
Selama berada di kampus Reya terus teringat dengan kata-kata yang Gara ucapkan. Apa memang benar seperti itu? Tapi rasanya terlalu berlebihan jika Arkan sengaja menyewa seseorang untuk menusuk perut dirinya sendiri hanya untuk mendapatkan perhatian dari Reya.
Karena jika itu semua adalah sebuah fakta, maka Arkan bisa dikatakan sangat penuh drama dan sedikit menjijikan.
Reya tetap datang ke rumah sakit sesuai janji, membawakan beberapa jenis buah-buahan juga cemilan. Dia juga berencana untuk memastikan sesuatu selama berada di rumah sakit.
"Re, udah kelar sama urusan kampus?" tanya Arkan yang langsung menyimpan kembali Ipad-nya.
"Iya udah selesai, urusannya cuma sebentar. Kamu habis ngapain?"
"Cek-cek email kerjaan dari kantor, mana tau ada yang bisa Kakak selesaikan."
Reya manggut-manggut kemudian menarik kursi dan mendekat ke arah posisi keberadaan Arkan.
"Nanti malam aku gak bisa nginap lagi. Kasian Gara harus kena imbasnya kalau aku gak pulang ke rumah. Soalnya mama sama papa udah kasih wejangan buat kita berdua buat gak keluyuran selama mereka pergi."
"Gak apa-apa kalau kamu emang gak bisa menemani Kakak di sini. Kakak juga gak mau repotin kamu terus-menerus."
"Kak, coba aja kasih tau sama sepupu kamu yang cewek. Terus bilang sama dia untuk merahasiakan semuanya dari orang tua kamu. Kalau dia ada di sini rasanya lebih baik karena kamu punya teman."
Arkan tersenyum tipis, merasa senang diperhatikan oleh Reya.
"Kakak gak mau merepotkan dia."
Aneh, benar-benar sangat aneh. Arkan terus saja menolak siapapun yang Reya rekomendasikan untuk menemani dirinya. Lagian sejak kapan ada manusia yang sangat menyembunyikan keberadaannya dalam situasi seperti ini selain Arkan.
"Kabarin teman-teman kamu, Kak. Mereka pasti khawatir dan mencari tau keberadaan kamu sekarang. Aneh pasti rasanya karena kamu menghilang gitu aja." Reya masih berusaha, sebab dia ingin membuktikan bahwa yang Gara katakan adalah sebuah kebenaran.
Bukan sebatas untaian kebencian karena cowok itu tidak suka dengan sikap Arkan.
__ADS_1
"Nanti Kakak kasih tau kalau mereka udah cari kabar Kakak. Yang terpenting sekarang ada kamu di sini yang sama Kakak, itu udah lebih dari cukup kok."
Reya menghela nafas, usahanya sama sekali tidak berhasil dan terbukti bahwa Arkan hanya ingin dirinya ada di sini bukan orang lain.
"Kalau setelah kejadian kamu gak datang ke rumah aku, apa kamu bakalan tetap kasih tau sama aku soal keadaan kamu sekarang. Atau berusaha kamu tutupi seperti yang kamu lakukan ke teman-teman kamu yang lain?”
"Enggak tau kalau soal itu, karena sekarang kamu ada di sini sama Kakak."
Reya yang tidak pernah merasa emosi kepada Arkan, akhirnya hari ini sedikit kesal. Arkan memang berbicara sembari tersenyum, tapi Reya bisa melihat kalau Arkan memang terobsesi kepada dirinya.
"Aku harus pulang sekarang karena ada beberapa hal yang mesti aku urus lagi. Gak bisa lama-lama di sini, Kak "
"Gak bisa kamu di sini sampe jam 6?"
Reya melirik jam dinding yang masih pukul tiga sore, artinya masih sangat lama untuk menunggu jam enam tiba.
"Enggak, Kak. Aku benar-benar ada urusan. Makanya aku saranin sama kamu supaya ada orang lain yang menemani kamu di sini, supaya kamu gak bosan. Aku juga gak punya hak untuk setiap saat berada di sini, karena aku bukan siapa-siapanya kamu." Reya mengambil tasnya. "Aku pulang dulu, Kak."
****
Reya berpapasan dengan Gara yang juga baru sampai ke rumah, cowok itu masih memakai jas laboratorium dan menatap Reya.
"Cepat banget pulang, gue kira lo bakalan nginap di sana lagi malam ini. Karena gak tega tinggalin Arkan sendirian."
Ucapan Gara terdengar agak mengejek, tapi Reya menahan diri untuk tidak emosi. Karena apa yang cowok itu katakan adalah sebuah kebenaran. Jika Gara tidak membahas hal tersebut, mungkin sampai sekarang Reya tidak akan sadar dan masih bisa dibodohi oleh Arkan.
"Lo habis praktikum, masih punya banyak tenaga buat adu argumen sama gue?"
Gara terkekeh dan tertawa karena Reya benar-bener emosi. "Ya maaf, gue cuma nanya kenapa lo sensi gitu sih. Ada sesuatu yang terjadi saat lo berada di rumah sakit sama Arkan?"
__ADS_1
Reya tidak langsung menjawab dan memilih masuk ke dalam rumah. Duduk di sofa ruang keluarga dengan menyandarkan tubuhnya.
"Ternyata benar kalau dia bohong, gue bisa tau semuanya setelah wawancarai dia. Aneh banget gak mau dijenguk sama teman atau keluarga. Gue juga diminta supaya pulang jam 6 aja, mana mau gue lama-lama di sana."
Gara tersenyum lebar. "Gue bilang juga apa, dia cuma akting supaya lo simpati sama dia. Dari dia yang milih datang ke sini aja saat luka dibandingkan langsung ke rumah sakit aja udah aneh. Itu namanya cari perhatian, gue gak nyangka kalau cowok berwibawa kayak dia harus menggunakan cara murahan kayak gitu."
Reya juga sebenarnya tidak menduga. Pasalnya sedari kuliah Arkan memang selalu terlihat berwibawa, irit berbicara kecuali hal yang penting. Ternyata bisa berakting seperti ini juga. Lebih drama dibandingkan cowok-cowok yang sehari-harinya memang sudah lebay.
"Entahlah, gue rasa sekarang dia bukan sebatas suka lagi sama gue. Tapi udah masuk ke fase obsesi. Dia gak mau kalau gue sampe dekat sama cowok lain, padahal dia bukan siapa-siapanya gue."
Gara melepaskan jas laboratorium, berpindah posisi menjadi duduk di sebelah Reya.
"Sekarang lo jangan coba-coba datang lagi ke rumah sakit. Lihat aja dia pasti bakalan pulang ke rumah lebih cepat, karena gak tahan sendirian di sana. Kalaupun gak langsung pulang ke rumah, dia pasti bakalan berusaha bujuk supaya lo mau datang ke sana lagi."
Reya merinding membayangkan Arkan memang akan melakukan hal seperti itu.
"Gak mau gue ke sana lagi, bodoh amat pokoknya. Gue gak bakalan kasih respon kalau dia chat atau telepon gue nantinya."
"Dari yang gue lihat kayaknya lo udah agak takut sama dia, padahal sebelumnya suka banget."
"Namanya perasaan bakalan selalu berubah seiring berjalannya waktu. Gue gak masalah kalau dia suka sampe cinta banget sama gue. Tapi kalau udah memasuki fase obsesi, gue takut. Karena orang kalau udah terobsesi sama satu hal, bakalan melakukan berbagai cara supaya dapetin apa yang dia mau."
Gara menatap perubahan ekspresi Reya saat berbicara, dan terlihat jelas bahwa Reya memang merasa tidak nyaman dengan keadaan yang sekarang.
Gara sendiri juga takut jika sampai terjadi sesuatu kepada cewek ini. Karena jika Arkan sampai berani berakting seperti sekarang, pasti akan ada hal lainnya yang akan dia lakukan.
"Re, lo bisa bebas dari Arkan dengan salah satu cara. Gue rasa ini bakalan ampuh banget buat usir dia pergi."
"Apa? Kasih tau gue, karena gue mau melakukan apapun supaya dia gak berusaha dekat gue lagi."
__ADS_1
Gara menatap Reya lekat-lekat, merasa ragu Reya akan memikirkan dirinya tidak jauh berbeda dengan Arkan. Namun Gara harus mengatakannya sekarang juga.
"Jadi pacar gue Reya."