
Reya mengikuti apa yang mamanya katakan, dia benar-benar mengabaikan Arkan. Tidak membalas pesan yang cowok itu kirimkan dan tidak menjawab ketika Arkan berusaha menelpon dirinya.
Satu hari sudah berhasil Reya lakukan tanpa merasa kerinduan. Sekarang adalah hari kedua, dia pasti bisa.
Tidur Reya terusik, ketika suara musik yang disetel kencang di pagi hari berhasil mengusik tidurnya. Bukan hanya suara musik, tapi juga tercampur dengan suara beberapa cowok yang sedang asik berbicara dari ruang sana.
Tanpa perlu bertanya, Reya jelas sudah hafal siapa orang yang sedang bermain dengan dirinya.
Reya melemparkan selimut yang menutupi tubuhnya kemudian duduk di atas kasur. "Arghh, awas aja lo Gara. Gue bakalan habisin lo hari ini."
Reya menatap dirinya di cermin, memastikan bahwa penampilannya tidak terlalu buruk. Kemudian keluar dari kamar dan menggedor pintu kamar Gara.
Beberapa kali dia lakukan, sampai salah satu orang membuka pintunya.
"Kak Reya, ada apa Kak?" tanya Gabriel kaget dengan kehadiran Reya yang tiba-tiba.
Ada apa? Jangan membuat Reya semakin emosi di pagi hari. Reya melihat ke dalam kamar, ada Gara bersama satu temannya lagi yang belum pernah Reya lihat sebelumnya. Sepertinya itu adalah Artha yang namanya beberapa kali pernah disebut oleh Gara.
"Lo tanya kenapa gue datang ke sini?" tanya Reya dan Gabriel menganggukkan kepalanya.
"Kamar gue ada di sebelah Gara, jadi gue merasa sangat terusik dengan suara musik kekencangan di pagi hari. Suara kalian ketawa juga bikin tidur gue ke ganggu."
"Itu kamar lo?"
"Iyalah kamar siapa lagi kalau bukan kamar gue, gak mungkin kamar lo yang ada di rumah ini 'kan?"
"Wih, galak banget padahal masih pagi. Gue sama sekali gak tau kalau itu kamar lo, soalnya kata Gara cuma dia yang ada di lantai ini. Makanya gue berani setel musik kencang-kencang. Sorry deh, karena gue emang gak tau dan malah usik tidur lo."
Ah, ternyata semua ini memang lagi-lagi karena ulah Gara. Sepertinya cowok itu memang sangat suka bermain-main dengan dirinya. Reya melihat ke dalam dan menemukan Gara yang sedang menyengir tanpa perasaan bersalah. Ternyata Gara memang kembali mengibarkan bendera perang dengan dirinya.
"Gue mau lanjut tidur, tolong suara musiknya dikondisikan. Gue tau kalau lo pada pasti pernah diajarin sopan santun sama orang tua. Jadi gunakan akal kalian kalau bertemu ke rumah orang.”
"Iya, Kak. Sekali lagi minta maaf karena udah bangunin singa lagi tidur."
__ADS_1
Reya menatap tajam ke arah Gabriel yang masih saja bisa becanda dengan dirinya yang sudah mengeluarkan tanduk.
"Kecilkan suara lagunya sekarang juga, atau kalian bisa pulang dari rumah gue."
Reya berjalan lagi ke kamarnya, kemudian menutup pintu dengan cara membanting.
"Buset, kacau lo." Gabriel memegang bagian jantungnya karena kaget dengan suara pintu dibanting oleh Reya.
Gara hanya tertawa saja, dia senang setiap kali Reya kesal.
"Santai aja, dia gak bakalan berani macam-macam sekarang. Karena dipantau sama mamanya, kalau dia berani marah dan berantem sama gue lagi. Dia gak bakalan dapat jajan, jadi lo pada santai aja."
Gara kembali menghidupkan lagu dengan volume keras, teman-temannya geleng-geleng kepala saja.
Beberapa saat kemudian Gara tertawa puas, ketika dinding kamarnya ditendang oleh Reya.
Lihat saja sampai kapan gadis itu mau bertahan. Untuk kali ini Gara mau melihat Reya yang kalah.
Sampai sore hari teman-teman Gara tidak kunjung pulang. Ada aja dari tingkah mereka yang membuat Reya emosi. Tapi perlahan Reya sadar kalau semua ini memang rencana jahat Gara, jadi dia akan menahan emosinya dan bersabar.
"Re, mama tadi pagi bilang sama gue supaya lo siram tanaman di halaman samping. Pak Amin gak datang karena lagi kurang enak badan."
"Gue gak jago, lo aja yang siram. Tenaga lo lebih banyak dibandingkan gue yang cewek. Mama juga bilangnya sama lo, gak langsung sama gue."
"Ya gimana Mama mau bilang, dia pergi aja lo masih ketiduran. Gue hanya menyampaikan amanah dari Mama, kalau enggak mau lakuin ya terserah lo. Asal jangan nangis nanti pas gak dapat duit jajan."
"Tapi kalau gue yang siram itu tanaman, bisa-bisa mati karena gue emang gak tau takaran airnya harus seberapa banyak."
"Gak akan mati, yang penting lo lakuin dulu. Sana keluar sebelum mama sama papa pulang."
Reya menghela nafas, agak kesal karena Gara menyuruh dirinya seperti sekarang. "Tapi lo beneran Mama bilang kayak gitu, kalau mama gak suruh gue harus apain lo?"
"Tanya aja kalau gak percaya, ngeyel banget kalau dikasih tau."
__ADS_1
Reya menghela nafas berat, akhirnya dia tetap berjalan menuju ke pintu samping untuk melakukan apa yang Gara katakan.
"Beneran mamanya bilang kayak gitu emang?" tanya Artha merasa tidak yakin karena eskpresi Gara tampak mencurigakan.
"Enggak, mana mungkin mama suruh Reya lakuin itu. Gue bohong supaya dia gerak, biar gak sakit badannya karena santai terus."
"Tapi kasihan kalau harus nyiram tanaman. Gue mau ke sana dan lihat dia deh." Gabriel langsung bangun dari posisi duduknya kemudian berlari ke arah pintu Reya keluar tadi.
"Kenapa teman lo, suka sama Reya?" tanya Gara dan Artha menaikkan bahunya acuh. "Mana gue tau, tanya aja sama dia secara langsung."
Gabriel keluar dari rumah, dia menyengir ketika Reya menatap dirinya. "Ngapain lo ke sini, mau ledekin gue karena melakukan pekerjaan gak bagus ini?"
"Enggak, jangan suudzon dulu dong. Gue datang ke sini buat bantuin lo. Sini biar gue bantuin pasangin selangnya, lo pasti gak jago. Daripada nanti airnya mengalir kemana-mana karena selangnya gak kencang."
Reya baru bisa tersenyum setelah itu. "Nah, gini dong cakep. Punya kesadaran buat bantuin gue, gak kayak Gara yang selalu nyebelin. Lagian lo kenapa mau sih berteman sama orang kayak dia. Apa gak darah tinggi lo berhadapan dengan Gara yang nyebelin."
Gabriel fokus mengikatkan selang tersebut supaya bisa digunakan dengan nyaman, tidak gampang lepas saat digerakkan.
"Gara cuma usil sama lo buat cari perhatian, kalau sama kita biasa aja. Kalau sama cewek-cewek di kampus malahan dia cuek banget dan jarang mau ngomong. Paling dekat sama dia ya cuma Jessi, itu juga gak dekat banget. Cuma agak lebih dekat dibandingkan sama cewek lain."
Ah, pantas saja cowok itu tidak punya pacar. Berinteraksi dengan perempuan saja dia jarang, jadi mana mungkin bisa mendapatkan pacar dengan sifat cuek dan jeleknya itu.
"Lo tau gak kalau Gara cuma bohong soal ini? Mama lo sama sekali gak minta kok, gue udah di sini sejak pagi."
"Tau, dia emang lagi memancing kesabaran gue. Karena mama udah buat perjanjian, siapa yang berantem dan gak bisa menahan emosi maka bakalan dikurangi uang jajan atau gak dapat sama sekali. Makanya gue sabar banget sekarang, walaupun sebenarnya pengen pukul kepala dia sampe pingsan."
Gabriel tertawa, saat Reya meluapkan emosinya dengan menggebu-gebu. Gadis ini pasti lelah karena seharian Gara terus saja usil kepada dirinya.
"Ya udah ayo kita siram bareng-bareng supaya cepat selesai."
Keduanya melakukan pekerjaan dengan ceria, saling berbagi cerita dan beberapa kali tertawa bersama.
Gara memperhatikan itu dari balik jendela, sembari bergumam. "Kayaknya Gabriel akan jadi target selanjutnya yang bakalan digantung sama Reya."
__ADS_1