My Lovely Brother

My Lovely Brother
28. Tentang Renata dan Gara


__ADS_3

"Re, sebenarnya gue masih bingung banget. Kak Arkan beneran serius suka sama gue? Walaupun dia sendiri udah bilang, alasannya gak terima gue dulu karena gak mau pacaran. Tapi dari cara dia lihat gue dulu aja, Kak Arkan sama sekali gak kelihatan suka sama gue. Bahkan beberapa kali dia kelihatan ilfeel sama gue.”


Keduanya berada di kamar Reya sekarang. Renata mendengarkan cerita Reya dengan seksama. Gadis itu datang karena merasa bosan terus berada di rumah.


"Sebenarnya gak aneh sih, Rey. Mungkin dulu dia sadar suka sama lo, cuma gak menunjukkan supaya lo gak semakin berharap sama dia. Dia juga gak mau perasaannya lebih dalam sama lo, karena kalian gak akan bisa bareng. Niat Kak Arkan baik kok, dia gak mau lo sakit hati. Karena rasanya diterbangkan terus dijatuhi gak enak banget."


”Lo ngomong kayak gitu, seakan pernah merasakan ya.”


”Gue serius, Reya.”


Reya berusaha mencerna apa yang Renata katakan. Memang terdengar sangat masuk akal, tapi entah kenapa dia masih ragu. Reya berpikir negatif kalau memang ada sesuatu yang sedang Arkan sembunyikan dari dirinya.


"Hadiahnya bagus, harganya pasti juga lumayan. Lo harus pake untuk menghargai hadiah dari dia."


Reya menatap sepatu itu, memang sangat cantik dan dia sangat menyukainya. Sepatu itu sesuai dengan barang-barang yang Reya mau.


"Gue sendiri yang pilih, karena awalnya dia bilang mau kasih kado ke rekan kerjanya. Eh ternyata itu cuma bohongan, dia gak tau gue suka barang yang gimana. Makanya minta gue milih walaupun gak langsung blak-blakan."


Renata mengulum senyum, merasa gemas dengan interaksi Arkan dan Reya. "Lucu banget dia, wajar sih Kak Arkan belum pernah pacaran. Jadi mana tau hal-hal yang disuka sama cewek gimana."


"Lo sendiri gimana, beneran suka sama Gara?"


Renata terlihat kikuk, dia menggaruk bagian tengkuknya. "Gue gak ada hubungan apa-apa sama dia. Cuma sebatas temenan doang gak lebih."


Reya menatap Renata penuh selidik, berusaha mencari kebohongan gadis itu. Renata langsung memutuskan tatapan mata mereka berdua sembari menunduk.


"Lo bohong kalau bilang gak suka sama dia, mau gue bantu dekat sama Gara? Gue jamin dia bakalan balas perasaan lo. Gak mungkin dia berani main-main sama teman gue, karena dia bakalan dapat konsekuensinya. Gue gak akan tinggal diam kalau ada orang yang berani jahat sama lo."


Renata tertawa, dia paham kalau Reya sangat takut kehilangan seseorang yang dekat dengan dirinya. Apalagi menyangkut soal percintaan.


Reya jelas punya trauma setelah jauh dari Jesika, makanya dia takut merasakan hal yang sama kedua kalinya.

__ADS_1


Pintu kamar Reya diketuk, walaupun malas karena sedang seru berbicara dengan Renata. Reya tetap bangun dari posisinya yang sedang duduk di atas kasur.


Membuka pintu dan menemukan keberadaan Gara di depan, cowok itu memakai kaos hitam juga celana hitam selutut.


"Turun, Mama bawain cemilan sore."


"Gue masih kenyang, udah ngemil juga di kamar sama Renata."


"Oh, gue cuma bilang. Jadi lo gak masalah kalau cemilannya gue habisin kan?"


Reya berpikir sesaat, walaupun kenyang dia tidak rela jika Gara memakan habis makanan yang dibawa pulang oleh mamanya.


"Ya udah gue bakalan turun ke bawah sama Renata, lo duluan aja."


Gara manggut-manggut saja dan kembali pergi. Reya menarik tangan Renata tapi gadis itu tidak mau bergerak. "Ayo ke bawah, Mama gue suka bawa makanan enak lho."


"Gue gak mau ke sana karena ada Gara, lo aja yang ke bawah. Gue di sini aja rebahan, Re."


"Enggak, lo harus turun sama gue."


Semoga saja jantungnya kuat berhadapan dengan Gara. Karena di mata Renata cowok itu terlihat lebih ganteng berkali-kali lipat dengan setelan rumah seperti sekarang.


****


Reya, Renata dan Gara berada di ruang yang sama. Mama dan Papa mereka juga ada di sinis, baru pulang dari kantor.


"Ini teman yang paling dekat sama Reya, jadi kalau dia hilang dari rumah. Kita bisa langsung cari dia ke rumah Renata, karena Reya gak punya teman lain selain Renata." Mama memperkenalkan Renata kepada Papa Gara.


Reya mencebikkan bibirnya kesal walaupun apa yang mamanya katakan memang benar.


"Tinggal Gara nih, kapan mau bawa teman-teman dekat kamu ke sini? Mama mau kenalan sama mereka, sekalian minta nomor HP. Mana tau kamu kabur lagi kayak kemarin."

__ADS_1


Renata terpaku, menatap Gara yang masih fokus makan. Dia tidak tau kapan Gara kabur dari rumah, Reya juga tidak menceritakan apa-apa kepada dirinya.


"Nanti Gara ajak mereka ke sini. Lagian teman Gara juga enggak banyak. Paling dekat sama Gabriel dan Atha doang."


"Kamu sama Renata udah saling kenal?"


Renata langsung terbatuk-batuk mendapatkan pertanyaan itu.


"Kenal kok, Ma. Aku sering lihat dia sama Reya, lagian mana mungkin aku gak kenal sama senior aku di kampus."


Jawaban Gara sangat santai, padahal Renata sudah jantungan setengah mati. Lagian apa yang dia takutkan, mereka saling mengenal. Tidak mungkin juga Gara berkata mereka dekat dan sering chattan.


"Oh, bagus-bagus. Mama senang kalau kamu kenal sama temannya Reya. Kalau kamu sendiri, ada teman Gara yang kamu kenal?"


Reya menganggukkan kepalanya. "Reya kenal sama Gabriel, kemarin pas mobil Reya mogok di tengah jalan. Ada Gabriel yang datang buat tolongin aku, kalau enggak mana mungkin bisa datang ke kampus tepat waktu."


"Lo ketemu sama Gabriel dimana? Kok dia gak kasih tau gue kalau kalian ketemu. Lo juga gak bilang sama gue soal itu.”


Reya mengerutkan keningnya. "Kenapa juga gue harus kasih tau sama lo, lagian kejadiannya pas kita lagi gak ngomong satu sama lain. Aneh aja tiba-tiba gue kasih tau lo kalau kita berangkat bareng."


"Makanya lo jadi orang jangan ngeselin dan terus ngelawan pas di kasih tau."


"Lah, kok jadi gue yang salah. Lo aja yang emosian makanya kita ujung-ujungnya berantem. Jangan selalu cari ribut sama gue deh."


"Gara, Reya cukup! Gak malu apa kalian berdua berantem pas ada orang kayak gini? Kalian berdua sama-sama udah dewasa, Mama gak mau kalian diam-diaman kayak gini. Ayo saling minta maaf, gak enak banget lihatnya."


Reya masih enggan. "Bukan aku yang mulai, dia yang duluan diemin aku."


"Lo duluan yang keras kepala pas dikasih tau dan mau merusak hal-hal privasi gue."


Mama memukul meja, sudah lelah bekerja ditambah harus berhadapan dengan mereka berdua membuat dirinya pusing.

__ADS_1


"Cukup, siapapun yang salah di sini kalian harus saling minta maaf. Siapa yang melawan, jangan salahkan Mama dan Papa kalau enggak kasih kalian uang jajan."


Akhirnya dua manusia gengsi tersebut saling berjabat tangan. Renata agak kaget berada di sini, dia tidak tau kalau Gara dan Reya memang sangat sering bertengkar.


__ADS_2