
Reya langsung menjauhkan wajahnya ketika sadar telah melakukan kesalahan. Jantungnya berdetak tidak karuan.
Dia menatap Gara yang juga terdiam di posisinya. Perlahan Reya memegang bagian bibirnya yang tanpa sadar sudah mencium bibir Gara hanya karena jarak wajah mereka terlalu dekat beberapa detik yang lalu.
Sadar bahwa semua ini adalah kesalahan, Reya langsung bangun dari posisi duduk tapi Gara menarik tangannya.
"Seharusnya dengan begini aja lo sadar, kalau lo juga punya rasa yang sama kayak gue. Karena gak mungkin lo bisa cium seseorang yang enggak lo suka. Kenapa masih berusaha menolak fakta hanya karena gengsi?”
"Gue khilaf dan gue gak sengaja." Reya terbata-bata, tidak berani lagi untuk menatap Gara. Walaupun tangan cowok itu masih menahan kepergiannya.
"Kalaupun gak sengaja setidaknya lo harus tanggung jawab, karena udah melakukan sesuatu yang merugikan bagi gue."
"Merugikan gimana? Gue udah bilang enggak sengaja dan gue minta maaf untuk itu."
"Maaf aja enggak cukup Reya."
"Terus lo mau apa?"
Gara tersenyum tipis, kemudian berdiri di belakang Reya. Mendekatkan bibirnya ke telinga gadis itu untuk berbisik. "Lo yakin enggak mau lanjut apa yang udah terjadi barusan. Tanggung banget cuma nempel, Re.”
Bulu kuduk Reya meremang, perlahan tangan Gara terasa memeluk pinggangnya. Kemudian meletakkan kepalanya di bahu gadis itu. "Kalau mau lanjutin kita bisa ke kamar lo atau ke kamar gue. Atau lo mau di sini aja biar lebih menantang?"
"Gar, lepas. Gue udah bilang apa yang terjadi barusan karena gue enggak sengaja. Gak usah aneh-aneh, gue bisa kasih tau sama Mama kalau lo udah gak sopan sama gue."
Gara terkekeh dan mencium telinga Reya dengan sensual, berusaha memancing gadis itu. Dia sadar kalau Reya terpancing dengan apa yang Gara lakukan.
"Lo yang mulai duluan, lo yang mancing gue dan sekarang lo gak mau tanggung jawab. Apa yang udah lo mulai harus dituntaskan. Gue sama sekali enggak salah di sini.”
"Gue minta maaf, lepasin gue sekarang. Gue gak mau lanjutin hal yang seharusnya gak kita lakuin."
"Yakin?" tanya Gara mengelus pinggang Reya. Entah sejak kapan tangan cowok itu sudah berada di dalam kaos kebesaran yang Reya kenakan.
"Gar, lo jangan kurang hajar."
Gara membalikkan badan Reya dan mereka berdua saling menatap. Wajah Reya terlihat agak memerah, Gara menyentuh bagian pipi Reya. "Cantik banget dan selalu cantik, gimana gue bisa berhenti suka kalau lo selalu menakjubkan kayak gini."
__ADS_1
Gara menangkup kedua pipi Reya. "Lo deg-degan enggak sekarang? Bukan gue doang yang merasa berdebar gak karuan kan?"
Reya kembali terdiam, tatapan mata Gara semakin menghipnotis dirinya. Perlahan tapi pasti Gara mendekatkan wajahnya ke Reya. Gadis itu bukannya mendorong dirinya tapi malah memejamkan mata.
Gara terkekeh tanpa suara, merasa gemas dengan Gara. Jarak bibir mereka semakin dekat. Gara menempelkan bibirnya di sana, ******* dengan perlahan dan Reya menerima ciuman Gara walaupun masih terlihat sangat kaku.
Gara dengan sabar menuntun gadis itu untuk terbiasa. Karena ini juga kali pertama bagi Gara mencium perempuan seperti ini. Gara tidak akan melewatkan kesempatan, kalau bisa dia akan mencium Reya sampai gadis itu kehabisan oksigen.
Yang awalnya mereka berciuman sembari berdiri, sekarang Reya sudah terbaring di sofa dan Gara berada di atas tubuh Reya dengan menahan bobot badannya.
Ciuman Gara menuju ke arah leher Reya, dia menghirup aroma parfum Reya yang sangat dia sukai. Kemudian menempelkan benda berwarna merah muda yang sudah basah tersebut ke leher Reya.
"Gar, jangan sampe buat tanda."
Gara shock, dia pikir Reya akan meminta dirinya untuk berhenti. Ternyata jika Reya sudah terpancing bahaya juga.
Gara menarik gadis itu untuk bangun dari posisi duduknya. Kemudian meminta agar Reya duduk di atas pangkuan Gara. Gadis itu menurut dan mereka berdua berhadapan dengan jarak yang sangat dekat.
Reya hanya memakai celana pendek dari kaos kebesarannya, Gara memegang paha putih mulus tersebut yang terasa sangat lembut karena baju yang Reya kenakan tersingkap ke atas.
"Hmm."
Gara memberikan kecupan di perut Reya, kala dia menarik baju tersebut sedikit ke atas. Gara melihat ada bekas jahitan di bagian perut Reya. "Ini kenapa, Re?"
"Gue pernah operasi usus buntu, makanya gue gak pede pake baju crop. Jangan dilihat terus karena gue malu."
Gara mencium bagian itu dengan bibirnya. "Cantik, semua yang ada di tubuh lo cantik."
Kini giliran Reya yang mendekat dan mencium bibir tebal tersebut. Dia pasti sudah gila malam ini. Hanya karena belum pernah merasakan ciuman yang begitu romantis, malah berbuat dengan Gara yang merupakan adiknya sendiri.
Gara menurunkan tangan Reya ke bagian perutnya yang memang terbentuk karena keseringan olahraga.
Reya sangat berbahaya ternyata, wajahnya yang memerah menahan gairah seperti sekarang tidak baik untuk kesehatan jantung Gara.
Gara membuka bajunya. "Gue cewek ke berapa yang lihat lo dalam kondisi kayak gini."
__ADS_1
Gara menyelipkan rambut Reya agar tidak menutupi wajah cantiknya. Kemudian meraih tangan Reya dan memberikan kecupan lembut. "Kamu orang pertama, Sayang."
Berbeda dengan Reya yang memiliki luka jahitan di bagian perut. Gara memiliki sebuah tato di bagian pinggangnya.
"Kenapa cowok modelan lo harus jadi adik tiri gue."
Gara malah tersenyum yang sialnya sangat tampan di mata Reya.
"Sayang kamu kayak orang mabok sekarang. Ngomongnya blak-blakan banget, tapi aku suka."
"Gue gini karena mabok sama kegantengan lo."
Gara gemas, kembali menerkam bibir Reya dengan rakus dan memberikan gigitan di sana.
Reya mendorong bahu Gara ketika merasa kehabisan nafas. Cowok itu memang berhenti memakan bibirnya tapi malah berlanjut mencumbu leher Reya yang pastinya akan meninggalkan bekas.
"Gar, udah. Gue gak mau Mama sama papa sampe lihat kita kayak gini."
"Bilang dulu kalau lo punya rasa yang sama kayak yang gue rasain, baru gue berhenti."
"Gak, lo cuma adik gue."
Gara bukannya marah, tapi malah tertawa. "Lain kali kalau kita beginian di kamar kamu, mau gak?"
Reya malah mengangguk seperti orang bodoh.
"Haha, gue tunggu sampe rasa gengsi lo hilang dan bisa mengakui perasaan yang sebenarnya sama gue."
"Gak akan, lo akan selamanya jadi adik gue."
"Ya udah iya." Gara mengalah saja. "Tapi tolong dong, turun dari pangkuan gue Kakak. Suka banget kayaknya dipangku sama gue."
Reya langsung bangun dan tersadar. Baru juga pindah posisi dan duduk di tempat semula dengan badan yang berkeringat, walaupun di sini ada AC.
Mama dan Papa pulang dan melihat kondisi sekarant sembari berkata. "Gara, kenapa kamu gak pake baju?"
__ADS_1