendekatkan bibirnya ke telinga Reya sementara gadis itu mulai terlihat was-was.
"Gue bakalan selalu gini sampai akhirnya lo ngaku punya perasaan yang sama seperti yang gue rasain."
"Kalau gue gak mau ngaku, lo bakalan gini terus?" tanya Reya ingin tau.
"Bukan cuma gini doang, Re. Tapi gue bakalan jauh lebih dari ini."
Mata keduanya saling menatap, tangan Gara merayap ke bagian tubuh Reya yang menonjol. Hanya menyentuhnya sekilas tapi Reya hampir mengeluarkan *******.
"Lo selalu bilang gak suka sama gue tapi lo merespon semua itu secara berlebihan. Gue bisa jadi orang yang paling sayang sama lo dan kasih tau semua rasa yang belum pernah lo cobain sebelumnya."
Suara serak Gara sangat berbahaya, Reya mendorong tubuh cowok itu menjauh dan dia menggeser posisi duduknya menjadi lebih jauh dengan Gara.
Suasana terasa panas, Reya tidak bisa dekat-dekat dengan Gara lagi
__ADS_1