
Malam Minggu, Reya sepakat untuk menemani Renata nongkrong dengan cowok yang katanya mendekati sempurna itu.
Reya jelas penasaran sosok seperti apa yang sebenarnya Renata maksud. Mengapa begitu mudah gadis itu kembali jatuh cinta padahal mereka baru bertemu beberapa kali. Tidak mungkin hanya karena tampan saja ‘kan?
"Udah mau pergi ya Reya?" tanya Mama yang berada di ruang keluarga. Gara juga ada di sini, mereka sedang menonton bersama-sama.
"Iya, Ma. Renata udah mau sampe jadi Reya tunggu di luar aja. Biar dia enggak usah masuk ke dalam lagi, nantinya bakalan lama.”
"Kamu udah lama gak keluar semenjak magang, jangan sampe kebablasan ya. Malam ini Mama mengizinkan kamu pulang paling telat jam 12 malam, kalau telat berarti kamu harus tidur di pos satpam."
Reya tersenyum senang, kemudian menyalami Mama dan Papanya. Dia memberikan kode agar Gara melakukan tos dengan dirinya.
"Gue pergi dulu."
”Iya hati-hati lo.”
Setelah itu Reya berjalan menjauh dari ruang keluarga. Gara terus mengamati sampai gadis itu menghilang dari pandangannya dengan perasaan tidak senang.
"Pas banget gue datang lo langsung keluar. Gak harus minta izin sama Mama lo dulu 'kan? Soalnya gue mau bawa anak gadis satu-satunya."
"Gak usah alay deh, gue udah dapat izin sama Mama. Jadi lo gak perlu sok-sokan mau minta izin segala. Dua minggu selama magang gue gak pernah keluar rumah, jadi mana mungkin Mama bakalan larang."
"Bagus deh kalau gitu, gue paling suka pergi sama orang yang udah dapat izin."
Renata melajukan mobilnya meninggalkan pekarangan rumah Reya. Mereka bernyanyi bersama sepanjang perjalanan. Rasanya Reya seakan mendapatkan seluruh energi yang belakangan ini terlalu banyak terkuras di tempat kerja.
Mereka berdua sampai di salah satu cafe yang menampilkan live music.
"Seleranya oke juga, gue jamin dia emang anak gaul yang kerjaannya nongkrong terus." Reya menilai setelah melihat tempat ini.
"Dari style dia juga kayaknya iya sih, makanya gue gak sabar kalian berdua bakalan ketemu."
__ADS_1
Kedua gadis itu masuk ke dalam cafe yang sangat padat. Untung Renata sudah mendapatkan posisinya dimana. Cowok itu berada di lantai dua meja nomor 43.
"Hai, sorry ya kalau agak lama. Kenalin ini Reya sahabat gue dan Reya, ini namanya Davin teman satu tempat magang gue."
Davin tersenyum ramah dan berjabat tangan dengan Reya. Dia juga memperkenalkan temannya yang bernama Jefrey. Dari yang terlihat sepertinya kedua cowok ini bukan asli Indonesia, mungkin ada perpaduan dengan negara lain.
"Gue sering dengar soal lo dari Renata. Dia bilang lo satu-satunya teman dia yang paling baik dan setia. Gue senang bisa kenal sama lo." David tersenyum ramah.
"Hmm, Renata juga sering cerita soal lo." Reya langsung blak-blakan hingga merasakan Renata memberikan cubitan di pahanya.
"Oh iya, dia cerita soal apa emang kalau tentang gue?"
"Dia senang aja dapat teman yang baik di tempat magang, jadinya dia gak bakalan merasa bosan. Gue senang dengarnya, soalnya Renata paling enggak bisa kalau harus diam di tempat baru."
Renata bernafas lega, ternyata Reya masih waras untuk tidak membocorkan perasaannya kepada Davin.
"Oh, gue juga senang punya teman magang di sana. Karena bergaul sama pegawai rasanya kurang nyaman, gak bisa leluasa bercanda. Masih ada batasan, jadi ya gitu deh.
Renata yang semula sedang membaca dan mencari menu yang sesuai kembali menoleh. Apa yang salah dengan Reya malam ini? Kenapa juga Reya menjadi sangat blak-blakan.
"Re, pesan dulu."
Reya menolak, dia masih menatap Davin menunggu cowok itu menjawab.
"Kenapa lo mau tau soal itu?"
"Karena jaman sekarang kebanyakan cewek gak suka cowoknya dekat sama cewek lain. Gue cuma mau memastikan, supaya Renata gak tiba-tiba mendapat amukan dari cewek asing yang enggak dia kenal."
Davin saling melirik bersama dengan temannya kemudian terkekeh.
"Lo perhatian banget sama Renata kayak ibunya. Gue gak punya pacar Reya, di semester yang kayak sekarang gak ada waktunya buat pacar-pacaran. Gue udah terlanjur pusing sama perkuliahan."
__ADS_1
"Oh iya?" tanya Reya lagi seakan dia memang belum bisa percaya dengan apa yang Davin katakan. "Bagus deh kalau emang gak punya. Jadi kalian berdua bakalan aman kalau mau temenan. Kalau mau pacaran juga aman sih."
Ternyata Reya memang sengaja menguji Renata malam ini. Sebab gadis itu terlalu terkejut dengan semua hal yang Reya katakan malam ini.
Setelah menyerahkan pesanan kepada seorang pelayan, Renata meminta supaya Reya menemani dirinya ke toilet.
"Re, jangan blak-blakan gitu dong. Gue gak mau banget kalau Davin sampe risih dan merasa dicurigai gitu sama lo."
"Sengaja biar dia ilfil sama gue, niat gue baik kok. Gue cuma mau tau dia sebenarnya serius apa enggak. Jawaban dia terlalu santai dan gue gak bisa menilai. Gue gak mau membuang banyak kesempatan untuk ketemu sama dia hanya untuk menolak karakter dia.”
"Udah benar berarti dia gak punya pacar, dia bisa jawab semua pertanyaan lo dengan santai. Sama sekali enggak mikir juga gak kelihatan gugup."
"Gak bisa dipastikan cuma karena itu, bisa jadi dia cuma akting atau udah terbiasa mendapatkan pertanyaan kayak gini sebelumnya. Dari mukanya aja kelihatan kalau dia pemain. Emang lo gak bisa lihat itu semua?”
"Entahlah Re, gue gak ngerti sama jalan pikiran lo. Kenapa bisa curiga banget sama Davin padahal kalian berdua baru pertama kali ketemu. Lo gak sengaja melakukan ini semua karena merasa tertarik sama dia 'kan?"
Jika sedari tadi Renata yang kaget dengan apa yang Reya lakukan. Kini giliran Reya yang merasa kaget.
"Maksud lo gimana, lo gak percaya sama gue? Gak mungkin gue bakalan rebut cowok yang lo suka."
"Maaf, Re. Enggak gitu maksud gue." Renata merasa bersalah dan menundukkan kepalanya.
"Udah cukup pertemanan kita sama Jesika hancur karena cowok. Jangan sampe terulang untuk kedua kalinya, Renata."
Reya langsung keluar dari toilet dengan perasaan yang sangat campur aduk. Dia merasa kecewa kepada Renata.
Lalu matanya fokus kepada Davin yang sekarang sedang berbicara dengan seorang perempuan yang tidak Reya kenal. Mereka terlihat dekat dan Davin sama sekali tidak terusik. Cowok itu malah menyeringai tipis dan melambaikan tangannya ke arah Reya supaya gadis itu mendekat.
Reya memutar bola matanya malas. Sudah ia katakan Davin memang pemain yang handal bukan?
Dan Reya tidak salah untuk hal itu.
__ADS_1