
"Semangat untuk semua hal yang terjadi hari ini, Sayang. Mama yakin kamu bisa melakukan yang terbaik dan membuat perusahaan lagi-lagi bangga sama kamu."
Reya menoleh ke arah luar jendela dan ternyata dia sudah sampai di depan kantor.
Reya terus melamun di sepanjang perjalanan hingga tidak fokus. Reya juga meminta diantarkan sebab sedang tidak bertenaga untuk membawa mobil sendiri.
"Makasih banyak, Ma. Reya masuk ke dalam dulu." Reya turun dari mobil setelah menyalami sang mama dan mencium pipinya.
"Selamat pagi, Pak." Reya masuk ke dalam ruangan Arkan yang terbuka. Cowok itu sedang sibuk menatap ke arah layar komputernya.
"Pagi, sudah kamu pelajari semua materi yang saya kasih ke kamu?"
"Sudah, Pak."
"Setengah jam lagi kita berangkat ke sana, kalau kamu mau baca ulang silahkan saja. Saya harus merapikan beberapa hal dulu."
Reya duduk di sofa dan membuka materinya lagi. Tapi sayangnya dia sama sekali tidak bisa fokus. Apa yang terjadi tadi malam di kamar Gara adalah sebuah kenyataan bukan sebatas mimpi Reya saja.
Cowok itu sudah punya pacar dan apa yang dia katakan selama ini kepada Reya hanya sebatas omong kosong saja.
"Reya, kenapa malah melamun? Ada sesuatu yang mengganggu pikiran kamu?"
Reya menggeleng dan menghela nafas, menghirup udara sebanyak-banyak dan berusaha untuk fokus kembali.
"Kalau ada sesuatu yang kamu pikirkan, coba diselesaikan dulu. Cari angin keluar sebentar, saya gak mau kamu sampe gak fokus di sana."
Reya menggeleng, dia merasa tidak enak dengan Arkan. Reya sedang ada masalah di luar kantor, tidak seharusnya dia membawa ke lingkungan ini. Karena Reya bisa dikatakan tidak profesional.
"Saya cuma kurang tidur aja."
"Oh, kamu mau kopi? Mungkin bisa meringankan dan bikin pikiran kamu rileks."
"Enggak usah, Pak. Kebetulan saya gak suka sama kopi dan gak bisa sering minum juga."
__ADS_1
"Hmm, saya bingung harus ngapain supaya kamu kelihatan fresh lagi. Atau kamu mau teh lemon?"
Reya terkekeh sebab Arkan memang terlihat sangat khawatir. "Pak saya gak apa-apa kok, saya baik-baik aja. Percaya sama saya kalau semuanya akan berjalan dengan lancar, saya gak akan buat Bapak malu."
"Benar ya, kalau gagal kamu harus traktir saya sebagai ganti rugi."
"Oke." Reya tertawa dan menyetujui permintaan Arkan.
****
Arkan dan Reya keluar dari perusahaan, sama seperti kemarin-kemarin Reya sama sekali tidak mengecewakan. Walaupun sedang banyak masalah, Reya tetap profesional dalam memaparkan materi dan membuat klien terkesan.
"Kita makan siang dulu sebelum balik ke kantor ya."
Reya tidak menolak, karena dia sendiri memang tidak punya banyak energi untuk bekerja hari ini. Sepertinya Reya harus mengambil banyak waktu selama makan siang supaya dia tidak buru-buru balik ke kantor.
"Sekarang kita udah di luar lingkungan perusahaan. Anggap saja saya adalah kakak tingkat kamu, jangan bos kamu. Jadi apa yang sebenarnya terjadi, Kakak tau ada sesuatu. Gak mungkin kamu mendadak gak semangat padahal kemarin kamu baik-baik aja?"
Baru juga selesai menyerahkan menu, Reya sudah mendapatkan pertanyaan dari Arkan. Mungkin cowok ini sudah terlalu penasaran dan menahannya sejak tadi.
"Iya kelihatan banget karena Kakak kenal kamu. Jangan bertele-tele, cerita aja sama Kakak. Mungkin setelah bercerita kamu akan merasa lega dan Kakak bisa memberi saran."
Reya berpikir beberapa saat, haruskah dia mengatakan semuanya?
"Gara punya pacar, dia kasih tau sama aku tadi malam. Gara pacaran sama cewek satu jurusannya, padahal sebelumnya dia berulang kali bilang gak ada rasa sama cewek itu setiap kali aku menanyakan pertanyaan yang sama. Makanya aku agak kaget dan kepikiran."
"Kaget apa cemburu?" tanya Arkan dengan raut usil yang terlihat di wajahnya.
"Cemburu juga iya, tapi lebih tepatnya aku enggak suka sama cowok-cowok yang awalnya bilang enggak suka tapi ujungnya dipacarin. Kayak kelihatan gak serius dan seolah lagi main-main."
"Mana tau dia emang lagi main-main, buat tes kamu aja makanya dia bilang punya pacar. Terus kenapa dia milih cewek yang kamu kenal, supaya kamu makin cemburu aja. Kalau cewek yang gak kamu kenal, mungkin respon kamu enggak seperti sekarang.”
"Tapi dia sama sekali enggak kelihatan bercanda tadi malam, Kak. Dia kelihatan serius dan bilang gak mau main-main sama perasaan orang."
__ADS_1
Arkan terdiam sebentar, menatap Reya lekat-lekat. "Jadi sejak kapan kamu udah sadar punya rasa sama Gara?"
"Aku lupa kapan, tapi udah lumayan lama. Cuma selama ini aku akting seakan gak peka aja, karena aku tau semuanya salah. Namun semakin ke sini aku mau Gara dan gak pengen dia jadi milik orang lain."
"Kamu terlambat berarti, Reya. Seharusnya kalau kamu cinta langsung bilang aja sama dia. Apapun resikonya harus berani kalian hadapi, tapi sayangnya kalian berdua sama-sama enggak mau. Gara udah lelah menunggu kamu yang selalu gengsi. Cowok kalau udah capek emang bakalan pergi. Cari pengganti dan memilih bersama dengan perempuan yang jauh lebih bisa menghargai mereka.”
"Terus Gara gak akan balik lagi ke aku?" tanya Reya mendadak sedih. Setidaknya Gara harus kembali untuk mendengarkan bahwa cintanya tidak pernah bertepuk sebelah tangan, bahwa selama ini Reya juga mencintainya.
"Beda-beda orang, beda tindakan sih. Kakak gak bisa memprediksi Gara akan kembali atau enggak. Cuma yang penting kalian masih satu rumah, masih ketemu satu sama lain walaupun dia punya pacar."
"Justru itu yang bikin makin sakit sih, Kak. Aku harus dengar dia mesra-mesraan sama cewek lain. Terus Gara di rumah juga selalu menghindar dari aku. Gak mau ngomong dan kita benar-benar asing."
"Rumit juga ya kisah cinta kalian, tapi kedua orang tua kalian gak ada satupun yang tau tentang rasa yang ada ini 'kan?"
Reya menggeleng. "Kalau mereka tau mana mungkin aku sana Gara masih berani menyimpan semua ini."
"Tapi Kakak kepikiran sama satu hal, Rey."
"Soal apa, Kak?" tanya Reya mendadak serius.
"Bisa jadi Gara udah ketahuan punya rasa sama kamu. Makanya dia berusaha menyakinkan orang tua kalian dengan pacaran sama cewek lain. Karena dari yang Kakak lihat Gara suka banget sama kamu. Gak mungkin dia langsung berpaling dengan cepat, apalagi jatuh cinta sama cewek yang sebelumnya gak dia suka. Pasti karena dia udah ketahuan, Kakak yakin seratus persen."
"Terus, gimana caranya aku pastiin kalau dia udah ketahuan atau enggak? Karena kalau aku tanya secara langsung, Gara pasti gak akan mau jawab."
"Kakak punya ide, sini kamu dekat-dekat supaya Kakak kasih tau."
Reya menarik kursi dan jaraknya bersama dengan Arkan semakin dekat. Arkan mengatakan sesuatu dan Reya mendengar dengan baik.
"Kak, kamu yakin semuanya akan berjalan dengan baik? Gara akan jujur kalau aku ikuti apa yang Kakak bilang?"
"Coba aja dulu, kalau gagal nanti Kakak kasih tau rencana yang lain."
Arkan dan Reya kemudian tersenyum penuh arti. Reya sudah tidak sabar menjalankan misi ini untuk mengetahui kebenaran apa yang sedang Gara sembunyikan dari dirinya.
__ADS_1
Benarkah dia sudah ketahuan jika selama ini mencintai Reya?