
Gara bangun di pagi hari dengan kepala yang terasa sangat sakit. Dia menemukan keadaan kamarnya yang sudah terang karena cahaya matahari yang berhasil masuk dari sela-sela ventilasi.
Gara melihat jam yang menunjukkan pukul satu siang. Sial, dia sudah melewati dua mata kuliah hari ini. Kenapa tidak ada yang membangunkan dirinya.
Gara mencuci muka dan turun ke bawah karena perutnya terasa sangat lapar. Dia menemukan keberadaan Reya yang duduk di sana dengan pakaian rapi, sepertinya Reya baru saja pulang dari kampus. Mama dan papanya juga ada di sini. Semua orang menatap ke arah dirinya sekarang.
"Gar, sini kamu." Panggil papanya.
Gara sudah tau kalau dirinya akan mendapatkan omelan karena kejadian tadi malam.
"Papa gak pernah suka dengan gaya kamu yang mabuk-mabukan. Mentang-mentang Mama sama Papa gak ada di rumah, kamu menggunakan kesempatan itu untuk aneh-aneh? Untung Reya yang jemput kamu, gimana kalau kamu berakhir dengan posisi gak baik? Keadaan mabuk bikin kamu bisa melakukan hal-hal di luar nalar. Papa gak mau kamu terlibat dalam kasus buruk.”
Gara menundukkan kepalanya, dia sendiri juga bingung kenapa tadi malam langsung memutuskan untuk datang ke klub. Hanya karena pikirannya sedikit kacau, akibat kebanyakan memikirkan Reya.
"Gara cuma mau senang-senang aja karena kebanyakan tugas, Pa. Gara butuh pelampiasan makanya datang ke sana. Gak ada niatan lain selain itu.”
"Lain kali jangan gitu, Gar. Kamu bisa melakukan hal lainnya, mabuk gak mengatasi masalah kamu. Hanya bisa lupa beberapa jam, setelah itu kembali ingat lagi. Kamu cuma bakalan merasa sakit kepala dan pusing saat bangun seperti ini" Mama ikut memberikan nasihat.
Reya hanya diam dan fokus dengan makanannya. Dia juga tidak ingin campur dengan apa yang terjadi kepada Gara. Masih syukur tadi malam mama dan papa percaya kalau dirinya dalam posisi tersebut karena pengaruh Gara yang sedang mabuk.
Bayangkan kalau mereka berdua curiga ada yang terjadi di antara Gara dan Reya. Pasti Reya akan ikut diwawancarai sampai tuntas.
"Ya udah kamu makan dulu, Mama tadi udah beberapa kali coba bangunin kamu tapi gak bisa. Mama juga sudah bilang sama Reya supaya dia kasih tau teman kamu, kalau kamu gak bisa masuk karena lagi sakit. Kamu udah menyampaikan amanah Mama 'kan?"
"Udah kok, Ma. Tadi aku ketemu sama Jessi, teman satu jurusan Gara. Dia pasti bakalan bilang sama dosen pesan dari aku." Reya selesai dengan makanannya. "Reya ke kamar dulu mau tidur."
Gara menatap kepergian Reya, dia bertanya-tanya apa saja yang terjadi tadi malam karena Gara sama sekali tidak mengingatnya.
****
__ADS_1
Reya sedang rebahan di tempat tidur karena tubuhnya terasa sangat lelah. Mungkin karena keluar di tengah malam dan kekurangan tidur, apalagi hari ini dia mendapatkan kelas pertama di jam delapan pagi.
Saat pintu kamarnya diketuk dari luar, Reya sudah tau siapa yang datang. "Masuk aja gak gue kunci pintunya."
Gara masuk ke dalam, menarik kursi dan berhadapan dengan Reya yang sedang duduk di kasur.
"Semalam gue gak aneh-aneh sama lo 'kan?"
"Lo gak ingat apa-apa tentang yang terjadi tadi malam?"
Gara menggeleng, dia pikir setelah makan bisa membuatnya mengingat apa yang terjadi tadi malam. Tapi ternyata tidak berhasil sama sekali. Gara hanya ingat kejadian sebelum dirinya berakhir mabuk.
"Gak ada yang terjadi, gue cuma jemput lo ke sana dan bawa pulang ke rumah. Terus pas gue lagi bantu lo tidur, mama sama papa pulang dan lihat keadaan lo kayak gitu. Gue melakukan itu semua bukan karena gue peduli sama lo, tapi sebatas ucapan terima kasih karena lo pernah baik pas gue sakit."
Gara menganggukkan kepalanya mengerti, lagian dia juga tidak berharap apa-apa lagi kepada Reya. "Makasih karena lo udah repot-repot buat jemput gue tadi malam. Itu aja yang mau gue tanya sama lo, gue takut melakukan hal-hal gak pantas karena gak sadar."
Setelah itu Gara keluar dari kamar, Reya menatap pintunya kamarnya yang kembali tertutup dengan perasaan janggal.
Namun lebih baik lagi karena Reya bisa melanjutkan tidurnya yang tertunda.
Saat Gara keluar dari kamar Reya, dia menemukan keberadaan papanya. "Gara, Papa mau ngomong sama kamu. Hanya berdua aja, karena ada hal penting yang harus kita bicarakan."
"Boleh, Papa mau ngomong di kamarnya Gara?"
Papanya menggeleng. "Kita ke rooftop aja, Papa gak mau ada orang lain yang dengar pembicaraan kita."
Keduanya berjalan menaiki tangga dan menuju rooftop. Di sini memang tersedia kursi karena mama Reya suka bersantai ketika lelah bekerja.
"Papa mau tanya sama kamu, ada hubungan apa kamu sama Reya? Papa sadar ada sesuatu yang berbeda di antara kalian berdua. Kalian dekat tapi bukan seperti kakak dan adik."
__ADS_1
"Enggak ada hubungan apa-apa, Pa. Papa tau sendiri kalau selama ini Reya punya pacar, mana mungkin dia ada hubungan lain sama aku."
Gara menjawab dengan santai, lagian memang tidak ada hal seperti itu di antara dirinya dan Reya.
"Ya udah Papa ganti pertanyaan supaya kamu lebih paham. Apa yang kamu rasakan ke Reya? Perasaan bukan sebagai adik ke kakaknya 'kan?"
Gara terdiam beberapa saat, dia harus menjawab apa? Papanya jelas akan tau kalau dirinya berbohong, karena papanya sangat mengenali karakter Gara.
”Jujur aja Gara, Papa pernah muda dan tau apa yang kamu rasakan sekarang.”
"Aku suka sama Reya, Pa. Suka melebihi adik ke kakaknya, bahkan sebelum Papa kenal sama mamanya. Reya salah satu senior di kampus yang berhasil bikin aku naksir sejak hari pertama masuk kuliah. Lalu aku sama sekali gak menyangka akan bertemu Reya sebagai calon kakak tiri aku."
Papanya sama sekali tidak terlihat kaget, yang artinya beliau memang sudah tau apa yang Gara rasakan. Papanya bertanya tanya untuk memastikan bahwa beliau tidak salah menilai.
"Tapi perasaan seperti itu udah bisa dihilangkan Gara. Reya bukan lagi sebatas senior yang kamu suka dan akan bisa kamu miliki. Reya kakak kamu sekarang, gak ada hubungan lain kecuali itu di antara kalian berdua."
Gara menatap lurus ke depan dengan hati yang terasa sangat sakit. Dia tau bahwa papanya jelas akan menentang dan mama Reya juga akan melakukan hal yang sama.
"Tapi aku sama Reya sama sekali gak punya ikatan darah, Pa. Kami berdua hanya orang asing yang sekarang terpaksa menjadi saudara. Aku bisa saja mencintai Reya begitu juga sebaliknya. Kami masih bisa menikah, Pa."
"Enggak Gara, Papa gak pernah setuju sama apa yang kamu bilang. Mama Reya juga gak akan setuju, jadi tolong berhenti sebelum perasaan kamu ke Reya semakin dalam. Lagian Papa lihat selama ini hanya kamu yang jatuh cinta sendirian, sementara Reya enggak merasakan hal itu."
"Darimana Papa tau kalau Reya enggak punya rasa yang sama ke aku?" tanya Gara.
"Mata kamu selalu terlihat berbinar tiap kali menatap Reya, sangat tampak jelas kalau kamu emang suka banget sama dia. Sayangnya Papa gak pernah menemukan hal seperti itu di mata Reya. Dia gak pernah melihat kamu sebagai cowok yang dia sukai, bagi Reya kamu memang sebatas saudara tiri aja."
Gara terkekeh. "Papa sok tau, Reya merasakan hal yang sama cuma terlalu gengsi untuk menunjukkan. Tunggu aja sampai waktunya tiba, Reya akan jujur sama perasaannya."
Papanya sama sekali tidak terlihat terusik dan masih santai menanggapi apa yang Gara katakan.
__ADS_1
"Kalau Reya suka sama kamu, pasti ada sesuatu yang akan terjadi tadi malam. Saat kalian berdua di dalam kamar kamu, tapi sayangnya gak ada yang terjadi. Reya emang gak suka sama kamu, dia sadar dan tau kalau kalian gak pernah bisa bersama."
Kata-kata itu sukses membuat Gara bungkam.