
Reya akhirnya pulang walau sebenarnya dia tidak pernah ingin bertemu dengan Gara untuk satu minggu ke depan. Bukan karena Reya membenci cowok itu, dia hanya tidak mengerti dengan perasaannya.
Reya takut akan keceplosan dan mengatakan kalau dia menyukai Gara. Reya jelas sudah sadar dengan apa yang dia rasakan. Tapi Reya tau kalau semua ini salah dan dia tidak seharusnya melanjutkan sesuatu yang salah.
"Pulang juga akhirnya lo, udah puas keluyuran seharian?" tanya Gara yang berada di ruang keluarga sedang bermain PS dengan Gabriel sementara Atha tidak ada di sini.
"Gue capek mau istirahat, gak sanggup kalau harus dengerin omelan lo."
"Gara, kenapa malah di pause sih. Dikit lagi kita menang anjir." Keluh Gabriel yang kesal dengan Gara.
"Mama tadi udah telepon dan lo gak ada di rumah. Kali ini lo lolos karena gue punya alasan, besok malam gue gak bakalan mau bantuin lagi. Gue gak peduli kalau uang jajan lo dipotong atau gimana juga."
Reya melirik jam dinding yang baru menunjukkan pukul sembilan malam. Kenapa juga namanya menelepon sangat cepat. Biasa juga jam malam Reya sampai pukul sepuluh atau sebelas. Jadi wajar aja kalau Reya tidak berada di rumah tadi.
"Mama bilang apa sama lo? Terus lo bilang apa sama Mama soal keberadaan gue?"
"Mama cuma tanyain kabar kita dan kasih tau kalau dia udah sampe sana dengan selamat. Mulai hari ini juga mama sama papa langsung kerja padahal masih jet lag. Mama tanya sama gue lo kemana, terus gue bilang kalau lo lagi survei tempat magang sama Renata. Urusan lo sama mama selesai tapi urusan lo dengan gue belum selesai, Re."
"Gue gak minta bantuan lo juga, kalau akhirnya malah minta ongkos kayak gini."
Gabriel memperhatikan interaksi tersebut sembari makan kacang. Seru juga ternyata jika menyimak kakak dan adik tiri ini.
"Masakin mie buat gue sama Gabriel, makan malam lo ada di sana jangan lupa dimakan."
Reya menghelat nafas dan malas untuk memprotes, lagian masak mie saja tidak akan memakan banyak waktu.
"Telurnya setengah matang, jangan pake daun bawang buat gue. Terus pake somay sama sosis yang ada di kulkas. Mienya jangan sampe terlalu lembek. Kuahnya jangan kebanyakan, gue lebih suka kalau rasanya agak asin dibandingkan tawar."
Ternyata tidak ada yang mudah jika berhadapan dengan Gara.
Reya melakukan semuanya sesuai dengan apa yang Gara perintahkan, karena jika dia melakukan kesalahan pasti Gara akan meminta supaya Reya bertanggung jawab dan membuat mie pengganti.
"Lo lapar emang, Gar? Sialnya gue lagi kenyang banget,” ujar Gabriel sembari mengelus perutnya. Mereka baru malam setengah jam yang lalu.
"Diam, bentar lagi juga lo bakalan kelaparan setelah cium aroma mie."
Kemudian mereka berdua kembali melanjutkan permainan, setelah menunda beberapa menit.
"Lo jadi nginep di sini?"
"Jadilah, lo lupa kalau laporan praktikum gue belum jadi."
__ADS_1
"Aneh lo, datang ke sini buat laporan praktikum tapi malah ajakin gue main game dulu."
"Biar gak langsung stres lihat tugas, makanya gue mau happy dulu. Atha juga sombong banget gue telepon gak diangkat, sibuknya melebihi presiden. Gue yakin dia belum siap juga sama laporannya."
"Atha punya cewek." Gabriel terbatuk karena penjelasan Gara yang terlalu tiba-tiba.
"Siapa ceweknya? Kok gue gak pernah tau kalau Atha ada cewek, dia gak cerita apa-apa sama gue. Apa Atha gak anggap gue sebagai teman lagi?"
Respon Gabriel yang terlalu dramatis membuat Gara kesal dan memukul kepala cowok itu dengan bantal.
"Gue salah ngomong, dia katanya lagi suka sama seseorang Dan sekarang lagi PDKT. Gue juga gak tau siapa yang dia suka karena Atha gak kenalin sama gue. Dia bilang juga karena keceplosan bukan sengaja curhat sama gue. Lo tau sendiri kalau Atha beda sama lo, dia jarang curhat."
Setelah penjelasan Gara, Gabriel tidak lagi protes dan tidak merasa dikhianati seperti tadi.
"Kalau lo udah tau siapa ceweknya langsung kasih tau sama gue. Mana tau si Atha keceplosan cerita lagi 'kan? Gue cuma takut kalau kita bakalan suka sama satu cewek yang sama."
"Atha gak suka sama Reya, sementara lo suka sama Reya." Gara melirik ke arah dapur dan kakak tirinya masih ada di sana. “Itu juga kalau lo emang serius suka sama dia.”
"Itu gak apa-apa kalau Reya yang masak, gue takut rumah kalian kebakaran."
"Dia gak bodoh banget kok soal dapur, masih bisa lah kalau disuruh masak mie aja."
"Aman lah ya kalau gue jadiin istri."
"Udah mikir istri aja lo, laporan praktikum benerin dulu. Reya gak suka sama cowok bodoh. Lo lihat sendiri kalau tipe Reya itu modelan Arkan banget, jadi mana mungkin dia bisa suka sama biang kerok kayak lo yang sifatnya beda 180 derajat dibandingkan Arkan."
"Gak juga sih, buktinya Reya gak bisa suka sama lo. Padahal lo sama Arkan hampir mirip di semua sisi. Pintar iya, ganteng iya, keren iya, anak orang kaya juga iya. Bedanya lo cuma gak selembut Arkan, mungkin karena itu juga Reya gak bisa suka. Tapi gue jelas bisa jadi seseorang yang lembut buat Reya."
"Bego." Gara bergumam pelan. "Gue sama dia kakak adik kalau lo lupa, mana mungkin dia suka sama gue."
"Terus kenapa lo suka sama dia?"
Gara dan Gabriel saling menatap dalam diam, kemudian Gara tertawa lebih dulu. "Ngaco banget, kebanyakan praktikum bikin lo jadi bodoh bukan pintar. Fokus sama permainan karena di babak ini gue mau menang bukan kalah."
Kemudian keduanya fokus kembali bermain game dan melupakan pembahasan yang baru saja mereka bahas.
Beberapa menit kemudian Reya datang dengan membawakan dua mangkuk mie.
"Sesuai pesanan lo berdua, kalau ada yang kurang gue juga gak mau masakin lagi."
"Makasih," kata Gara dan Reya langsung menoleh. "Tumben berterima kasih sama gue, gak kayak biasanya."
__ADS_1
"Serba salah aja gue sama lo, Re. Sana makan malam dulu, gue gak mau lo sakit karena telat makan. Gue gak mau rawat orang sakit saat tugas praktikum gue lagi banyak."
"Gue juga gak mau dirawat sama lo," ucap Reya tidak berminat.
"Makasih banyak ya, Kak. Mienya enak banget, kapan-kapan bisalah kalau buatin lagi."
"Boleh aja kalau lo datang ke sini, gue bakalan coba kasih makanan yang lain buatan gue sendiri ke lo."
"Siap gue tunggu."
Interaksi antara Gabriel dan Reya terlihat manis, berbeda dengan saat cewek itu berbicara kepada Gara.
Pemandangan seperti ini membuat Gara agak kesal.
"Ya udah sana makan, jangan malah tebar pesona di sini."
Reya mendumel tanpa suara, sifat Gara memang tidak mudah untuk ditebak dan selalu membuat dirinya kesal.
"Beneran enak?" tanya Gara kepada Gabriel yang sedang makan dengan begitu lahap.
"Iya, cobain aja kalau lo enggak percaya sama gue."
Gara mencoba dan semuanya memang pas, seperti mie yang sering dia buat sendiri. Berarti Reya memang mendengarkan, Gara pikir cewek itu akan mencuri kesempatan untuk membuat dirinya keracunan dengan rasa mie yang tidak enak.
Ternyata Reya tidak sejahat itu.
Tok.tok.tok.
Suara pintu yang diketuk dari luar, membuat Gara menoleh ke arah Reya yang sedang makan dengan tenang di sana dan sepertinya tidak mendengarkan apa-apa.
Alhasil karena tidak mau mengganggu Reya yang sedang makan. Gara memutuskan untuk meletakkan mienya di atas meja dan berjalan ke depan untuk membuka pintu.
Dia pikir seseorang yang datang adalah teman atau kerabat Reya, namun dia salah kala menemukan seorang laki-laki muda dengan tangan berdarah dan penampilannya terlihat kacau.
"Arkan kenapa lo bisa gini? Lo habis kecelakaan apa gimana?" tanya Gara kaget dan tidak mengerti apa yang sebenarnya terjadi.
Belum juga menjawab, Arkan malah terjatuh ke lantai dengan wajah yang memucat.
Gara mengecek kondisi cowok itu, ternyata tangannya berdarah bukan karena terluka di sana tapi Arkan memegang perutnya yang seperti ditusuk pisau.
"Gar, siapa yang datang?" Langkah kaki Reya terdengar mendekat.
__ADS_1
"Kak Arkan kenapa?" Teriak Reya histeris.