My Lovely Brother

My Lovely Brother
51. Magang


__ADS_3

Reya menghela nafas sebelum masuk ke kantor yang akan dia datangi selama tiga bulan ke depan untuk melaksanakan kegiatan magang.


Dia pada akhirnya harus berpisah dengan Renata, sebab gadis itu gagal diterima di kantor ini dan beralih ke tempat yang lain. Jadinya Reya hanya sendirian yang lolos.


Reya masuk ke dalam dan langsung berjalan menuju ke bagian HRD.


"Selamat pagi, Mbak. Saya Reya mahasiswa yang keterima magang di sini."


Wanita yang lebih tua dibandingkan Reya tersebut tersenyum.


"Mari saya antarkan ke tempat kamu bekerja."


Reya sedikit lega sebab tidak langsung mendapatkan tatapan sinis di menit pertama kedatangannya. Reya berjalan semakin masuk ke dalam ruangan dan baru tau jika kondisi di dalam jauh lebih luas lagi. Sebelumnya Reya hanya sampai di bagian HRD saja.


"Ini Ibu Joa, beliau yang akan membimbing kamu selama ada di perusahaan ini."


Reya langsung menyalami Joa yang sepertinya tidak berbeda umur terlalu jauh dari dirinya.


"Panggil Kak saja, umur saya baru 25 tahun."


"Baik, Kak." Reya agak ragu mengatakannya sebab mereka berada di kantor dan tidak seharusnya dia memanggil Joa dengan sebutan itu.


Namun dibandingkan Joa marah karena Reya tidak menurut, lebih baik dia melakukan sesuai perintah.


"Kamu berada di ruangan yang sama dengan saya selama magang di sini. Usahakan datang ke kantor sepuluh menit sebelum jam delapan ya. Karena sebelum bekerja kita harus memastikan terlebih dulu peralatan yang digunakan sudah aman dan pas atau tidak. Apalagi kamu di bagian desain, harus dipastikan dulu kalau komputernya tidak lelet dan bisa digunakan dengan lancar."


Reya manggut-manggut, jangankan sepuluh menit sebelum kerja. Setengah jam sebelum kerja juga Reya bisa datang. Karena dia sangat takut jika menciptakan kesalahan selama magang. Reya tidak mau mengulangi proses ini kedua kalinya.


"Oh iya, saya hanya orang yang akan membimbing kamu selama di sini. Nanti soal tugas dan apa saja yang akan kamu kerjakan, bisa ditanyakan secara langsung kepada Pak Arkan. Ruangan beliau ada di sana."


Reya menatap ke arah pintu yang tertutup rapat dengan perasaan tidak karuan. Dia tidak salah mendengarkan nama barusan? Namun yang namanya Arkan jelas bukan satu orang saja di dunia ini, tapi Reya tetap penasaran dan memutuskan bertanya lebih lanjut.


"Pak Arkan kalau saya boleh tau masih muda apa gimana ya, Mbak? Soalnya saya sama sekali enggak asing dengan nama itu.”


"Lebih muda dibandingkan saya, kalau enggak salah dia juga berasal dari kampus yang sama dengan kamu. Jangan-jangan kamu kenal lagi sama dia."

__ADS_1


Sial, jika itu beneran Arkan yang Reya kenal. Sama saja dengan Reya menjatuhkan dirinya ke lubang yang salah. Kenapa juga selama mereka dekat Reya tidak pernah bertanya secara spesifik dimana Arkan bekerja. Sudah jelas yang ada di dalam ruangan sana pasti Arkan yang Reya kenal, mengingat lokasi perusahaan juga tidak berjarak terlalu jauh dari kampus.


"Reya, kenapa malah melamun? Ayo kita ke sana supaya Pak Arkan kenal sama kamu."


Dengan langkah lemah Reya berjalan, mau bagaimana lagi nasi sudah terlanjur jadi bubur dan Reya tidak punya kesempatan untuk kabur lagi.


"Silahkan masuk." Suara Arkan terdengar dari dalam ruangan setelah Joa mengetuk pintu.


Reya menghirup udara sebanyak-banyaknya dan ikut masuk ke dalam. Arkan masih menatap ke arah komputer.


Kondisi tubuh cowok itu sepertinya sudah baik-baik saja setelah beberapa hari tidak bertemu. Arkan sama sekali tidak terlihat pucat.


"Selamat pagi, Pak. Ini Reya mahasiswa magang yang keterima di perusahaan kita."


Barulah Arkan menoleh, tatapannya biasa saja dan sama sekali tidak ada senyuman. Bersikap seolah mereka memang belum pernah bertemu sebelumnya.


"Salam kenal ya, Reya. Untuk hari ini kamu masih permulaan, jadi tolong buat desain sesuai proposal ini."


Reya ragu-ragu mendekat dan mengambil satu proposal yang terletak di atas meja Arkan.


"Satu jam sebelum pulang kantor, apa kamu bisa?"


"Bisa, Pak."


"Ya sudah sana kembali ke ruangan kamu, usahakan kerjakan dengan baik. Karena kalau desain kamu bagus, bisa langsung dipake sama perusahaan. Selain mendapatkan nilai yang bagus, kamu juga bisa mendapatkan bonus."


Reya hanya mengangguk saja tanpa berani berbicara. Kemudian keluar ruangan bersama dengan Joa.


"Pak Arkan baik, jadi kamu gak usah takut kalau berhadapan sama dia. Walaupun masih muda, dia sangat pintar dan langsung mendapatkan posisi tersebut dengan mudah. Semangat kerjanya Reya." Joa menepuk bahu Reya dan mereka berdua mulai sibuk dengan pekerjaan masing-masing.


****


Saat istirahat siang, Reya buru-buru menuju ke toilet. Bukan karena perutnya sakit atau kebelet untuk buang air kecil. Tapi dia datang ke sini untuk menelepon Gara.


"Gar, lo harus tau sesuatu." Kata Reya antusias kala Gara sudah menerima panggilan telepon dari dirinya.

__ADS_1


"Mama sama Papa udah gue jemput dan pulang dengan selamat. Sekarang gue lagi ada di kampus, ada hal penting apa yang mau lo omongin? Jangan bilang kalau lo di buli di kantor dan minta supaya gue jemput ke sana sekarang juga."


Reya menghela nafas, Gara terlalu banyak menonton film sampai berpikir jika Reya mendapatkan cemoohan di kantor.


"Bukan soal itu, lo harus tau kalau pemimpin bidang gue di perusahaan ini adalah Kak Arkan. Gue kaget banget karena ketemu sama dia, tapi dia bersikap biasa aja seolah sama sekali gak terusik dengan kehadiran gue."


"Gimana mau terusik, dia jelas udah tau kalau karyawan magang di perusahaan itu adalah lo. Bisa jadi dia juga yang meloloskan lo, menyingkirkan Renata supaya lo aja yang ada di sana."


Gara berkata dengan sangat santai dan semuanya menjadi lebih masuk akal sekarang. Reya paham mengapa dirinya yang diterima di perusahaan ini padahal Renata jelas lebih pintar. Ternyata semuanya sudah diatur oleh Gara.


"Re, lo masih di sana? Kalau lo gak nyaman bilang aja sama mama dan papa supaya lo gak usah lanjutin. Magang aja di perusahaan mereka."


"Gak, gue gak mau magang di perusahaan Mama karena gak bakalan seru rasanya. Selama Kak Arkan gak macam-macam gue baik-baik aja kok. Tadi dia juga bersikap profesional."


"Baguslah kalau emang gitu, cuma kalau dia mulai aneh lo langsung bilang aja sama Mama. Jangan sampe dia kembali modus dan menjadikan ini sebagai kesempatan supaya bisa dekat lagi sama lo."


"Iya gue paham, jangan bawel banget lo."


"Lo yang telepon gue buat cerita malah gue yang dituduh bawel. Lo udah makan belum? Butuh banyak tenaga tau berhadapan sama mantan gebetan, apalagi lo bakalan ketemu sama dia selama tiga bulan ke depan."


"Gue belum makan dan sekarang gue di toilet. Gue mau kasih tau aja supaya merasa lega. Setidaknya ada satu orang yang tau kalau gue ketemu sama Kak Arkan di perusahaan ini."


"Semoga lo baik-baik aja di sana ya, Reya. Makan jangan lupa, gue juga mau makan karena bentar lagi masuk pelajaran selanjutnya."


"Oke, makasih karena udah dengerin curhatan gue."


Reya langsung mematikan sambungan telepon dan keluar dari toilet. Jantungnya hampir berhenti berdetak ketika menemukan seseorang yang berdiri di depan toilet.


"Pak Arkan, kok ada di sini?” tanya Reya dengan ekspresi sangat kaget.


"Lain kali kalau mau gosip soal pimpinan kamu, bisa di rumah aja. Gak sopan banget kamu sebagai mahasiswa magang. Baru hari pertama saja kamu udah terlihat gak profesional, gimana untuk tiga bulan ke depan. Saya gak yakin kamu bisa bertahan sampai selesai di kantor ini jika kebanyakan bergosip.”


Setelah mengatakan itu Arkan langsung pergi begitu saja. Reya menggigit bibir bawahnya sembari menepuk jidatnya. "Mampus lo, Reya."


Reya melangkah lesu, tidak tau bagaimana nasib dirinya keesokan hari.

__ADS_1


__ADS_2