
Reya dan Gara merasa kelaparan kala jam dinding sudah menunjukkan jam sembilan malam, padahal mereka berdua baru saja makan di pukul setengah tujuh tadi.
Mama dan papanya sedang sibuk bekerja di kantor dan kemungkinan akan pulang terlambat malam ini. Jadi hanya ada mereka berdua yang sedang berada di ruang keluarga sembari menonton televisi.
"Re, gue lapar banget gak bohong. Ini gara-gara kita makan makanan kepedasan, makanya cuma bisa kenyang sebentar. Perut gue jadi perih sekarang.” Gara mengeluh sembari memegang bagian perutnya.
Reya menyengir, ini semua gara-gara makan mie pedas sebelum menyentuh nasi. Semenjak pulang dari rumah nenek, hubungan mereka berdua memang menjadi kembali baik dan Gara tidak menghindar lagi dari dirinya.
Gara juga berkata jika dirinya tidak punya hubungan apa-apa dengan Jessi, semua yang Reya pikirkan salah. Gara hampir saja marah kepada Reya karena gadis itu memfitnah dirinya.
"Lo sih, katanya makan mie dua porsi bakalan bikin kenyang sampe tengah malam. Kenapa gak sampe tiga jam gue udah lapar lagi."
"Kok jadi gue yang salah," balas Gara tidak terima. "Lo juga setuju sama ide itu, makanya gue ajak. Lagian salah lo taruh cabe kebanyakan, alhasil malah sakit perut kayak sekarang."
Sepertinya di setiap perdebatan antara mereka berdua memang tidak akan ada yang mengalah, apalagi saat kedua orang tuanya tidak berada di rumah seperti sekarang.
"Daripada kita berantem gak bakalan bikin kenyang juga akhirnya, mending lo siap-siap dan kita berdua cari makan di luar. Kalau lo mau sih, kalau enggak gue bisa pergi sendiri karena udah lapar banget."
"Mau lah, gue gak akan bisa tidur dengan kondisi kelaparan kayak gini. Di kulkas juga cuma ada buah." Reya tiba-tiba bergeser mendekat ke arah Gara sembari tersenyum. "Lo yang traktir ya."
Gara mendorong tubuh Reya dan bangun dari posisi duduknya. "Kok jadi gue yang traktir, bayar masing-masing lah. Biasanya juga bayar sendiri-sendiri dan lo gak nolak."
Reya memainkan jemarinya, menatap Gara ragu-ragu. "Uang gue habis gara-gara beli ipad yang baru, soalnya punya lama udah lambat dan memorinya penuh. Gue gak punya uang tabungan, jajan gue bulan ini juga mau habis. Sekali-kali bayarin gue, nanti gue traktir pas dapat uang jajan bulan depan."
Diam-diam Gara tersenyum, dia jelas tidak masalah kalau harus mentraktir Reya. Namun diberikan secara cuma-cuma jelas tidak akan menarik.
"Ada syaratnya gue traktirin lo malam ini."
"Apa? Jangan aneh-aneh, kalau enggak aneh gue mau aja menerima syarat dari lo."
"Lo harus datang ke kamar gue selama satu minggu buat bangunin gue setiap hari, kita juga harus ke kampus bareng. Lo gak boleh bawa mobil lagi, gimana?"
__ADS_1
"Hah? Gar, gue bangun pagi aja susah dan lo minta gue bangunin? Gue gak bisa tanggung jawab kalau lo bakalan telat ke kampus."
Gara sama sekali tidak peduli dengan jawaban Reya. "Mau gak? Kalau enggak mau juga gak apa-apa, lagian cuma seminggu doang masak gak bisa. Selama ujian aja, gak mungkin di musim ujian lo bangun telat."
Reya menghela nafas, demi mendapatkan traktiran dia harus menyetujui ini. "Oke, gue bakalan bangunin lo dan ke kampus bareng sama lo selama satu minggu."
Keduanya berjabat tangan dan artinya mereka berdua sudah setuju.
"Ya udah sana ganti baju, kita pergi sekarang."
****
Keduanya memasuki restoran yang dipilih oleh Gara. Reya hanya ikut saja karena dirinya mendapatkan traktiran, jadi tidak berani protes.
Restoran yang Gara pilih terlihat bagus dan lumayan padat pengunjung, namun begitu Reya melihat buku menu matanya membesar. "Mahal banget, lo yakin mau traktir gue di sini?"
"Gak usah kaget gitu, kayak gak pernah makan makanan mahal aja lo. Pilih aja apa yang lo mau, gue gak mau pindah ke tempat lain karena makanan di sini enak."
Reya menghela nafas, kembali mencari makanan yang lumayan murah. Walaupun Gara yang akan membayar tapi dirinya jelas sadar diri supaya tidak kelewatan.
Gara melihat menu yang Reya inginkan. "Gak, lo gak suka sama ikan jadi mana mungkin bisa makan hidangan ini. Lo sengaja pilih ini karena murah dan gue gak setuju. Biar gue aja yang milih makanan yang sering gue makan di sini."
Reya mengalah, biar saja Gara melakukan apa yang dia inginkan. Gara memberitahukan menu yang dia inginkan kepada salah satu pramusaji.
Selama menunggu Reya melihat ke sekitar, banyak orang di sini yang datang dengan membawa poster serta album di tangannya.
"Bakalan ada acara meet and greet sama artis atau gimana ya? Daritadi gue dengar mereka kayak lagi nunggu seseorang. Banyak juga wartawan di sini."
Gara melirik sekilas dan memang banyak wartawan yang membawa kamera dan beberapa orang berpakaian jas, dia sama sekali tidak peduli.
"Gak usah kepo, kita datang ke sini buat makan bukan untuk mengurusi urusan orang lain. Lagian lo gak kenal sama artis yang mereka tunggu 'kan?"
__ADS_1
Reya menyipitkan mata untuk melihat siapa yang ada di poster tersebut tapi tidak berhasil. Intinya dia tau seseorang yang sedang ditunggu saat ini adalah perempuan.
Saat pramusaji sudah menghidangkan makanan yang Gara pesan, cowok itu langsung berkata.
"Makan yang banyak dan harus dihabisi, gue udah beli makanan ini dengan harga yang mahal."
Reya menyengir, menatap makanan di hadapannya dengan penuh selera. Tidak ada satupun makanan yang berasal dari olahan ikan, karena dirinya memang tidak begitu menyukai.
"Lo lupa kalau gue lapar banget, pasti bakalan gue habisi semua ini tanpa sisa."
Lalu mereka berdua mulai makan dan tidak ada yang berbicara lagi. Sesekali Reya melirik ke arah panggung, di sana sudah ada penyanyi yang menyanyikan satu lagu dan suasana di sini terasa lebih nyaman.
Sekitar sepuluh menit kemudian, orang-orang yang semula menunggu menjadi heboh. Artis yang ditunggu ternyata sudah tiba. Reya yang kepo ikutan berjinjit untuk melihat siapa sebenarnya artis itu.
"Wah ternyata cantik banget walaupun udah gak muda. Gar, coba lo lihat ada Tante yang cantik banget."
"Gak, gue males." Gara tetap makan.
Reya menarik tangan cowok itu, walaupun kesal akhirnya Gara berdiri untuk melihat. Tubuhnya mendadak kaku dan menegang, dia tidak bisa bergerak lagi.
Apalagi saat matanya dan sosok artis itu saling menatap. Gara membuang muka sembari bergumam dalam hati. "Tolong jangan mendekat ke sini."
Tapi sepertinya doa Gara sama sekali tidak terkabul, karena suara sepatu hak yang mengetuk lantai terdengar semakin dekat ke arah keberadaan dirinya.
"Gara." Suara yang sudah lama tidak dia dengar, akhirnya hari ini kembali terdengar.
Reya merasakan tangannya digenggam erat oleh Gara, cowok itu masih menatap ke arah lain.
Reya yang bingung melirik kedua orang itu. "Tante siapa ya, kok bisa kenal sama Gara?" tanya Reya sebab sudah terlalu penasaran. Jika diam saja tidak akan menemukan jawaban apa-apa.
"Kamu siapanya Gara, pacarnya?"
__ADS_1
Reya menggeleng dengan tersenyum tipis. "Saya Reya, Tan. Saudara tirinya Gara."
Wanita itu tersenyum ramah, menatap Reya lekat-lekat dan mengulurkan tangannya. "Ternyata kamu anak perempuan dari wanita itu. Saya Ibunya Gara, salam kenal Reya."