
Reya dan Gara semakin masuk ke dalam rumah nenek yang padat oleh keluarga yang lain, lalu mereka berdua bertemu dengan seorang wanita paruh baya yang bergaya elegan.
Nenek terlihat jauh lebih muda dibandingkan umurnya yang hampir tujuh puluh tahun. Menatap mereka berdua secara bergantian, tidak ada tatapan ramah dari sana.
”Ma, ini namanya Gara anak dari Mas Bagas.”
Gara mendekat untuk bersalaman supaya terlihat sopan. “Salam kenal, Nek.”
"Datang juga kamu? Saya pikir kamu gak akan pernah datang ke sini." Nenek menatap Reya lekat-lekat.
"Ma, jangan gitu sama Reya. Nanti Reya malah makin susah kalau aku ajak ke sini."
"Mama juga gak berharap untuk dia datang. Kali ini apa ada yang bisa kamu cerita sama Nenek dan bikin bangga?"
Reya meremas gaun bagian samping, selalu pertanyaan seperti ini yang dia dapatkan ketika datang. Karena itu juga Reya enggan, sebab dia tak pernah punya jawaban untuk semua pertanyaan yang diajukan oleh neneknya.
"Reya lagi ujian semester, Nek. Nilainya belum keluar, jadi Reya gak tau apa hasilnya bakalan memuaskan apa enggak."
"Sebagus apapun nilai kamu pasti akan kalah sama Diana. Nenek heran kenapa kamu bisa sangat bodoh dan gak berguna!”
Deg.
Gara kaget mendengarnya, sementara Reya biasa saja seolah dia sudah terbiasa dengan ucapan kasar seperti itu.
"Reya bakalan selalu berusaha buat nenek bangga."
Nenek tersenyum sinis. "Sampai kapan kamu bilang mau berusaha? Dari SD sampe kuliah kamu hampir berakhir, kamu terus kalah dari Diana. Kamu gak akan pernah menang dari dia. Kamu hanya anak pembawa sial di keluarga ini Reya. Saat kamu lahir perusahaan keluarga tiba-tiba jatuh dan papa kamu meninggal karena kamu juga. Apa kamu masih bisa janji bisa membuat saya senang?"
Tubuh Reya langsung bergetar, pembahasan tentang papanya adalah topik paling sensitif dan tidak seharusnya nenek selalu mengungkit itu tiap punya kesempatan untuk membuat Reya terdiam.
"Papa meninggal karena kecelakaan, bukan karena Reya." Gadis itu berbicara dengan menundukkan kepalanya. Tidak berani lagi untuk menatap karena dia tau kalau neneknya sedang murka sekarang.
__ADS_1
"Semua terjadi karena kamu, papa kamu sakit karena kamu dan meninggal juga saat pulang mengantarkan kamu. Sampai kapan kamu mau mengelak terus dan berusaha membela diri?” Suara Nenek terdengar menggema keras walaupun situasi di sini sedang ramai orang.
Reya merasa sesak, mamanya sama sekali tidak membela. Apa mamanya juga berpikir bahwa Reya penyebab papanya meninggal? Tubuh Reya menjadi semakin bergetar dan tangannya dingin.
"Maaf sebelumnya kalau saya ikut campur dalam urusan keluarga kalian. Tapi Nenek sudah terlalu kelewatan berkata seperti itu kepada Reya. Yang namanya maut sudah diatur, kecelakaan itu hanya menjadi alasan kepergiannya. Reya sama sekali gak salah di sini dan berhenti menyalahkan dia."
"Kamu hanya orang baru dan gak tau apa-apa, gak sopan langsung ngomong gitu sama orang yang lebih tua."
Gara sama sekali tidak takut, karena apa yang dia katakan memang tak salah.
"Reya sayang sama papanya, mungkin untuk semua orang yang mengenal beliau memang Reya yang paling menyayanginya. Jadi mana mungkin seorang anak perempuan yang begitu menyayangi papanya mau kehilangan sosok itu. Omongan Nenek sama sekali tidak terdengar wajar dan berhenti menyalahkan Reya untuk kesalahan yang gak pernah dia lakukan."
Gara meraih tangan Reya yang masih menunduk, membawa gadis itu pergi. Entah kemana mereka berdua akan pergi, yang terpenting Reya tidak perlu berada di sini untuk mendengarkan ucapan-ucapan yang hanya akan menyakiti dirinya.
****
"Kalau lo emang gak nyaman sama apa yang nenek bilang, seharusnya lo melawan dengan tegas biar gak ditindas terus."
Gara mengambil posisi duduk di sebelah Reya, mereka berdua berada di pantai dan duduk di bebatuan.
Reya menerima pemberian Gara dan mengelus bagian lengannya yang terbuka. Angin laut terasa sangat dingin dan Reya kedinginan.
Gara yang peka langsung membuka jasnya dan memakaikan di tubuh Reya.
"Gue mau jahat sama lo tapi gak bisa kalau lihat lo kayak gini. Kemana Reya yang keras kepala dan suka membantah, kenapa mendadak kalah dan ciut cuma karena berhadapan sama nenek tua?"
Reya terkekeh. "Gak sopan lo ngomong gitu sama nenek gue."
"Emang dia anggap lo sebagai cucu, bukannya cuma Diana cucu dia dan selalu dibanggakan?"
Hmm, benar juga apa yang Gara katakan. Sejak kecil dia dan Diana memang mendapatkan perlakuan yang berbeda. Diana sering mendapatkan hadiah dari nenek sementara Reya tidak pernah.
__ADS_1
Intinya Reya iri dengan Diana yang sangat cantik dan punya banyak bakat.
"Gue gak tau dia pernah anggap gue cucu apa enggak, tapi dia akan selalu jadi nenek gue. Walaupun dia jahat dan suka bikin sakit hati. Tapi gue yakin suatu hari nanti nenek bakalan bangga sama gue. Semuanya butuh waktu dan proses, gue pasti bisa."
Gara menatap ke arah laut yang terhampar luas. Pemandangan laut saat malam hari adalah kesukaan Gara karena berhasil membuatnya tenang.
"Orang kayak gitu gak akan pernah puas, dia akan selalu meminta lo menjadi lebih hebat setiap harinya tanpa peduli lo terluka. Lakukan apa yang lo mau dan jangan dengerin orang lain."
"Tapi gue senang kalau nenek bangga sama gue. Soalnya gue gak pernah dipuji sama dia."
"Gimana kalau saat lo berhasil meraih sesuatu tapi dia sama sekali gak terlihat bangga, atau parahnya malah meremehkan lo?"
Pertanyaan Gara sukses membuat Reya bungkam, karena dia belum pernah memikirkan itu sebelumnya.
"Jangan terlalu berharap sama manusia karena pasti bakalan dipatahkan. Gue gak mau lo sakit sama ekspektasi yang lo ciptakan sendiri."
Reya memainkan botol soda yang ada di tangannya, dia benci untuk menerima sebuah fakta yang memang sangat sakit.
Kenapa juga Gara harus menyadarkan dirinya secepat ini.
"Kalau lo sendiri gimana, dekat sama nenek?"
Gara menggeleng. "Gue gak punya nenek sejak umur lima tahun. Nenek gue semuanya udah meninggal, jadi gue gak tau gimana rasanya dibandingkan sama sepupu gue yang lain."
"Sorry, gue gak tau soal itu."
"Gak usah minta maaf, gue juga gak sedih. Lagian gue gak dekat banget sama nenek karena jarang ketemu."
Reya manggut-manggut sedikit lebih tau tentang Gara malam ini.
"Makasih banyak karena lo udah narik gue dari sana. Biasanya malam gue bakalan lebih buruk, cuma bisa diam lihat keluarga gue yang lain senang-senang. Mama juga gak pernah bisa lawan nenek, jadinya gue benar-benar merasa disudutkan."
__ADS_1
Gara merangkul bahu Reya. "Lain kali gue bakalan bantu lo supaya gak usah datang ke sana lagi. Gue gak mau lihat lo sakit hati dan diam karena gak jago membela diri."
Reya menghela nafas berat, kenapa Gara selalu baik kepada dirinya?