My Lovely Brother

My Lovely Brother
35. Rencana


__ADS_3

Satu minggu lagi libur semester Gara dan Reya akan berakhir. Mama tiba-tiba memanggil mereka berdua ke ruang keluarga. Padahal waktu jam makan masih satu jam setengah lagi.


Apa yang ingin mamanya bahas sebenarnya?


Saat keluar dari kamar, Gara juga baru keluar dari kamar. "Lo habis buat masalah makanya kita berdua dipanggil?" tanya Reya dengan menatap Gara curiga.


"Kok jadi gue, lo kali ada buat salah makanya sekarang Mama mau tanya. Gue sama sekali gak melakukan kesalahan."


"Lah, gue dari kemarin juga enggak ngapa-ngapain cuma di rumah doang. Udah pasti lo biang keroknya."


"Daripada debat hal gak penting, mending kita langsung ke bawah sekarang. Karena gue juga gak salah di sini."


Akhirnya kedua manusia tersebut memutuskan untuk tidak berdebat lagi, melangkah menuruni tangga untuk tau apa yang sebenarnya sedang terjadi.


"Kenapa Mama panggil aku sama Gara ke sini? Kalau gak salah aku sama sekali gak melakukan kesalahan. Gara juga bilang gak buat salah."


Mama dan Papa saling melirik dan tersenyum setelah mendengarkan ucapan Reya. Alhasil gadis itu menjadi semakin bingung.


"Ada apa sebenarnya? Tiba-tiba banget manggil aku sama Gara ke sini."


"Emang kalau Mama sama Papa panggil kalian berdua barengan, itu karena kalian buat salah?" tanya Mama, lalu Reya dan Gara kompak menganggukkan kepalanya.


"Kalau bukan karena itu apa lagi? Biasanya kami bakalan langsung disidang kalau ketahuan berantem."


"Duduk dulu makanya, ada hal lain yang mau Mama bahas dan kali ini bukan karena pertengahan kalian berdua."


Keduanya duduk dengan patuh, berhadapan dengan Mama dan Papanya.


"Kalian tau kalau masa liburan tinggal sebentar lagi 'kan?"


Reya dan Gara kembali kompak menganggukkan kepala sebagai jawaban.


"Apalagi kamu Reya, semester ini bakalan magang di perusahaan ataupun butik. Mama mau kamu refreshing sebelum masa itu tiba. Karena dunia magang adalah gambaran ketika kamu berada di dunia kerja nantinya. Walau hanya lima puluh persen dari dunia kerja sepenuhnya. Mama tau kamu akan sedikit susah beradaptasi dan akan lelah. Makanya Mama mau ajak kamu dan Gara liburan."


Keduanya saling menatap kemudian tersebut lebar.


"Emang kita mau kemana? Aku sama sekali gak kepikiran untuk liburan tahun ini."

__ADS_1


Mama meletakkan dua tiket pesawat di atas meja. Mereka berdua mengambil dan membaca kemana tujuan yang dipilih oleh mamanya.


"Sabang? Mama mau bawa kita ke pulau indah di Aceh itu?" tanya Reya sangat antusias


"Iya, kamu belum pernah ke sana. Makanya Mama mau ajak kalian ke sana, kalau ke Bali sudah sering dan pasti kamu bosan. Gimana, kamu setuju enggak dengan pilihan liburan dari Mama."


"Senang banget, aku gak nyangka kalau akhirnya bisa ke sini." Reya melirik ke arah Gara yang masih fokus melihat tiketnya.


"Kenapa diam aja, lo gak senang dan gak mau ke sana."


"Bukan gitu, gue masih gak nyangka kalau akhirnya bisa ke sini." Barulah terlihat senyuman di wajah Gara yang terlihat senang.


"Kapan kita mau perginya, Ma?"


"Besok, makanya Mama kasih tau sekarang supaya kamu bisa menyiapkan diri. Maaf karena Mama baru bisa kasih tau sekarang, karena Mama sama Papa baru bisa dapat libur kerjanya sekarang."


Tanpa aba-aba Reya langsung memeluk mamanya dengan erat. "Makasih banyak karena Mama udah mewujudkan salah satu impian Reya. Gak nyangka banget kalau akhirnya Reya bisa menginjakkan kaki ke sana."


"Ya sudah, setelah makan kamu sama Gara bisa siap-siap untuk mencari keperluan yang mau kalian bawa ke sana."


"Aku sama Gara pergi sekarang aja, Ma. Kita berdua bisa makan di luar. Lo setuju sama apa yang gue bilang 'kan?"


"Nah, aku sama Gara pergi sekarang. Paling penting yang harus dicari adalah kacamata. Karena kita bakalan ke pantai yang indah di sana."


Reya langsung lari menaiki tangga.


"Semangat banget dia kalau diajak ketempat yang dia suka."


Gara geleng-geleng kepala dan ikut ke kamarnya untuk berganti pakaian.


Keduanya sampai ke tempat yang Reya sarankan. Gara mengikuti dari belakang dan Reya masuk ke dalam sembari melompat-lompat kecil.


Toko ini menjual lengkap barang-barang yang dibutuhkan untuk berlibur. Begitulah keterangan yang tertera di pamflet yang ada di dalam toko. Jadi mereka berdua memutuskan untuk melihat-lihat.


"Jessi, gak nyangka kita bakalan ketemu di sini."


Jessi yang sedang bersama temannya tersenyum menyapa Gara dan Reya.

__ADS_1


"Mau cari perlengkapan buat liburan juga?" tanya gadis itu.


"Iya nih, mau liburan sebelum masuk kuliah. Kamu sendiri lagi cari apa?"


"Perlengkapan buat ke gunung, Kak. Rencana mau di gunung selama tiga malam."


"Wah, kuat lo ya sanggup naik gunung. Kalau gue sendiri gak pernah ke gunung karena takut kebanyakan ngeluh dan ngomong kasar."


Jessi tertawa pelan mendengarkan alasan Reya. "Sebenarnya ini acara anak kelas, Kak. Tapi Gara katanya gak bisa ikut, ternyata emang mau liburan keluarga."


Reya menoleh ke arah Gara, merasa sedikit aneh. Cowok itu saja baru tau mamanya mengajak liburan hari ini. Kenapa dia menolak untuk naik gunung bersama teman yang sebenarnya lebih seru.


"Ah iya karena itu dia nolak, ya uda gue sama Gara ke sana dulu ya. Karena perlengkapan pantai di jual sebelah sana."


"Oke, Kak."


Gara dan Reya langsung berpisah dengan Jessi. Reya menghentikan langkahnya untuk menoleh ke arah Gara.


"Apa sebenarnya alasan lo gak mau ikut sama acara kelas? Padahal gue rasa bakalan sangat seru menghabiskan banyak waktu bareng teman."


"Malas aja, gue gak punya alasan spesifik."


"Alasan, bilang aja lo takut atau enggak kuat mendaki."


Gara menghela nafas dan mengeluarkan ponsel dari saku celananya. Menunjukkan beberapa foto di sana. "Gue udah sering ke gunung yang mau mereka datangi. Jadi ngapain gue ke tempat yang sama secara berulang-ulang."


"Terus lo doang yang enggak ikut apa ada yang lainnya juga?"


"Kalau cowok gue doang, kalau cewek ada beberapa."


"Wah, berarti Gabriel ikut dong?"


"Cowok gue doang yang enggak ikut, berarti lo paham sama maksud kalimat itu 'kan?"


Reya memutar bola mata malas dan mencibir Gara tanpa suara. Entah kenapa nada bicara Gara terdengar sangat jutek.


"Setelah nolak Arkan lo mau coba sama Gabriel?'

__ADS_1


"Maksud lo gimana ya? Gue sama sekali gak ada hubungan sama Gabriel."


Gara mendekat dan sedikit mencondongkan tubuhnya untuk menatap mata Reya. "Kalau enggak ada hubungan apa-apa, kenapa lo malah bahas Gabriel saat orangnya gak ada di sini?"


__ADS_2