My Lovely Brother

My Lovely Brother
8. Perbaiki Mood


__ADS_3

“Sebaik-baiknya memendam masalah sendiri, tapi jauh lebih menidngan jika dibagi kepada orang lain.”


****


Dua hari Reya bangun di pagi hari dan melakukan aktivitas tanpa memiliki mood yang baik. Dia hanya keluar dari kamar untuk kuliah, setelah itu kembali mengurung diri dan menyetel lagu menyedihkan untuk bisa menangis sampai puas. Walaupun Reya sendiri bingung, untuk apa menangisi hal yang sama secara berulang-ulang.


Bahkan Reya sering tidak makan ketika mamanya tidak ada di rumah. Atau sengaja turun dari kamarnya ketika tidak ada orang di rumah. Intinya dia sedang di fase malas bertemu dengan banyak orang. Energinya seakan terserap jika dia berbicara dengan orang lain.


Sepertinya aktivitas Gara selama tinggal di rumah ini ialah datang ke kamar Reya dan membangunkan gadis itu dari tidurnya.


Gara berdiri di depan pintu kamar Reya, dia merasa segan untuk mengetuk pintu kamar ini. Tapi dia harus melakukannya dan tidak boleh membiarkan Reya meneruskan niatnya.


"Kenapa lagi? Gue enggak mau keluar dari kamar." Reya berteriak dari dalam, seolah sudah tau bahwa memang Gara orangnya yang mengetuk pintu beberapa kali.


Gara tersenyum tipis dan mengigit bibir dalamnya, dia kembali ragu. Menarik nafas dalam-dalam dan memberanikan dirinya.


"Keluar dari kamar dulu, Re. Bukan gue yang perlu. Tapi Mama sama Papa juga mau ngobrol sama lo."


"Gue enggak mau ketemu siapa-siapa termasuk lo. Jadi tolong tinggalkan gue sendirian.”


Gara merasa lelah jika Reya mode keras kepala seperti sekarang. Tapi dia juga tidak boleh menyerah dan harus berhasil menyeret Reya agar keluar dari kamarnya. "Mau gue dobrak pintunya atau keluar sendiri?”


"Gar, sehari aja jangan nyebelin apa enggak bisa? Gue benar-benar gak mau diganggu sama siapapun. Gue butuh banyak waktu untuk sendiri."


"Udah dua hari waktu yang kami kasih ke lo, jadi jangan banyak alasan dan tolong keluar dari kamar sekarang." Gara tidak akan menyerah pokoknya.


Lalu suasana menjadi hening dan tidak ada pergerakan dari Reya. Gara mengambil ancang-ancang dan menabrak pintu kamar Reya.


"Pintu kamar gue bisa rusak kalau lo dobrak gitu, Gara." Reya berteriak emosi dan terdengar seperti ada sesuatu yang gadis itu lemparkan ke arah pintu.


"Makanya keluar kamar, jangan asik di dalam aja. Lo bisa bagi apa yang lo rasakan, bukan mendam sendirian kayak gak punya siapa-siapa di sini.”


Akhirnya setelah berusaha, Reya membuka pintu kamar dan menatap Gara dengan tatapan tidak suka. "Apalagi alasan lo ganggu gue kayak sekarang? Kayaknya lo harus gue kasih pelajaran supaya bisa berubah."


Gara menatap Reya lekat-lekat, dia bersyukur karena tidak menemukan mata Reya yang sembab gara-gara menangis. "Gue udah kebanyakan dapat pelajaran dari sekolah, di kuliah juga iya. Jadi gue gak perlu mendapatkan itu semua dari lo."


"Ya udah gak usah basa-basi dan menanggapi kalimat gak penting yang baru aja gue bilang. Apa tujuan lo datang kemari?" tanya Reya, seperti biasa selalu judes dan agak kasar. Untung saja Gara sudah terbiasa.


“Cepat siap-siap dan turun ke bawah. Pokoknya lo pake pakaian simpel aja, cukup kaos sama celana panjang. Jangan lupa pake sweater juga."


"Emang mau kemana sih? Gue gak mau kemana-mana, kalian kalau pergi ya silahkan."


Gara menahan pintu yang hendak tertutup kembali. "Pokoknya gue tunggu selama dua puluh menit, kalau lo gak turun. Gue bakalan datang lagi dan dobrak pintunya sampai terbuka."


Reya merasa sangat malas tapi dia tau kalau Gara adalah tipe cowok yang nekat. Dia tidak mau kalau pintu kamarnya akan rusak hanya gara-gara ulah cowok ini. "Ya udah sana pergi, gue bakalan siap-siap. Awas aja kalau acaranya gak penting, gue pukul lo."


“Galak banget."


Reya langsung menutup pintu dengan kencang, Gara berjalan turun ke lantai bawah. Kemudian mengacungkan kedua jempol ke arah Mama dan papanya. Semoga saja ide mereka untuk mengembalikan mood Reya berakhir baik.


****


Piknik. Itu adalah rencana ketiga orang yang katanya menyayangi Reya. Mereka tiba di sebuah tempat pemancingan yang juga ramai dikunjungi oleh keluarga untuk bersantai bersama-sama.


"Ma, Reya bukan anak kecil lagi dan kenapa malah dibawa ke sini? Tempat kayak gini cocoknya buat Gara, dia masih kekanak-kanakan."

__ADS_1


“Siap si paling dewasa," ujar Gara yang berdiri di sebelah Reya.


"Daripada di kamar terus dan suntuk, kamu harus memanfaatkan kesempatan di hari Sabtu dan Minggu untuk main. Supaya kepala kamu gak sakit, lihat alam di sini indah banget."


Memang Reya mengakui bahwa pemandangan di sini indah dan tampak sejuk. Tapi dia tidak merasa dirinya membaik hanya karena menempuh perjalanan ke sini selama dua jam dan bertemu alam.


"Kita ke sana aja, gue dengar-dengar di arah sana ada air terjun. Walaupun enggak terlalu tinggi, tapi gue yakin lo bakalan suka." Gara menyarankan, berharap Reya akan tertarik.


“Bukannya lo mau mancing sama Papa lo ke sini? Kenapa malah ajak gue ke tempat lain.”


"Papa kita sekarang, Re. Biarin Papa mancing ditemenin Mama dulu, gue pastikan lo bakalan senang dan melupakan semua masalah setelah pulang dari sini."


"Seberapa yakin kalau ide lo bakalan berjalan dengan baik dan mengembalikan mood gue?" tanya Reya yang masih terlihat tidak bersemangat dan bertahan di posisinya.


"Sekitar sembilan puluh persen deh, tapi gue beneran yakin."


Karena rasa penasaran dan Reya juga tidak suka dengan suasana di area memancing. Akhirnya dia setuju dan akan melihat apa rencana yang sudah disusun oleh Gara untuk mengembalikan moodnya.


“Ma, Pa. Gara sama Reya ke sana dulu, buat lihat air terjun ya."


“Hati-hati kalian berdua," ujar Mama yang sudah duduk di kursi dan menemani papa memancing.


Gara membantu Reya untuk melangkah, sebab jalan menuju ke air terjun dalam posisi menurun. Takutnya bila tubuh Reya tidak mendapatkan keseimbangan, gadis ini akan terjatuh dan berguling-guling di tanah. Apalagi ini kali pertama Reya datang kemari, jadi dia jelas tidak mengerti mengenai rutenya.


Tentu jika itu sampai terjadi, Reya akan semakin badmood dan kemungkinan membunuh Gara di sini.


"Masih jauh?" tanya Reya.


"Lumayan, lo capek?"


“Gak mungkin gue yang bunuh lo, kecuali kalau lo yang bunuh gue itu baru mungkin.” Gara terkekeh, akhirnya dia mengetahui kelemahan Reya yang lainnya hari ini. "Di sini emang sepi, tapi kalau udah sampe di sana bakalan rame kok. Jangan takut kalau bakalan berdua doang sama gue.”


Reya menurut saja, tangannya dan Gara saling menggenggam untuk berpegangan agar tidak ada yang jatuh.


Sampai akhirnya Reya lupa berkedip ketika melihat pemandangan yang tersaji di sini. Air terjunnya memang tidak terlihat begitu tinggi, tapi terlihat sangat indah dan segar.


"Gue lupa bawa baju ganti lagi, padahal pengen mandi. Lo harus tau kalau mandi di sini bikin segar banget."


"Lo sering datang ke sini?" tanya Reya.


Gara menganggukkan kepalanya. "Setelah mama sama papa cerai, papa suka cari tempat menenangkan diri. Sampai akhirnya dia ketemu sama air terjun ini. Dulu gak rame kayak sekarang, tapi karena udah banyak yang tau jadi makin rame."


Reya terdiam setelah mendengarkan jawaban dari Gara. Kemudian mereka berdua duduk di atas bebatuan dan Reya mencelupkan kakinya ke dalam air.


“Sial, dingin banget. Kenapa lo gak bilang kalau airnya bakalan dingin kayak air kulkas."


"Gue kira lo tau, namanya juga lagi di alam dan airnya langsung berasal dari penggunungan yang gak jauh dari sini." Gara tersenyum senang, sebab setelah sekian lama dia bisa datang lagi ke salah satu tempat favoritnya.


"Oh iya, lo baik-baik aja saat mama dan papa lo memutuskan untuk cerai?"


Gara menggeleng. "Gak ada anak yang bakalan baik-baik aja saat kedua orang tuanya memutuskan untuk berpisah. Walaupun gue kelihatan kayak gak peduli, padahal aslinya sakit banget."


Reya mengamati wajah Gara, cowok ini sangat pandai menahan ekspresinya agar tidak terlihat menyedihkan.


"Gue cuma bingung harus apa saat bangun dan gak menemukan mama di rumah lagi. Gue bingung mau minta buatin makanan terenak sama siapa. Terus gak akan ada yang cari dan ngomel kalau gue gak pulang sampe tengah malam, intinya gue mikir bakalan susah untuk terbiasa. Tapi ternyata pada akhirnya gue bisa, karena dipaksa oleh keadaan."

__ADS_1


"Kenapa lo gak ikut sama Mama, kalau emang lebih nyaman?"


"Mama yang salah di sini, Re. Mama selingkuh sama rekan kerjanya dan dia gak mau bawa gue. Sebab dia mau karirnya terus maju, dia gak bakalan mengenalkan gue ke publik."


Reya manggut-manggut, dia bisa menebak apa pekerjaan dari mama Gara. Walaupun sebelumnya dia tidak pernah ingin tau.


"Tapi setelah mereka cerai, lo masih sering ketemu sama Mama?" tanya Reya yang tidak bisa menahan rasa penasarannya.


“Pernah dua kali kalau enggak salah, tapi gue menghindar. Gue anggap dia gak ada, karena dia sendiri yang memutuskan untuk pergi. Dia bahagia sama kehidupannya sekarang, artinya gue juga harus."


Reya menatap ke depan, memandangi air terjun dengan ingatan yang tertuju ke hari dimana papanya pergi untuk selama-lamanya.


Jika saja malam itu Reya menahan kepergian papanya yang hendak bertemu dengan klien, mungkin sampai hari ini papanya masih hidup dan dia tidak pernah bertemu dengan Gara.


Mungkin mereka masih bisa bertemu karena berada di kampus yang sama, tapi tidak dengan status seperti sekarang.


"Gimana hubungan lo sama Steven, apa semuanya udah membaik?"


Reya menarik nafas perlahan dan menggelengkan kepalanya.


"Gue pengecut, Gar. Gue menghindar dari dia tiap kali Steven mau bahas itu. Karena gue rasa mood gue emang belum stabil, gue gak mau gegabah dan berakhir dengan penyesalan."


"Tapi kesalahan Steven fatal, gue takut lo mendapatkan rasa sakit yang sama untuk berulang kali."


“Lo mendoakan itu untuk gue?"


Gara menghela nafas, dia lupa bahwa Reya sering sekali salah paham kepada dirinya dan memikirkan seseorang yang sama sekali tidak Gara maksud.


"Lihat wajah gue sekarang, apa gue terlihat seperti itu? Gue cuma gak mau lo sakit, contohnya kayak sekarang. Lo jadi galau dan sering melamun, gak ada semangat ketemu sama orang lain. Gue cuma mau tau, apa lo mau fase seperti ini berulang-ulang kesekian kalinya?" tanya Gara berusaha sesantai mungkin sebab dia tau Reya sedang dalam mode sensitif.


"Gue yang lihat aja gak tega, Re. Apalagi lo yang merasakan itu semua." Gara melanjutkan kalimatnya.


“Gue gak butuh dikasihani sama siapapun termasuk lo dan gue gak apa-apa. Buktinya gue bisa di sini dan baik-baik aja.”


Gara langsung memotong kata-kata yang baru saha Reya ucapkan. "Gak ada orang gak apa-apa tapi memutuskan sendirian padahal ada orang lain yang bisa diajak bicara. Lo cuma lagi membohongi diri sendiri, Re. Jadi berhenti berpura-pura di depan gue."


Reya menaruh jari telunjuknya di depan bibir Gara. "Jangan bahas itu, bukannya niat lo ajak gue ke sini supaya gue kembali ceria? Jadi jangan ungkit soal Steven lagi. Kalau lo terus bahas, yang ada pulang dari sini gue tetap merasa sakit.”


Benar juga, Gara hampir lupa sebab emosinya terlalu menggebu-gebu. Ada rasa ingin mendatangi Steven dan menghajar cowok itu. Tapi Gara tau bahwa dia tidak punya hak dan akan terlihat berlebihan di mata Reya. Apalagi Gara tau bahwa Reya tidak pernah suka ada orang lain yang ikut campur dalam urusan pribadinya.


Walaupun niat Gara baik dan ingin membela gadis ini.


"Mau gue fotoin gak? Rugi banget udah capek-capek ke sini tapi gak mengabadikan momen. Gue juga lumayan jago foto kok, gue yakin lo bakalan suka sama hasilnya."


Reya tidak menolak, dia mengeluarkan ponsel keluaran terbaru dari saku celana kainnya. Kemudian menyerahkan kepada Gara. "Fotoin yang banyak dan harus cantik, kalau gak cantik diulang-ulang sampe dapat yang bagus pokoknya."


Gara bangun dari posisi duduknya dan Reya mulai bergaya. Dia berusaha mengambil foto sebaik mungkin agar Reya merasa puas. Setelah beberapa gaya, Reya memutuskan untuk melihat hasilnya.


Entah karena kesenangan, Reya refleks memeluk Gara dengan senyuman lebar terukir di wajahnya.


“Cantik." Gara bergumam tanpa sadar.


"Lo lagi muji siapa?" tanya Reya seperti orang bodoh, padahal jelas-jelas dia yang ada di dekat Gara dan mata cowok itu sedang tertuju ke arah dirinya.


"Lo cantik kalau senyum, sering-sering senyum ya. Gue suka lihat lo senyum kayak gini."

__ADS_1


Sial, Gara ternyata berbahaya juga untuk kesehatan jantung Reya.


__ADS_2