
Reya mematikan ponselnya, berusaha menghindar karena Arkan terus saja menelepon dirinya. Kalau Reya menjawab panggilan telepon dari Arkan, pasti cowok itu akan meminta supaya Reya datang ke rumah sakit, karena dapat dipastikan bahwa cowok itu sedang sendirian di sana.
"Re, yok cari makan keluar."
Terdengar suara Gara yang memanggil dari luar kamar. Reya langsung keluar dan menemukan Gara yang sudah rapi dengan setelan kaos dan celana jeans biasa.
"Mau makan dimana? Kenapa gak pesan go food aja sih, di luar juga lagi hujan. Malas banget gue keluar rumah sebenarnya."
"Udah gak usah rewel, kalau kita pesan go food kasian abangnya hujan-hujanan ke sini."
Reya menghela nafas, mengambil sweater dan mereka berdua keluar dari rumah.
"Arkan gak ada telepon lo?" tanya Gara ketika mereka berdua sudah berada di dalam mobil.
Reya menunjukkan ponselnya yang dimatikan total. "Kalau dia gak nelpon gak mungkin gue sampe matiin HP kayak gini."
Gara tertawa, juga diam-diam merasa puas. Padahal dia sudah khawatir kalau Reya akan berubah pikiran dan malah bertemu dengan Arkan lagi malam ini.
"Bagus deh, gak rugi berarti gue menyadarkan lo supaya gak dibodohi terus sama Arkan. Dia emang cuma cari perhatian. Karena dari banyaknya manusia, kenapa harus lo terus yang dia telepon dan rasanya sama sekali gak masuk akal."
"Ya udah gak usah dibahas lagi, yang ada gue gak bakalan selera makan kalau lo terus aja bahas soal dia."
Gara menghidupkan musik supaya suasana di dalam mobil tidak sepi dan terasa canggung. Sesekali dia melirik ke arah Reya yang sedang memandang ke arah luar jendela.
Hingga akhirnya Gara memarkirkan mobilnya di sebuah cafe yang padat pengunjung. Hujan turun semakin deras dan mereka berdua harus berlarian agar cepat sampai ke dalam.
"Basah gak baju lo?" tanya Gara.
"Dikit doang basah, gak ngaruh kok. Gue sama sekali gak merasa kedinginan."
Mereka memutuskan memilih tempat duduk yang berada tidak terlalu dekat dengan AC. Karena suasana juga sudah dingin sekarang, yang ada mereka berdua malah membeku dan tidak tahan.
"Mau makan apa?" tanya Gara setelah menerima menu.
"Makanan yang hangat dan berkuah kayaknya enak. Gue mau makanan yang pedas, asam dan berkuah. Kayaknya sup iga bakalan enak banget, apalagi tambahin sambalnya."
__ADS_1
"Ya udah pesan ini sama mie juga, biar double puas lo."
"Oke, tapi kali ini lo yang bayar 'kan? Karena lo yang ajak, gue harus hemat sebab banyak kebutuhan yang perlu gue persiapkan sebelum magang."
Gara menutup menu tersebut dan menyerahkan kembali kepada pramusaji yang sudah menunggu.
"Asal lo makan semuanya sampe habis, gue bakalan bayarin. Kalau enggak habis lo yang harus bayarin gue, paham?"
"Oke siapa takut, lo ajak taruhan orang yang salah karena sekarang gue lagi lapar banget dan pasti bakalan habisin semuanya."
Gara mengulum senyum, itu hanya alasan saja. Karena dirinya terlalu gengsi mentraktir Reya secara cuma-cuma.
Walaupun kata Gabriel dan Atha dirinya harus menjadi sosok dewasa untuk menarik perhatian cewek yang dia suka. Namun bagi Gara menjadi diri sendiri jauh lebih baik.
"Wow, wanginya enak banget. Gue berkali-kali lipat jadi makin lapar kalau gini ceritanya." Reya menatap makanan di depannya penuh selera.
"Sekarang lo makan dan nikmati semuanya, jangan coba-coba ngomong pas lagi makan. Kebanyakan ngomong pas makan yang ada lo bakalan lebih cepat merasa kenyang, walaupun baru makan sedikit."
"Teori darimana itu?"
Reya menuruti saja apa yang Gara katakan, dibandingkan cowok itu marah dan tidak jadi mentraktir dirinya.
Gara terus memperhatikan Reya yang terlihat sangat lahap. Gara juga ikut makan dan merasa bahwa makanan yang mereka pesan sama sekali tidak salah karena rasanya sangat enak dan cocok dimakan kala cuaca seperti sekarang.
Merasa seperti ada yang mengawasi, Reya yang semula menunduk kini menatap ke arah depan. Bukan ke Gara, tapi ke salah satu perempuan yang berada di sudut ruangan.
"Gar, itu sepupunya Kak Arkan bukan? Kita pernah ketemu sama dia di cafe dekat kampus. Coba lo lihat deh, gue takutnya salah orang."
Gara pelan-pelan menoleh dan benar saja bahwa yang sedang mengawasi mereka berdua memang sepupu Arkan. Kalau tidak salah ingat namanya Tiana, gadis itu menatap Reya tidak suka.
"Sekarang pas banget lo ketemu sama sepupunya, gak sekalian bilang aja sama dia kalau Arkan ada di rumah sakit?"
"Gak apa-apa kalau gue bilang sama dia emangnya? Gue takut Kak Arkan malah marah karena gue gak bisa jaga rahasia."
"Ngapain marah, lo cuma kasih tau keadaan dia sama sepupunya. Bukan menjelek-jelekkan dia, emang lo mau kalau Kak Arkan selalu telepon dan minta lo ke sana?"
__ADS_1
Hmm, benar juga apa yang Gara katakan. Memang lebih baik ada yang tau kondisi Arkan supaya cowok itu tidak merasa bosan berada di rumah sakit.
"Ayo temenin gue ngomong sama dia."
Gara terkekeh, Reya yang selalu mengajaknya bertengkar tiap saat mengapa terlihat ciut sekarang.
"Lo takut ngomong berdua doang sama dia?"
"Bukan takut, gue cuma merasa aura dia kurang bersahabat sama gue. Mungkin kalau ada lo dia gak bakalan berani macam-macam."
Akhirnya Gara bangun dari posisi duduknya, menghampiri dua orang gadis yang sedang duduk di sana.
"Hai, gue Reya temannya Kak Arkan kalau lo lupa."
Tiana masih menatap Reya dengan tatapan tidak bersahabat, sama sekali tidak menyambut Reya dengan ramah.
"Gue tau kok lo siapa, gak usah pake perkenalkan diri segala. Kenapa tiba-tiba datang ke sini?"
Selain tidak ramah, Tiana juga terlihat seperti seorang gadis yang tidak punya etika. Berbeda jauh dengan Arkan yang selalu sopan kepada orang lain.
"Gue gak mau basa-basi, jadi langsung to the point aja. Kak Arkan sekarang ada di rumah sakit, tepatnya ini malah kedua dia ada di sana. Gue mau minta bantuan sama lo supaya datang ke sana jagain Kak Arkan biar dia gak kesepian."
Reya sudah berharap bahwa Tiana akan terkejut dengan fakta yang baru saja dia katakan. Tapi gadis itu malah tertawa, seakan apa yang Reya katakan adalah sesuatu yang lucu.
"Kenapa lo ketawa."
"Gue udah tau kalau Kak Arkan lagi di rumah sakit. Dia gak kecelakaan tapi perutnya ditusuk sama orang gak bertanggung jawab."
Hah? Jika sudah tau mengapa responnya bisa sangat santai.
"Terus kenapa lo gak datang ke sana, kenapa juga lo gak terlihat kaget sama khawatir?"
Tiana menatap Reya tajam. "Kak Arkan bilang lo yang larang supaya gue jangan datang ke sana. Bahkan dia juga bilang kalau lo bisa rawat dia sendiri tanpa perlu bantuan orang lain. Bodohnya lagi Kak Arkan terlalu bucin sampe mau dengerin semua yang lo bilang."
Hah?
__ADS_1