
Reya terus menghindar dari Gara, setelah kejadian semalam yang sangat memalukan. Setelah Gara menanyakan pertanyaan seperti itu, Reya langsung keluar dari kamar Gara dengan jantung berdegup kencang.
Sudah dua hari Reya berusaha menjauhi cowok itu, walau ketika waktu makan mereka bertemu. Reya tidak pernah mengajak Gara berbicara, selain menemukan adik tirinya yang selalu tersenyum mengejek.
"Mbak, kalau malam ini aku ikut lembur sama kalian boleh gak?"
Joa yang sedang bekerja langsung melirik ke arah Reya.
"Re, peraturan dari kampus kamu gak mewajibkan mahasiswa magang harus lembur. Jadi Mbak gak bisa mengiyakan karena perusahaan ini yang bakalan kena."
"Tapi aku melakukan semuanya karena kemauan sendiri, bukan dipaksa."
"Tetap gak bisa Reya, kalau ada yang melapor bahaya. Apalagi mama kamu adalah klien penting perusahaan ini, mana berani kami meminta kamu lembur."
Reya menghela nafas pasrah, usahanya untuk terlambat pulang ke rumah berakhir gagal.
"Emang kenapa tiba-tiba kamu minta lembur, gak kayak biasanya?” tanya Joa merasa sedikit aneh.
"Sepi aja kalau di rumah, gak ada orang soalnya. Makanya mau pulang jam-jam sepuluh aja biar bareng sama mama dan papa."
"Oh karena itu, Mbak gak berani mengiyakan. Peraturan dari kampus kamu mahasiswa magang masuk pukul delapan dan pulang di pukul empat sore. Kamu bisa pulang dan istirahat aja di rumah Reya."
Reya akhirnya pulang, keluar dari ruang kerjanya. Masih sangat banyak karyawan yang berada di sini, mereka semua sepakat untuk lembur demi menyambut proyek besar.
Saat keluar dari kantor, Reya berpapasan dengan Tiana. Gadis itu membawa sesuatu di tangannya.
"Wow, gue gak nyangka kalau lo bucin banget sama Kak Arkan sampe minta magang di kantor dia segala."
Reya langsung menarik tangan Tiana dan membawanya ke tempat yang lebih sepi.
"Gue cuma mau bilang sama lo, kalau gue sama Kak Arkan gak ada hubungan apa-apa. Selain kita pernah berada di kampus yang sama. Jadi jangan sembarangan ngomong apalagi di lingkungan kantor, gak enak di dengar sama karyawan yang lain."
"Bukannya dulu lo suka sama Kak Arkan sampe ngejar-ngejar dia segala?"
"Dulu sama sekarang jelas beda, setelah mendapatkan penolakan dari Kak Arkan. Gue gak ada hubungan apa-apa lagi sama dia dan perasaan gue buat Kak Arkan udah sepenuhnya hilang. Jadi berhenti berpikir berlebihan, gue sama Kak Arkan cuma sebatas rekan kerja. Faktanya gue juga gak tau kalau dia kerja di sini."
Tiana menatap Reya agak lama. "Beneran lo gak ada rasa lagi sama dia? Padahal Kak Arkan masih cerita soal lo setiap malam sama gue. Tapi dia gak pernah bilang kalau lo magang di sini."
__ADS_1
"Itu urusan Kak Arkan mau cerita soal gue atau enggak, yang jelas gue gak suka sama Kak Arkan lagi. Itu aja yang mau gue bilang sama lo, terserah mau percaya apa enggak. Gue mau pulang sekarang, Kak Arkan masih ada di dalam dan dia bakalan lembur."
"Gue tau, makanya gue datang buat antar beberapa peralatan yang dia butuhkan."
"Ya udah gue pulang duluan."
Reya langsung pergi meninggalkan Tiana, lega rasanya setelah dia meluruskan semuanya. Semoga saja perempuan itu percaya dan tidak akan aneh-aneh lagi.
****
Begitu sampai di halaman rumah, hujan turun mengguyur bumi dengan deras. Reya langsung berlari masuk ke dalam rumah.
"Renata, kok gak bilang kalau mau datang ke sini?" Reya menemukan Renata yang berada di ruang tamu bersama dengan Gara.
"Gue udah bilang bahkan udah coba telepon, tapi HP lo mati."
Reya langsung mengecek dan benar saja ponselnya kehabisan baterai. Dia menyengir ke arah Renata berharap gadis itu tidak akan marah.
"Sorry, gue terlalu fokus kerja makanya gak sempat cek HP. Ya udah ayo ikut sama gue ke kamar, lo pasti kangen sama gue makanya datang ke sini segala."
"Ya udah ayo."
"Gar, gue ke kamar Reya dulu."
Gara mengiyakan dan membiarkan dua gadis yang sudah lumayan lama tidak bertemu itu untuk bersama.
Sembari Reya mandi dan berganti pakaian, Renata rebahan di atas tempat tidur Reya.
Reya keluar dari kamar mandi dengan rambut basah. Artinya dia baru saja selesai keramas.
"Jadi ada apa lo sampe datang ke sini? Jangan bilang lo datang ke sini karena kangen sama Gara. Cuma lo pake alasan aja kangen sama gue biar gak ketahuan."
"Ih, suudzon mulu lo sama gue. Sekarang gue udah move on dari Gara, lo harus tau hal itu."
"Iya kah, masak cepat banget?" tanya Reya tidak percaya kemudian duduk di sebelah Renata.
"Gue ketemu sama cowok yang ganteng banget di tempat magang. Dia juga magang di sana, dari kampus berbeda. Dia aslinya ganteng banget, terus pintar dan ramah. Gue kayaknya jatuh cinta sama dia."
__ADS_1
"Pintar, ganteng banget dan ramah?" ulang Reya dan Renata menganggukkan kepalanya.
"Jangan suka sama cowok yang kayak gitu kalau lo belum tau asal usulnya. Cowok kayak gitu biasanya pemain dan bisa seenaknya sama lo."
"Enggak ah, dia emang baik banget tau. Ke semua orang apalagi ke karyawan yang lebih tua."
"Ya walaupun baik, setidaknya lo harus cari tau dia aslinya gimana. Gue gak mau lo jatuh cinta sama orang yang salah dan berakhir dengan sakit hati. Gue sayang sama lo dan gue gak mau lihat lo di permainan oleh siapapun di dunia ini."
"Gue harus cari tau gimana lagi, Nay? Sosial medianya gue tau semua dan gak ada yang aneh."
"Bisa jadi dia emang gak punya pacar tapi punya banyak cewek. Lo paham apa maksud gue 'kan?"
Renata menganggukkan kepalanya.
"Coba minta supaya lo dibawa ke tempat-tempat yang sering dia datangi. Di sana lo bakalan tau apa yang sebenarnya terjadi. Kalau dia emang pemain, pasti akan ada satu atau dua cewek yang datang ke dia. Kalau dia emang biasa aja, ya bakalan aman. Paling cowok-cowok yang ajakin dia ngomong."
"Kalau dia gak mau ajak gue ke tempat nongkrongnya? Soalnya kita juga baru kenal selama magang, gak etis aja kalau gue mendadak pengen diajakin. Ketahuan dong kalau gue suka sama dia."
"Kalau dia sama sekali gak mau ajak lo ke sana, udah fix banget dia pemain. Terus kenapa emangnya kalau ketahuan suka sama dia? Emang lo suka dan ini mempermudah. Lo gak perlu capek-capek kode-kode lagi."
"Tapi lo ikut sama gue, Rey. Gue takut kalau cuma berdua sama dia."
Reya terkekeh dan memegang tangan Renata. "Lo gak bakalan diapa-apain, percaya sama gue. Dia cuma ajak lo nongkrong dan gak akan bunuh lo kok."
"Gimana kalau dia punya niat itu?" tanya Renata sangat drama.
"Hmm, jadi gue harus temani lo. Alasan apa yang bakalan lo pake?"
"Ya nongkrong sama teman, dia gue suruh bawa teman juga satu. Gue rasa kalau kayak gitu bakalan lebih mudah. Mana tau lo juga cocok sama temannya dan akhirnya jatuh cinta lagi. Dengan gue bawa lo juga akan memperlihatkan karakter dia sebenarnya. Kalau selepas pulang dia merasa tertarik sama lo, berarti udah jelas dia cowok gak benar. Karena beberapa kali dia udah coba baperin dan godain gue."
"Hmm, soal temannya gue gak bakalan tertarik sih."
"Kenapa gitu, lo aja belum lihat temannya gimana. Mana tau jauh lebih oke dibandingkan dia." Renata tidak mengerti, apa gadis ini memang sedang tidak ingin jatuh cinta lagi atau ada alasan lain yang Reya miliki?
Reya menatap Renata kemudian berbicara dalam hatinya.
Karena gue udah jatuh cinta sama adik tiri gue sendiri, Re.
__ADS_1