
"Jika jatuh cinta padamu adalah sebuah kesalahan, maka biarkan aku berbuat salah untuk selamanya."
****
Baru kali ini Reya bangun cepat walaupun hari Minggu. Dia duduk di atas tempat tidur dan melihat jam dinding yang masih menunjukkan pukul tujuh pagi. Jantungnya terus berdetak kencang sejak tadi malam sampai sekarang.
Janji bertemu dengan Arkan ialah pukul sepuluh, jadi masih ada sekitar tiga jam lagi. Reya keluar dari kamar dan mengetuk pintu kamar Gara. Tumben sekali cowok ini tidak datang untuk mengganggu dirinya, biasanya ada saja hal yang Gara lakukan.
"Kenapa?" tanya Gara membuka pintu dan terlihat baru bangun. Dengan rambut yang masih acak-acakan dan muka bantal.
"Tumben banget baru bangun, biasanya lo selalu lari pagi hari Minggu. Kenapa sekarang enggak?"
Gara membuka lebih lebar pintu kamarnya dan menunjuk sesuatu yang terletak di atas meja. "Gue begadang semalam dan baru tidur jam tiga pagi, makanya gue gak punya banyak tenaga."
Reya masuk ke dalam dan melihat rancangan miniatur yang dibuat oleh Gara. "Ini supermarket?" tanya Reya kagum dengan hasilnya.
"Hmm, jangan pikir buat rusakin. Karena itu menyangkut nyawa gue di mata kuliah."
"Gue gak sejahat itu kali. Mau keluar cari sarapan bareng gue gak?" tanya Reya, karena untuk sekarang kedua orang tuanya sedang berada di luar kota untuk keperluan bisnis.
"Tumben banget pagi ini lo bangun cepat, ada sesuatu yang mau lo lakuin?"
Reya menyengir sebab Gara terlalu peka. "Gue mau ketemu sama Kak Arka jam sepuluh, makanya gue gak bisa tidur nyenyak. Asik kebangun aja daritadi malam, efek terlalu deg-degan kali ya."
"Lo masih ada rasa sama dia?"
Reya bersandar di dinding dan berpikir. "Enggak tau, kayaknya gak suka. Tapi senang aja kalau diajak ketemuan sama dia dan ada di dekat Kak Arkan."
Gara mendirikan dahi Reya. "Itu namanya suka, Re. Masak gitu doang gak tau. Kalau lo gak suka sana orang, lo gak bakalan merasa senang ketemu sama orang itu."
"Bisa jadi kali ya. Ya udah sana lo cuci muka supaya kita cari makan."
Selagi Gara masuk ke dalam kamar mandi untuk mencuci wajahnya. Reya melihat-lihat isi kamar Gara, karen walaupun Gara sudah lumayan lama tinggal di sini. Reya tidak pernah benar-benar masuk ke dalam kamar Gara, berbeda dengan cowok itu yang selalu datang ke kamarnya.
Ada beberapa foto yang Gara letakkan di atas meja belajar. Salah satunya adalah foto dia bersama dengan wanita cantik yang Reya yakini adalah mamanya.
"Katanya benci sama Mama, kenapa fotonya masih lo pajang?" tanya Reya saat Gara sudah keluar dari kamar mandi dan sibuk mengelap wajahnya.
"Gak apa-apa, pengen aja."
"Mama lo cantik banget dan mukanya kayak gak asing di mata gue. Serasa pernah lihat tapi gue lupa pernah lihat dimana."
"Gak penting juga buat diingat." Gara memakai jaket hitam dan menutupi kepalanya dengan tudung jaket. "Ayo."
__ADS_1
Keduanya keluar dari rumah dan berjalan kaki menyusuri komplek. Memang selalu ramai pedagang yang berjualan di sini saat pagi hari.
"Mau makan apa? Jangan ajak gue makan bubur karena gue gak akan mau."
"Gue kepengen nasi kuning sih, kalau lo?" tanya Gara.
"Gue ikut aja samaan kayak lo, bingung juga mau makan apaan."
Lalu mereka berdua memilih duduk di penjual nasi goreng yang juga menjual aneka nasi lainnya.
"Lo gak stress apa masuk jurusan teknik sipil yang tugasnya segunung? Belum lagi kalian harus praktikum sampai Sabtu. Kapan lo bisa libur coba, bahkan ada yang hari Minggu 'kan?"
"Semester depan udah masuk Minggu, lo sendiri juga harusnya bertanya kenapa milih jurusan yang ribet gitu."
Iya juga ya, mereka berdua sama-sama berada di jurusan yang katanya susah dan dihindari oleh banyak orang.
"Gimana sama Jessi, aman?"
Gara menghela nafas, sangat malas jika Reya mulai membahas seseorang yang tidak ada sangkut pautnya dengan mereka. "Lo lupa apa yang gue bilang sama lo? Kayaknya kebanyakan minum obat bikin ingatan lo jadi lebih pendek."
"Gue gak akan anggap serius, karena apa yang lo rasakan itu salah dan gak seharusnya gitu. Gimanapun gue itu tetap Kakak lo dan lo adalah adik tiri gue. Jadi jangan melewati batas untuk mengharapkan sesuatu yang gak mungkin terjadi."
"Kenapa gak mungkin? Asal mau usaha, sesuatu yang gak mungkin juga bakalan jadi mungkin kok."
Terserah lo," ujar Reya.
"Jangan pernah bahas Jessi lagi, apalagi kalau di depan Mama dan Papa. Gue sama dia murni temenan dan gak akan pernah lebih dari itu. Karena gue gak suka sama Jessi, gue cuma suka lo."
Kata-kata Gara, berhasil membuat Reya semakin malas untuk berbicara dengan cowok itu.
Dia tidak suka dengan apa yang Gara katakan, tapi hatinya tidak bisa berbohong dengan rasa berdebar tak karuan yang berhasil Reya rasakan.
****
Reya memastikan sekali lagi bahwa penampilannya sama sekali tidak berlebihan dan tidak norak ketika dipandang oleh Gara nantinya.
Setelah merasa puas, Reya menyemprotkan parfum ke seluruh bagian tubuhnya. Reya selalu memegang prinsip, gak apa-apa kalau kamu terlahir tidak begitu cantik yang penting kamu wangi.
Tapi beruntungnya Reya memiliki kedua hal tersebut.
"Cantik banget."
Reya tersentak kaget ketika menemukan keberadaan Gara yang berdiri di depan pintu kamarnya. "Ngapain juga lo berdiri di sini, bikin gue kaget aja tau gak."
__ADS_1
Gara terkekeh. "Senang banget kayaknya mau jalan sama mantan gebetan sampe mandi parfum kayak gini."
"Kenapa, cemburu kalau gue pergi sama Kak Arkan?"
"Kalau gue cemburu, emang lo gak akan pergi sama dia?" tanya Arkan seraya mengurung tubuh Reya menggunakan kedua tangannya.
"Jangan bercanda, kita udah sering omongin ini."
Tapi sepertinya Gara tuli dan sama sekali tidak menghindar dari hadapan Reya walaupun gadis itu sudah berusaha keras mendorong tubuh Gara.
"Minggir, gue mau tunggu Kak Arkan di depan."
"Re, tau gak kalau gue selalu pengen cium lo. Asli lo cantik banget, bodoh karena Arkan pernah menolak lo. Tapi lebih bodoh lagi Steven yang menyia-nyiakan lo gitu aja."
"Lo mabuk? Sampe ngomong gak jelas gini?"
"Enggak, gue cuma terlalu takut lo menjadi milik orang lain."
Gara melepaskan Reya, raut wajahnya tampak sedih. Tapi beberapa detik kemudian dia kembali tersenyum. "Ayo gue anterin lo nungguin Kak Arkan di depan."
Reya melirik tangan Gara yang menggenggam erat tangannya. "Gak usah, gue bisa sendirian. Tugas lo juga belum kelar, jadi jangan buang-buang waktu buat jagain gue."
"Gak apa-apa, emang kewajiban gue sebagai adik buat menjaga lo saat Mama dan Papa gak ada di rumah. Gue harus memastikan kalau lo pergi sama siapa dulu. Karena kalau sampai terjadi sesuatu, gue bisa cari orangnya langsung."
"Kak Arkan gak mungkin kayak gitu," ujar Reya yang berjalan di belakang Gara.
"Gak ada yang gak mungkin di dunia ini, Re. Jangan terlalu percaya sama orang gak baik."
Keduanya duduk di kursi yang ada di teras rumah.
Reya melirik Gara yang hanya diam dengan pandangan tertuju lurus ke depan. "Lo coba cari pacar, Gar. Mana tau perasaan gila yang katanya suka sama gue itu bisa hilang."
"Enggak mau, gue maunya suka sama lo aja."
Reya memijit kepalanya karena Gara terlalu keras kepala, sangat susah berbicara dengan cowok ini ternyata.
"Itu mobil cowok lo, sana pergi. Semoga lo bisa senang-senang, jangan sampe kehujanan kayak kemarin. Gue gak mau lo sampe sakit lagi.”
"Iya gue pergi, lo mau titip sesuatu gak? Gue bisa beli pas pulang nanti."
Gara menggeleng, tapi kemudian berkata. "Gue titip lo pulang dengan selamat aja, supaya bisa makan berdua bareng gue nanti malam."
Tangan Gara terulur dan mengelus puncak kepala Reya. "Selamat bersenang-senang, Kakak."
__ADS_1
Semua perlakuan Gara sama sekali tidak terlepas dari pandangan mata Arkan yang sudah membuka kaca mobil.
Kedekatan mereka berdua terlihat tidak biasa dan bukan seperti Kakak-beradik pada umumnya.