
"Kita putus aja ya, gue lihat-lihat kita berdua emang sama-sama bisa walaupun enggak bareng. Lagian lo itu bentar lagi bakalan tunangan sama Jesika, jadi buat apa gue bertahan untuk sesuatu yang enggak pasti. Cuma buang-buang waktu aja ‘kan?”
Kalimat pembuka yang Reya katakan setelah satu bulan dirinya dan Steven tidak berbicara. Reya pikir memang sudah seharusnya semuanya berakhir. Dia tidak punya alasan lagi untuk bertahan dengan seseorang yang tidak pernah menahan kepergian dirinya.
"Lo punya cadangan makanya langsung mau udahan sama gue 'kan? Siapa cowok yang lo suka sekarang?" tanya Steven dengan nada tidak enak di dengar. Apalagi mereka berdua sedang berada di koridor kampus sekarang.
"Gue gak punya cadangan, Steven." Reya ikut tidak menggunakan panggilan aku-kamu lagi. "Gue cuma gak tahan sama cowok labil yang gak bisa memilih mau sama siapa. Jangan maruk dan pengen sama dua perempuan sekaligus dalam satu waktu. Lo gak bakalan berhasil kalau punya keinginan kayak gitu.”
"Labil?" tanya Steven kemudian terkekeh pelan. "Lo pikir mudah buat akhiri ini semua, lo gak ada di posisi gue makanya gak tau apa yang sebenarnya gue rasakan."
Reya sama sekali tidak goyah dengan apa yang Steven katakan. Cowok itu harus tau bahwa yang berdiri di hadapannya saat ini bukanlah Reya yang dulu. Raya yang bisa dibodohi dengan mudah dan Reya yang selalu meminta maaf untuk kesalahan yang sebenarnya tidak dia lakukan.
"Gak akan sulit kalau dari pertama lo menolak ini semua dan mengakui kalau gue pacar lo. Sayangnya lo terlalu pengecut dan gak bisa mengatakan itu semua. Lo terlalu takut menyakiti orang lain, tapi lo sama sekali gak merasa bersalah soal bikin gue sakit. Karena lo tau kalau gue hanya gadis bodoh yang akan selalu jatuh cinta sama lo, Steven. Tapi lo salah, perasaan seseorang akan berubah kalau gak pernah dihargai. Gue juga bisa pergi walaupun sebelumnya mencintai lo kayak orang gila.”
Steven menatap Reya lekat-lekat. "Lo yakin mau putus dan gak akan menyesal dengan apa yang lo katakan barusan? Banyak cewek yang mau sama gue sekalipun gue gak sama lo lagi, tapi dengan sifat lo yang emosian dan susah ditebak. Gue rasa gak akan ada orang yang bisa sabar sama lo seperti yang gue lakukan."
Walaupun agak sakit mendengarnya, tapi Reya tidak akan menunjukkan di depan Steven. Cowok itu pasti akan senang melihat dirinya lebih terluka.
Lebih baik Reya menangis berhari-hari ataupun berbulan-bulan demi lepas dari orang seperti Steven. Dibandingkan harus menangis seumur hidup karena keras kepala untuk mempertahankan hubungan yang sudah tidak bisa ditolong.
"Gak apa-apa gak ada yang suka sama gue, daripada gue harus bertahan dengan cowok modelan kayak lo. Semoga aja pertunangan lo dan Jesika berjalan lancar ya. Gue pamit dan kita selesai hari ini. Jangan pernah sapa gue lagi, karena gue gak mau berteman dengan seseorang yang pernah jadi pacar.”
Reya melangkah pergi, walaupun ada rasa sakit dalam dadanya tapi dia tidak berbohong kalau sangat lega sekarang. Seolah beban berat yang dia tanggung selama ini hilang begitu saja.
Reya menarik nafas dalam-dalam dan berjalan dengan santai menuju ke arah kelasnya.
Mulai sekarang tidak akan ada Steven lagi dalam kehidupannya.
Walaupun sudah dua tahun di dalam hidup Reya selalu ada nama cowok itu.
****
"Reya, lihat Papa belikan ini buat kamu. Kata Mama kamu suka banget sama baju yang lucu-lucu, bagi Papa ini lucu dan akan sangat cocok buat kamu. Gimana, kamu suka gak?"
Sudah beberapa bulan Reya berusaha menerima, tapi dia tidak bisa terbiasa dengan keadaan ini. Namun sebisa mungkin Reya berusaha menghormati.
__ADS_1
"Makasih, Pa. Reya bakalan menerima hadiah ini dan pake pas ke kampus." Reya menerima hadiah tersebut dengan senyuman tipis di wajahnya.
Gara yang mengamati tersenyum lega, walaupun dia tau belum sepenuhnya Reya bisa menerima. Namun berada di situasi sekarang sudah jauh lebih baik.
"Gak cocok banget hadiah itu di kasih ke Reya, secara dia udah tua. Masak masih pake baju gitu, bukan lucu yang ada tapi malah sok lucu."
Reya langsung menatap Gara kesal. "Gue gak setua itu dan umur kita cuma beda satu tahun bahkan gak sampe. Jadi jangan sok muda banget lo, lagian muka gue jauh lebih imut dibandingkan lo." Reya menjulurkan lidahnya gak mau kalah.
"Udah-udah, kalian berdua jangan asik berantem. Mama sama Papa mau istirahat dulu ya."
"Istirahat yang banyak Mama dan Papa."
Reya melangkah keluar rumah dan duduk di pinggir kolam. Kakinya dimasukkan ke dalam kolam karena saat ini Reya hanya mengenakan celana pendek.
Tanpa aba-aba Gara datang dan melompat ke dalam kolam.
"Pelan-pelan dong, gue bisa basah kuyup kalau lo lompat gitu."
Gara hanya menyengir dan berenang mendekat ke arah Reya. "Makanya jangan melamun di sini malam-malam, bisa aja area kolam renang ini punya penunggu dan lo bisa kenapa-kenapa."
Gara juga ikut melihat ke sana. "Om, anaknya lagi galau di sini. Gara harus apa supaya Reya gak galau lagi? Dia habis putus dari cowo yang paling dia sayang."
Reya mendorong kepala Gara karena berkata sembarangan. "Gue gak pernah curhat tentang Steven sama Papa, jadi lo jangan asal ngomong. Gue cuma lagi kangen sama Papa setelah dapat hadiah dari Papa lo."
Gara meraih tangan Reya. "Re, Papa gue sekarang adalah papa lo juga. Jadi kalau lo pengen peluk atau apapun itu silahkan, gue bukan akan yang cemburuan. Gue tau apa yang lo rasain, karena gue juga merasakan itu setiap melihat mama lo."
"Tapi kita beda, Gar. Gue orang gengsian yang gak bisa menunjukkan apa yang gue rasain dengan leluasa."
"Gue bakalan bantu lo supaya terbiasa."
Lalu Gara menarik kaki Reya sampai gadis itu jatuh ke dalam kolam. "Gara gue gak suka berenang malam-malam dan gue benci sama lo." Teriak Reya meluapkan rasa kesalnya.
Gara sama sekali tidak takut dengan Reya yang sekarang terlihat benar-benar marah. "Lo gak akan tau sensasinya kalau belum pernah coba. Ayo kejar gue ke sini dan tunjukkin skil berenang lo."
Merasa ditantang Reya jelas tidak akan diam, lagian sejak kapan dia mau kalah dari Gara. Jadi Reya langsung berenang dan mendekat ke posisi Gara yang berada di pinggiran kolam.
__ADS_1
Reya langsung menjambak dan memberikan pukulan kepada Gara. Cowok itu sama sekali tidak melawan dan hanya terkekeh. Perlahan dia meraih kedua tangan Reya dan menggenggamnya.
"Gak capek apa keluarin tenaga buat marah sama gue terus?" tanya Gara dengan suara lembut.
"Enggak, soalnya lo nyebelin."
Dalam jarak sedekat ini Gara bisa melihat wajah Reya yang sangat cantik. Mata gadis itu berwarna cokelat muda rupanya. Benar-benar menakjubkan sampai Gara merasa susah untuk mengalihkan tatapannya.
"Re, lo mungkin udah sering dengar dari orang lain. Tapi gue mau lo kembali tau, kalau lo cantik banget."
"Apaan sih, tiba-tiba gombal." Reya malah menganggap Gara bercanda.
Gara tiba-tiba mendekatkan wajahnya ke arah Reya. Menatap satu persatu bagian dari wajah Reya, di mulai dari alis sampai ke bibir cewek itu.
"Can i kiss you?" tanya Gara dengan suara beratnya.
Reya seolah terhipnotis dan menganggukkan kepalanya. Setelah mendapatkan izin Gara langsung menempelkan bibirnya di atas bibir Reya yang berwarna merah muda. Pertama hanya menempel, namun perlahan menjadi ******* secara perlahan-lahan.
Reya memejamkan mata dan mengalungkan kedua kakinya di paha Gara, cowok itu juga memeluk pinggang Reya. Dia menatap wajah Reya ketika sedang berciuman seperti sekarang.
Dari yang awalnya perlahan-lahan berubah menjadi semakin rakus. Gara tidak bisa menahan dan merasa sangat bahagia. Walaupun dirinya tidak akan tau apa yang akan terjadi sebentar lagi.
Setelah beberapa saat Gara melepaskan Reya, tapi gadis itu kembali menempelkan bibirnya di sana.
"Re, gue gak mau Mama sama Papa lihat kalau kita terlalu lama dalam posisi kayak gini."
Reya menjauh, dia seperti orang yang baru sadar dan menatap Gara dengan tatapan kosong. Perlahan Reya menjauh dan melepaskan kakinya dari pinggang Gara.
"Re, lo marah?" tanya Gara. "Kita melakukan itu karena suka sama suka, gue juga minta izin sama lo."
Reya tau karena itu juga dia malu, jadi dirinya hanya bisa diam dan tidak berani untuk menoleh sekadar menatap Gara. Dengan tubuh basah kuyup Reya masuk ke dalam kamarnya dan bersandar di pintu.
Kemudian dia mendekatkan dirinya ke arah cermin dan berdiri di sana dengan memegang bibirnya yang agak membengkak dan pucat karena terlalu lama berciuman.
"Gara yang ambil ciuman pertama gue? Kenapa lo bego banget sih, Reya."
__ADS_1