My Lovely Brother

My Lovely Brother
56. Dosa


__ADS_3

Presentasi yang dilakukan oleh Reya dan Arkan berjalan dengan lancar, respon yang diberikan oleh klien juga bisa dikatakan sangat baik.


Mereka terlihat puas dengan produk yang ditunjukkan oleh Arkan dan Reya. Gadis itu yang semula takut Arkan akan mempermalukan dirinya kini merasa lega karena Arkan tidak melakukan hal keji seperti itu. Reya hanya terlalu suudzon kepada Arkan, sebab tidak bisa mempercayai cowok itu.


"Selamat ya, Reya. Kakak udah bilang kalau kamu bisa melakukan itu. Lihat respon positif yang kamu dapatkan dari klien tadi."


"Makasih juga karena Kakak mau bimbing aku dengan baik. Kalau enggak aku pasti merasa deg-degan dan gugup banget."


Joa merangkul bahu Reya sembari mengacungkan jempolnya. Terlihat sangat bangga juga dengan hal yang baru saja Reya lakukan.


"Kita akan mendapatkan keputusannya dua hari lagi, semoga saja mendapatkan hasil yang terbaik melihat mereka memberikan respon yang positif."


Setelah itu Arkan masuk ke dalam ruang kerjanya. Begitu juga dengan Reya yang mengikuti langkah kaki Joa.


"Sekarang Mbak gak kaget dan gak heran lagi kalau Pak Arkan suka sama kamu, karena kamu emang pantas untuk disukai."


Reya meletakkan jarinya di depan bibir, memperingatkan Joa supaya tidak berbicara terlalu keras. Karena pasti akan ada banyak karyawan yang mendengarkan pembicaraan mereka sekarang.


"Udah, jangan dibahas lagi. Aku mau lanjut kerja aja, Mbak."


"Salah tingkah nih karena dipuji?"


Reya menggeleng, harus bagaimana dia menjelaskan supaya Joa berhenti mengganggu dirinya. Bagaimanapun Reya dan Arkan tidak pernah punya hubungan lagi sejak hari itu.


"Ya udah enggak Mbak ganggu lagi kamunya biar fokus kerja. Tapi kalau nanti kamu jadian sama Pak Arkan, Mbak adalah orang pertama yang harus kamu kasih traktiran."


Reya menganggukkan kepalanya saja, mungkin dengan cara itu Joa akan berhenti berceloteh. Soal dia akan jadian dengan Arkan, jelas itu tidak akan pernah terjadi sampai kapanpun.


****


Malam harinya seperti biasa Reya dan lainnya berkumpul di ruang makan, untuk makan malam bersama. Gara masih banyak diam dan selalu menghindari kontak mata dengan sang ayah.


"Mama dengar dari Arkan, katanya tadi kamu yang pimpin rapat sama dia." Mama tersenyum senang.


"Beritanya cepat banget sampe ke Mama, Kak Arkan sendiri yang bilang?"


"Iya, dia telepon Mama pas jam makan siang. Mama awalnya kaget karena kamu gak pernah menceritakan hal ini sebelumnya. Ternyata emang dadakan banget kamu dapat perintah dari Arkan."


"Iya gitulah, Ma. Reya baru dapat perintah pas paginya. Cuma satu jam waktu Reya mempelajari semuanya dan Reya berhasil."


"Selamat ya, Mama sangat bangga sama kamu."


Reya padahal tadi biasa saja saat berada di kantor, tapi ketika mamanya memberikan pujian seperti sekarang dirinya merasa sangat senang.


"Reya juga bangga sama diri sendiri."

__ADS_1


"Kalau kamu udah pernah mendapatkan kesempatan ini, akan sangat bagus ke depannya Reya. Kamu bakalan dikasih kesempatan lagi, mana tau presentasi tadi emang berhasil menarik klien itu untuk bekerja sama."


"Semoga aja emang gitu, Pa."


Reya melirik Gara yang duduk di sisinya, terlihat sangat nyaman ketika makan dan sama sekali tidak bersuara.


Padahal Reya berharap Gara akan berkata bangga kepada dirinya. Mungkin jika iya, kebahagiaan Reya akan bertambah berkali-kali lipat.


"Gar, kamu lahap banget makannya. Tadi siang enggak makan?" tanya Mama yang akhirnya sadar bahwa sedari tadi Gara terlalu banyak diam.


"Masakan Mama enak, makanya Gara makan dengan lahap."


"Pelan-pelan aja makanannya, nanti kamu tersedak. Lagian makanannya gak bakalan di makan sama Reya kok."


Reya memutar bola matanya malas karena dia dilibatkan tanpa persetujuan dari dirinya.


"Gara ke kamar dulu, ada laporan praktikum yang harus dikerjain."


Reya ikut menyusul, dia beralasan sudah kenyang. Padahal ingin berbicara dengan Gara.


Gadis itu mengetuk pintu, sampai Gara meminta supaya Reya langsung masuk saja. Reya jelas bingung dengan Gara yang sekarang malah rebahan di kasur sambil bermain HP. Padahal tadi dia berkata akan mengerjakan laporan praktikum.


"Kok malah rebahan, katanya ada tugas."


"Bohong, gue cuma mau cepat-cepat kabur ke kamar sebelum Papa ajak bicara."


"Sini rebahan di samping gue."


"Gila ya lo, kalau mereka berdua lihat bisa habis kita."


Gara malah tertawa, sebab eskpresi ketakutan Reya terlihat sangat lucu.


"Gak akan diapa-apain, cuma rebahan doang. Kecuali gue having *** sama lo, baru kita bisa di usir dari rumah."


Reya mendekat, mengambil satu bantal dan melemparkan ke wajah Gara. "Gak usah asal ngomong ya lo."


"Hmm, kemarin aja kalau gak gue tahan lo pasti bakalan kelepasan. Maksudnya kita bakalan kelepasan dan berakhir melakukan hal yang lebih daripada ciuman."


Reya menghela nafas dan duduk di kursi. Kamar Gara dan dirinya sangat jauh berbeda. Kamar cowok ini terlihat lebih hampa, terkecuali tumpukan kertas-kertas yang ada di atas mejanya.


"Gue tadi berhasil presentasi di depan klien penting. Lo gak mau kasih ucapan selamat?"


"Karena itu lo datang ke kamar gue?" tanya Gara dan Reya menganggukkan kepalanya. Dia sudah menghilangkan rasa gengsi yang sedari tadi dia tahan.


"Hmm, kayaknya gue bakalan lebih senang kalau mendapatkan pujian dari lo juga."

__ADS_1


Perlahan Gara bangun dari posisi tidurnya, melangkah mendekat ke arah pintu dan menguncinya.


"Kenapa dikunci, lo gak mau macam-macam sama gue 'kan?"


"Buat jaga-jaga aja." Gara duduk di meja, sedangkan Reya masih berada di kursi.


Mereka berdua bertatapan, tangan Gara bergerak merapikan rambut Reya yang sedikit menutupi wajahnya.


"Gue selalu bangga sama lo, gak pernah enggak bangga. Tapi gue cemburu karena yang kasih ucapan selamat buat lo udah pasti Arkan. Makanya gue mau melakukan hal lain bukan sebatas ucapan selamat."


"Lo mau apa?" tanya Reya terbata-bata.


"Cium lo, boleh gak?"


Deg.


Jantung Reya langsung berdetak tidak beraturan. Dia menatap Gara ragu-ragu dan menemukan bahwa Gara sama sekali tidak bercanda.


"Boleh enggak?" tanya Gara sekali lagi.


Reya menganggukkan kepalanya. Gara menarik tangan Reya, mereka berjalan menuju ke kasur. Gara duduk di atas tempat tidur, kemudian meminta Reya agar duduk di atas pangkuannya.


"Gue kangen banget sama lo, Rey."


Gara mendekatkan wajahnya dan langsung mencium bibir Reya dengan gerakan lembut. Awalnya memang pelan-pelan tapi berubah menjadi lebih nakal kala mereka berdua sudah terhanyut dalam permainan masing-masing.


Gara menjauhkan wajahnya kala merasakan Reya hampir kehabisan nafas. Dia mengelap bibir Reya yang agak basah karena perbuatannya.


"Cantik banget."


Gara beralih mencium leher Reya.


"Pengen banget gue kasih tanda supaya Arkan gak modus sama lo lagi."


"Jangan gila, gue bisa dipecat."


Gara kembali memberikan gigitan pelan di leher Reya tanpa aba-aba membaringkan tubuh Reya di atas tempat tidur. Baju Reya yang pendek tersingkap sampai memperlihatkan celana pendek yang dia kenakan juga perutnya yang putih mulus.


Gara semakin gelap mata, mulai menyentuh pinggang Reya secara perlahan. Semakin naik ke atas, sampai Gara menyadari Reya sedang menahan nafas.


Gara memegang sesuatu yang menonjol besar di sana, memberikan remasan perlahan sampai Reya mengeluarkan suara *******.


"Gar, jangan permainkan gue."


Gara kembali mencium bibir Reya supaya gadis itu tidak banyak bicara. Disela-sela ciuman Gara bertanya kepada Reya yang wajahnya sudah sangat memerah sekarang.

__ADS_1


"Lo sengaja gak pake bra ya?"


__ADS_2