My Lovely Brother

My Lovely Brother
12. Gara Terlalu Baik


__ADS_3

Reya membuka matanya yang terasa sangat berat di pagi hari. Dia melirik seseorang yang masih tertidur pulas di sampingnya, agak kaget karena Reya lupa kalau Gara ada di sini sebab permintaan dari dirinya.


Cowok itu masih betah memejamkan mata padahal sudah pukul tujuh pagi. Dengan mata yang terpejam seperti ini, Gara malah terlihat berlipat lebih mempesona.


Hidungnya yang mancung, alias tebal, bulu mata yang lentik. Ternyata benar apa yang Renata katakan bahwa Gara memang sangat tampan. Sayangnya Reya sudah lebih dulu benci kepada cowok itu.


Tanpa sadar Reya memandang wajah Gara dalam diam. Lalu tubuh Gara bergerak dan Reya langsung bangun dari posisi awal, kemudian duduk di tempat tidur.


"Bangun, udah jam tujuh. Lo bakalan telat ke kampus kalau gini." Reya menggoyangkan sedikit tubuh Gara. Agar cowok itu lebih cepat membuka matanya.


Gara mengusap bagian matanya, dia ikut duduk di atas kasur. Kemudian tangannya terulur dan mengarah ke dahi Reya. "Udah gak sepanas tadi malam, tapi lo tetap harus di rumah dan gak boleh kuliah dulu. Kalau langsung keluar rumah, bisa-bas pas balik keadaannya bakalan drop lagi.”


"Iya, tapi jangan bilang sama Mama kalau gue sakit. Nanti gue bilang dosennya gak masuk makanya gak bisa ke kampus."


"Kenapa gak mau jujur?" tanya Gara tidak bisa mengerti, alasan Reya begitu tertutup dengan mamanya.


Reya melirik Reya. "Karena sejak kecil gue selalu mengadu sama Papa. Kalau sama Mama, gue merasa agak kurang dekat walaupun gue sayang banget. Intinya jangan bilang ya, gue cuma perlu minum obat dan istirahat aja. Setelah itu bakalan sembuh."


Gara merasa keberatan tapi dia juga tidak ingin membantah. "Kalau lo bosan di rumah sendiri, chat gue aja. Gue bakalan temenin lo biar gak kesepian."


"Kalau gitu ceritanya sama aja dengan gue ganggu kuliah lo."


"Gue emang gak suka diganggu, Re. Tapi kalau diganggu sama orang yang gue suka, sama sekali gak masalah kok." Gara berbicara seperti itu dengan menatap Reya.


Gadis itu malah mematung, karena dalam kondisi sepagi ini Gara sudah berhasil membuat jantungnya berdebar.


"Ya udah, lo mau turun ke bawah buat makan? Biar gue bantu."


"Iya, gak mungkin lo bawa makanan ke sini. Karena Mama pasti bakalan curiga dan ngecek kondisi gue."


Gara membantu Reya untuk turun dari tempat tidur. Baru membuka pintu mereka berdua kaget kala menemukan keberadaan sang mama yang berdiri di depan pintu kamar Reya dan menatap keduanya bingung.


"Kok kamu pagi-pagi udah ada di sini, Gar."


Beruntungnya Gara selalu punya ide untuk tidak terlihat mencurigakan. "Biasa, Ma. Tuan putri kalau gak dibangunkan bakalan susah banget disuruh makan. Makanya aku selalu cek kamar Reya sebelum turun ke bawah.”


"Kebiasaan Reya emang gak pernah berubah dari dulu sampai sekarang. Paling susah bangun pagi dan sarapan." Mama terlihat tidak curiga sama sekali.


"Lagian hari ini dosennya gak masuk, makanya aku malas bangun cepat."


"Ya walaupun dosennya gak masuk dan kamu gak perlu ke kampus. Tapi makan itu wajib, Re. Kasihan perut kamu dibiarkan kosong terus."


"Iya, makanya Reya turun buat makan ini."


Mereka bertiga berjalan menuruni tangga setelah Reya dan Gara bergantian mencuci muka. Reya bernapas lega karena mamanya tidak datang saat mereka berdua masih dalam posisi tertidur.


Bayangkan kalau mereka berdua sedang berpelukan di atas tempat tidur, apa mamanya tidak akan murka? Jelas iya, bisa jadi salah satu di antara mereka berdua akan diusir dari rumah ini.


Gara menarik kursi dan membiarkan Reya duduk. "Mau air hangat gak?" Gara menawarkan dan Reya menganggukkan kepalanya. Gara berjalan masuk ke dapur untuk mengambilkan.


"Lihat, Gara selalu perhatian sama kamu dan baik. Jadi kamu jangan jahil terus jahat sama dia. Gara adalah adik kamu, kalian berdua harus saling sayang."


Reya berdehem saja, lalu Gara kembali dengan membawakan air putih hangat. Cowok itu juga mengambil piring untuk sarapan Reya. Gara memilih makanan yang kemungkinan bisa dimakan oleh Reya dan tidak akan mual.


"Makan dikit aja, kalau merasa gak enak bisa berhenti. Jangan maksa diri lo pokoknya." Gara berbisik di telinga Reya.


"Makasih, Gar."


"Kamu hari ini praktikum sampe sore 'kan, Gar?" tanya Papa.

__ADS_1


"Iya, kemungkinan sampe jam lima sore aja sih. Kenapa emangnya, Pa?"


"Papa sama Mama ada pekerjaan dan sepertinya harus lembur sampai tengah malam. Asisten rumah tangga juga akan izin pulang nanti siang. Jadi untuk malam bisa kalian berdua cari makanan sendiri?"


"Bisa kok, Pa. Gara sama Reya bukan anak kecil lagi. Nanti pas balik sore Gara sekalian cari makanan buat malam."


”Bagus kalau gitu, Papa akan mengirimkan uang tambajan untuk makan malam kalian berdua nanti.”


****


Gara mendapatkan omelan dari dosen karena tugasnya yang tidak lengkap. Padahal Gara adalah salah satu mahasiswa kesayangan dosen dan selalu mengerjakan tugas dengan benar dan bagus. Tapi hari ini berbeda, bagian akhir dari tugas Gara tidak selesai dan dia mendapatkan hukuman.


Gara harus membuat tugas tambahan. Ini semua terjadi karena dia terlalu nyaman tidur bersama Reya, berakhir dengan lupa mengerjakan tugas di pagi hari.


Dia sama sekali tidak menyalahkan Reya, memang dirinya yang salah di sini.


"Gar, kamu lagi ada masalah?" tanya Jessi saat mereka berdua sudah keluar dari ruang praktik dan akan pulang ke rumah. “Bengong terus daritadi, gak biasanya kelihatan kurang semangat pas lagi praktik gini.”


"Enggak, gue cuma kepikiran karena Reya lagi sakit dan dia sendirian di rumah. Takut aja dia kenapa-kenapa terus gak tau mau minta bantuan ke siapa.”


"Kak Reya sakit apa?"


"Demam sama sakit kepala, gara-gara dia mandi hujan."


"Gimana kalau sekarang aku temani kamu buat beli makanan yang enak. Supaya Kak Reya nafsu makan dan cepat sembuh."


"Emang lo tau makanan apa yang Reya suka?"


"Biasanya semua cewek punya selera yang sama kok, apalagi kalau lagi sakit gini. Gimana, mau gak?" tanya Jessi sekali lagi.


Gara berpikir sebentar dan memang tidak ada salahnya. Dia sama sekali tidak tau selera makan perempuan. Seperti yang papanya bilang kalau Gara memang tidak pernah berpacaran. Jadi dia tidak punya pengalaman dalam hal itu.


Mereka berdua menuju cake shop, Jessi mengambil sebuah puding. Lalu pie, bolu yang ukurannya tidak terlalu besar dan beberapa salad buah.


"Ada lagi?"


“Cukup ini dulu. Udah banyak juga kok, Gar.”


Setelah membayar mereka menuju ke restoran untuk membeli makan malam. Gara sedang memesan makanan yang direkomendasikan oleh Jessi, sementara gadis itu duduk di kursi untuk menunggu.


Gara kembali dengan membawa tiga porsi makanan. "Buat lo, makasih banyak karena udah mau temenin gue dan pulang lebih telat.”


Jessi menerima dengan senyuman lebar di wajahnya. "Makasih banyak, Gar. Padahal gue sama sekali gak mengharapkan imbalan karena tulus bantuin lo. Semoga makanan yang gue rekomendasi bikin Kak Reya nafsu makan dan cepat sembuh."


"Gue tau, tapi gue sadar harus berterima kasih. Jadi makanan yang gue beli jangan lupa dimakan ya. Gue juga tulus dan ikhlas kasih itu semua sama lo."


Jessi menganggukkan kepalanya, terlihat sangat bahagia. Seperti anak kecil yang mendapatkan makanan kesukaannya "Lo emang teman gue paling baik dan perhatian."


"Ya udah sekarang gue anterin lo pulang sebelum magrib. Gue takutnya lo bakalan dapat omelan kalau pulang lebih lama.”


”Santai aja, gue bukan bagian dari anak yang dikekang sama orang tua kok.”


Jessi dan Gara keluar dari restoran. Gara tampak santai, berbeda dengan Jessi yang masih kesusahan untuk menghilangkan senyum yang terukir di wajahnya.


Dia sangat bahagia.


****


Gara masuk ke dalam kamar Reya, gadis itu sedang menonton film di laptopnya. Sembari berbaring di atas tempat tidur dan memeluk boneka beruangnya.

__ADS_1


"Makan dulu, Re." Gara membawa makanan yang tadi dia beli di atas nampan.


Kemudian mereka berdua duduk di atas karpet berbulu yang ada di kamar Reya. Gara menatap Reya yang tampak masih lemas dan terlihat pucat.


"Tadi siang lo makan gak?" tanya Gara.


"Kok tanya lagi, jelas-jelas lo udah tau karena gue kirim foto lagi makan tadi."


"Mana tau itu semua cuma formalitas supaya lo berhasil bohong sama gue."


"Gue gak sejahat itu juga sama diri sendiri, Gar. Udah sakit tapi malas makan namanya cari mati," ujar Reya. "Lo beli banyak banget makanan."


"Pilih yang mana lo suka, pokoknya gue mau lo makan banyak malam ini."


"Gue suka semuanya, tapi gak tau bakalan sanggup makan atau enggak."


Gara tersenyum senang karena apa yang Jessi katakan memang benar. Jadi dia tidak merasa rugi sudah mengeluarkan banyak uang untuk membeli semua makanan ini.


"Makan sepotong-sepotong aja, jangan dipaksa banyak-banyak. Bisa disimpan buat besok dan dimakan lagi kok."


"Nanti kasih tau gue nomor rekening lo, biar gue bayar semuanya. Makanan semua ini pasti menguras uang lo banget.”


"Kayak sama siapa aja pake ganti uang, gue ikhlas beli semua makanan ini buat lo. Lagian gue dapat banyak uang dari papa, bingung juga mau dihabisin pake cara apalagi."


"Sombong mentang-mentang duit jajan lo banyak."


Gara tertawa, lalu mereka berdua makan. Reya memang terlihat lebih lahap daripada saat sarapan tadi. Walaupun Reya lebih suka makan kue dibandingkan nasi yang Gara belikan. Tapi ini sudah lebih dari cukup, yang penting Reya mau makan.


"Malam ini lo berani tidur sendiri?"


"Kenapa, keenakan tidur sama gue?" tanya Reya tanpa melirik Gara.


"Jangan asal ngomong, gue bukan cowok murahan yang gampang nyaman."


Reya terkekeh, Gara terlalu serius menanggapi dirinya yang hanya berniat untuk bercanda saja. "Santai, gue udah agak mendingan. Jadi pasti berani tidur sendiri, walaupun gue gak tau efek obat yang gue minum bakalan bikin gue ketakutan atau enggak di tengah malam."


"Ganti aja obatnya kalau lo merasa enggak enak, daripada bikin gak nyaman tidur lo."


Reya menggeleng. "Gue udah terbiasa sama obat-obatan itu. Kalau ganti ke obat lain gak bakalan mempan."


"Ya udah, tapi kalau lo merasa gak enak atau terjaga tengah malam. Langsung ketok pintu kamar gue aja, kalau lo gak sanggup bangun bisa ketok dinding. Gue bakalan gampang bangun karena gak tidur modelan lo tidur."


"Hmm, bisa gak kalau ngomong itu jangan sambil nyindir gue."


"Haha, sorry. Pokoknya jangan mendam rasa sakit sendirian, lo punya keluarga di rumah ini. Kami semua jelas siap membantu lo, jangan merasa sungkan kayak sama orang asing aja."


"Iya, Gar. Gue kira setelah kuliah sampe sore energi lo jadi berkurang dan gak sanggup ngomong. Tapi ternyata energi lo gak habis-habis ya."


"Makan nasinya lagi." Gara menyuapkan Reya tapi gadis itu menolak.


"Udah kenyang, gue mau minum obat aja sekarang."


Gara dengan sigap langsung bangun dari posisi duduknya, keluar kamar untuk mengambil segelas air hangat dan menyiapkan obat untuk Reya.


"Satu-satu aja kalau gak bisa sekalian. Daripada nanti lo malah muntahin obatnya."


Reya mengikuti apa yang Gara katakan. Padahal biasanya dia bisa meneguk obat sekaligus, tapi di hadapan Gara. Mengapa Reya seakan menjadi cewek paling lemah di muka bumi ini?


"Makasih banyak, kenapa lo perhatian banget sama gue. Jangan-jangan lo beneran naksir sama gue dan apa yang lo katakan kemarin-kemarin bukan sebuah bercandaan?"

__ADS_1


Gara menyimpan obat Reya, kemudian kembali duduk berhadapan dengan gadis itu.


"Gue selalu serius, Re. Lo aja yang mikir gue bercanda mengenai perasaan gue buat lo. Gue beneran suka sama lo, rasa suka melebihi seorang adik untuk kakaknya."


__ADS_2