My Lovely Brother

My Lovely Brother
32. Undangan Pernikahan


__ADS_3

Reya masuk ke dalam cafe, mencari keberadaan seseorang yang mengajak dirinya untuk bertemu di sini. Setelah melihat orang tersebut Reya mendekat dan menarik kursi untuk duduk berhadapan.


”Reya, maaf karena Tante ajak kamu ke sini. Padahal seharusnya kita gak usah ketemu lagi seperti permintaan Gara, tapi Tante datang bukan karena untuk menanyakan kabar Gara."


Mama Gara mengambil sesuatu dari tasnya kemudian meletakkan di atas meja.


"Minggu depan Tante menikah, Tante harap kamu dan keluarga bisa datang ya. Acaranya gak besar kok, hanya untuk kerabat dekat dan beberapa orang luar saja. Lagian ini juga pernikahan kedua Tante, jadi agak aneh kalau diselenggarakan dengan meriah."


Ternyata apa yang Steven katakan memang benar. Semakin ke sini Reya tambah merasa bahwa lingkungan hidupnya memang sangat sempit. Dimana sebentar lagi Steven dan Gara akan menjadi saudara. Sementara Arkan dan Gabriel ternyata sepupuan.


"Reya gak yakin bakalan bisa ajak Gara ke sana atau enggak. Tapi Reya bakalan usaha datang, selamat untuk pernikahan Tante. Semoga kali ini memang pilihan Tante sudah tepat dan gak akan berakhir lagi seperti kemarin."


Mama Gara tersenyum. "Terima kasih untuk doanya, Tante menunggu kehadiran kalian di sana. Gak usah bawa kado segala ya, kedatangan kamu sudah lebih dari cukup untuk Tante."


"Reya bakalan coba ngomong sama semua orang di rumah. Tante jangan kepikiran, Reya bakalan usahakan yang terbaik. Untuk sekarang Tante cukup fokus sama persiapan pernikahan aja."


"Iya, Rey. Tante selalu berterima kasih banyak sama kamu. Oh iya Tante masih ada pekerjaan yang harus diselesaikan. Tante pamit dulu ya, kamu habiskan aja makanannya, sudah dibayar semua kok jangan khawatir.”


"Hati-hati di jalan, Tan."


Mama Gara pergi meninggalkan Reya sendirian. Dia menatap undangan yang ada di tangannya saat ini, sembari bertanya-tanya. Akan seperti apa reaksi Gara setelah melihat undangan tersebut.


Tidak ingin membuang waktu lebih lama, hari juga sudah sore dan cuaca mendung. Reya keluar dari cafe dan berpapasan dengan seseorang yang seharusnya tidak perlu bertemu dengannya di sini.


"Reya, kamu sendirian ke sini?" tanya Arkan.

__ADS_1


Reya melirik perempuan cantik berpenampilan rapi yang berada di sebelahnya. "Tadi sama mamanya Gara, tapi udah pulang duluan. Ini aku juga mau pulang."


"Oh gitu, gak mau sekalian sama Kakak aja? Kita bisa ngobrol-ngobrol dulu di dalam, udah lama juga gak ngobrol."


Reya melirik sekali lagi perempuan di sebelah Arkan yang terlihat tidak nyaman dengan keberadaan Reya.


"Lain kali aja, Kak. Lagian sekarang kamu ada temannya, mungkin memang ada sesuatu yang penting mau kalian bahas. Aku gak mau jadi pengganggu, udah mau hujan juga kayaknya. Aku permisi duluan ya, Kak."


Reya buru-buru melangkah sebelum Arkan mencegah dirinya.


Ternyata selain tidak merasakan kerinduan kepada Arkan, Reya juga tidak merasa cemburu kala melihat Arkan bersama perempuan lain. Sudah bisa dipastikan bahwa perasaan Reya untuk Arkan memang sudah usai 'kan?"


****


Saat makan malam, Reya ragu-ragu menyerahkan undangan tersebut kepada mamanya.


"Tadi sore aku ketemu sama Mama Gara, itu undangan pernikahan dia. Beliau bakalan menikah minggu depan dan mengundang kita semua untuk ke sana."


Gara yang semula makan dengan tenang langsung melirik ke arah Reya.


"Kayaknya lo bukan keras kepala tapi udah tuli. Kenapa masih berhubungan padahal gue udah melarang supaya lo gak ketemu lagi sama dia." Gara membentak.


"Gara!" tegur Papa. "Ini bukan kesalahan Reya, dia menemui mama kamu karena tidak tega dan merasa sungkan untuk menolak. Jangan bicara dengan nada tinggi lagi, apalah saat ada Mama dan Papa di sini."


Reya menghela nafas lega karena masih ada yang membela dirinya.

__ADS_1


"Gara gak bakalan datang ke sana, kalaupun Mama sama Papa mau ke sana. Ngapain Gara datang untuk melihat dia menikah dengan orang lain. Padahal dia sendiri dulu yang bilang, kalau keluarga hanya akan menghambat pekerjannya. Kenapa sekarang semuanya berubah dan memutuskan untuk menikah lagi. Apa dia gak takut bakalan punya anak dan harus disembunyikan dari publik?" tanya Gara.


Kata-katanya terdengar sangat jahat, tapi mata Gara sekarang hampir berkaca-kaca.


"Gar, semua orang bisa berubah seiring berjalannya waktu. Begitu juga dengan Mama lo yang semakin bisa berpikir logis. Mungkin Mama lo akhirnya sadar, kalau hidup sendiri sama sekali gak menyenangkan. Bahkan Mama lo aja gak malu untuk ngomong sama lo di depan banyak orang. Dia sama sekali gak takut kalau publik bakalan tau Mama lo punya seorang putra."


"Lo jangan sok tau, Re. Dia begitu karena udah gak seterkenal dulu. Dia udah tua dan gak banyak orang yang menjadi penggemar dia lagi. Lo sama sekali gak tau proses apa yang gue lewati dulu. Lo pikir semuanya mudah? Sampe gue mau datang ke pernikahan dia dan melihat dia bahagia di sana?"


"Gara, masuk ke kamar kamu. Papa rasa sedari tadi kamu sudah sangat kelewatan. Bagaimanapun juga Reya adalah kakak kamu, gak seharusnya kamu ngomong kasar kayak orang gak punya tata krama gitu."


"Emang gak punya, Pa. Karena sejak kecil aku emang gak pernah diajarkan hal itu oleh seseorang yang aku panggil dengan sebutan Mama. Dia terlalu sibuk bekerja sampai anaknya tumbuh seperti ini."


Gara langsung bangun dari posisi duduknya dan melangkah meninggalkan ruang makan.


Reya kesal kepada Gara, tapi dia tau kalau cowok itu sedang terluka.


"Reya, maaf untuk semua kata-kata yang Gara ucapkan. Dia lagi gak bisa kontrol emosi makanya jadi kayak gitu."


"Gak apa-apa kok, Pa. Reya paham kalau semua ini memang masih sangat sulit untuk diterima oleh Gara. Tapi aku harap Papa juga jangan terlalu keras sama dia. Takutnya Gara berpikir kalau emang gak ada satupun orang yang sayang sama dia di sini."


"Susah memang berbicara dengan Gara. Apa yang Papa bilang juga masih sangat sering dibantah. Tapi Papa tau kalau dia selalu kesepian dan membutuhkan sosok ibu juga keluarga. Makanya saat Papa bilang mau menikah lagi, dia sama sekali gak protes. Gara hanya berkata, dia akan bahagia asal Papanya bahagia. Tapi setelah bertemu dengan mamanya lagi, Gara malah kembali seperti dulu. Mudah emosi dan sangat susah untuk diatur."


"Reya, Pa. Biar Mama aja yang ngomong sama Gara. Mungkin dia memang butuh nasehat dari sosok Ibu. Mama bakalan bicara berdua dengan Gara, kalian berdua jangan ada yang ke lantai dua dulu."


"Reya setuju, Mama pasti lebih bisa menenangkan Gara."

__ADS_1


Mama langsung pergi ke kamar, sementara Reya dan Papa Gara melanjutkan makan walaupun sudah tidak berselera.


Semoga saja Gara memang bisa dibujuk, kalaupun tidak mau datang ke pernikahan mamanya. Setidaknya Gara masih mau berbicara dengan Reya keesokan harinya.


__ADS_2