
Acara keluarga merupakan momen paling Reya benci dalam hidupnya, karena dia merasa semua orang akan berlomba-lomba untuk mencari kejelekan dirinya dan dibahas bersama-sama.
Acara keluarga seolah sudah menjadi ritual yang akan diselenggarakan dalam beberapa bulan sekali dan semua keluarga akan berkumpul di rumah nenek.
Pintu diketuk saat Reya sedang bersiap-siap di dalam kamarnya. "Sebentar, Reya belum siap. Lagian Reya udah bilang gak mau ke sana, kenapa masih tetap dipaksa sih!" Reya mendumel dari dalam kamar.
"Ini gue, Mama sama Papa udah duluan pergi."
Reya merasa jantungnya berhenti berdetak untuk beberapa saat. Setelah beberapa lama Gara tidak pernah mengetuk pintu kamarnya lagi, akhirnya hal itu kembali dilakukan oleh Gara.
Merasa tidak nyaman Gara menunggu dalam waktu lama, Reya langsung berjalan keluar dari kamar.
"Lo udah siap?" tanya Gara memperhatikan Reya dari ujung kaki hingga ujung kepala.
"Udah, ada yang aneh dari gue?"
"Sebenarnya gak ada yang aneh, tapi lo kelihatan pucat karena gak pake lipstik."
"Ah, gue gak mau lo nunggu dalam waktu yang lama. Makanya gue berencana make up di mobil aja."
Gara tidak berkata apa-apa lagi, mereka berdua keluar dari rumah dan masuk ke dalam mobil.
"Kalau lo gak senang untuk melakukan sesuatu, lo bisa menolak dan kasih alasan yang jelas." Gara menjawab ocehan Reya ketika gadis itu berada di kamar tadi.
"Gue gak punya kesempatan buat menolak kalau menyangkut pertemuan keluarga. Mama bakalan marah kalau gue keras kepala dan gak mau pergi."
Gara menghidupkan mesin mobilnya, menyetir dengan pelan-pelan karena Reya sedang berdandan sekarang. Tidak mau sampai lipstik tersebut malah tercoreng ke pipi Reya.
"Gue juga sebenarnya gak mau datang ke acara keluarga ini, karena bukan keluarga gue."
"Terus kenapa lo tetap datang?"
Bukan karena gue 'kan? Pertanyaan itu Reya tanyakan dalam hatinya.
"Karena Mama bilang bakalan memperkenalkan gue sebagai bagian dari keluarga ini. Jadi gue juga gak punya alasan untuk menolak. Mungkin cuma untuk kali ini, gak untuk kesempatan berikutnya.”
Rasanya Reya ingin menertawai dirinya yang sudah terlalu percaya diri. Untung saja dia tidak bertanya secara langsung kepada Gara barusan.
__ADS_1
"Harusnya tadi lo bilang sama Mama dan Papa biar gak pergi duluan. Karena kalau lo datangnya sama gue, posisi lo gak akan aman."
"Gak aman gimana? Lo juga bagian dari keluarga mereka."
Reya menghela nafas pelan, menyandarkan tubuhnya di mobil dan menatap ke arah luar jendela. "Lo bakalan tau jawabannya setelah sampai sana, gue harap lo gak menyesal memilih datang sama gue."
****
Mobil Gara berhenti di halaman rumah yang sangat luas, sudah banyak juga mobil lainnya yang terparkir di sini.
Ternyata rumah Nenek Reya jauh lebih besar dibandingkan rumah gadis itu yang juga sudah masuk ke dalam kategori besar.
"Gar, gue agak deg-degan buat masuk ke dalam."
"Santai aja, di sana juga ada Mama sama Papa. Lo gak bakalan kenapa-kenapa."
Gara berjalan di depan Reya tanpa berniat menggandeng tangan Reya, padahal gadis itu sudah menunggu Gara melakukannya.
Reya masuk ke dalam, sudah banyak sekali keluarga yang lain di sini.
"Hai, kalau enggak salah lo pasti Gara yang jadi adik tirinya Reya 'kan?" Seorang gadis bergaun putih menghampiri mereka berdua. "Kenalin nama gue Diana, gue satu tahun lebih muda dibandingkan Reya. Kalau enggak salah kita sebaya 'kan?"
"Gara." Tanpa menjabat tangan Diana.
Diam-diam Reya tersenyum senang, baru pertama kali semenjak acara keluarga Diana terlihat agak malu.
"Ayo gue anterin cari makanan yang enak. Kalau lagi acara gini makanannya enak-enak banget lho, gue yakin lo gak bakalan nyesal kalau ikuti gue sekarang." Rupanya Diana belum menyerah dan masih berusaha mendekati Gara.
Reya jelas tau kalau Diana selalu suka dengan lelaki manapun asalkan tampan, sudah jelas Gara masuk ke dalam kriteria gadis itu.
"Gue datang ke sini sama Reya, kita berdua belum juga ketemu sama mama dan papa. Oh iya gue juga belum lapar, mungkin lo bisa cari orang lain buat makan bareng."
Kemudian Gara meraih tangan Reya dan menggandengnya. Merasa menang, Reya melambaikan tangannya ke Diana yang sudah kesal.
"Diana cantik banget, kenapa lo gak mau respon dia?"
"Cantik doang tapi kalau sifatnya kayak cewek murahan buat apa? Gue gak begitu suka sama cewek cari perhatian dan dekati cowok duluan."
__ADS_1
Reya manggut-manggut dan tau alasan Gara sekarang. Cowok itu mengakui kalau Diana cantik, hanya saja tidak suka dengan kepribadian Diana.
"Reya, Tante pikir kamu gak datang malam ini. Gimana, sudah bertemu dengan Diana? Dia baru pulang dari Amerika lho, kebetulan banget libur semester ini bisa pulang."
Gara mengamati ibu-ibu yang penampilannya agak heboh dengan banyaknya perhiasan yang dipakai di tangan, jari ataupun lehernya.
"Udah kok, Tan. Diana ada di depan tadi dan sambut aku sama Gara."
Tante beralih menatap Gara. "Ganteng banget ternyata, kamu udah kenalan sama anak Tante? Kalian sekarang juga udah jadi keluarga, jadi harus saling menyayangi."
Gara tersenyum tipis berusaha sopan. "Udah kok, Tan."
"Gimana tanggapan kamu soal Diana? Dia sangat cantik seperti tuan putri 'kan? Selain cantik Diana juga kuliah di luar negeri, dia lolos jalur beasiswa. Diana juga bekerja sampingan sebagai model dan jago masak. Anak Tante sangat sempurna 'kan? Banyak sekali cowok yang datang ke rumah untuk melamar Diana, tapi Tante belum siap melihat dia menikah."
Gara ikut tertawa walaupun terpaksa, kupingnya agak panas mendengarkan perempuan paruh baya ini yang terlalu memuji anaknya pada orang asing seperti Gara.
"Diana masih kuliah, Tan. Jadi mana mungkin Tante kasih izin dia untuk menikah." Gara berusaha merespon sebagai bentuk hormat saja.
"Tante juga mikir gitu Gara, tapi mau gimana lagi kalau punya anak cantik dan berbakat. Pria yang datang untuk melamar Diana semuanya lelaki yang sudah mapan dan berwajah tampan.”
Gara pikir beliau akan berhenti, tapi ternyata masih saja melanjutkan ucapan yang terdengar omong kosong ini.
"Kalau Reya gimana, sudah ada yang datang untuk melamar? Kayaknya gak ada ya, soalnya mama kamu gak pernah cerita sama Tante. Padahal kamu lebih tua dari Diana, masak gak ada satupun yang datang ke rumah sih?"
Reya memutar bola matanya malas. "Pernikahan sama sekali gak ada di kepala Reya, Tante. Setelah kuliah Reya juga mau kerja dulu untuk dua atau tiga tahun. Jadi hal seperti itu sama sekali gak penting buat Reya."
"Ah iya juga, kamu kan belum punya penghasilan sendiri. Beda sama Diana yang punya banyak uang walaupun sedang kuliah seperti sekarang. Lihat aja tas mahal yang Tante pake sekarang, ini hadiah ulang tahun dari Diana lho."
Reya melirik barang yang dipamerkan tanpa merasa tertarik.
"Re, Gar. Ternyata kalian udah datang, ayo ke sini ketemu sama Nenek."
Reya menghela nafas lega, akhirnya malaikat pelindungnya datang untuk menyelamatkan Reya bersama Gara.
"Reya sama Gara ke sana dulu ya, Tan."
Reya buru-buru melangkah begitu juga dengan Gara yang berjalan di belakangnya karena sudah tidak tahan mendengarkan wanita paruh baya yang terlalu banyak berbicara.
__ADS_1
"Ternyata ini alasan lo gak nyaman datang ke acara keluarga."
Reya berbalik untuk menatap Gara. "Itu baru permulaan, lo bakalan ketemu lebih banyak orang lagi sebentar nanti. Gue harap lo kuat mempertahankan senyum palsu malam ini."