My Lovely Brother

My Lovely Brother
9. Jesika Marah


__ADS_3

"Maksud lo apa tiba-tiba jauhin Steven? Udah punya cadangan makanya mau tinggalin Steven gitu aja?"


Baru juga sampai ke kampus dan hendak masuk kelas, tapi langkah Reya sudah dihentikan oleh Jesika dengan menanyakan pertanyaan yang terdengar tidak penting dan dia merasa sangat malas untuk memberikan respon.


Reya tersenyum tipis. "Urusan sama lo apa? Harusnya senang dong kalau gue jauhin Steven, jadi lo gak perlu capek-capek buat minta dia jauh dari gue dan pertunangan kalian bisa diselenggarakan dalam waktu cepat. Bukannya itu yang selama ini lo tunggu-tunggu dan sekarang gue kasih kesempatan buat lo.”


"Tapi masalahnya bukan gitu, Steven malah ikut cuek sama gue dan gak mau ngomong karena mood-nya gak bagus. Mending cepat deh selesaikan masalah lo berdua, gue gak tahan dengan Steven modelan gitu."


Ingin sekali Reya menertawai Jesika yang terlihat sangat tidak sadar diri. "Bagus deh, setidaknya dengan begini cowok gue sadar. Kalau dia emang gak bakalan bisa bahagia selain sama gue." Kata Reya dengan berani.


Jesika meremas pundak Reya. "Maksud lo apa? Bangga banget kayaknya gue lihat-lihat jadi pacar Steven, padahal dia masih menerima perjodohan sama gue. Artinya perasaan dia buat lo gak sebesar itu.”


Reya sama sekali tidak terpancing emosi, dia yang akan membuat Jesika emosi sekarang. "Ya semua orang juga tau kalau pacar asli Steven itu gue, sedangkan lo cuma perusak di hubungan gue sama dia. Masih mau banggain? Mending bilang sama orang tua lo, supaya perjodohan itu dibatalkan dan berhenti jadi pengganggu.”


Jesika mendorong tubuh Reya kuat sampai bahunya terbentur di dinding. Reya merasa kesakitan dan memegang bahunya. "Bisa jangan pake cara kasar?" Reya bertanya dengan nada tinggi.


"Seharusnya sejak awal Steven itu punya gue dan gue yang bakalan pacaran sama dia. Tapi dengan gak tau malunya, lo malah terang-terangan bilang suka sama dia. Semuanya jadi kacau karena lo!” Jesika tampak murka.


"Dari situ aja seharusnya lo sadar kalau Steven emang punya rasa yang sama ke gue. Kalau dia gak suka, mana mungkin dia mau jadi pacar gue. Coba pake otak lo sih, biar gak malu-maluin diri sendiri."


"Lo benar-benar kurang ajar ya." Jesika melayangkan tangannya dan Reya sudah memejamkan matanya. Siap menerima tamparan dari Jesika.


Beberapa detik berlalu dia tidak merasakan apa-apa mengenai pipinya. Reya membuka mata dan menemukan keberadaan Gara di sini sedang menahan tangan Jesika. "Jangan kasar sama Kakak gue, atau bakalan gue patahin tangan lo."


Suara Gara memang tidak keras tapi nadanya terdengar memberikan peringatan kepada Jesika.


"Ya udah lepas, lo cengkram tangan gue kencang banget." Gara melepaskan dan terlihat pergelangan tangan Jesika memang merah. "Gue cuma kasih tau Kakak lo supaya dia gak ngelunjak dan sadar posisi."


"Gue tau apa yang Kakak gue lakukan sama sekali gak salah dan lo yang salah di sini. Jadi sana masuk ke kelas, sebelum gue lapor sama dekan kalau pagi-pagi lo udah menciptakan kegaduhan di sini. Kuliah itu buat belajar bukan cari musuh."


Jesika menghentakkan kakinya lalu benar-benar pergi, dia sadar tidak akan menang melawan dua orang sekaligus.


"Ngapain lo ke sini Adik?" tanya Reya sengaja memanggil Gara dengan sebutan itu.


Gara langsung teringat dan membuka tasnya. "Buku rancangan lo ketinggalan di mobil, gue tau ini adalah salah satu senjata mahasiswa jurusan ini. Kalau sampe buku ini ketinggalan, berarti nilai lo taruhannya."


Reya langsung mengambilnya. "Gue benar-benar gak sadar kalau ini ketinggalan. Makasih banyak ya, kalau gak dianterin gue gak tau bakalan gimana nasib sebentar lagi."


Gara tersenyum lebar, dia senang mendengarkan ucapan terima kasih dari Reya.


"Lain kali kalau ada yang jahat sama lo itu dilawan, jangan malah penjamin mata pas mau ditampar."


"Gue gak terbiasa sama hal yang kasar, Gar. Makanya bingung mau melawan gimana. Kalau soal debat gue masih bisa, tapi kalau main tangan gue gak jago."


Gara paham, cewek yang diperlakukan selayaknya tuan putri oleh papanya jelas tidak terbiasa dengan hal seperti ini.


"Ya udah gue ke kelas dulu ya." Gara dengan usil mengacak rambut Reya.

__ADS_1


"Gar, rambut gue jadi berantakan." Gara terkekeh karena mendapatkan ekspresi Reya yang kesal. Dia langsung merapikan kembali rambut tersebut dengan jari-jarinya. "Udah rapi lagi kok, semangatnya belajarnya cantik."


Gara mengelus puncak kepala Reya dengan lembut kemudian berjalan meninggalkan koridor fakultas.


Ini gila, tapi Reya merasa jantungnya berdetak tak karuan karena perlakuan Gara barusan.


****


"Lo dimana sih?" tanya Reya agak kesal, karena dia tidak menemukan keberadaan mobil Gara yang katanya sudah berada di parkiran fakultas.


“Gue di depan kantin, gak muat di sana buat parkir. Lo ke sini aja, cukup jalan dikit lagi."


Reya mematikan sambungan telepon sebab kesal, kantin lumayan jauh dan dia harus berjalan kaki di siang hari yang panas seperti sekarang. Gara memang gila dan Reya akan memberikan cowok itu peringatan sebentar lagi.


Begitu melihat mobil Gara yang memang ada di sana, Reya langsung menghampiri dan membuka pintu. "Gak sekalian lo parkir mobilnya di depan lapangan supaya gue jalan lebih jauh." tanya Reya tapi langsung terdiam ketika menemukan seorang perempuan asing di dalam mobil.


"Hai, Kak." Gadis itu menyapa dengan ramah.


“Hai, gue gak tau kalau Gara bawa pulang temannya."


"Maaf ya, Kak. Aku jadi nebeng karena gak tau mau pulang sama siapa. Kakak mau duduk di depan? Biar aku yang pindah ke belakang?"


Reya langsung menggeleng dan menahan gadis itu yang bergerak untuk turun. “Gak apa-apa, lo aja yang di sini. Gue duduk di belakang aja."


Gara tidak berkata apa-apa, Reya langsung masuk ke dalam mobil karena dia ingin segera pulang. Semenjak bertengkar dengan Steven, datang ke kampus seolah menarik banyak energi dalam tubuhnya. Reya butuh tidur untuk menyembuhkan semua rasa tidak nyaman.


"Gar, nanti kalau ada cafe berhenti dulu ya. Aku mau beli minuman soalnya."


Dari belakang Reya memperhatikan interaksi mereka berdua yang kelihatan dekat. Mereka jelas bukan sebatas teman sekelas, ada sesuatu di antara keduanya. Entah gadis itu yang punya perasaan lebih atau malah justru Gara.


"Kak, mau minum apa? Biar sekalian aku beliin?"


"Gak usah, gue gak haus kok." Reya berbohong, jelas dia haus karena cuaca sangat panas ditambah ada emosi di dalam dadanya.


"Beli aja strawberry smoothie buat dia."


"Oke."


Gara mencari cafe terdekat dan memberhentikan mobilnya. Gadis itu turun sendiri dan Gara masih bertahan di mobil.


"Parah lo, cewek cantik gitu dibiarin sendirian. Kalau digoda sama yang lain gimana?"


"Bukan cewek gue, kalau ada yang mau goda silahkan aja."


Reya agak memajukan badannya dan memegang kursi kemudi Gara. "Belum jadi pacar tapi naksir 'kan? Gue hafal kok modus-modus cowok kayak lo, awalnya suka antar jemput terus jadian."


"Steven kali yang gitu, gue mah enggak."

__ADS_1


"Emang cara lo PDKT gimana?" tanya Reya.


"Kayak yang gue lakuin sama lo, langsung sat set."


Reya menepuk bahu Gara. "Jangan asal ngomong lo, kalau gue adu sama Mama lo suka ngomong yang aneh-aneh gini. Bisa-bisa diusir dari rumah."


Gara tertawa sebab lagi-lagi Reya terlihat kesal. "Gak apa-apa kalau diusir bareng sama lo, asal gak gue aja sendiri."


"Ogah banget gue keluar dari rumah cuma gara-gara lo doang."


Intinya setiap kali bersama memang selalu ada perdebatan walaupun sebenarnya sama sekali tidak penting.


Reya langsung duduk di tempat semula ketika melihat gadis yang bersama Gara datang dengan membawakan minuman.


"Kak, aku gak tau kamu suka banyak es atau enggak. Tapi ini sedang dan gak dingin banget kok."


"Makasih ya, nanti kasih aja nomor rekening biar gue ganti."


Gadis itu menggeleng. "Enggak usah, Kak. Aku yang traktir kalian karena bisa pulang bareng."


“Oke, lain kali gue yang bakalan traktir lo." Kata Reya yang memang tidak suka berhutang dengan seseorang, apalagi dengan orang yang tidak terlalu dekat dengan dirinya.


"Kak, namaku Jessi. Aku teman satu jurusan sama Gara, dia sering cerita soal Kakak. Aku juga tau kalau nama kamu Reya" Gadis itu memperkenalkan dirinya.


Reya langsung melirik Gara yang tiba-tiba terlihat tidak sesantai tadi. "Oh ya, emang dia cerita apa soal gue?" tanya Reya. "Dia jelek-jelekin gue?"


Jessi menggeleng. "Dia bilang senang karena akhirnya punya keluarga lagi. Dia senang punya Kakak, apalagi katanya Kakak pas dijahili langsung emosi."


"Benar cuma itu?" Reya seakan tidak puas dengan jawaban Jessi.


"Gue gak pernah menjelek-jelekkan lo kepada siapapun, lo aja yang selalu berpikiran buruk sama gue." Gara langsung menjawab.


"Ya habisnya lo ngeselin, mana bisa gue percaya kalau lo baik di belakang gue."


"Terus Gara juga bilang."


"Je, udah." Gara langsung menghentikan Jessi yang ingin kembali bercerita. "Jangan kasih tau semuanya, nanti dia jadi besar kepala."


Reya mendelik kesal dan kembali menyandarkan tubuhnya di kursi. "Kalian berdua pacaran ya?" tanya Reya usil dan ingin melihat ekspresi Jessi.


Gadis itu terlihat malu-malu dan beberapa kali melirik Gara. Semuanya tidak lepas dari pengawasan mata Reya. "Kalau mau jadian gak apa-apa kok, gue bakalan restui. Lagian lo baik mau traktir gue."


"Enggak kok, Kak. Aku sama Gara cuma teman sekelas dan gak bakalan pacaran."


"Ya sekarang emang teman, nanti mana tau jadi pacar. Lagian kalian berdua sama-sama jomblo, sah aja kalau mau menjalin hubungan."


"Tapi Gara suka sama cewek lain kok, Kak. Jadi dia gak akan suka sama aku dan aku juga gak punya perasaan lebih dari teman sama Gara."

__ADS_1


"Siapa cewek yang Gara suka?"


Jessi menggeleng. "Dia gak pernah sebut namanya, tapi kata Gara dia hampir sempurna dengan semua hal yang dia punya."


__ADS_2