My Lovely Brother

My Lovely Brother
31. Fakta lain


__ADS_3

"Gab," panggil Gara saat Gabriel hendak masuk ke dalam mobilnya.


Dia dan Artha memang akan pulang, sebab sudah malam dan tidak nyaman ketika orang tua Gara sampai ke rumah. Mereka masih ada di sini, padahal sudah datang dari pagi.


"Kenapa, ada barang gue yang ketinggalan?" tanya Gabriel. Tapi dia melihat tangan Gara yang kosong tanpa membawa apa-apa.


Bukan hanya Gabriel yang menghentikan pergerakannya, tapi juga Artha yang mengurungkan niat untuk naik ke mobil.


"Lo duluan aja, Tha. Ini ada sesuatu yang mau gue bicarain sama Gabriel berdua soalnya.”


"Oh, main rahasia-rahasia sekarang sama gue? Ada apa emang sampe gue disuruh pulang duluan dan Gabriel tetap di sini?”


Gara menghela nafas, aneh juga jika dia tetap kekeuh meminta Artha untuk pulang sementara Gabriel tertahan di sini. Pasti cowok itu akan menaruh curiga dan berpikiran aneh kepada mereka berdua.


"Gue mau ngomong soal Reya sama dia, jadi gak ada sangkut pautnya sama lo. Makanya gak apa-apa kalau lo mau pulang duluan.”


"Oh," ucap Artha. "Ya udah gue juga mau tau apa yang mau lo bicarain, supaya gak kayak orang bodoh."


Artha mendekat dan ikut bersandar di mobil Gabriel. Gara tidak punya pilihan lain, mungkin dia memang harus mengatakan itu di depan Artha.


"Gue cuma mau tanya sama Gabriel, dia suka sama Reya apa gimana? Soalnya mereka berdua gak terlalu dekat. Baru juga ketemu tiga kali. Pas di klub, terus waktu lo tolongin Reya yang mobilnya lagi mogok dan hari ini."


Gabriel geleng-geleng kepala karena Gara. "Gue gak nyangka lo sampe hafal sama pertemuan gue sama Reya.” Gabriel merangkul pundak Gara. “Gar, seharusnya gue yang tanya. Lo sebenarnya murni anggap Reya sebagai Kakak, atau sebagai salah satu cewek yang mau lo dapetin?"


"Maksud lo?" tanya Gara sebelum dia menjawab dan ternyata salah mengartikan maksud Gabriel barusan.


"Cara lo natap Reya beda banget dibandingkan saat lo lihat cewek di kampus. Bahkan untuk Jessi yang lumayan dekat sama lo aja, gue gak pernah lihat lo natap dia sampai kayak gitu."


"Gue murni anggap Reya sebagai keluarga, gak ada yang lebih. Mungkin terlihat beda karena Reya Kakak gue, sementara cewek di kampus cuma orang asing di mata gue."


"Tapi apa yang Gabriel bilang emang benar, Gar. Lo kelihatan beda sama Reya, gue aja sadar dengan itu. Walaupun baru ini benar-benar perhatiin interaksi kalian berdua.” Artha ikut memojokkan.


"Kenapa jadi gue yang diwawancarai, gue duluan yang tanya sama Gabriel dan dia belum jawab pertanyaan gue."

__ADS_1


"Gue belum suka sama Reya kalau sekarang, tapi gak tau kalau nanti. Tunggu aja, lo bakalan tau jawabannya."


"Terus perasaan lo buat Jessi gimana?" tanya Gabriel. "Lo suka sama dia sejak hari pertama kita masuk kelas. Gak mungkin langsung oleng ke cewek lain dengan gampang.”


"Soal Jessi, capek juga suka sama cewek yang suka sama teman gue sendiri. Gimana kalau lo kasih restu supaya gue bisa sama Reya, dan lo bareng sama Jessi?"


"Gue gak pernah setuju dengan ide itu." Gara langsung membantah, selama ini Jessi hanya sebatas teman bagi dirinya. "Oh iya satu lagi kalau lo belum tau, Reya lagi dekat sama alumni kampus kita. Jadi gue rasa peluang lo dapetin dia bakalan sangat kecil."


"Siapa yang lagi dekat sama Reya, kalau alumni dari kampus kita jelas gue bakalan kenal."


"Kak Arkan, gue rasa lo sama sekali gak lupa dengan cowok itu."


"Kak Arkan?" tanya Gabriel sekali lagi dengan tangan yang terkepal. Eskpresinya yang semula santai juga langsung berubah tegang.


"Kenapa? Lo gak siap bersaing sama dia?" tanya Gara kemudian menepuk bahu Gabriel. "Kalau enggak siap mundur aja dari sekarang, daripada sakit hati ujungnya karena kalah.”


****


Entah terlalu banyak pekerjaan atau sedang dinner di luar berdua saja, tanpa ada Gara dan Reya yang bisa dianggap sebagai pengganggu.


Merasa bosan berada di kamar, Gara membuka pintu kamar Reya.


"Bisa gak sih kalau masuk kamar gue diketuk dulu. Kalau gue lagi pake baju gimana?" tanya Reya agak emosi.


"Ya udah gue liat, gak gimana-gimana."


Reya yang sedang berbaring di tempat tidur itu melemparkan bantal ke arah Gara.


"Nonton drama Korea mulu kerjaan lo, berharap banget kisah cinta lo bakalan seindah drama itu?"


"Urusan sama lo apa sih, mau gue nonton drama Korea atau apapun itu sama sekali gak ada kaitannya sama lo. Selagi gue gak mengganggu ketenangan hidup lo, ya jangan sok asik."


Reya kembali menyandarkan tubuhnya di kepala kasur, sementara Gara duduk di kursi.

__ADS_1


"Gimana tanggapan lo soal Gabriel, dia ganteng gak?"


Reya menjeda drama Korea yang sedang dia tonton untuk melihat Gara yang terlihat serius. "Kenapa tiba-tiba lo mendadak tanya soal Gabriel sama gue. Jangan bilang kalau selama ini lo itu gak normal dan naksir sama Gabriel?" Reya menutup mulutnya sendiri setelah mengatakan kalimat berbahaya tersebut.


"Apaan sih, kebanyakan nonton drama yang alurnya sesama jenis makanya sampe mikir gitu. Gue tanya gitu karena mau tau aja, apa lo bisa suka sama Gabriel?"


"Gar, lo harus tau satu hal. Kalau gue gak ada istilahnya suka sama anak kecil. Gabriel itu adik tingkat gue, gak mungkin banget gue suka sama dia."


"Beda satu tahun doang, sok tua banget lo. Lagian Gabriel itu ganteng dan anak orang kaya. Gak mungkin kalau lo gak suka, tipe lo yang begitu soalnya."


"Lo pikir gue cewek matre yang harus cari cowok kaya? Mama gue punya banyak uang dan masih sanggup kasih gue jajan tiap bulannya. Gue gak perlu cari cowok untuk itu, paham?"


"Marah-marah mulu lo, awas kalau Mama dengar kita lagi berantem. Gue gak mau kalau duit jajan gue sampe dipotong."


Reya duduk dengan posisi tegak di atas tempat tidur. Kemudian menarik nafas dalam-dalam dan menghembuskan. Gara berkata seperti itu seakan tidak sadar, bahwa yang membuat Reya emosi tiap hari dan tiap jam adalah dirinya.


"Lo yang buat gue emosi, jangan pura-pura gak tau. Sana keluar dari kamar gue, sekarang gue mau nonton dan jangan ganggu. Lo udah ganggu gue seharian dan tolong berhenti sekarang juga."


Gara bangun dari posisi duduknya, berjalan ke arah pintu dan Reya menunggu cowok itu sampai benar-benar keluar dari kamarnya. Tapi Gara malah kembali masuk, berjalan mendekat ke arah gadis yang tampak kesal dengan dirinya.


"Apa lagi sih, sehari gak mancing emosi gue kayaknya lo bakalan mati muda ya."


"Ada sesuatu yang penting, lo harus tau sebelum gue keluar dari kamar lo. Karena kalau gak dengar soal ini, lo bakalan akan sangat menyesal nantinya.”


Reya malah tertawa karena wajah Gara terlihat terlalu serius. Padahal biasanya cowok itu kebanyakan bercanda.


"Apa lagi, jangan sok misterius gitu deh lo. Gue tau lo lagi tahan ketawa 'kan?'


"Gue serius dan lo harus tau soal ini. Gabriel sama Arkan itu sepupuan. Hubungan mereka sama kayak contoh kasus lo sama Diana, jadi lo paham maksud gue 'kan? Kalau mau dekat salah satu dari keduanya boleh, kalau dekat dua-duanya jangan deh. Gue gak mau ada perang keluarga, Gabriel bakalan kalah karena keluarga dia bakalan mendukung Arkan."


Setelah mengatakan itu Gara benar-benar pergi, meninggalkan Reya yang sudah tidak berminat menonton drama Korea lagi.


Kenapa dunia terasa begitu sempit?

__ADS_1


__ADS_2