
Keesokan harinya setelah mama dan papanya pergi. Saat bangun di pagi hari Reya berjalan dengan langkah pelan. Memastikan kalau Gara belum ada di ruang makan, jadi dia bisa kabur dengan cepat.
Reya mengintip dan menghela nafas lega, ternyata cowok itu belum ada di sana. Sekarang masih jam tujuh, Gara jelas masih berada di kamar untuk bersiap-siap berangkat ke kampus.
"Nyariin siapa, ada maling emangnya di dapur?"
Reya hampir saja merasakan jantungnya jatuh ke kaki kala suara Gara terdengar dari belakang dirinya.
"Kok lo udah siap sama setelan kuliah." tanya Reya karena Gara memang sudah rapi.
"Harusnya gue yang tanya, sejak kapan lo bisa bangun pagi dan siap sepagi ini. Lo sengaja mau cepat pergi buat menghindari gue ya?"
Reya buru-buru menggeleng sebelum Gara curiga kepada dirinya.
"Siapa yang menghindar, gue datang cepat karena ada tugas yang belum gue selesaikan."
"Tugas?" tanya Gara dengan menaikkan sebelah alisnya. Reya juga langsung mengangguk.
"Artinya lo emang lagi bohong sama gue sekarang. Semester ini lo cuma ambil mata kuliah magang, Reya. Gak ada mata kuliah yang mengharuskan lo masuk kelas lagi ataupun sampe punya tugas. Jadi udah jelas kalau lo emang sengaja menghindar dari gue."
Reya mendumel dalam hatinya, alasannya sama sekali tidak masuk akal. Ini semua terjadi karena Reya terlalu asal berbicara.
"Maksudnya gue ada janji temu sama dosen, mau urus berkas buat magang. Lo tau sendiri kalau dua minggu lagi udah keluar jadwal magang."
"Emang harus sepagi ini? Yakin dosen lo udah ada di kampus?"
Reya menghela nafas lelah karena Gara terlalu banyak bertanya kepada dirinya.
"Ya gue harus print beberapa berkas karena belum ngeprint."
"Kenapa harus di fotokopi kampus? Lo lupa kalau di kamar ada print pribadi? Kalau emang print lo rusak, bisa kok pinjam sama gue bentar. Jangan sungkan kayak sama siapa aja lo."
Reya sudah lelah, terus meladeni Gara sepertinya dia tidak akan bisa pergi dengan cepat.
"Gar, apa yang mau gue lakuin itu urusan gue. Jangan ikut campur gitu dong. Selagi gue gak merugikan dan mengusik lo, jangan ikut campur sama urusan gue."
__ADS_1
Gara tersenyum sinis. "Berarti lo emang sengaja menghindar dari gue, Reya. Gue cuma mau ingetin kalau cara lo gak bakalan berhasil karena gue akan selalu datang ke dekat lo. Jangan coba jaga jarak dari gue."
Gara melangkahkan terlebih dulu untuk masuk ke dalam ruang makan.
"Lo mau berdiri di situ sampe kapan? Gak mau sarapan?"
"Gue gak lapar, nanti aja makan di kampus."
"Re." Gara kembali memanggil sebelum Reya mengambil siasat untuk kabur. "Lo gak lupa kalau Mama bakalan marah pas tau lo gak sarapan 'kan? Apa perlu gue aduin sama mama kalau baru tinggal satu hari aja lo udah berulah dan keras kepala."
Baiklah Reya akan mengalah, dia masuk ke dalam ruang makan dan duduk berhadapan dengan Gara.
"Lo kenapa cepat banget bangun, biasanya kalau hari ini kelas lo jam sembilan."
"Hari ini dimajukan karena praktikum bakalan lama. Jadi masuk dari jam 8 sampe jam 12 siang."
"Lama banget, betah kalian di ruang praktikum. Kalau gue udah pusing sama gerah karena gak tahan panas."
"Tahan-tahan aja, lagian ini buat nilai. Kalau udah sering dijalanin juga gak bakalan capek lagi."
"Iya gitulah, lo sendiri mau gak kalau kapan-kapan gue ajak menjelajahi alam?"
"Gue sebenarnya suka tapi gue sadar gak akan mampu. Jadi lebih baik gue nongkrong di cafe aja dibandingkan harus naik gunung."
"Lemah lo, padahal kalau lo udah coba sekali bakalan ketagihan lagi. Soalnya emang seseru itu saat berhasil melihat pemandangan yang belum pernah lo lihat sebelumnya."
"Entar deh gue pikir-pikir dulu, soalnya hal kayak gitu sama sekali gak ada di dalam wishlist gue."
Kemudian Reya dan Gara tidak lagi berbicara dan fokus kepada makanan masing-masing. Sesekali Reya melirik ke arah Gara dengan harapan, bahwa cowok itu memang tidak akan melakukan hal-hal aneh lagi.
****
Renata merasa lelah karena Reya terus saja mengajak dirinya untuk berkeliling tanpa tujuan. Mereka sudah banyak masuk ke semua toko-toko yang ada di dalam mall.
"Re, sebenarnya lo mau cari apa sih? Baju, make up, sepatu atau apa? Kaki gue kecapean keliling mall terus daritadi."
__ADS_1
"Gue sebenarnya juga bingung mau beli apa. Kayak gak tertarik sama semua hal yang ada di sini."
Renata menepuk dahinya, merasa kesal dengan Reya. "Kalau enggak ada tujuan kenapa ajak gue ke sini. Mau cuci mata aja tapi gak beli? Cuma gue tau kalau itu bukan lo banget. Apa jangan-jangan lo lagi menghindari Gara dan gak mau pulang ke rumah?"
Reya langsung menoleh karena Renata paham dengan apa yang dia rasakan.
"Selama satu minggu mama gue dan papa Gara ada di sana. Lo nginap di rumah gue aja Renata, gue gak mau kalau cuma berduaan sama Gara."
"Emang kenapa sih kalau cuma berdua, Gara gak bakalan makan manusia Reya. Santai aja sama dia, lo aman kok."
"Tapi dia ngeselin, gue takut gak sanggup kalau harus terus berhadapan sama dia. Gak ada yang melerai kalau gue sama dia berantem. Tolong dong Renata, lumayan juga lo bisa keren sama Gara setiap hari."
Reya terus membujuk tanpa memberitahukan alasan yang sebenarnya. Mana mungkin juga dia memberitahu kepada Renata, yang ada gadis itu akan menjauhi Reya juga tidak akan percaya dengan apa yang Reya ceritakan.
"Bisa ketemu sama Gara setiap hari emang kedengaran menarik banget. Tapi mental gue gak sebesar itu buat liat wajah ganteng Gara tiap hari."
Reya menghela nafas berat. "Gak setia kawan banget lo, padahal ini bisa jadi momen supaya kalian lebih gampang PDKT."
"Gue gak mau berharap lebih sama Gara, Re. Gue tau dia gak bakalan suka sama gue, selama ini Gara cuma anggap gue sebagai kakak kelas aja gak akan lebih."
"Gak ada yang gak mungkin Renata, makanya lo harus coba dulu supaya tau jawaban yang sebenarnya. Batu sekeras apapun juga bakalan melembut kalau terus ditetesi. Apalagi cuma sebatas perasaan manusia yang bisa berubah dengan gampang."
Sebelum keinginannya terwujud Reya tidak akan menyerah dan akan terus membujuk Renata.
"Enggak deh, lo aja yang nginap di rumah gue. Mama sama Papa gue juga gak akan keberatan kalau lo yang datang."
"Masalahnya gue harus tetap tinggal di rumah gak boleh kemana-mana. Karena kalau gue melanggar, Mama bakalan minta bantuan Tante Lia supaya mengawasi gue sama Gara. Gue jelas enggak mau Renata."
"Ya udah berarti lo emang harus di rumah aja jangan kemana-mana." Jawaban dari Renata sama sekali tidak membuat Reya puas.
"Jadi lo beneran enggak mau bantu gue, padahal gue bisa bantu lo pacaran sama Gara."
"Gak, makasih Reya karena udah mau bantu tapi gue sadar posisi kok. Gue cuma bisa bantu doa aja supaya gak ada hal yang buruk terjadi saat lo tinggal berdua sama Gara di rumah."
Reya menghentakkan kakinya, tidak ada yang bisa membantunya. Berarti selama satu minggu ke depan dia memang harus bisa menjaga dirinya dan tidak boleh sampai tergoda dengan Gara.
__ADS_1
Semoga saja Reya akan baik-baik saja dan cowok itu tidak usil.