My Lovely Brother

My Lovely Brother
66. Gara Marah


__ADS_3

"Gara, kita harus ngomong sekarang juga."


Cowok berumur dua puluh tahun itu menghela nafas dan mengikuti langkah kaki Jessi yang menarik tangannya. Baru saja Gara merasa semangat karena jam pulang sudah tiba dan dia bisa bertemu dengan Reya di rumah. Tapi Jessi malah datang dan merusak mood-nya.


"Mau ngomong apa? Di sini aja, jangan bawa gue terlalu jauh. Gue gak punya banyak waktu buat ngobrol sama lo."


Keduanya berhenti di parkiran. Jessi terlihat sangat marah sekarang. Gadis itu melipat tangan di bawah dada dan menatap Gara lekat-lekat.


"Kenapa tiba-tiba minta putus?"


"Bukannya semua udah jelas, Reya dengar apa yang lo bilang pas di klub. Jadi buat apa gue pacaran sama cewek yang cuma main-main sama gue. Cewek di luar sana banyak, Jessi. Bukan lo doang, gue gak mau menghabiskan waktu untuk sesuatu yang enggak penting. Buang-buang waktu masa muda gue aja.”


"Lo langsung percaya gitu aja? Tanpa mau dengar dulu penjelasannya dari gue?"


"Gue rasa gak perlu mendengarkan lagi, karena lo pasti bakalan cari cara buat membela diri sendiri. Kasus kayak gini bukan sesuatu yang baru buat gue.”


"Gar, aku ngomong gitu karena aku lagi mabuk. Kamu tau sendiri kalau orang lagi mabuk pasti omongannya jadi ngaco." Jessi mulai memberikan pembelaan kepada dirinya sendiri.


Gara terkekeh pelan, kemudian mendorong Jessi sampai tubuh gadis itu menempel ke badan mobil. Memegang kedua bahu gadis itu dan menatapnya lekat-lekat.


"Justru omongan orang pas mabuk itu jujur. Lo dengan bangga bilang senang bisa mempermainkan gue, merasa hebat dengan itu?" tanya Gara tidak habis pikir. "Selama ini ternyata gue baik sama orang yang salah ya."


"Emang lo yang salah di sini, coba dari awal lo menerima perasaan gue dan menerima afeksi yang gue kasih. Pasti semuanya gak akan rumit, sayangnya lo malah jadi cowok sok ganteng hingga akhirnya gue muak dan gak punya rasa apa-apa lagi ke lo."


"Akhirnya lo ngaku juga, emang harus dipancing dulu supaya mau ngaku."


"Mau lo sebenarnya apa sih? Lo pacarin gue juga gak serius 'kan? Karena sampe hari ini gue gak pernah bisa percaya kalau lo akhirnya jatuh cinta sama gue."


Gara memasukkan kedua tangannya ke dalam kantong celana. "Bagus deh kalau lo sadar, gue harap setelah ini lo jangan kepedean lagi. Apa yang lo pikirkan benar kok, gue gak pernah serius ajakin lo pacaran. Gue cuma butuh pelampiasan dari rasa sakit yang gue dapatkan. Gue cuma lelah menunggu seseorang makanya gue butuh mainan. Kebetulan ada lo yang mau dengan sukarela.”


Plak.

__ADS_1


Gara mendapatkan tamparan keras di pipinya. Dia tidak marah, sebab Gara memang pantas mendapatkan semua ini. Dengan tamparan ini, dia merasa sedikit lebih tidak bersalah karena sudah bermain-main dengan perasaan seseorang.


"Ternyata lo sama sekali gak taubat dan malah seenaknya sama gue."


"Gue udah bilang sejak awal, kalau gue mau mencoba. Lo menerima itu semua, kenapa sekarang malah merasa keberatan? Kalau gak ada persetujuan dari lo, kita juga gak akan mungkin pacaran."


Jessi terdiam dengan tangan terkepal dan nafas yang naik turun.


"Gue benci banget sama lo, seandainya gue tau perasaan gue gak akan terbalas. Mungkin sejak awal gue gak bakalan coba-coba untuk menaruh rasa sama orang gak punya perasaan kayak lo. Oke mulai sekarang kita putus, gue benci lo."


Jessi menabrak tubuh Gara dan pergi begitu saja. Dia merasa kecewa, marah, dan ingin membalas dendam. Lihat saja apa yang akan dia lakukan nantinya.


****


Selesai dengan urusan Jessi, Gara pulang ke rumah hampir magrib. Sialnya rumah masih sepi dan beberapa menit kemudian mama juga papa pulang.


"Reya kenapa belum pulang ya, Ma? Dia ada kasih tau sama Mama mau kemana?"


"Dia kasih tau sama Mama?" tanya Gara merasa tidak puas sebab Reya akan pulang telat malam ini. Reya juga tidak membalas pesannya yang menanyakan dimana keberadaan gadis itu sekarang.


"Iya, kenapa emangnya Gar? Kamu ada perlu sama Reya?"


"Gak ada sih, Ma. Gara tanya aja soalnya Reya gak ada di rumah. Kirain dia kemana gitu belum pulang."


"Gar, kamu gak lupa sama apa yang Mama bilang 'kan?" tanya Mama dan Gara menganggukkan kepalanya. "Karena kalau itu sampai berlanjut, salah satu dari kalian harus keluar dari rumah ini. Apa yang kamu rasakan adalah sebuah kesalahan dan sudah sebaiknya berhenti sebelum terlambat."


”Papa akan memberikan kamu hukuman berat, kalau diam-diam kamu masih menyimpan rasa sama Reya.”


”Gara gak suka sama Reya lagi kok.”


”Bagus kalau begitu, Mama sama Papa mau istirahat dulu karena lelah bekerja seharian.”

__ADS_1


Kedua orang tuanya pergi dan masuk ke dalam kamar.


Gara mengepalkan tangannya dan naik ke lantai dua. Dia merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur, lelah juga jika harus terus bersembunyi. Bagaimanapun, Gara ingin semua orang tau bahwa dia sangat mencintai Reya dan perasaannya tulus.


Gara mengambil ponsel dan menelepon Reya, dia ingin mendengarkan suara perempuan itu.


"Reya, lo pulang jam berapa?"


"Gue kayaknya pulang telat Gara, tolong bilang sama Mama kalau gue bakalan pulang jam sebelas. Bilang aja gue ada pembasahan penting sama orang-orang di perusahaan."


"Lo gak lagi sama orang-orang kantor 'kan?" tanya Gara karena tidak ada suara berisik di sekitar Reya.


"Iya, enggak. Gue sama Steven mau selidiki soal Jesika lagi. Makanya gue harus pulang telat malam ini."


"Jadi lo bohong sama Mama?"


"Iya, gak mungkin gue bilang sama Mama tentang apa yang sebenarnya terjadi karena Mama pasti bakalan marah sama gue."


"Terus lo pikir gue gak marah? Terlalu sering ke sana gak bagus Reya, bahaya di sana. Kenapa juga lo harus ikut campur banget sama urusan orang lain."


"Gar, Steven teman gue dan dia lagi kesusahan. Wajar kalau gue bantu dia."


"Tapi gak setiap malam juga lo ke sana, Reya. Kasih tau sama gue lo dimana sekarang? Gue bakalan datang ke sana dan jemput lo pulang ke rumah."


"Enggak, gue gak mau kasih tau dan gue bakalan marah kalau lo sampe datang ke sini." Reya sangat keberatan dengan apa yang Gara katakan. Tapi cowok itu sama sekali tidak peduli.


"Gue lebih baik lihat lo marah sama gue, dibandingkan tau lo kenapa-kenapa. Gue bakalan cari tau dimana posisi lo sekarang dan jemput ke sana. Tunggu aja gue bakalan datang dan gue gak bercanda."


Gara menutup sambungan telepon tanpa mau mendengarkan protesan dari Reya lagi.


Gara mengambil jaket dan kunci mobil kemudian keluar dari rumah. Gara hanya takut Reya akan bertemu lagi dengan Jessi di sana, Gara tidak mau gadis itu kenapa-kenapa.

__ADS_1


Sayangnya Reya selalu keras kepala dan tidak mau mengerti dengan kekhawatiran yang dia rasakan.


__ADS_2