
Reya masuk kerja seperti biasanya, tapi pagi ini dia berangkat bersama dengan Gara. Cowok itu lebih banyak diam dan tidak mengajaknya untuk bertengkar atau berdebat seperti biasanya, selama perjalanan menuju kemari.
Ketika mereka berdua sudah berada di depan kantor, Reya melirik jam yang menunjukkan masih ada waktu selama 15 menit lagi untuk berbicara dengan Gara.
"Gar, gue yakin pikiran Papa masih bisa berubah. Selagi lo berusaha meyakini, gue yakin lo bisa lanjut S2 sesuai keinginan lo sendiri. Masih ada waktu kok, jangan nyerah gitu aja.”
"Lo gak kenal betul gimana sifat Papa gue yang sebenarnya, Reya. Kalau dia udah bilang enggak ya bakalan gak selamanya. Gue gak mau berharap banyak juga. Mungkin emang gue lanjut S2 di sini aja."
"Terus kenapa lo pengen banget kuliah keluar negeri, pasti ada alasannya dong?"
Gara memegang setir kemudi, menatap lurus ke depan melihat beberapa karyawan sudah mulai masuk ke dalam kantor.
"Simpel, gue cuma mau cari pengalaman baru dan hidup mandiri. Kalau kuliah di luar negeri, gue bakalan coba kerja dan punya penghasilan sendiri. Gue ke sana bukan mau memperlambat diri, gue mau berproses aja. Tapi kalau Papa gak kasih izin gue bisa apa."
"Mau coba gue bantu omongin semua ini sama Papa? Mana tau dia bisa berubah pikiran dan kasih lo izin dengan mudah." Reya menawarkan bantuan, karena dia memang tidak senang dengan Gara yang seperti ini.
Lebih baik Gara kelihatan aktif mengganggu dirinya dibandingkan menjadi pendiam seperti sekarang.
"Gak usah Reya, gue gak mau Papa malah marah sama lo. Karena lo mau menggagalkan rencana dia supaya gue kuliah di sini. Sekarang emang rasanya berat, tapi perlahan gue pasti bisa menerima semuanya kok. Lo santai aja, jangan coba-coba ikut campur."
"Tapi kasih tau sama gue kapanpun lo perlu bantuan, gue bakalan coba bantu kok."
"Iya, nanti gue bilang kalau emang butuh. Sana masuk ke dalam, gue gak mau lo telat karena kelamaan ngobrol sama gue."
"Hmm, lo hati-hati ke kampusnya."
Reya turun dari mobilnya dan melambaikan tangan kepada Gara.
Setelah mobil Gara berlalu meninggalkan area kantor, barulah Reya masuk ke dalam kantor. Tumben sekali para karyawan datang cepat, biasanya selalu berbondong lima menit sebelum jam kerja dimulai.
"Ada apa ya, Mbak? Kok pada kelihatan sibuk semua?" tanya Reya kepada Joa yang juga terlihat sibuk.
"Hari ini ada rapat sama klien penting untuk launching produk baru. Jadi semua orang sedang menyiapkan yang terbaik supaya gak gagal."
__ADS_1
"Oh, ada yang bisa aku bantu?"
"Tolong kamu print beberapa gambar ini, bakalan kita tunjukkin ke klien."
Reya langsung mengerjakan pekerjaannya, senang rasanya jika dia bisa membantu.
"Reya, kamu ke ruangan saya sebentar."
Arkan tiba-tiba masuk, Reya dan Joa saling melirik satu sama lain. Kemudian Joa memberikan kode supaya Reya segera menyusul Arkan dengan rasa gugup. Seingatnya dia sama sekali tidak melakukan kesalahan. Jadi Arkan memanggil Reya bukan untuk memarahi gadis ini 'kan?
"Kenapa ya, Pak? Bapak butuh bantuan dari saya."
"Kamu pelajari dulu tentang desain ini, nanti di sana kamu bakalan presentasi sama saya."
Reya membulatkan matanya, bagaimana bisa Arkan dengan mudah meminta Reya presentasi di depan klien yang penting bagi perusahaan.
"Pak, saya gak ada banyak bakat dan saya gak percaya diri. Apalagi ini klien penting, saya takut gak bisa bertanggung jawab dengan perintah yang sudah saya terima sekarang."
"Bisa kamu pasti mampu melakukannya, makanya baca dulu supaya kamu paham untuk menjelaskan. Jangan buat saya malu di dalam sana. Dengan presentasi ini bisa menambah wawasan dan pengalaman kamu. Jarang-jarang lho mahasiswa magang mendapatkan kesempatan berharga seperti ini."
Ingin sekali Reya mengatakan itu semua secara terang-terangan, tapi dia memilih diam dan tidak mau menambahkan masalah.
"Re, dibaca jangan melamun. Waktu kita satu jam lagi, setelah itu langsung siap-siap ke ruang rapat."
Reya menghela nafas, mau tidak mau dia harus melakukannya. Kalau membantah yang ada berefek kepada nilainya.
"Kamu udah makan?" tanya Arkan beberapa menit kemudian saat Reya masih fokus memahami materi.
"Udah, Pak. Saya selalu sarapan di rumah sebelum ke kantor."
"Saya belum makan."
Reya menoleh sejenak, kemudian menanyakan pada dirinya sendiri. Jika Arkan belum makan, Reya harus apa?
__ADS_1
"Temani saya makan di cafe depan sambil kamu pahami materi."
"Saya di sini aja, Pak. Waktunya cuma setengah jam lagi, saya gak mau kemana-mana."
"Ikut saja Reya, pasti akan ada yang mau kamu tanyakan dari materi tersebut. Kamu bisa tanya langsung sama saya, gak usah bertanya-tanya sama diri sendiri."
Jangan bilang jika Arkan sedang modus kepada dirinya? Cowok itu mulai mengambil kesempatan dengan menggunakan jabatan yang dia punya.
"Ayo Reya, jangan terus mengulur waktu. Saya gak mau modus kalau itu yang kamu pikirkan. Sejak tadi malam saya tidur di sini untuk menyiapkan semuanya, jadi saya memang belum sempat makan apa-apa."
Reya melirik ke sekeliling ruangan dan baru sadar bahwa di sini ada selimut dan juga bantal yang terletak di sofa.
"Ya udah ayo kita ke cafe depan, Pak."
Saat Reya keluar ruangan bersama dengan Arkan, banyak pasang mata langsung beralih untuk menatap ke arah mereka berdua. Semoga saja Reya memang tidak akan jadi bahan gosip para karyawan di kantor.
Arkan memesan makanan, Reya ditraktir susu cokelat hangat. Mau menolak juga sudah terlanjur di pesan, jadinya Reya berterima kasih kepada Arkan.
"Ulang-ulang aja bacaannya supaya kamu makin paham. Kliennya dari luar kota, mereka jauh-jauh kemari dan jangan sampe kita mengecewakan. Perusahaan sudah mengejar untuk bekerja sama dengan mereka sejak dua tahun lalu, jadi saya mau semuanya berhasil."
"Emang sebelumnya udah pernah coba rapat?"
"Pernah, tapi produk yang ditawarkan sama perusahaan masih kelihatan kurang menarik di mata mereka. Jadinya gagal dan ini percobaan ketiga kalinya. Kalau tim kita berhasil bakalan mendapatkan banyak bonus dari pimpinan perusahaan. Makanya semua karyawan bekerja ekstra mempersiapkan semuanya. Dalam presentasi nanti desain yang kamu buat juga akan ditampilkan. Mana tau mereka tertarik dan kamu akan merasa bangga sama diri sendiri."
Reya yang sedari tadi masih tenang sekarang berubah menjadi lebih deg-degan, pasalnya dia tidak percaya diri dengan desain buatannya sendiri.
"Saya rasa gak usah aja, Pak. Takutnya gara-gara desain saya mereka malah gak mau kerja sama lagi. Desain saya belum sempurna dan kelihatan seperti tugas mahasiswa pada umumnya."
"Gak ada salahnya mencoba Reya, jangan pesimis dulu. Keberuntungan seseorang gak ada yang tau, mana tau malah kamu keberuntungan perusahaan ini."
Reya menghela nafas berkali-kali, entah apa sebenarnya tujuan Arkan di sini.
Dia meminta supaya Reya ikut presentasi dengan dirinya untuk menambah pengalaman Reya. Lalu akan menampilkan desain Reya kepada klien yang katanya sangat penting dan sudah diincar sejak lama.
__ADS_1
Arkan berniat baik untuk membuat Reya maju, apa sengaja melakukan semua ini agar berhasil mempermalukan Reya?