My Lovely Brother

My Lovely Brother
21. Gara tidak pernah jatuh cinta?


__ADS_3

Reya langsung mendekat untuk membantu Gara membereskan serpihan kaca karena gelas yang terjatuh dari tangan cowok itu barusan.


Gara juga menyenggol pot bunga yang sudah pecah dan tanahnya berhamburan di lantai.


"Gue gak nguping cuma gak sengaja lewat, gelasnya agak licin makanya jatuh dari tangan gue." Reya menatap gelas yang memang terlihat berembun karena dingin.


"Ya udah lo jangan pegang dulu, biar gue ambil sapu."


Arkan berdiri di pintu dan melihat mereka berdua. Reya langsung mencari dimana keberadaan sapu dan kembali untuk membereskan kekacauan ini.


"Gue sama sekali gak dengar apa yang kalian bilang, jadi jangan salah sangka."


Masa bodoh dengan itu, Reya lebih ingin membersihkan semua serpihan kaca ini agar tidak ada orang yang akan terluka.


"Iya, apapun alasan lo. Lagian gak mungkin juga lo mau dengar pembicaraan gue sama Kak Arkan. Mending lo balik ke kamar dan lanjut kerjain tugas, semuanya biar gue yang beresin."


Walaupun agak malu, Gara tetap melangkah pergi. Karena tidak mungkin dia tinggal di sana tanpa mempunyai alasan.


"Re, udah mau jam sepuluh. Kamu pasti butuh istirahat karena besok kuliah lagi. Kakak izin pulang sekarang ya, kamu perbanyak istirahat. Semoga semua ujiannya berjalan lancar dan kamu mendapatkan nilai memuaskan."


Reya mengantarkan Arkan sampai depan mobil cowok itu. "Hati-hati pulangnya, Kak. Kabarin aku kalau udah sampe rumah."


"Iya pasti dikabarin, kamu langsung masuk ke rumah aja. Karena udara di sini kerasa dingin banget dan kayaknya mau hujan."


Reya tidak membantah dan langsung masuk ke dalam rumah. Rasanya beda kala dia mencintai Arkan saat awal kuliah dibandingkan dengan sekarang.


Reya seolah merasa hampa dan tidak berdebar kesenangan lagi.


****


Mungkin hari ini bisa dikatakan adalah hari kesialan Reya, dia akan mengingat tanggal ini sampai tahun depan. Sudah telat bangun tidur dan sekarang malah ban mobilnya bocor di tengah jalan.


Reya berusaha menghubungi mama dan papanya tapi tidak ada satupun dari mereka yang menjawab telepon dari Reya.


Setelah itu Reya berusaha menelepon Renata yang ternyata juga tidak menjawab telepon dari dirinya.

__ADS_1


Siapa lagi yang akan dihubungi? Dalam keadaan seperti ini Reya baru sadar kalau dia tidak mempunyai banyak orang terdekat. Tidak mungkin dia menghubungi Steven, apalagi Gara yang sedang menjaga jarak dengan dirinya.


Reya juga tidak berani untuk menghubungi Arkan, karena jam segini cowok itu pasti sedang dalam perjalanan menuju kantornya.


Reya pasrah dan berjongkok di depan mobil, sembari berharap ada seseorang yang dikirimkan oleh tuhan untuk menolong dirinya.


Sepertinya doa Reya memang terkabul, kala satu mobil menepi di dekat dirinya.


"Mobilnya mogok atau kenapa, Kak?"


Reya langsung bangun dari posisinya dan menatap cowok itu dengan dengan memicingkan mata. Memastikan bahwa dia memang mengenali seseorang yang berdiri di hadapannya saat ini.


"Lo temannya Gara yang telepon gue pas dia mabuk 'kan?"


Gabriel tersenyum sampai matanya yang sipit menghilang. "Untung banget kalau Kakak masih ingat sama gue. Jadi mobilnya kenapa nih? Udah telepon orang bengkel suruh ke sini?"


Reya menggeleng, dia tidak pernah menyimpan nomor bengkel manapun yang seharusnya bisa dihubungi ketika keadaan darurat seperti sekarang.


"Bannya kempes, gue gak tau kenapa bisa kempes. Karena pas ngecek di rumah baik-baik aja, kalau gue tau kempes mana mungkin mau tetap gue bawa."


"Gue bakalan panggil orang bengkel buat ke sini, kita bareng aja ke kampus. Lo pasti ada jadwal ujian 'kan?"


"Iya, tapi gue udah telat. Jadwalnya jam delapan tapi sekarang udah setengah sembilan."


Gabriel mengeluarkan ponselnya dan memfotokan paku yang menancap di mobil Reya.


"Lo kasih tunjuk foto ini nanti sama dosen, lebih baik datang telat daripada gak datang sama sekali. Mungkin beliau bakalan kasih lo kesempatan buat ikut ujian, atau boleh jadwal susulan sama kelas lain."


Reya meminta supaya Gabriel mengirimkan foto tersebut kepada dirinya, semoga saja dosennya berbaik hati dan memaafkan keterlambatan Reya hari ini.


Dengan merasa agak malu Reya masuk ke dalam mobil Gabriel. Dari mobilnya saja Reya dapat menebak bahwa cowok itu tidak berasal dari keluarga biasa.


"Gue bakalan traktir lo kapan-kapan sebagai ucapan terima kasih."


"Santai aja kali, Kak. Gue sama Gara itu teman dekat, jadi wajar kalau gue bantuin lo sekarang."

__ADS_1


"Tapi gue merasa buruk dengan kesan pertama pas kita ketemu di klub. Waktu itu gue benar-benar capek seharian beraktivitas dan harus jemput Gara di sana. Makanya gue kelihatan jutek juga kesal sebab tidur gue terganggu.”


Gabriel terkekeh dan tetap fokus menyetir. "Gue ngerti kondisi lo kok, jadi jangan merasa sungkan kayak gitu. Lagian Gara juga aneh, lagi mabuk malah ngigau nama kakak tirinya. Padahal gue tunggu banget dia keceplosan buat sebutin nama cewek yang dia suka. Biar gue sama yang lainnya bisa jahil ke dia.”


"Bukannya Gara pacaran sama Jessi sekarang?" tanya Reya, dia sengaja melakukan itu karena mendapatkan kesempatan untuk mengetahui semuanya sekarang.


"Gara sama Jessi?" Gabriel tertawa setelah itu. "Mereka cuma temenan gak pernah ada hubungan melebihi itu."


"Ya awalnya emang temenan, tapi kemarin gue lihat mereka berdua ke cafe es krim sambil gandengan tangan. Apa iya masih berteman sampai sekarang?”


Karena hal seperti itu dilakukan ketika dua orang sudah berada di dalam hubungan yang lebih serius.


Tawa Gabriel terhenti dan menoleh ke arah Reya, memastikan bahwa gadis di sebelahnya sedang tidak berbohong sekarang.


"Lo yakin mereka berdua udah pacaran?"


"Dari interaksinya sih udah, cuma gue gak tau juga. Kenapa emangnya kalau mereka berdua jadian, kok lo agak kaget gitu?"


"Gak apa-apa sih, gue cuma senang aja kalau akhirnya Gara punya pacar. Karena sejak masuk kuliah dia gak pernah bahas cewek manapun. Makanya gue sempat mengira Gara gak normal dan jangan-jangan naksir sama cowok. Tapi syukur deh kalau pikir absurd gue gak menjadi kenyataan."


Jadi memang benar Gara belum pernah punya hubungan dengan cewek manapun sebelumnya? Kenapa Reya selalu merasa ragu akan itu, karena di mata Reya Gara terlihat seperti cowok-cowok nakal yang suka berganti pasangan dalam waktu singkat.


Gabriel tiba-tiba memukul setir kemudi setelah diam untuk beberapa saat.


"Ah, gue mendadak ingat sesuatu sekarang. Gara pernah bilang pas awal-awal kuliah, kalau dia naksir sama salah satu cewek yang sama jurusannya kayak lo dan dia senior. Kira-kira lo tau gak siapa cewek yang Gara maksud."


"Cewek dari jurusan gue? Maksudnya Renata?"


Gabriel langsung menggeleng. "Renata mah baru dekat sama dia, tapi Gara gak suka juga sama Renata. Gue lupa lagi siapa namanya, tapi pas Gara lagi naksir sama senior itu kita jadi sering makan di kantin fakultas lo."


"Terus lo gak kenal siapa orangnya padahal ikut sama dia ke sana?”


"Enggak, Gara gak pernah mau kasih tau yang mana orangnya. Dia suka senyum sendiri kalau cewek itu ada di sana, cuma gue mana bisa menebak orangnya yang mana di antara banyaknya perempuan lain di kantin itu."


Reya mencerna semuanya sembari bertanya-tanya, apa benar gadis yang Gara sukai sejak dulu adalah dirinya?

__ADS_1


__ADS_2