My Lovely Brother

My Lovely Brother
65. Putus


__ADS_3

"Cewek lo gak bener, putusin dia sekarang juga. Dia cuma main-main sama lo selama ini."


"Maksud lo?" tanya Gara tidak mengerti dengan Reya yang baru saja mengatakan itu semua. Gara baru saja pulang dan sudah mendapatkan penjelasan kayak sekarang.


"Kemarin malam gue lihat Jessi di klub, dia bilang sama teman-temannya kalau dia gak pernah serius sama lo. Dia cuma mau balas dendam dari rasa sakit hatinya karena pernah lo tolak dulu."


"Lo ke klub malam?" Dari banyaknya kalimat yang Reya katakan, kenapa Gara malah fokus ke arah itu saja.


"Iya, jangan salah sangka dulu. Gue datang ke sana bukan karena mau mabuk ataupun senang-senang. Gue lagi bantu Steven cari orang yang hamilin Jesika. Makanya di sana gue ketemu sama Jessi tanpa sengaja, lalu mendengarkan itu semua. Terserah lo mau percaya apa enggak, tapi gue sama sekali gak bohong. Lo boleh tanya sama Steven atau Renata kalau gak percaya, mereka juga ada di sana malam itu." Reya berbicara panjang lebar dan berharap Gara dapat mengerti.


"Hmm, gue gak punya alasan buat putusin dia."


"Punya, apa yang gue bilang barusan apa gak cukup untuk menjadi alasan lo sama dia putus?"


"Lo ngomong gitu tapi gak punya bukti, gimana gue bisa percaya. Bisa aja ini cuma fitnah karena gak ada bukti.”


Reya duduk dan merebahkan tubuhnya di sofa, dia baru saja pulang dari kantor dan harus berhadapan dengan Gara yang menyebalkan. Reya memijat kepalanya yang terasa sakit.


"Gue udah mengatakan semuanya secara jujur, kenapa lo gak coba percaya sama apa yang gue bilang. Gue melakukan itu semua bukan karena gue mau lo sama dia putus. Kalau dia gak jahat, gue juga gak masalah kalau kalian bareng. Tapi dia jahat sama lo Gara dan gue gak terima itu semua."


"Kenapa lo harus peduli? Lo bisa bersikap acuh kayak biasanya, gak usah pedulikan apa yang gue rasakan. Seharusnya lo senang karena gue bakalan gagal di kali pertama gue memutuskan untuk pacaran."


"Sayangnya gue gak bisa melakukan itu, gue gak bisa bodoh amat atas hal-hal yang berhubungan sama lo."


"Oh iya kah? Kenapa, lo pasti punya alasannya kan?"


"Karena ...." Reya menundukkan kepalanya. "Karena gue juga jatuh cinta sama lo, Gara. Gue gak suka saat lo berusaha menjauh dari gue dan malah pacaran sama cewek lain. Gue mau lo di sini sama gue, bukan sama cewek lain. Paham?"


Akhirnya Reya meluapkan semua rasa yang dia pendam selama ini. Mungkin memang sekarang waktu yang tepat dan sudah seharusnya Gara mengetahui semuanya.

__ADS_1


"Lo jauhin gue pasti karena ketahuan sama mama dan papa 'kan? Karena gak mungkin perasaan lo buat gue udah hilang sepenuhnya. Gak mungkin secepat itu, gue tau perasaan lo gak akan mudah berubah."


Gara terdiam, menatap Reya lekat-lekat. Dia memang menunggu hari ini tiba, tapi ternyata ketika mendengarkan kejujuran dari Reya. Gara malah bungkam dan jantungnya berdetak tidak karuan.


"Re, gue sama sekali gak salah dengar 'kan? Semua yang lo bilang barusan bukan sebatas bercanda 'kan?"


"Bukan, gue emang suka sama lo. Gue mau lo putus sama Jessi dan menjalani hubungan sama gue. Maaf karena gue baru bisa jujur sekarang, sebab gue terlalu pengecut selama ini dan selalu menyembunyikan perasaan gue dibalik sifat gengsi."


Gara duduk di sebelah Reya, memegang tangan gadis itu yang terasa dingin.


"Makasih karena akhirnya udah jujur, karena emang ini yang gue tunggu. Sampai gue kehabisan cara dan frustrasi. Gara-gara itu juga gue ketahuan sama mama dan papa, mereka minta supaya gue menjauh. Makanya gue pacaran sama Jessi, biar mereka tau kalau gue emang gak beneran suka sama lo."


"Terus kita sekarang harus gimana, Gar? Mama sama Papa pasti gak bakalan setuju 'kan?"


"Tenang, gue gak merasa takut kalau kita berjuang bareng. Kita pasti bisa ngomong sama mereka berdua."


Reya melepaskan tangan Gara. "Gue takut mengecewakan mama, dia pasti bakalan marah banget kalau tau kita berdua saling suka. Apa yang kita rasakan salah, Gar."


"Gak ada yang salah dari perasaan ini, karena murni buat kita berdua. Semua orang tau kalau seseorang gak bisa memilih untuk jatuh cinta sama siapa. Gue jatuh cinta sama lo sejak kita berdua belum menjadi saudara tiri. Jadi gue merasa gak bersalah di sini."


"Mama sama Papa bakalan murka, lo yakin bakalan bisa meluluhkan mereka."


Gara kembali meraih kedua tangan Reya dan menggenggamnya erat. "Reya, kalau lo percaya sama gue. Maka gue bakalan berusaha lebih keras dan meyakinkan mereka."


"Gue percaya tapi gue terlalu takut Gara."


"Jangan takut, kita bakalan hadapi semua ini bareng. Lo sama gue pasti bisa, dengan kekuatan kita mereka bakalan luluh. Lagian gak ada yang salah dari hubungan ini, karena kita berdua gak terlahir dari darah yang sama."


Reya berpikir sebentar, dia sudah jujur kepada Gara. Jika dirinya berkata tidak ingin berjuang untuk hubungan ini. Maka Gara pasti akan menyesal dan kembali kecewa kepada dirinya. Gara hanya akan melihat Reya sebagai seseorang yang hobi memainkan perasaan orang lain.

__ADS_1


"Gue mau coba berusaha asal bareng sama lo."


"Makasih banyak, Reya." Gara memeluk Reya dengan erat. Dia tersenyum begitu lebar, akhirnya penantian selama bertahun-tahun mendapatkan balasan hari ini.


"Terus gimana soal hubungan lo sama Jessi?" tanya Reya setelah melepaskan pelukannya.


"Gak usah khawatir, gue bakalan putusin dia sekarang."


Gara langsung mengeluarkan ponselnya dan menelepon Jessi. Dia meletakkan ponselnya di atas meja dan Reya bisa mendengarkan percakapan mereka dengan leluasa.


"Halo, Jessi. Lo lagi dimana sekarang?"


"Di rumah, kan lo sendiri yang anterin gue balik barusan."


"Oh, mana tau lo udah keluar lagi. Soalnya ada sesuatu yang mau gue bahas dan gue harap lo bisa dengar ini semua dengan fokus."


"Soal apa emang, Gar."


"Kita putus aja ya, gue rasa udah cukup sampai di sini hubungan ini."


"Lho, kok putus? Kita tadi masih baik-baik aja. Lo gak bisa putusin gue sepihak kayak gini." Jessi terdengar tidak terima.


"Gue gak putusin sepihak, sekarang gue lagi membuat kesepakatan sama lo. Tadi kita emang baik-baik aja karena gue belum tau selama ini lo cuma mempermainkan gue. Sekarang gue udah tau semuanya dari Reya, gue gak mau jalani hubungan sama pembohong kayak lo."


"Lo langsung percaya sama dia gitu aja, tanpa adanya bukti sama sekali. Bisa jadi gue difitnah di sini karena dia gak suka lo pacaran sama gue."


"Gak usah pake bukti, karena Reya gak pernah bohong dan gue percaya sama dia. Udah ya, kita putus sekarang. Tolong jangan berusaha ganggu gue lagi."


Gara mematikan sambungan telepon, menoleh ke arah Reya sembari tersenyum.

__ADS_1


"Semuanya selesai, gue milik lo sekarang."


__ADS_2