My Lovely Brother

My Lovely Brother
19. Gara menjauh?


__ADS_3

Setelah putus dengan Steven, Reya memang menjadi lebih sering bertemu dengan Arkan. Hubungan mereka bisa dibilang semakin dekat, Reya juga peka kalau diam-diam Arkan memberikan kode seolah mengatakan bahwa dia menyukai Reya.


Namun Reya berusaha abai, rasanya terlalu cepat menemukan pasangan baru. Karena dia dan Steven belum lama putus.


"Ma, Gara berangkat dulu."


Reya menatap punggung Gara yang berjalan menjauh. Semenjak masa ujian tiba, mereka berdua tidak pernah pergi bersama lagi.


Tepatnya satu hari setelah Gara mabuk, mereka berdua menjadi asing dan tidak pernah berbicara lagi.


Gara meminta izin untuk membawa mobil sendiri, Reya juga senang karena mendapatkan kebebasannya kembali.


"Reya, setengah jam lagi udah jam delapan. Kamu masih mau makan?"


Reya tersadar dari lamunannya dan menggeleng. Dia terlalu banyak berpikir sampai tidak sadar dengan situasi. "Reya juga berangkat sekarang, Ma."


Mamanya berada di rumah karena sedang kurang enak badan dan tidak berangkat bekerja. Sementara Papa Gara sudah pergi sejak lima belas menit yang lalu.


"Kamu sama Gara gak kenapa-napa 'kan? Mama lihat kalian berdua gak pernah ngobrol lagi dan saling menyendiri."


Rupanya mamanya juga sadar akan hal itu. "Enggak ada masalah apa-apa kok, Ma. Mungkin kami berdua lagi sama-sama sibuk karena lagi ujian aja."


"Kalau ada apa-apa kamu cerita sama Mama, jangan dipendam sendirian."


"Iya, Ma. Jangan telat makan dan minum obat tepat waktu." Reya pergi meninggalkan ruang makan dan keluar dari rumah. Dia menemukan mobil Gara yang ternyata belum pergi.


Hanya beberapa detik, Gara langsung melajukan mobilnya meninggalkan Reya yang tampak bingung.


****


Jam istirahat Renata dan Reya berada di kantin karena merasa sangat lapar. Setelah mengikuti dua ujian yang susah, mereka merasa seperti energi keduanya terkuras sampai habis.


Mata Reya tertuju kepada dua orang yang baru saja masuk ke dalam kantin. Ternyata memang tidak ada rasa berdebar lagi saat menatap Steven. Dia juga tidak merasa sedih setelah putus, mungkin karena Reya sudah terlanjur lelah berhubungan dengan cowok itu.


"Biasa aja kali Re lihat mantannya, kalau Steven tau lo gagal move on pasti dia bakalan senang banget. Terus merasa menang dari lo."


"Gue gak merasa apa-apa lagi buat dia kok, apalagi gagal move on. Ngapain gue bersedih putus dari seseorang yang bisa bahagia tanpa gue."


Keduanya kembali melanjutkan makan, sampai sebuah notifikasi muncul di HP Renata. Dia bisa melihat nama yang tertera di sana.

__ADS_1


"Lo ada hubungan apa sebenarnya sama Gara? Kayaknya kalian kelihatan dekat dan sering komunikasi."


Renata tersenyum malu-malu dan membalikkan HP-nya, supaya kalau ada notifikasi yang masuk Reya tidak bisa melihatnya lagi.


"Enggak ada hubungan apa-apa kok. Gue cuma suka sama Gara, tapi kayaknya dia gak ada rasa sama gue. Tapi gak apa-apa, gue senang banget bisa chattan sama dia. Respon Gara selama ini juga baik dan terkesan menghargai."


"Re, lo bakalan semakin menaruh rasa sama dia kalau enggak berhenti dari sekarang."


"Gak ada yang tau akan perasaan seseorang, Re. Bisa jadi dia gak suka sama gue sekarang, tapi gak ada yang tau apa yang bakalan terjadi ke depannya."


Renata terlihat sangat senang dan Reya menjadi tidak tega untuk mematahkan rasa bahagia gadis itu. Tidak mungkin juga Reya berkata kalau selama ini Gara menaruh rasa kepada dirinya. Cukup dia kehilangan Jesika, dia tidak mau sampai kehilangan Renata.


"Tapi tolong berhenti kalau lo udah merasa cukup dan capek, jangan sakiti diri lo sendiri ya. Kalau Gara bikin lo sakit hati, gue bakalan hajar dia dan gak akan pernah maafin dia sampai kapanpun."


Renata terkekeh, Reya terlihat sangat menggebu-gebu dan bersemangat untuk menghabisi adik tirinya.


"Aman, gue gak akan jadi bego cuma karena cinta kok. Untuk sekarang tolong dukung hubungan gue sama Gara ya."


Tidak ada pilihan lain selain Reya menganggukkan kepalanya. Semoga saja ketika Gara dekat dengan Renata bisa menghilangkan perasaan gila yang cowok itu rasakan untuk dirinya.


****


Reya agak kaget menemukan cowok itu yang berada di parkiran dan sedang berbicara dengan salah satu senior di jurusannya.


Reya melangkah mendekati kedua cowok itu dan seniornya langsung pamit, meninggalkan Arkan sendirian.


"Kok kamu ada di sini?”


"Hai, Reya." Arkan menyapa dengan senyuman di wajahnya. "Kakak cuma datang karena di undang sama salah satu himpunan, buat sharing-sharing aja sih. Kamu udah mau pulang?"


Acara himpunan? Tapi serah Reya jika sedang masa ujian seperti ini, tidak ada organisasi manapun yang membuat acara. Entahlah, mungkin dirinya yang kurang update dengan keadaan di lingkungan kampus.


"Iya, ujiannya udah kelar. Capek banget lewati tiga mata kuliah dalam satu hari, rasanya kepala aku mau pecah aja." Reya mengeluh dan memijat bagian tengah kepalanya.


Arkan terkekeh, dia jelas tau apa yang Reya rasakan karena dirinya juga pernah berada di posisi seperti ini.


"Ya udah karena kamu capek habis ujian dan kepala kamu panas akibat kebanyakan mikir, gimana kalau kita ke tempat es krim langganan kita dulu?"


Tempat es krim? Reya tidak pernah datang ke sana lagi setelah mendapatkan penolakan dari Arkan.

__ADS_1


"Gimana, mau ke sana gak? Kalau enggak mau kita bisa cari tempat lain, mungkin kamu merasa gak nyaman untuk kembali ke sana."


Reya menggeleng, dia sudah melupakan semua hal yang terjadi di masa lalu. Jadi untuk apa dirinya merasa takut untuk melangkah ke sana.


"Ayo kita ke sana."


Mereka berdua berjalan kaki karena lokasinya memang tidak jauh dari kampus. Saat sampai ke sana tidak ada yang berubah selain tempatnya semakin luas.


Tempat ini menyimpan banyak kenangan dan memori tentang usaha Reya yang berusaha mendekati Arkan dulu.


"Re, kita duduk di sana."


Reya menatap ke arah kursi pojokan yang Arkan maksud. Tiba-tiba dia seolah bisa melihat kebersamaan dirinya dengan Arkan di masa lalu.


"Kakak masih sering datang ke sini walaupun enggak sama kamu. Kakak pikir bakalan bisa melihat kamu di sini, tapi ternyata Kakak salah karena kamu gak pernah datang lagi kemari. Kakak tau kamu marah sama Kakak, karena itu juga Kakak minta maaf lagi sama kamu."


"Kak, semuanya udah berlalu dan gak seharusnya kamu bahas itu sampai sekarang. Aku udah maafin semuanya, alasan aku gak pernah datang ke sini lagi dulu karena aku terlalu takut ketemu sama kamu. Aku hanya takut usaha aku untuk move on berakhir gagal."


Kini Arkan mengerti, padahal selama bertahun-tahun dia berpikir kalau Reya membenci dirinya makanya sengaja memilih untuk menjauh.


"Arkan? Ibu sudah sangat lama tidak melibatkan kamu, sekarang makin ganteng aja kamu ya." Ibu penjual itu menyapa Arkan dengan ramah, lalu matanya menatap ke arah Reya. "Kamu kayak gak asing di mata Ibu, tapi Ibu lupa kamu siapa."


"Ini Reya, Bu. Satu-satunya cewek yang pernah bareng Arkan ke sini."


"Ah iya Neng Reya, sekarang udah makin dewasa dan cantik ya. Dulu pas awal kuliah masih gak pake make up makanya Ibu susah kenal, maaf ya."


"Gak apa-apa kok, Bu. Aku sama Kak Arkan mau pesan dua es krim vanila dengan topping kayak dulu. Apa Ibu masih ingat?"


"Masih dong, ya sudah kalian berdua tunggu di sini aja."


Reya melihat-lihat suasana di sini yang sangat ramai, apalagi cuaca juga panas padahal sudah sore hari.


Dia merasa de javu dan juga senang karena bisa kembali ke sini dengan orang yang sama.


"Re, itu bukannya adik kamu?"


Reya menoleh dan melihat Gara masuk ke dalam ruangan ini dengan Jessi. Sebenarnya wajar saja jika mereka berdua datang kemari karena ini tempat umum, tapi yang bikin Reya merasa aneh adalah mereka berdua bergandengan tangan dan terlihat dekat.


Gara dan Jessi pacaran?

__ADS_1


__ADS_2