My Lovely Brother

My Lovely Brother
16. Reya menghindar?


__ADS_3

“Jangan menghindar, kamu terlihat terlalu pengecut sekarang.”


****


Reya bangun di pagi hari dengan jantung yang berdetak kencang dan susah dikontrol. Dia berharap apa yang terjadi tadi malam hanyalah sebatas mimpi saja.


Reya pasti sudah gila karena berciuman dengan Gara yang merupakan adik tirinya sendiri. Bagaimana jika saat mereka sedang begitu tadi malam, kedua orang tuanya malah melihat. Jelas Reya atau Gara akan diusir dari rumah ini karena melakukan sesuatu yang tidak pantas untuk status keduanya.


Namun semua harapan Reya yang berharap tadi malam hanyalah sebuah mimpi dipatahkan, ketika melihat baju yang dikenakan tadi malam memang basah dan tergantung di kamar mandi.


Reya menarik nafas dalam-dalam, berharap bahwa Gara tidak akan membahas hal itu bersama dengan dirinya. Setelah siap dengan pakaian kuliah, Reya turun ke bawah untuk sarapan.


"Mama kira kamu belum bangun, tumben juga Gara gak bangunin kamu." Baru juga sampai ke ruang makan, kehadiran Reya langsung mendapatkan sambutan.


"Capek juga Ma kalau harus dibangunin terus. Reya udah dewasa dan pasti bisa mandiri."


Reya duduk di sebelah Gara dengan jantung berdegup kencang, berbeda dengan Gara yang malah tampak santai. Seolah yang terjadi tadi malam memang bukan apa-apa.


"Ma, hari ini Reya izin bawa mobil yang satunya ya. Karena ada tugas kelompok dan kemungkinan bakalan pulang malam. Mama tau sendiri kalau ujian udah makin dekat dan Reya punya banyak tugas."


"Bisa aja kamu minta jemput sama Gara kalau udah selesai."


"Jangan, Ma. Reya gak mau merepotkan Gara dan gak tau juga bakalan siap jam berapa. Untuk hari ini aja, Ma. Reya gak bakalan aneh-aneh kok, udah lama juga Reya gak bawa mobil sendiri ke kampus."


Mamanya dan Papa Gara saling menatap, kemudian Reya melihat Papa Gara yang memberikan kode agar Reya diperbolehkan.


"Ya udah, lagian udah lama juga kamu gak membantah apa yang Mama bilang. Tapi ingat jangan sampe pulang tengah malam ya. Mama sama Papa kemungkinan bakalan lembur atau bisa jadi pulang besok pagi. Kamu sama Gara jangan sampe telat makan ya. Paling telat kamu pulangnya jam sebelas, Mama bakalan pantau CCTV.”

__ADS_1


"Iya Mama, Reya jam sepuluh juga bakalan pulang ke rumah. Mama sama Papa juga harus jaga kesehatan." Reya sangat senang karena mendapatkan izin. Artinya seharian ini dia bisa menghindari Gara.


Tidak akan ada suasana canggung antara dirinya dan Gara karena berada di satu mobil yang sama.


Soal kerja kelompok yang Reya katakan sudah jelas hanyalah sebuah kebohongan. Gara juga hanya diam dan sama sekali tidak membuka suara selain mendengarkan pembicaraan Reya dengan mamanya.


Setelah makan Reya mengambil kunci mobil yang sudah diberikan oleh mamanya. Kemudian keluar dari rumah dengan langkah riang seolah tidak memiliki beban.


Baru saja ingin masuk ke dalam mobil Gara datang dan menutup pintu.


"Lo menghindar dari gue ya?"


"Menghindar gimana? Gue cuma mau ke kampus Gara."


"Soal kerja kelompok lo jelas bohong sama Mama, karena gak ada kerja kelompok hari ini."


Gara menunjukkan layar ponselnya, menampilkan chattan cowok itu bersama dengan Renata. Sejak kapan mereka berdua bertukar nomor telepon tanpa sepengetahuan Reya?


"Masih mau bohong lagi sama gue? Lo mungkin bisa bohong sama mama atau papa bahkan ke semua orang, tapi lo gak bakalan pernah berhasil untuk bohong sama gue."


Reya menyandarkan tubuhnya pada badan mobil dan menatap Gara lekat-lekat. "Sampai kapan lo mau ikut campur sama semua hal yang terjadi dalam hidup gue? Terobsesi banget makanya mau tau semua hal yang mau gue lakuin? Gue bohong atau enggaknya bukan urusan lo Gara. Gue cuma mau rebut kembali kebebasan gue yang udah lama gak ada semenjak lo datang. Lo pasti paham apa yang gue rasain selama ini, gue kangen kehidupan gue yang dulu. Bisa kemana-mana sendirian tanpa harus di anterin sama lo.”


Gara tersebut tipis dan menyimpan ponsel di dalam sakunya. "Gue gak pernah merebut kebebasan lo, Re. Mau lo pergi sama siapapun gue gak masalah, asal gue bisa pastiin lo baik-baik aja. Gue yang antar dan jemput lo kemanapun dan gue sama sekali gak keberatan akan itu. Gue cuma gak mau lo kenapa-kenapa, lo tau sendiri kalau jaman sekarang keadaan makin bahaya.”


"Gar, lo bukan siapa-siapa gue dan berhenti bersikap seakan-akan lo penting. Gue sama sekali gak butuh bantuan lo, gue bisa jaga diri sendiri dengan baik.”


Gara terdiam dan merasa speechless dengan apa yang baru saja Reya katakan. "Lo ngomong kayak gini seolah emang gak ada apa-apa di antara kita berdua. Jadi yang kemarin-kemarin apa dong namanya? Gue tau lo juga nyaman sama gue, tapi sifat gengsi lo bikin gak berani buat bilang apa yang sebenarnya lagi lo rasain."

__ADS_1


"Gue nyaman sama lo?" tanya Reya kemudian tertawa mengejek. "Jangan kebanyakan halu deh, Gar. Gue gak pernah merasakan itu selain menerima afeksi lo, supaya gak terlihat terlalu menyedihkan. Jangan berharap apapun sama gue, karena selamanya gue cuma bisa benci sama lo. Gak akan ada hal lain selain itu, jadi tolong buang ekspektasi lo.”


"Wow." Gara bertepuk tangan dan menatap Reya lekat-lekat. "Gue gak nyangka ternyata lo emang gak punya hati kayak gini. Terus emang ada orang yang ciuman sama orang yang dia benci, bahkan merelakan ciuman pertamanya untuk adik tirinya sendiri. Lo lagi gila apa gimana tadi malam?"


Reya mengepalkan tangannya di samping, berusaha keras mempertahankan dirinya agar tidak goyah. Bagaimanapun dia tidak boleh kalah di depan Gara, cowok itu yang harus tunduk kepada dirinya.


"Ciuman doang hal yang biasa di zaman sekarang, Gar. Kenapa lo malah bawa perasaan, karena kita ciuman lo pikir gue udah suka sama lo gitu?”


Gara mendorong tubuh Reya dan memegang dagu perempuan itu. "Ciuman hal yang biasa bagi lo 'kan? Jadi kalau sekarang gue cium lo lagi gak apa-apa 'kan?"


Reya mendorong Gara agar menjauh dari dirinya. "Lo gila! Di sini ada CCTV dan papa sama mama bisa lihat."


Gara tersenyum miring, menatap wajah Reya yang tampak panik. "Jadi lo cuma mau ciuman di tempat yang gak ada CCTV?"


"Enggak, jangan buang-buang waktu gue karena gue buru-buru mau ke kampus. Gue gak ada waktu untuk meladeni orang gila kayak lo."


Gara meraih tangan Reya lagi dan mengenggamnya erat. "Gue gak tau apa yang barusan lo bilang beneran atau cuma bohongan doang supaya gue merasa kalah. Tapi satu hal yang harus lo tau, kalau lo terlihat sangat menyedihkan. Apa gue harus kasih tau semua orang, kalau cewek secantik lo baru bisa merasakan ciuman pertama sama adik tirinya?"


"Lo jangan gila!" Reya berusaha keras untuk tidak berteriak di depan wajah Gara.


"Tadi malam bagi gue juga bukan apa-apa, jangan merasa kalau lo spesial bagi gue. Karena lo bukan cewek pertama yang gue cium, tapi lo salah satu dari mereka."


Gara melepaskan tangan Reya dan meninggalkan gadis itu untuk masuk ke dalam mobilnya. Reya mengepalkan tangannya, bukan merasa emosi seperti biasanya kepada Gara.


Tapi dia merasa seolah ada yang sakit di bagian dadanya. Kenapa dengan Reya, bukankah dia sendiri beranggapan kalau ciuman tadi malam memang bukan sesuatu yang penting?


Gara yang sudah duduk di dalam mobilnya menatap Reya lekat-lekat. “Lo mau gue kejar sampe kapan Reya?”

__ADS_1


__ADS_2